<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938</id><updated>2011-11-13T03:43:52.198+07:00</updated><title type='text'>mari menulis</title><subtitle type='html'>Saya terobsesi pada kegiatan mengetik. Karena itu saya buat blog ini.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-3673453481898760311</id><published>2011-03-16T00:18:00.002+07:00</published><updated>2011-03-16T00:25:01.726+07:00</updated><title type='text'>Bom Utan Kayu: I Was There</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pI83Rika0MM/TX-cMEoTPGI/AAAAAAAAAKI/_CUAmITMZsc/s1600/bom4.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-pI83Rika0MM/TX-cMEoTPGI/AAAAAAAAAKI/_CUAmITMZsc/s200/bom4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584353794177842274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ini  bukan merujuk ke tulisan yang seringkali ada di tempat wisata  atau  toilet umum. ‘There’ yang saya maksud adalah Komunitas Utan Kayu,   ketika ledakan itu terjadi.&lt;p&gt;Saya baru saja sampai rumah,  tapi saya masih ingat betul ketika sore tadi saya terjengkang dari  posisi jongkok persis di baw&lt;/p&gt;&lt;p&gt;**&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pagi,   paket diterima di resepsionis. Bentuknya kotak, bersampul cokelat,   ditujukan kepada Ulil Absar Abdhalla, salah satu pendiri Jaringan Islam   Liberal, JIL. Siangnya, paket dibuka staf  JIL. Dari situ baru  ketahuan,  itu buku bukan sembarang buku. Di dalamnya ada kabel, jam dan  batere.  Satpam langsung dikontak, polisi langsung dihubungi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kabar   sampai ke redaksi KBR68H di lantai dua, beda gedung dengan JIL. Sebuah   pesan singkat lewat Vypress chat membawa kabar serupa. Ada paket  diduga  bom untuk Ulil. Kami masih sempat bercanda,”Ah itu mungkin kotak  kabel  punyanya Kang Kur,” celetuk seorang teman sembari menyebut nama  salah  satu staf bagian Umum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami menerima kabar itu cenderung   biasa saja. Tanpa tergesa, Koordinator Reporter Doddy Rosadi meminta   salah satu reporter untuk ke bawah dan mengecek. Rony Rahmata yah garis  polisi.ang ke  sana, membawa Marantz dan kamera. Begitu kembali ke  lantai 2, dia  menyerahkan kamera kepada saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam foto, tampak  paket  itu. Sebuah buku tebal, bersampul warna merah. Juga surat yang   menyertainya. Pengirimnya adalah Drs Sulaiman Azhar, Lc, tak jelas apa   itu ‘Lc’. Tertera juga alamat dan nomor telfon selulernya. Di dalam   surat, ditulis kalau penulis minta Ulil untuk menuliskan kata pengantar   untuk bukunya. Begini judul bukunya, saya tulis persis,”Mereka harus di   bunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin.”  &lt;em&gt;Dari penulisan ini sih ketara kalau penulisnya tidak paham penulisan Bahasa Indonesia yang baik hoho #plak&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah   menerima foto dan surat itu, saya menulis berita dan menguploadnya ke   website KBR68H. Lantas saya ke bawah, membawa HP dan kamera. Niatnya   mulia, mau motret dan nge-twit.&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5uPAuxRVVTw/TX-ddy6ZgXI/AAAAAAAAAKQ/-wxOeDB1NIU/s1600/bom3.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5uPAuxRVVTw/TX-ddy6ZgXI/AAAAAAAAAKQ/-wxOeDB1NIU/s200/bom3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584355198171185522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai  di bawah, rupanya  sudah ramai, banyak wartawan lain dan polisi.  Bertegur sapa dengan kawan  lama yang sudah lama tak jumpa. Lantas  mendekat ke arah polisi. Garis  polisi dipasang, saya mendekat. Saya  jongkok supaya bisa memotret tanpa  halangan garis melintang warna  kuning. Tangan kanan kamera, tangan kiri  HP, supaya bisa langsung  upload ke Facebook, hehe.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Persis  di bawah garis polisi, saya bisa  melihat jelas apa yang dilakukan  polisi. Tiga polisi mengelilingi buku  yang sudah ditaruh di pelataran  belakang Kedai Tempo. Satu polisi  dengan jaket, membuka buku, sembari  orang lain menyiramkan air lewat  selang. Pada saat itu, saya  terheran-heran,”Apa emang gini ya cara  menaklukkan bom, dengan menyiram  air? Kok tradisional sekali.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika paket dibuka, salah satu polisi agak mundur,”Ada kabelnya!” kata dia. Satu polisi lagi menyebut,”Ada handphone!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesaat kemudian, dwaarrrrr..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya terjengkang. Yang bisa saya lihat hanya asap abu-abu. Kuping pengang seketika.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suaranya   sangat kencang, untuk saya yang berjarak sekitar 1 meter dari ledakan,   persis di bawah garis polisi. Saya beruntung ledakannya hanya  sebegitu,  sehingga efeknya hanya saya terjengkang. Bukan seperti si pak  polisi  berjaket yang membuka paket itu; tangan kirinya terluka parah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu saya sadar, saya begitu gegabah ada begitu dekat dengan benda-yang-ternyata-betulan-bom itu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-AJSaMpy4PB4/TX-eY6VywOI/AAAAAAAAAKY/QvV4o7raEWo/s1600/bom1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AJSaMpy4PB4/TX-eY6VywOI/AAAAAAAAAKY/QvV4o7raEWo/s200/bom1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584356213777416418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat   ledakan terjadi, program Buletin Sore KBR68H tengah mengudara.  Seketika  saya telfon Ade Wahyudi, Manajer Program KBR68H. “Gw yang  live! Gw yang  live!” jerit saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini bukan kali   pertama teror datang ke Komunitas Utan Kayu. Pada 2005, kami diancam   bakal diserang kelompok yang tak suka pada JIL, juga KBR68H yang punya   program ‘Agama dan Toleransi’. Penyerbu urung datang, mungkin keburu &lt;em&gt;jiper&lt;/em&gt;   melihat penjagaan polisi dan Banser NU di sepanjang Jalan Utan Kayu.   Saat itu saya jadi salah satu penyiar, yang meminta siapa pun yang   mendukung kebebasan berekspresi untuk datang dan memberikan dukungan   kepada kami di Utan Kayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara tadi, saya laporan  live untuk  Buletin Sore serta memotret untuk website dan Twitter KBR68H.  Saya  puas lahir batin bisa mengoreksi TVOne yang salah menyebut nama  kantor  kami menjadi Radio 68H (yang betul itu KBR68H ya, bukan KBRH atau  KRH  atau kesalahan lainnya). Juga mengoreksi TVOne yang menyebut kami   dimiliki oleh JIL.  Itu salah besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami bertetangga di   Komunitas Utan Kayu. Di sini ada banyak kantor, mulai dari KBR68H, Green   Radio, Tempo TV, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN),   School for Broadcast Media (SBM), Jaringan Islam Liberal (JIL), Institut   Studi Arus Informasi (ISAI), Society of Indonesian Environmental   Journalists (SIEJ) dan Toko Buku Kalam. Sebelum teater pindah ke   Salihara, ada juga Teater Utan Kayu dan Galeri Lontar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami   adalah institusi yang berbeda, dengan misi yang sama: memperjuangkan   kebebasan berekspresi. Karenanya teror macam  begini tak bakal mempan.   Karenanya saya sungguh berdebar begitu mendengar kata-kata Direktur   KBR68H Santoso saat mengawali konferensi pers di Kedai Tempo,”Kami   mengutuk keras tindakan ini. Tindakan ini tidak akan membuat kami   keder.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keder, pemilihan kata yang menarik kaan.. :) Tapi Mas Tosca benar, kami tidak keder.&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-PGLZsEhb-dw/TX-eqLmfWrI/AAAAAAAAAKg/jXwr3GtlVLQ/s1600/bom2.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-PGLZsEhb-dw/TX-eqLmfWrI/AAAAAAAAAKg/jXwr3GtlVLQ/s200/bom2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5584356510468627122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam   twit kesembilannya, Goenawan Mohamad menulis: “Sejak mula kami di KUK   sadar: selalu ada bahaya dlm ikhtiar utk membangun kemerdekaan berpikir   dan bersuara.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya senang menjadi bagian dari Komunitas  Utan  Kayu. Bangganya tak terkira. Dan saya senang bukan kepalang, bisa  ada  di sini, di dua momen bersejarah Komunitas Utan Kayu memperjuangkan   kebebasan berekpresi. Mengutip Ging Ginanjar di Twitter beberapa menit   lalu,”Dalam keadaan seperti ini, kita semua adalah orang Utan Kayu 68H.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Utan Kayu, 15 Maret 2011.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;PS:   Terima kasih untuk teman dan keluarga yang telah menelfon saya. Juga   semua teman yang mampir lagi ke KBR68H, termasuk membawakan makanan.   Terima kasih untuk polisi yang sampai saya pulang tadi masih   berjaga-jaga dan besok siap mengabsen karyawan. Saya tetap gembira kok,   meski tampaknya harus periksa ke THT hihihi.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;PS2: Trims ya Lele buat &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=QC-7gtjD57E"&gt;videonya&lt;/a&gt;, we were that close :)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-3673453481898760311?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/3673453481898760311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=3673453481898760311&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3673453481898760311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3673453481898760311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2011/03/bom-utan-kayu-i-was-there.html' title='Bom Utan Kayu: I Was There'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-pI83Rika0MM/TX-cMEoTPGI/AAAAAAAAAKI/_CUAmITMZsc/s72-c/bom4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-2467517250653256716</id><published>2010-05-17T13:07:00.003+07:00</published><updated>2010-05-17T13:14:08.175+07:00</updated><title type='text'>Transgender</title><content type='html'>Kemarin di Rossy (Global TV) tema yang diangkat adalah soal transgender. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali pertama tamu di Rossy gak sebanyak biasanya. Hanya 2. Biasanya lebih 5 orang ditamapilkan dalam acara tersebut, sehingga tiap orang hanya kebagian satu-dua pertanyaan dan tidak bisa dieksplorasi lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap diri saya punya keberpihakan terhadap kelompok LGBT. Paling enggak, saya nggak punya phobia terhadap mereka. Saya kira Rossy juga semestinya begitu. Angle yang dia angkat dari para waria alias transgender ini adalah sisi positifnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetap, ada yang mengganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di segmen pertama, Rossy mewawancarai Dea -- yang dulu bernama Agus, lantas operasi kelamin, yang kemudian disahkan pengadilan setempat. Dea cukup terbuka bercerita. Tapi yang mengganggu justru pertanyaan dari Rossy. Di ujung segmen, sebelum beralih ke iklan, Rossy bertanya,'Sadarkah kamu betapa kamu telah menghancurkan hati orangtua kamu dengan menjadi begini?' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah. Dan kata 'menghancurkan' dipakai berkali-kali. Baik kepada Dea, atau kepada Merlyn, tamu waria berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, itu pertanyaan yang memojokkan. Akan jauh lebih elegan rasanya jika Rossy bertanya,'Bagaimana perasaan orangtua kamu?'. Jikalau betul hati ortu Dea dan Merlyn ini hancur, biarlah itu datang dari mereka. Bukan dari Rossy yang adalah pihak ketiga, yang adalah orang asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nggak tau, seperti apa rasanya jadi waria. Saya nggak tau bagaimana rasanya hidup tertekan dengan 'tubuh yang salah'. Saya memang sebal dengan perut bergelambir saya, tapi saya bisa menyalahkan diri saya untuk itu. Saya nggak tau gimana rasanya harus hidup dengan cibiran orang, kiri kanan depan belakang, setiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga nggak tau, gimana rasanya jadi waria, yang lagi di TV, lantas dianggap menghancurkan hati orangtua saya. Tapi kalau saya dapat pertanyaan itu, rasanya saya akan sebal. Saya akan merasa dipojokkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-2467517250653256716?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/2467517250653256716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=2467517250653256716&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/2467517250653256716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/2467517250653256716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2010/05/transgender.html' title='Transgender'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-7499022591372208391</id><published>2009-05-30T23:37:00.000+07:00</published><updated>2009-05-31T01:38:34.126+07:00</updated><title type='text'>Reality Show yang Mengerikan</title><content type='html'>Tadi sore, secara tidak sengaja saya menonton ’Dibayar Lunas’, sebuah reality show di RCTI. Rupanya ini program baru, baru tayang sejak 9 Mei kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari judulnya saja, sudah bisa terbayangkan dengan jelas bagaimana plot cerita yang ditawarkan reality show tersebut. Bisa diduga, production house acara itu adalah Triwarsana, yang dimiliki oleh Helmi Yahya. Dia memang biangnya reality show sejak awal booming di stasiun televisi swasta di tahun 2005-an, kalau tidak salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua reality show yang melibatkan orang miskin itu kejam. Orang miskin jadi bulan-bulanan, dipermalukan karena mereka miskin, dan penonton diharapkan untuk sedih atau kasihan dengan kondisi mereka. Tak perlu ditampilkan di TV pun, hidup mereka mestinya sudah cukup susah. Tapi hidup jadi tambah susah lagi karena mereka ditempatkan sebagai obyek tontonan. Lebih tepatnya, obyek untuk dipermalukan karena mereka miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak perlu waktu lama untuk merasakan kekejaman reality show ’Dibayar Lunas’. Saya tidak tahu persoalan apa yang dialami oleh si perempuan miskin itu. Saya sudah bisa memahami konteks cerita begitu melihat rumah si perempuan berpakaian daster itu dan dua laki-laki bertubuh tegap dengan kaos warna hitam. Apalagi dengan raut muka si perempuan yang stres dan beberapa kali mengusap air mata, sementara si laki-laki (sok) kejam. Si perempuan pasti punya hutang, dan dua laki-laki itu adalah debt collector. Mudah ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya langsung sewot adalah ketika salah satu debt collector itu mengancam akan mengambil anak si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si debt collector bahkan melanjutkan dengan ’tawaran’, dia ’hanya’ akan mengambil salah satu anak dari dua anak yang dimiliki si perempuan. "Ibu kan punya dua anak, saya ambil satu saja," kurang lebih bagitu kata salah satu laki-laki. What a generous offer, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu rasanya punya hutang besar dan didatangi oleh debt collector. Saya tidak tahu ancaman apa yang biasa dan bisa diajukan oleh seorang debt collector ketika menagih hutang. Yang saya tahu, reality show pasti semuanya rekayasa dan semaga-mata mempermainkan emosi si obyek saja. Reality show tidak pernah jadi ajang berbagi kasih atau bertindak filantropis, tapi semata-mata mempermalukan salah satu pihak. Dalam kasus 'Dibayar Lunas': orang miskin. Tidak lebih dari itu. Tapi ketika ancaman rekayasa itu adalah mengambil anak, ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah program pun, konsep yang ditawarkan sangat usang. Konsep yang sama persis sudah ada di program ’Uang Kaget’, yang juga tayang di RCTI dan juga diproduksi oleh Triwarsana. Begitu juga program se-genre lainnya, seperti 'Bedah Rumah', 'Lunas', 'Rejeki Nomplok', semuanya di tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tulisan saya di tahun 2005, di blog &lt;a href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=88020313549&amp;amp;h=13853ee91d80e2302f17669fe58b0583&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fmarimenulis.blogspot.com%2F2006%2F08%2Freality-tv-terharukah-anda.html" target="_blank" title="http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/reality-tv-terharukah-anda.html"&gt;ini&lt;/a&gt;. Sudah 4 tahun berlalu, ada 4x365 hari yang disediakan Tuhan untuk memikirkan konsep tontonan TV yang lebih berkualitas, tapi rupanya konsep yang ditawarkan sama usangnya, pun sama buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berkata, TV adalah seonggok kotak yang membodohi pemirsanya. Saya selalu punya hubungan love-hate-relationship dengan TV. Saya yakin, pemirsa bisa jauh lebih pintar daripada tontonan TV, selama kita menontonnya dengan waras. Saya juga masih ingin percaya bahwa kolega-kolega saya di dunia pertelevisian cukup punya otak dan hati ketika membuat sebuah program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya khawatir, saya salah besar soal ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-7499022591372208391?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/7499022591372208391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=7499022591372208391&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7499022591372208391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7499022591372208391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/05/reality-show-yang-mengerikan.html' title='Reality Show yang Mengerikan'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-8992039420579137028</id><published>2009-04-02T16:32:00.002+07:00</published><updated>2009-04-02T16:36:48.882+07:00</updated><title type='text'>Tantangan</title><content type='html'>Beberapa silam, gw berbincang dengan teman di kantor soal kebosanan. Kalau sudah bosan, kerja apa pun jadi malas. Padahal kinerja buruk, kita juga yang ketempuhan. Kerja jadi gak asik, teman kerja jadi gak asik juga kerja bareng kita, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kata Mario Teguh, kita harus memantaskan diri untuk apa yang ingin kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang tengah gw lakukan. Gw hanya berusaha sebaik-baiknya memantaskan diri untuk apa yang ingin gw dapat. Gw ingin dapat dinamika kerjaan? Gw putus rantai kebosanan di kerjaan gw. Gw ingin senang-senang? Gw liat Facebook atau update blog dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw harus selalu menemukan tantangan baru. Kalo enggak, gw hanya akan jadi robot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya gw sungguh senang bisa terlibat dalam sebuah proyek besar pengerjaan buku tentang radio. Ini sungguh wilayah baru buat gw, yang menunggu untuk gw selami dalam-dalam. Gw sudah melakoni setahun penuh baca buku-belajar-nulis ketika di Inggris dan kini gw akan menjalaninya lagi. Tapi kali ini sembari kerja; bukannya diliburkan dari kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tantangan luar biasa besar. Dan gw teramat bangga bisa terlibat dalam proyek besar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's an honor, Sir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-8992039420579137028?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/8992039420579137028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=8992039420579137028&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/8992039420579137028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/8992039420579137028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/04/tantangan.html' title='Tantangan'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-5651450953208760134</id><published>2009-03-04T07:53:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:53:37.367+07:00</updated><title type='text'>Uang Haram</title><content type='html'>Dalam waktu berdekatan, jurnalis KBR68H menerima uang dari Komisi Pemilihan Umum dan Sekretariat Wakil Presiden. KBR68H diundang untuk ikut liputan ke luar kota bersama dua institusi Negara ini. Begitu pulang, diberi sangu. Uang ditaruh dalam amplop lantas diberikan kepada setiap wartawan yang ikut meliput, termasuk jurnalis KBR68H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan kami di media ini jelas, terang benderang dan tanpa ampun. Kami menolak amplop, suap, uang sogokan atau apa pun namanya, dengan alasan apa pun. Kami punya integritas yang cukup tinggi untuk tidak mau menerima uang dari pihak ketiga. Biarlah yang memberi uang dan gaji adalah media tempat kami bekerja, bukan narasumber sebagai sumber informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran macam begini rupanya masih hidup di zaman sekarang, ketika usia reformasi sudah lebih satu dasawarsa. Bahwa jurnalis harus diberi uang supaya menulis yang bagus-bagus, bahwa jurnalis bisa dikendalikan lewat fulus. Yang menyedihkan, institusi Negara yang melakukan itu bukan saja di tingkat ecek-ecek tapi juga tingkat tinggi, seperti KPU. KPU mestinya lebih mengalokasikan uang untuk sosialisasi Pemilu, ketimbang menganggarkan uang bagi wartawan. Ketika KBR68H hendak mengembalikan uang pun, ditolak. Alasannya, sudah terlanjur dianggarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang mesti diubah. Tak ada perlunya menganggarkan dana khusus bagi wartawan karena melakukan liputan. Itu sudah tugasnya. Seperti tukang sapu tugasnya menyapu, seperti Presiden tugasnya memimpin Negara. Semua sesuai porsi dan akan diberi uang imbalan berupa gaji oleh tempatnya bekerja. Bukan oleh pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau memberi fasilitas prima kepada wartawan, bukan uang jawabannya. Membuka akses informasi seluas-luasnya adalah harta tak ternilai bagi pekerjaan jurnalistik. Narasumber bisa dihubungi dan memberikan informasi sesuai kompetensinya. Tak ada pembatasan wilayah atau akses liputan, dengan birokrasi yang tidak ribet. Kemudahan mendapatkan informasi demi kepentingan publik, itu yang terpenting bagi tugas wartawan sebagai pewarta berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus diakui pula, budaya amplop ada dan nyata di kalangan wartawan Indonesia. Ada permintaan, ada pemberian; begitu juga sebaliknya. Tanpa diminta, kerap kali narasumber, instansi, departemen, perusahaan swasta atau siapa pun memberikan uang kepada wartawan. Kalau kita menghapuskan prasangka, mungkin ini maksudnya sekadar menjaga hubungan baik. Tapi percayalah, ada seribu jalan ke Roma, ada seribu pula jalan untuk menjaga hubungan baik selain uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di KBR68H, sudah ada korban terjungkal akibat amplop dan duit. Kami tidak kenal ampun dan pandang bulu dalam upaya memberantas amplop. Kami pastikan, uang yang sempat mampir pasti dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, kami tidak terima amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 4 Maret 2009]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-5651450953208760134?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/5651450953208760134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=5651450953208760134&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/5651450953208760134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/5651450953208760134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/03/uang-haram.html' title='Uang Haram'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-3115916659980085163</id><published>2009-01-28T07:23:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:24:14.039+07:00</updated><title type='text'>Sulitnya Menentukan Prioritas</title><content type='html'>Tak punya uang, mengeluh. Punya uang, malah tak bisa menentukan prioritas. Inilah yang dialami Pemerintah Kota Bekasi. RAPBD Bekasi mengalokasikan uang 2,8 miliar rupiah untuk uang saku tamu walikota dan wakil walikota. Kata Sekda Bekasi, pengalokasian dana ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang dana khusus kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Pemkot Bekasi menyamakan pengelolaan pemerintahan daerah dengan menjaga silaturahmi keluarga. Kalau ada keluarga datang jauh-jauh dari kampong halaman, maka begitu si sanak saudara ini pulang akan dibekali uang. Barangkali prinsip ini yang dipegang ketika menyusun RAPBD. Yang bakal dapat uang saku pun bukan orang miskin, karena mereka yang namanya ada dalam daftar adalah pejabat dinas, anggota dewan, tokoh masyarakat, pengurus partai politik, ulama dan wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, pemerintahan tak bisa bisa dikelola seperti menjaga silaturahmi keluarga. Uang yang dikelola pun tidak berasal dari kantong pribadi, tapi dari uang rakyat. Pajak ditarik untuk pembangunan, bukan untuk disia-siakan dan masuk ke kantong orang yang tak kekurangan materi. Jalan bolong menanti untuk dibenahi, kemacetan menunggu diurai, anak miskin memendam keinginan sekolah gratis, sementara para orangtua membutuhkan berobat gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang harusnya jadi prioritas. Bukan uang saku buat tamu walikota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah meniru apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Bulan ini mereka melansir program berobat gratis, dan Juli mendatang, akan ada program sekolah gratis. Ini jelas program yang mengedepankan rakyat, berusaha memenuhi apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Jangan lupa, pemerintah adalah pelayan, bukan bos yang direstui untuk buang-buang uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kalkulasikan uang 2,8 miliar yang disediakan pemerintah Kota Bekasi ke program Jamkesmas, program kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. kita kalkulasikan ke program kesehatan buat masyarakat miskin lewat program Jamkesmas. Pemerintah menetapkan premi per orang sebesar Rp 5 ribu per bulan. Artinya dalam setahun, setiap orang mendapat alokasi dana Rp 60 ribu. Dana 2,8 miliar yang dialokasikan Pemkot Bekasi untuk uang saku sebetulnya bisa untuk biaya kesehatan 46 ribu orang selama setahun. Jumlah ini pasti lebih besar dibandingkan total tamu yang bakal mengunjungi walikota dan wakil walikota Bekasi dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pun sesuai dengan aspirasi warga Bekasi, paling tidak mereka yang masuk ke situs pemerintah Kota Bekasi. Di rubrik Polling atau Jajak Pendapat, masalah yang dianggap mendesak dan harus segera diselesaikan adalah pendidikan dan kesehatan. Jadi, sebetulnya tak ada hal yang menyulitkan dalam membuat prioritas. Pemerintah adalah pelayan warga, jadi adalah keniscayaan untuk mengutamakan kepentingan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi. Tolong hapus nama wartawan dalam daftar penerima uang dari pemerintah. Kami memang akan bertamu, tapi kami tak butuh uang gelap seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 28 Januari 2009]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-3115916659980085163?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/3115916659980085163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=3115916659980085163&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3115916659980085163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3115916659980085163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/01/sulitnya-menentukan-prioritas.html' title='Sulitnya Menentukan Prioritas'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-7518339999727554998</id><published>2009-01-19T11:24:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:25:15.751+07:00</updated><title type='text'>Guilty Pleasure</title><content type='html'>Sekarang gw menonton 'Termehek-mehek' sebagai bagian dari guilty pleasure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemarin, cerita yang diangkat sumpah mati ajaib banget. Lupa nama tokoh di sana, tapi nama yang terlintas itu Deni dan Dita. Anggap saja nama mereka betulan itu. Ceritanya, Deni mencari Dita, pacarnya yang sudah menghilang selama setahun. Entah apa sebabnya. Deni menganggap kisah cintanya masih 'menggantung'. Jadilah minta 'Termehek-mehek' untuk mencari si pacar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kisah penelusuran, Mandala-Panda ditolak-tolakin sama teman-temannya si Dita ini. Semua pada parno sama Deni, padahal si Deni ini hanyalah laki-laki kurus dan begeng. Mandala-Panda sampe bingung, kenapa semua pada parno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya ketemu satu teman Dita yang bilang kalo Dita itu sebenernya bukan pacarnya Deni, tapi kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho. Ajaib. Gw melongo dong di depan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bla bla blu blu. Akhirnya Mandala-Panda ketemu rumah si tante siapa itu, tempat Dita tinggal. Si Dita ini ternyata udah lama pingin ketemu Deni. Eh gitu atau bukan ya, abis gw bingung ngikutin ceritanya. Dari si Dita ini terungkap kalo si Deni ini jadi psycho gitu setelah nyokap mereka meninggal, dan Deni ingin membunuh ayah mereka yang dianggap jadi penyebab matinya si nyokap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho. Ajaib. Lagi-lagi gw melongo di depan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abis itu di luar terdengar suara brmmmm mobil. Itu mobilnya Deni. Ternyata Deni menguntit Mandala-Panda dan menemukan juga rumah si Dita. Trus Dita bilang, kalo Deni lagi 'ngaco', maka dia akan ke makam si nyokap. Bener aja, Deni ada di sana, lagi nangis-nangis, sambil ngais-ngais kuburan si nyokap. Entah menyeracau apa dia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bla bla blu blu, si Deni berhasil masuk ke rumah Dita, lalu menemukan si bokap. Si bokap ini udah tua, rambut putih semuanya, pernah terserang stroke, duduk di kursi roda dalam kondisi payah. Deni nyamper ke arah bokapnya, lalu ngamuk di situ dan kursi roda bapaknya dijatohin. Mandala yang berusaha menahan sampe ikutan dihalau sama Deni, kalah kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus dalam hitungan detik, tiba-tiba si Deni berubah seperti jadi orang lain. Yang tadinya ngamuk, jadi nangis tersedu-sedu di depan bokapnya, menyeracau, bertanya kenapa bapaknya bisa kayak gini. Lalu si Dita, kakaknya, bilang kalo ayah mereka stroke. Trus entah lah ngomong apalagi mereka itu sambil tangis-tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho. Ajaib. Gw masih melongo di depan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup di belakang gw mendengar suara Hilman ngakak. Dia ngetawain gw yang serius banget nonton 'Termehek-mehek' sampe ngerebut remote TV dari tangan Senja ketika tiba-tiba saluran TV dipindah secara tidak sengaja. Anak umur 1 tahun gitu lhoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, maklum deh. Namanya juga guilty pleasure. Wajar dong kalo terbius *alesan*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-7518339999727554998?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/7518339999727554998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=7518339999727554998&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7518339999727554998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7518339999727554998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/01/guilty-pleasure.html' title='Guilty Pleasure'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-331026473593173825</id><published>2009-01-14T09:25:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:26:04.571+07:00</updated><title type='text'>Banjir Bersama Sang Ahli</title><content type='html'>Sejak kemarin, bisa dipastikan warga Jakarta ketar-ketir. Langit hitam, angin kencang, hujan deras. Sepanjang malam pun, hujan tak henti-hentinya mengguyur dari langit. Deras, reda, deras, reda, seperti memainkan emosi warga Jakarta. Sebab hujan berarti genangan, sementara hujan deras berarti banjir. Begitu cerita yang terjadi dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap banjir, yang ada hanya kegagapan. Mulai saling tuding, kenapa si anu tidak melakukan ini dan itu. Mulai menyesal, kenapa tidak melakukan perbaikan yang diperlukan saat musim kemarau. Gerutu mulai dilontarkan kalau jalan bolong tak terlihat lantaran tertutup genangan. Gelisah kalau hujan makin deras, sembari sibuk memindahkan barang ke lokasi yang lebih tinggi. Berita yang serta merta jadi favorit adalah ketinggian pintu air, serta mencari celah untuk mengutuk banjir kiriman, kalau ada yang betul-betul mengirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, kegagapan soal banjir dilakukan pemerintah dan warganya. Sudah tahu daerahnya rawan banjir, ya tinggalnya masih di situ-situ juga. Tapi buat warga miskin, pilihan tak banyak. Tanpa uang, rakyat miskin tak bisa berharap bisa dapat tempat tinggal yang bebas banjir. Bagi yang punya uang berlebih, banjir membuat mereka jadi pengungsi di hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang mesti dikritik tajam adalah kegagapan pemerintah. Setiap musim kemarau, tak terdengar upaya mencegah banjir yang melibatkan masyarakat Jakarta. Sampah masih menumpuk di sungai-sungai, padahal ini bisa disingkirkan kalau ingin menekan dampak buruk banjir. Tata kota bisa dibenahi, supaya tanah Jakarta bisa bernafas, memberi ruang bagi kelebihan air. Pejabat yang memberi izin pembangunan mal di tengah Jakarta yang bisa menambah risiko banjir, mestinya kena sanksi berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, ada Banjir Kanal Timur yang tengah dibangun. Di kawasan Jakarta Timur, sudah menganga got raksasa di sepanjang Jalan Raden Inten. Tapi pembangunan BKT belum lagi usai. Gubernur sudah berganti, proyek raksasa itu masih saja berlanjut. Dan kini Jakarta ada di bawah kendali orang yang katanya paling ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kali ini Jakarta lagi-lagi kebanjiran, maka ini akan jadi banjir pertama untuk Fauzi Bowo-Prijanto. Bulan-bulan ini juga akan jadi masa pembuktian buat keduanya, seberapa sigap dan tanggap mereka menyiasati banjir Jakarta. BKT belum rampung, jalan masih bolong, pohon tinggi siap roboh, sementara pompa air, hm, jangan-jangan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo-ayo bersihin got, jangan takut badan belepot," kata almarhum Benyamin Sueb. Belum terlambat untuk memulai hal sesederhana membersihkan got di depan rumah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 14 Januari 2009]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-331026473593173825?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/331026473593173825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=331026473593173825&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/331026473593173825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/331026473593173825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2009/01/banjir-bersama-sang-ahli.html' title='Banjir Bersama Sang Ahli'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-7454456583342148773</id><published>2008-12-20T23:08:00.001+07:00</published><updated>2008-12-22T11:35:06.123+07:00</updated><title type='text'>Taman Yapto</title><content type='html'>Sabtu jam 10 pagi, Jakarta lagi mendung. Sempet gerimis, tapi udah lewat. Cuaca nggak cerah, tapi adem-adem asoy gitu. Kebetulan lagi mengarah ke Adorama Menteng, wah cakep juga kali yak kalo mampir Taman Menteng, secara gw dan Senja belum pernah ke sana. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mobil parkir di gedung parkir Taman Menteng. Dari gedung parkir, sebetulnya ada akses langsung ke Taman Menteng. Tapi ada cowok-cowok berambut cepak dan berbadan tegap berjaga di situ. Kaos mereka warna abu-abu. Tulisan di bagian belakang kaos bikin serem: Guard. Ada secarik kertas ditempel di tembok, ditulis pake tangan. Gw lupa tulisan lengkapnya, yang pasti di situ tertera: HTM Rp 15 ribu.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lho. HTM? Harga Tiket Masuk? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gw tanya ke salah satu cowok tegap itu. 'Lho, Mas, jadi gak bisa masuk ke Taman Menteng?'&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dia menjawab pasti,'Bisa, tapi bayar 15 ribu. Lagi ada pertandingan futsal dan 3-on-3' &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ih. Gw langsung ngedumel agak kenceng, berharap supaya si Mas tegap itu mendengar: Taman Menteng kan taman publik, masa bayar. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gw, Hil dan Senja jalan ke arah Taman Menteng. Baru deh di situ kita menyaksikan betapa Taman Menteng dibentengi triplek-triplek dibentuk seperti pagar. Kayak kalo gedung lagi dibangun gitu, dipagerin triplek. Dicat oranye, bertuliskan Japto S Soerjosoemarno Cup. Ini 'the'  Yapto Partai Pelopor dan Pemuda Pancasila kan? Ah no wonder kalo gitu soal cowok berbadan tegap berkaos tulisan 'Guard' itu yak. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dari arah depan, akses betul-betul ketutup. Ada booth tiket dari bangunan berdinding gedek. Ada dua jalur pemeriksaan tiket, lagi-lagi dijaga pemuda tegap berkaos abu-abu bertuliskan 'Guard'. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gw iseng, mendatangi booth jualan tiket. Yang jaga perempuan.  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;'Mbak, jadi saya gak bisa masuk ke Taman Menteng ya?'&lt;br/&gt;'Bisa, tapi bayar 15 ribu.'&lt;br/&gt;'Lho, kok gitu? Kenapa saya  mesti bayar padahal saya gak tau ada kegiatan apa. Ngomong-ngomong di dalem situ ada apa sih?'&lt;br/&gt;'Oh, ada futsal dan 3-on-3 Mbak. Nanti juga ada Rastafara'&lt;br/&gt;'Tapi saya gak tertarik sama semua itu. Saya cuma mau ke Taman Menteng. Gak bisa?'&lt;br/&gt;'Bisa, tapi bayar 15 ribu Mbak.'&lt;br/&gt;'Kok gitu? Emang bisa ya Taman Menteng disewa?'&lt;br/&gt;'Bisa.' Kali ini giliran pemuda tegap yang bicara, bukan lagi si Mbak penjaga tiket. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hm, siwalun. Coba andaikata gw datang dari daerah, jauh-jauh datang demi menikmati Taman Menteng yang tersohor ini, trus mesti gigit jari karena &lt;br/&gt;acaranya Yapto ini 2 hari, malessss kaaaannn.. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Langsung aja gw dorong-dorong Hil untuk laporan pandangan mata buat Green. Ini taman publik gitu lho, masa tega bener bisa disewa-sewa buat kepentingan pribadi gitu. Di mana unsur publiknya? Hil laporan, lantas kira-kira sejam kemudian dia dapat telfon dari Kepala Dinas Pertamanan Jakarta Utara. Kata si Pak &lt;br/&gt; ini sih, taman kota memang boleh disewa tapi gak boleh menutupi akses publik. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalo menetapkan HTM Rp 15 ribu, apa itu bukan namanya menutupi akses publik?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hm rese. Padahal dulu pas di London, masuk ke Kew Gardens justru gratis pas lagi ada acara Salaam Festival. Mending dong, acaranya nyanyi-nyanyi asik. Nah ini, futsal dan 3-on-3, gak ada asik-asiknya buat gw. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yapto... Yapto... &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-7454456583342148773?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/7454456583342148773/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=7454456583342148773&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7454456583342148773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7454456583342148773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/12/oh-yapto.html' title='Taman Yapto'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-2590241111098376949</id><published>2008-12-15T15:28:00.000+07:00</published><updated>2008-12-15T15:37:21.381+07:00</updated><title type='text'>Bekerja di TV</title><content type='html'>Gw gatau gimana rasanya kerja di TV. Gw juga gatau gimana proses redaksional di stasiun TV. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ketika gw kuliah dulu, gw pikir kerja di media cetak, radio, TV itu kayak 'naik kelas'. Di mana TV adalah 'kelas' terakhir. Soalnya kan kayaknya semua orang pada pingin kerja di TV, dengan berbagai alasan. Jadi semula gw pikir, kerja di TV adalah sebuah achievement yang sangat tinggi sebagai seorang jurnalis. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ternyata enggak. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Makin hari gw belajar bahwa cetak-radio-TV ya semata-mata spesifikasi saja. Pilihan, elu mau ada di mana. Setiap media punya karakteristik yang berbeda, dan perlu perlakuan yang berbeda pula. Gw belum pernah kerja di media cetak, tapi gw pernah ada di belakang penerbitan sebuah tabloid. More or less, mungkin sama. Kerja di TV, gak pernah juga, karena gw sebatas magang untuk Pemilu 2004 dulu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kerja di radio, ya sekarang ini. Profesi. Kerjaan. Digaji. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Makin hari gw juga belajar bahwa jadi jurnalis radio itu amboy nian. Menulis pendek tapi jelas, adalah sebuah tantangan yang sangat berat. Menyampaikan informasi tanpa berbekal alat bantu apa pun adalah sebuah pekerjaan yang sangat menarik. Memberitahukan sesuatu seperti kita menggambarkan sesuatu kepada orang buta, sungguh rumit. Tapi ini membuat pekerjaan gw, setiap hari, selalu menantang. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mungkin orang lain pada bosen karena mesti ngerjain yang sama dari waktu ke waktu. Tapi, seperti kata temen gw yang lain, kalo diliat dari bosennya, ya bosen. Tapi kalo dicoba dinikmati, ya nikmat juga. Sejauh ini sih gw belum bosen. Apalagi gw harus selalu bersentuhan dengan tulisan-tulisan panjang yang kadang ahoy, kadang ampun dah. Jadilah gw selalu menemukan tantangan baru. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bukan hanya secara tulisan, tapi juga dari soal brainstormingnya. Gw seneng ada di kantor gw sekarang. Gw merasa proses brainstormingnya cukup oke. Kadang mandek, biasa lah, namanya juga kehidupan. Tapi I feel like, this is where I belong. Apalagi kerjaan gw sejauh ini menyenangkan. Jadilah gw gembira aja. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gw jadi inget cerita seorang kawan yang pindah dari sini lalu ke TV. TV komersil, yang hidup dari ke hari di bawah tekanan rating. Hm, I wonder how it feels like. Dia pernah cerita soal rapat redaksi di kantornya. Ketika itu dia mengusulkan liputan tentang pelarangan film Lastri. Kan banyak yang protes karena dianggap membawa nilai komunisme, tapi gak pernah jelas siapa yang sebenernya keberatan. Itu menarik dong. Ya kan? Kan isu komunisme itu penting, isu kebebasan berekspresi itu juga penting, plus ini kegiatan berkesenian. Penting dong.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi enggak menurut sidang redaksi di TV tersebut. Alasannya cuma satu: nggak menjual. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ide liputan pelarangan film Lastri kemudian kalah dengan ide yang, menurut gw, sungguh sepele dan remeh temeh. Yaitu, duren berformalin. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;What?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Iya. Duren berformalin. Ooo ada toh hal semacam itu. Baru tau. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oke, itu memang pengetahuan baru. Terima kasih. Itu memang salah satu peran media, menginformasikan hal-hal baru. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi penting gitu tau ada duren berformalin? Dibandingkan Lastri?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hm. Untung gw gak kerja di sana ya. Bisa-bisa orientasi hidup gw berubah, bisa-bisa kepala gw benjol karena sering jedoting kepala ke tembok. &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-2590241111098376949?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/2590241111098376949/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=2590241111098376949&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/2590241111098376949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/2590241111098376949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/12/bekerja-di-tv.html' title='Bekerja di TV'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-4691055529825323235</id><published>2008-11-20T11:28:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:29:25.976+07:00</updated><title type='text'>Komik Kebencian</title><content type='html'>Wujud kebencian bisa bermacam-macam. Kali ini ada yang membenci Islam, terutama Nabi Muhammad, lantas menuangkannya dalam bentuk komik. Sampai kemarin petang, blog alias situs pribadi lewat penyedia jasa Wordpress itu masih bisa diakses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua komik di situ, keduanya dimuat tanggal 12 November, masih anyar. Di situ digambarkan cerita berjudul ‘Muhammad dan Zainab’ serta ‘Kartun Sex Muhammad dengan Budak’. Ada satu tokoh yang disebut dan digambarkan sebagai Nabi Muhammad. Ini adalah sesuatu yang sangat mustahil terjadi di agama Islam, karena Islam tak membolehkan Nabi Muhammad digambarkan. Kedua komik ini menggambarkan Nabi Muhammad sebagai manusia yang cabul dan gila seks, serta mencari pembenaran aktivitas seksualnya berdasarkan dalil-dalil Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kali pertama Islam, atau agama secara keseluruhan, dijadikan sumber kebencian. Terkait Islam, tahun 2006 silam umat Muslim dibuat gerah dengan kartun Nabi Muhammad yang dilansir di salah satu harian Denmark. Atau kontroversi film ‘Fitna’ karya Geert Wilders yang hampir membuat situs You Tube diblokir. Sekarang giliran komik cabul ini, yang dibuat oleh orang Indonesia. Departemen Komunikasi dan Informasi langsung mengirim surat kepada pengelola Wordpress, meminta situs ditutup. Mudah-mudahan yang diminta hanya pemblokiran situs yang bermasalah, tak keseluruhan Wordpress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sangat mungkin digunakan polisi untuk menangkap pengelola situs komik kebencian ini. Pasal yang bisa jadi bakal digunakan adalah pasal 28 ayat 2, tentang penyebarluasan informasi untuk menimbulkan rasa benci atau permusuhan berdasarkan suku, ras, agama dan antargolongan. Ancaman hukumannya terhitung serius, yaitu lima tahun penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Muslim mungkin dengan gegap gempita langsung ingin menggunakan pasal ini untuk memberangus pengelola situs komik kebencian itu. Tapi pikirkanlah, betapa lenturnya pasal ini. Betapa frase ‘menimbulkan kebencian’ bisa ditafsirkan beribu rupa oleh orang yang berbeda. Betapa pasal ini mengingatkan akan pasal hatzai artikelen alias pasal karet di KUHP. Betapa ‘benci’ adalah sesuatu yang sangat sangat subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, sebuah situs perdebatan soal Islam juga tutup, tepatnya, menutup diri sendiri. Di sini, Islam adalah teror, perang, diskriminasi, dan pelanggaran HAM. Tanpa diminta siapa pun, situs ini resmi tutup. Di halaman muka, pengelola menyatakan forum ditutup terhitung kemarin demi terciptanya keharmonisan beragama di Indonesia. Pengelola situs pun tak lupa menyelipkan kata maaf jika forum dianggap telah meresahkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini suatu langkah yang luar biasa. Setiap orang sangat boleh bersuara dan berekspresi seluas-luasnya, asal ingat kalau setiap kebebasan ada batasnya. Batas kebebasan kita adalah kebebasan orang lain. Pengelola situs forum perdebatan Islam itu tak merasa perlu menunggu protes, demo atau makian dari kiri kanan, lantas tanpa ba bi bu langsung menutup situs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang salah dengan berbeda pendapat, tapi jangan sampai membuncah jadi kebencian yang saling menyudutkan. ‘Agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu’. Inilah saatnya mengedepankan keharmonisan kehidupan beragama, bukannya mengkotak-kotakkan, saling mencari perbedaan, atau yang paling parah, saling menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 20 November 2008]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-4691055529825323235?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/4691055529825323235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=4691055529825323235&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/4691055529825323235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/4691055529825323235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/komik-kebencian.html' title='Komik Kebencian'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-7302237162357921700</id><published>2008-11-18T08:29:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:30:21.617+07:00</updated><title type='text'>Satu Jari, Empat Jari</title><content type='html'>Yang paling enak, juga paling gampang, adalah menyalahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang dilakukan Wakil Gubernur Jakarta Prijanto, seputar masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda Rokok di Jakarta. Kata Prijanto, pemerintah sudah membuat Perda Anti Rokok dan menyosialisasikannya. Kalau ada pelanggaran, maka yang salah adalah masyarakat karena masyarakat tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang, kalau satu jari menunjuk ke pihak lain, maka ada empat jari menunjuk ke diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat satu per satu. Perda Rokok tidak bisa jalan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dari negara. Misalnya penyediaan fasilitas. Di Perda Rokok Jakarta disebutkan kalau harus ada penetapan kawasan tanpa rokok. Sekarang bayangkan Anda datang ke sebuah mal ber-AC, bertemu perokok. Setelah Anda cari-cari, tak ada ruang merokok tersedia di mal tersebut. Apa yang bisa Anda lakukan? Paling banter, Anda, yang tak merokok, mengalah, pergi menjauh. Padahal Anda lah yang dirugikan. Kalau ada mal tak menyediakan ruang merokok, siapa yang salah? Kenapa pengelola mal tidak dihukum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Perda juga diatur soal iklan rokok, tak boleh sembarangan masuk di jam-jam yang umumnya ditonton keluarga. Kalau tiba-tiba Anda mendapati ada iklan rokok di acara keluarga, apa yang bisa dilakukan? Paling banter, Anda bisa mengganti saluran televisi, supaya tak perlu menonton iklan rokok yang umumnya bersalut gaya hidup modern. Seolah Anda tak trendi kalau tak merokok. Anda harus mengalah, padahal Anda yang dirugikan. Kalau aturan iklan rokok dilanggar, siapa yang salah? Kenapa produsen rokok tak dihukum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta-fakta di luar Perda Rokok Jakarta juga menunjukkan keberpihakan yang sangat besar kepada kaum perokok. Indonesia adalah salah satu negara dengan cukai rokok terendah. Sedikit banyak ini menunjukkan betapa Pemerintah masih mendewakan penghasilan dari berlinting-linting rokok sarat racun ini. Di kawasan Asia, Indonesia hanya menerapkan cukai sebesar 37 persen, bandingkan dengan Thailand yang 63 persen. Padahal tarif cukai rokok mempengaruhi harga rokok dan tingkat konsumsi masyarakat. Selama cukai rokok masih tinggi, lupakan saja keinginan menekan jumlah perokok di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun rokok bisa dibasmi dari iklan TV, maka rokok melenggang bebas sebagai sponsor berbagai acara. Sebagai sponsor, mau tak mau iklannya terpampang besar-besar. Ratusan bungkus rokok itu pun dibagikan kepada pengunjung, sebagai bagian dari sponsor. Padahal sudah ada PP 19 tahun 2003 yang melarang hal tersebut. Kalau itu dilanggar, siapa yang salah? Masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang dulu, yang waras, mengalah. Mestinya ini tak boleh berlaku lagi. Buat apa mengalah pada racun yang menyebabkan kemiskinan? Anda dirugikan, jangan mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wakil Gubernur Jakarta yang terhormat, jangan terlalu mudah menyalahkan masyarakat. Lihat dulu empat jari yang mengarah ke Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 18 November 2008]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-7302237162357921700?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/7302237162357921700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=7302237162357921700&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7302237162357921700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/7302237162357921700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/satu-jari-empat-jari.html' title='Satu Jari, Empat Jari'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-5405623781843671497</id><published>2008-11-10T16:56:00.002+07:00</published><updated>2008-11-11T10:22:49.936+07:00</updated><title type='text'>(Rela) Dibohongi TV</title><content type='html'>Seberapa jauh kita rela dibohongi televisi?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semalam saya melakukannya lagi, dengan menonton 'Termehek-mehek' di Trans TV. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya tahu tontonan ini lewat pertemuan keluarga. Sejumlah tante begitu gembira bertahan di depan TV sembari menonton acara ini. Saya sebelumnya tidak pernah mengikuti isi acara ini. Sekadar duduk, lalu mereka bercerita dengan riangnya soal betapa serunya 'Termehek-mehek'. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cerita yang paling sering 'dibanggakan' adalah soal seseorang yang mencari orang lain, lalu ternyata si orang yang dicari sudah meninggal. Atau seseorang kehilangan anaknya, lalu mencari dari satu kereta ke kereta lainnya karena si anak itu kabarnya dijadikan pedagang asongan. Atau pacarnya si anu tiba-tiba menghilang, setelah ditelusuri ternyata pacaran sama bapaknya si anu. Atau perempuan hamil tapi anaknya terpaksa dikasih ke pacarnya karena si kakek gak setuju cucunya ini menikah, lalu si cucu ini disekolahin di luar negeri, dan setelah balik, si cucu ini nyari anaknya sementara si keluarga mantan pacar malah marah-marah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Secara umum, cerita-cerita di 'Termehek-mehek' memang ajaib. Extra ordinary. Too good to be true. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lalu saya membaca bahwa isi program tersebut bohong adanya. Cerita yang ditampilkan adalah rekayasa. Semua orang disuruh berakting dan semuanya adalah skenario. Sandiwara. Ada banyak blog/multiply yang pernah nulis soal ini, seperti &lt;a href="http://mbot.multiply.com/journal/item/483"&gt;dia&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://smiledevils.multiply.com/journal/item/15"&gt;dia&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://wydpress.wordpress.com/2008/05/13/termehek-mehek/"&gt;dia&lt;/a&gt;. Diperkuat lagi dengan pernyataan penuh kekesalan dari teman saya yang mengatakan bahwa salah satu pemain di 'Termehek-mehek' adalah tetangganya. Si tetangga itu bahkan sampai 'disidang' warga setempat untuk memperjelas apakah itu betul dia atau bukan. Itu betul dia, dan dia tak punya masalah seperti yang tampil di 'Termehek-mehek'. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi, betulan bohong. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya jadi penasaran, adakah aturan KPI yang mengurus soal tayangan bohong? Apalagi 'Termehek-mehek' masuk kategori reality show. Realitas mana yang dimaksud kalau cerita yang tampil adalah bohong belaka? Atau ini memang dimaksudkan sebagai fiksi? Mestinya tidak, karena di akhir acara selalu diumumkan alamat email termehekmehek@transtv.co.id bagi penonton yang ingin mencari seseorang. Persis seperti (so called) tujuan 'Termehek-mehek'. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya jadi penasaran, berapa ya rating 'Termehek-mehek' sekarang? Mengingat acara ini tampil dua hari, di Sabtu dan Minggu, mengingat kayaknya duras program diperpanjang, tampaknya rating program cukup baik. Rating baik untuk sebuah acara yang ceritanya bohong, menarik juga. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya jadi penasaran. Di antara kru 'Termehek-mehek', berapa banyak yang tahu kalau ceritanya bohongan? Berapa banyak yang pernah baca blog dan multiply yang mengulas kebohongan di acara itu? Apakah Panda dan Mandala tahu kalau klien yang mereka bantu sekadar berakting?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berapa lama lagi penonton (rela) dibohongi?&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-5405623781843671497?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/5405623781843671497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=5405623781843671497&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/5405623781843671497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/5405623781843671497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/rela-dibohongi.html' title='(Rela) Dibohongi TV'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-6041388569776720527</id><published>2008-11-10T16:29:00.000+07:00</published><updated>2008-11-10T16:30:13.601+07:00</updated><title type='text'>Merayakan Penjahat</title><content type='html'>Aneh sekali menonton TV pasca eksekusi Amrozi, Imam Samudra dan Muklas. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semua TV berlomba-lomba liputan dari Cilacap, Tenggulun dan Serang. Seolah-olah kita, saya paling tidak, betul-betul ingin tahu tentang tanggapan dari delapan penjuru mata angin soal eksekusi terhadap ketiga penjahat ini. Padahal, yang paling saya ingin tahu hanya sebatas ekskusi sudah atau belum dilakukan. Kalau belum, kapan akan dilakukan. Kalau sudah, ya bagus. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi, seperti yang banyak orang bilang, intensitas pemberitaan yang begitu tinggi tentang eksekusi trio bom Bali ini justru membuat mereka tampak seperti pahlawan. TV membuka ruang selebar-lebarnya bagi ketiga penjahat itu untuk meneriakkan kata jihad, kafir dan ’atas nama Islam’. Setiap hari tak henti-hentinya kita diajak berkenalan dengan Desa Tenggulun dan Serang, tempat tinggal ketiga penjahat itu, seolah-olah kita ingin tahu sisi ’humanis’ dari ketiga penjahat itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Menurut saya, ketiganya bukan manusia. Rasanya tidak ada manusia waras yang membunuh orang lain hanya karena orang itu dianggap kafir. Jadi ada di sebelah mana sisi humanis yang perlu kita tahu soal pembunuh sesama manusia?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sepanjang hari saya sukses menahan diri untuk tidak mengikuti berita pasca eksekusi. Tapi saya terjebak ketika menonton buletin berita sore di salah satu TV swasta. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berita pertama, soal penguburan ketiga penjahat ini. Digambarkan ada begitu banyak orang mengiringi sampai ke pekuburan. Ada begitu banyak orang ingin menyentuh keranda jenazah mereka. Saya heran, mengapa kamera merasa perlu menyorot spanduk bertuliskan,’Selamat jalan mujahid.’ Seolah-olah setuju bahwa yang mereka lakukan adalah jihad, bukannya membunuh. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Berita kedua, dari desa tempat tinggal ketiga penjahat. Sebagai sesama wartawan, saya merasa berita ini tidak punya nilai sama sekali. Buat apa memberitakan sesuatu yang tidak ada apa-apa, adem ayem? Lalu si reporter menggambarkan bahwa kondisi desa sepi, walaupun ada salah satu warga desa tersebut yang '... menjadi figur dengan banyak pengikut...’ yang baru saja dikubur. Mata gw langsung membelalak. Say what? Figur?        F i g u r? Saya pun heran. Si wartawan tahu nggak sih apa yang dia omongin?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untung saja ketiga penjahat itu betul-betul sudah dieksekusi. Meski saya gak setuju hukuman mati, saya senang, TV akhirnya bebas dari ketiga wajah penjahat itu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semoga keluarga korban bom Bali ikut lega, tak perlu lagi dihadapkan terus menerus dengan wajah pembunuh. Tak perlu lagi melihat media, terutama televisi, merayakan penjahat. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-6041388569776720527?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/6041388569776720527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=6041388569776720527&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/6041388569776720527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/6041388569776720527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/merayakan-penjahat.html' title='Merayakan Penjahat'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-4074878426447707362</id><published>2008-11-05T11:32:00.000+07:00</published><updated>2009-03-04T23:32:54.364+07:00</updated><title type='text'>Jelang Eksekusi</title><content type='html'>Keluarga korban bom Bali I rupanya menyimpan trauma mendalam. Banyak di antara mereka yang enggan bicara dengan media, di tengah pemberitaan yang gencar jelang eksekusi trio bom Bali: Amrozi, Muklas alias Ali Gufron dan Imam Samudra. Hayati Eka Laksmi misalnya, yang tak mau lagi mendengar nama Amrozi cs. Ia hanya meminta ketiganya cepat dihukum, itu saja. Semakin sedikit diberitakan, Eka justru makin senang, karena berarti ketiga teroris ini tak makin populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi coba perhatikan media, terutamatelevisi. Dengan gencar, mereka memberitakan kabar terakhir eksekusi Amrozi cs. Tayangan makin getol sejak akhir pekan lalu, karena Kejaksaan Agung memberi kabar bahwa eksekusi akan dilakukan awal November. Empat hari sudah berlalu dari awal bulan, belum ada kabar kapan sebetulnya eksekusi akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cermati isi tayangan televisi soal ketiga teroris itu: bahasa yang digunakan, bagaimana ledakan bom Bali I itu direkonstruksi dan bagaimana peran ketiga teroris ini. Persoalan hukum kembali diungkit, masalah Peninjauan Kembali dibahas lagi. Sebegitu seringnya sampai tak sadar para teroris ini tampak dipertontonkan sebagai pahlawan, sebagai martir. Mati karena membela yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan pemberitaan di media, teror tetap berlangsung. Akhir Oktober lalu, beredar pesan pendek di telfon seluler berisi peringatan untuk menghindari mal besar, restoran ala Barat juga Kedutaan Besar negara-negara Barat. Berita di berbagai media juga menyebutkan kalau polisi memperketat pengamanan di sejumlah kedutaan besar, menjelang eksekusi dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, sebuah surat ancaman muncul di sebuah situs internet. Isinya adalah pernyataan perang dan ajakan membunuh orang-orang yang terlibat dalam eksekusi ini. Sejumlah nama pejabat besar disebut dalam surat ini, mulai dari Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Hendarman Supanji serta seluruh hakim dan jaksa yang terlibat persidangan bom Bali I. Demi mengesankan keseriusan, ditampilkan juga surat dengan tulisan tangan, berbahasa Inggris dan Arab, dan tandatangan ketiga terpidana mati. Soal benar tidaknya surat itu, tak ada yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bentuknya, teror tetap berlangsung. Kita seolah dibombardir dengan pernyataan martir, kafir, jihad, dan istilah lainnya yang mengesankan heroisme. Padahal apa yang mereka lakukan tak ada heroik-heroiknya. Yang mereka lakukan adalah membunuh orang tak berdosa, menafikan perbedaan dan membenarkan kekerasan. Untuk itu, mereka pantas, layak dan patut dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang tak setuju hukuman mati, karena tak ada manusia yang boleh berlaku sebagai Tuhan. Tapi Amrozi, Muklas alias Ali Gufron dan Imam Samudra harus dihukum, seberat-beratnya. Sejatinya, hukuman apa pun tak akan mengembalikan para korban yang meninggal sia-sia. Paling tidak, negara bisa membuktikan kepada korban: hukum masih ada di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tajuk KBR68H, 5 November 2008]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-4074878426447707362?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/4074878426447707362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=4074878426447707362&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/4074878426447707362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/4074878426447707362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/jelang-eksekusi.html' title='Jelang Eksekusi'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-3961196011860933455</id><published>2008-11-05T11:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-05T11:23:52.511+07:00</updated><title type='text'>Empat Mata Bubar</title><content type='html'>Hehe, bubar juga ini acara. Bukannya nyukurin, tapi gw emang gak pernah terlalu suka acara ini. Beda dengan Hil yang selalu ngakak kalo nonton Tukul. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Penyebab Empat Mata bubar adalah dua episode. Satu, karena ada adegan orang makan kodok idup. Satu lagi karena menghadirkan Sumanto sebagai nara sumber. Yang kedua, gw nonton. Untuk pertama kalinya dalam sejarah gw nonton Tukul, gw ketawa. Gw menikmati ketakutan Tukul. Gw menikmati jawaban-jawaban aneh dari Sumanto. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi kenikmatan gw ternyata berujung pada bubarnya Empat Mata.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gapapa deh. Biar tim produksi acara kayak gitu di TV makin kreatif. Bosen model ngelawak kayak gitu. &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-3961196011860933455?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/3961196011860933455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=3961196011860933455&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3961196011860933455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3961196011860933455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/11/empat-mata-bubar.html' title='Empat Mata Bubar'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-3831163255098428056</id><published>2008-10-30T10:10:00.000+07:00</published><updated>2008-10-31T10:10:59.079+07:00</updated><title type='text'>Tukul vs Sumanto</title><content type='html'>Seumur-umur gw gak pernah suka Empat Mata-nya Tukul. Biar kata Hil ngakak-ngakak kalo nonton itu, gw tetep aja melengos. Gak ada lucu-lucunya, menurut gw. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi semalem pertahanan gw runtuh. Tukul lucu banget. Tapi kayaknya ini ditolong sama tamu Empat Mata semalam: Sumanto. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sumpah, hillarious banget ngeliat gimana Tukul ketakutan sama Sumanto. Apalagi Sumanto itu kan tampangnya lempeng plus serem banget gitu. Jadilah Tukul betul-betul memperlihatkan muka ketakutan sepanjang acara. Tukul bahkan sempet beberapa kali menyebut,'Duh acaranya lama banget' hahaha. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pertanyaan-pertanyaan awal dari 'laptop' udah ketara banget bikin Tukul lemes. Dia harus nanya gini ke Sumanto,'Mas Sumanto, sebelum ke sini, sudah makan? Makan apa?' Begitu Tukul mengajukan pertanyan itu, mukanya langsung berubah sepet, lalu dia berdiri dan jalan ke arah belakang panggung. Lalu dia teriak ke tim balik layar,'Mbok nanya jangan yang kayak gitu,' dengan muka panik tapi pasrah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lalu di sesi apa gitu, si perempuan figuran bilang ke Sumanto,'Gapapa ya Mas Sumanto, yang penting kan makan gak makan asal kumpul.' Sumanto meringis dan menyahut,'Oh kalo saya beda. Kumpul gak kumpul asal makan.' &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wakwaw. Langsung dah tu mukanya Tukul sepeettttt banget, hahahaha. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang ajaib tuh ketika Tukul nanya ke Sumanto soal kenapa dia memakain mayat manusia. Jawaban Sumanto emang gak terlalu jelas, blunder gitu deh. Tapi kurang lebih gini,'Saya makan itu kan buat naik haji. Tapi berhubung ketauan, jadinya gak naik haji.'&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Makkkssuuudd lloooohhh...&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-3831163255098428056?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/3831163255098428056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=3831163255098428056&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3831163255098428056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3831163255098428056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/10/tukul-vs-sumanto.html' title='Tukul vs Sumanto'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-345821384491418527</id><published>2008-10-28T10:13:00.000+07:00</published><updated>2008-10-31T10:15:46.093+07:00</updated><title type='text'>Pedofil, Tangkap Saja</title><content type='html'>Polisi Indonesia memang aneh. Ada pedofil yang terang-terangan muncul di berbagai media, berfoto dengan wajah bangga, tapi tak juga ditangkap. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pedofil yang bangga akan kelakuan bejatnya itu adalah Pujiono Cahyo Widianto. Laki-laki usia 43 tahun, yang menikahi perempuan usia 12 tahun. Kelakuannya bejat, itu jelas. Yang lebih bejat lagi adalah fakta bahwa dia adalah seorang kyai, pemilik pondok pesantren. Kita jadi bertanya-tanya, apa gerangan yang dia ajarkan kepada para santrinya? Untuk meniru perbuatan pedofil dan mencari pembenaran atas nama agama? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tak ada untungnya bagi perempuan usia 12 tahun yang baru lulus SD itu ketika menikah dengan Pujiono yang umurnya 43 tahun. Hak Lutfiana sebagai anak jelas terenggut. Masa depan Lutfiana masih sangat panjang untuk dirajut sendiri, tanpa ikatan perkawinan dengan orang yang lebih pantas menjadi bapaknya. Begitu dinikahi, Lutfiana memang langsung diangkat jadi Manajer PT Sinar Lendoh Terang, perusahaan kaligrafi dari kuningan milik Pujiono. Tapi ini juga bukan keberuntungan. Ini sama saja Lutfiana dijadikan pekerja anak, meskipun jabatannya adalah bos. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ini adalah pelanggaran aturan yang terang benderang, ada di depan mata, tepat di bawah hidung polisi. Pujiono jelas melanggar UU Perkawinan, yang menyebut usia minimal bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Pujiono juga melabrak UU Perlindungan Anak, karena melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak; juga mempekerjakan anak. Sanksi yang tersedia dari penjara 5 tahun sampai denda 100 juta rupiah. Ditambah lagi, Pujiono juga melanggar KUHP. Nah, kurang banyak apa pelanggaran hukum yang dilakukan Pujiono? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kini yang kita lihat di media malah Pujiono terkekeh-kekeh. Tak sedikit pun terlihat malu, karena ada banyak aturan hukum yang dilanggar. Pujiono mencoba berkelit dengan alasan pernikahan dilakukan tanpa paksaan dan disetujui orangtua si perempuan yang di bawah umur itu. Dia juga mengajukan dalih agama sebagai pembenaran atas perkawinan tersebut. Lantas apa polisi bisa diam saja dengan pembenaran tak logis macam begini? Ini jelas pelanggaran hukum, dan Indonesia menganut hukum sekuler, bukan hukum agama. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Yang juga bikin pusing kepala adalah pengakuan Pujiono bahwa dia menyukai anak-anak kecil. Kalau disuruh memilih menikah dengan anak kuliahan atau anak kecil, ia jelas-jelas memilih anak kecil. Bukankah ini pengakuan diri secara terbuka sebagai pedofil? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kasus kekerasan terhadap anak bukanlah delik aduan. Tak perlu dialog macam-macam, tak perlu mencoba memahami, apalagi mengesahkan pembenaran atas nama agama yang dilakukan Pujiono. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pedofil ya harus ditangkap, bukan dibiarkan.&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-345821384491418527?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/345821384491418527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=345821384491418527&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/345821384491418527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/345821384491418527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/10/pedofil-tangkap-saja.html' title='Pedofil, Tangkap Saja'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-8845319002274277879</id><published>2008-09-24T16:58:00.001+07:00</published><updated>2008-09-24T17:08:02.540+07:00</updated><title type='text'>Pak Super</title><content type='html'>Waktu awal mengenal Mario Teguh lewat O'Channel, saya tidak suka. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Begitu juga ayah saya yang kerap bareng nonton TV. Dulu kami heran. Ini orang siapa sih, punya pengalaman kerja apa sih, sehingga bisa ngomong kayak gini. 'Jangan-jangan omong doang, bukan dari pengalaman,' begitu  ayah saya menuding. Belum lagi ayah saya suka meniru cara Mario Teguh mengucapkan 'super' dengan agak dimonyong-monyongin. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tapi kemudian saya beberapa kali mendapati ayah saya tenang-tenang menonton Mario Teguh di TV. Mungkin karena tidak ada tontonan lain yang menarik. Tapi ayah saya terlihat memperhatikan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lalu itu menular ke saya. Sekarang saya jadi senang menonton Mario Teguh. Berhubung saya manusia multi-tasking, saya perlakukan TV sebagai radio. Saya dengarkan, sambil mengerjakan hal lain. Paling sering, sembari membuat makanan untuk Senja. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apa yang dia sampaikan sebetulnya hal-hal yang dialami sehari-hari, paling banyak soal relasi atasan-bawahan di kantor. Tapi dia bisa mengemasnya sedemikian rupa sehingga orang akan berpikir,'Iya ya...' sambil mengangguk-angguk. Seperti yang kerap saya lakukan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya tetap tidak tahu apa latar belakang pendidikan Mario Teguh. Apa dia sebelum jadi so-called motivator. Tentu di dunia ini tidak ada dong orang yang meng-hire calon karyawan dengan posisi motivator. Tapi saya tetap menikmati Mario Teguh di televisi. Walau saya tidak pernah ingat kapan jadwal program tersebut. Walau saya tidak tahu apa nama acaranya. Walau telinga saya masih gatal setiap kali dia berkata 'Super'.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ada satu paparan dia yang saya ingat betul sekarang. "Habis manis sepah dibuang itu biasa. Karena itu jadilah orang yang manisnya tak pernah habis."&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ah betul sekali itu. &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-8845319002274277879?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/8845319002274277879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=8845319002274277879&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/8845319002274277879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/8845319002274277879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/09/pak-super.html' title='Pak Super'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-3971486882713693475</id><published>2008-07-22T12:56:00.002+07:00</published><updated>2008-07-22T13:48:46.773+07:00</updated><title type='text'>Kasus Mutilasi Ryan dan Gay</title><content type='html'>Sekarang di berbagai media lagi rame dengan pemberitaan kasus mutilasi. Mutilasi itu dilakukan oleh seorang laki-laki bernama Ryan. Dia membunuh Heri, karena si Heri ini naksi Noval, yang adalah pacarnya Ryan. Karena sebel, Heri terus dibunuh, dipotong-potong, bersihin, masukin koper, lalu dibuang. Eh ternyata di kebon belakang rumah Ryan di Jombang, Jawa Timur, ada empat jenazah lainnya. [selengkapnya, silakan klik &lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/16/17583410/mutilasi.ryan.pelaku.tunggal"&gt;di sini&lt;/a&gt;] &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semua tokoh ini adalah laki-laki karena kebetulan Ryan adalah seorang gay. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kebetulan? Tentu saja. Sama kebetulannya kalo dia itu punya kutil, atau rambutnya belah kanan, atau pipinya tembem. Kebetulan dan semata-mata kebetulan. Makanya  gw heran banget kenapa banyak sekali media yang senang menghubung-hubungkan pilihan seksual Ryan ini dengan aksi mutilasi yang dia lakukan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Ini pertama kali gw ketahui ada di &lt;i&gt;TVOne&lt;/i&gt;. Duh, cape deh. Gw liatnya di acara 'Apa Kabar Indonesia' yang edisi pagi. Penyiarnya yang laki entah siapa, yang perempuan si Indy itu, yang dulunya di SCTV. Seperti lazimnya berita TV, ada judul yang terpampang di bagian bawah layar kaca. Tulisannya begini: Kaum gay lebih agresif ekspresikan dendam?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Booooo. Pengen gw banting itu rasanya televisi. Goblok banget sih ini &lt;i&gt;TVOne&lt;/i&gt;. Gw langsung SMS temen gw yang kerja di sini, maki-maki kebodohan mereka. Ya iya lah goblok. Sejak kapan ada hubungan antara being gay dengan 'agresif ekspresikan dendam'? Emangnya orang heteroseksual kagak ada yang 'agresif ekspresikan dendam'? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Amit-amit bodo kok dipelihara. Coba deh elu riset dulu soal kasus-kasus mutilasi yang ada di Indonesia. Ada berapa banyak sih yang dilakukan oleh gay? Jangan-jangan cuma kasus Ryan aja.  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;To my surprise, &lt;i&gt;Koran Tempo&lt;/i&gt; edisi 22 Juli 2008 juga melakukan ketololan yang sma. Ini bermula dari judul yang bikin gw ngelus dada:'Kisah si Waria Dusun'. Pemilihan kata waria aja udah gak bisa dimaafkan untuk kasus ini. Di tulisan ini digambarkan bagaimana Ryan punya hobi merawat kembang dan tanaman. Oke, so what?&lt;br/&gt; Kutipan yang dipakai adalah dari temennya Ryan di kampung, begini bunyinya,'Sikapnya seperti waria saja.'&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Peelliiiiiissssss deh! Bias banget! Tolol. Bahkan kalau kata 'waria' itu diganti 'perempuan' aja gw udah mencak-mencak. Gw perempuan dan gw gak suka kembang. So what? Jangan main klaim gitu dong. Apalagi ini, menghubung-hubungkan antara waria dan suka kembang. T o l o l. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena penasaran dengan apa lagi kata media lain soal kasus mutilasi Ryan, gw ngeklik &lt;i&gt;detik&lt;/i&gt;, situs berita yang mengklaim dibaca 8 juta orang per hari ini. Lalu ada judul berita kayak gini: &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;22/07/2008 12:04 WIB&lt;br/&gt;Kriminolog: Gay dan Psikopat, Dua Hal Berbeda&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Boooooo orang dari zaman batu juga tau! Yaaaa iiiiyyyaaaa laaaahhh psikopat dan gay itu dua hal yang berbeda. Masih ditanyain segala&lt;br/&gt; yang kayak gituan. Najong jong jong jong dah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Karena gw penasaran lagi, maka gw cari artikel lain di situs itu, kali aja ada yang lebih bodoh. Eeehh bener aja. Ada di rubrik wawancara &lt;i&gt;detik&lt;/i&gt; dengan Prof Drs Koentjoro MBSc PhB. Yang bikin gw terjungkal dari kursi adalah pertanyaan dari si wartawan:&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;i&gt;Faktor-faktor apa saja yang mendorong gay melakukan mutilasi?&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gubrak! Amit-amit. Bodo kok dipelihara.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Tapi kalo yang ini, bener-bener make my day banget. Terpingkal-pingkal!&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;&lt;i&gt;Apa percintaan gay jika berakhir selalu berujung pada mutilasi?&lt;/i&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Toloooonggg... ini anak kemarin sore atau gimana sih yang disuruh wawancara? Huahuhauhauhau.&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-3971486882713693475?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/3971486882713693475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=3971486882713693475&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3971486882713693475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/3971486882713693475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2008/07/kasus-mutilasi-ryan-dan-gay.html' title='Kasus Mutilasi Ryan dan Gay'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-115533976387153563</id><published>2006-08-12T05:37:00.000+07:00</published><updated>2006-08-23T05:43:29.903+07:00</updated><title type='text'>Reality TV: Terharukah Anda?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/Uang%20Kaget-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/Uang%20Kaget-2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman menyampaikan kepada saya bagaimana reaksinya menonton salah satu program reality show amal di televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Citra, kmrn malem gw nangis liat satu reality show, judulnya “Rejeki Nomplok”. Itu sekali2nya gw nangis krn acara tv di republik kampret ini. Jd ceritanya, si Peggy Melati Sukma kasih modal sebuah keluarga miskin buat jualan nasi (buka warung makan). Keluarga itu punya 2 anak: perempuan kelas 5 SD dan laki2 masih balita (yg tampak kurang gizi). Yg bikin gw nangis adalah ketika gw menatap mata anak perempuan itu..hiks..kesiyan banget klo anak sepinter dan senurut dia yg punya semangat tinggi hrs putus sekolah. Trus, jadinya anak itu dibiayai sekolahnya plus dikasih alat2 sekolah. Gw setuju dgn si Peggy yg kasih modal keluarga itu, krn insya Allah mereka jd empowered, self-reliant. Namun..hmmm..emang siy, sprt halnya reality show sejenis, ada bumbu tangis, wajah2 memelas &amp; prihatin yg dijual..tapi ya gmn? tapi, tapi..apa ini berarti gw termakan reality show sejenis itu?&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;[diambil dari milis, nama disembunyikan, tulisan diedit seperlunya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Anda termasuk yang terharu kalau menonton program reality show di televisi? Mari kita persempit sedikit cakupannya: reality show amal. Apakah Anda terharu? Saya kok enggak ya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa orang suka reality show macam begini? Kenapa pas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Spontan&lt;/span&gt;, orang bisa kesel kalau dikerjainnya keterlaluan, lalu pas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Harap-harap Cemas&lt;/span&gt; orang juga bisa kesel karena itu seperti menjajah wilayah pribadi seseorang? Bukankah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt; juga ngerjain seseorang dengan meminta orang tersebut menghabiskan uang 10 juta rupiah dalam waktu setengah jam? Bukankah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt; juga menjajah wilayah pribadi seseorang dengan main masuk ke rumah orang dan meminta orang tersebut menjual barang-barang dalam rumahnya? Bukankah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bedah Rumah&lt;/span&gt; merenovasi rumah seseorang tanpa menkonsultasikannya pada pemilik rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita menghujat reality show lain dan memuja reality show amal? Apa karena ada kata 'amal' di situ, lantas semuanya jadi baik-baik saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman berkata, dia suka acara reality show amal karena yang dibantu adalah orang yang membutuhkan. Mereka yang dihadirkan dalam reality show amal melulu orang miskin, bagaimanapun 'miskin' itu didefinisikan. Banyak dari target (atau korban?) reality show amal ini punya rumah, entah itu ngontrak atau punya sendiri. Lho, kok itu miskin? Bukankah masih banyak orang yang tinggal di kolong jembatan? Banyak juga target reality show amal yang masih bisa jual televisi. Jadi, gimana 'orang miskin' itu didefinisikan? Siapa yang mendefinisikan 'orang miskin'? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus reality show amal ini, maka yang mendefinisikan 'miskin' adalah si pemilik program. Taruhlah produk-produk macam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bedah Rumah&lt;/span&gt; dan sebagainya, maka yang mendefinisikan 'orang miskin' adalah Triwarsana selaku produser. Definisi 'miskin'-nya sendiri tak saklek betul. Kalau mau saklek, mungkin Triwarsana sebaiknya cari data angka penduduk miskin keluaran pemerintah (meskipun kesahihannya juga perlu dipertanyakan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, oh tunggu dulu. Miskin, memang satu faktor penting. Tapi faktor yang menentukan seseorang masuk di reality show amal atau tidak adalah profil si target. Tak sembarang orang miskin boleh masuk jadi target reality show amal. Dia miskin, tapi juga mesti punya profil positif di antara tetangga-tetangganya. Yang berhak mendapat uang dari acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pulang Kampung&lt;/span&gt;, jelas bukan pengangguran yang ingin pulang kampung, tapi dia yang dianggap 'kurang beruntung' merantau di Jakarta. Narasi awal di Lunas pun jelas-jelas disebut, bahwa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt; akan melunasi utang dia yang memiliki utang karena musibah, bukan karena dia main togel. Rumah &lt;a href="http://www.korantempo.com/korantempo/2005/01/09/nasional/krn,20050109,11.id.html"&gt;Pak Soegito&lt;/a&gt; batal diperbaiki &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bedah Rumah&lt;/span&gt; karena anak perempuan Pak Soegito sakit jiwa. Sakit jiwa si anak dianggap menodai profil Pak Soegito. Batallah itu rumah Pak Soegito direnovasi bak sulap bukan sihir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sekarang kita punya si target. X dari Kampung Y, miskin tapi pekerja keras. Lalu tanpa angin tanpa hujan, datanglah segerombolan kru berkamera datang ke kediaman X. Suherman (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt;) berwajah sangat sangat kaget ketika didatangi Mr EM yang berkostum aneh untuk ukuran Jakarta. Mimin (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt;) mengernyitkan dahi sambil berdiri agak menjauh ketika Mr EM bertanya, "Bu Mimin kenal saya?" Sumanah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt;) bermuka masam ketika dua perempuan penagih hutang tiba-tiba meminta dia menjual jam dinding yang menempel di dinding rumahnya, hanya 40 hari setelah suaminya meninggal yang tak cuma menyisakan duka, tapi juga hutang di rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka diberi ruang untuk menyergah balik para kru berkamera? Apakah Sumanah diberi kesempatan untuk menginterogasi balik para penagih hutang yang hanya mengidentifikasi diri mereka sebagai "petugas dari kantor" semata? Suherman ketakutan karena mengira dia bakal diusir dan tak boleh lagi memperbaiki kompor di sana. Istrinya berwajah cemas dan berurai air mata ketika pertama kali bertemu dengan Mr EM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin belum saatnya kita mengurai rasa haru. Nanti dulu. Air mata belum diperas, hati masih belum diiris-iris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sampailah kita di sajian utama reality show amal. Kita, penonton, dibuat begitu tekun mengikuti apa yang akan dilakukan X dengan uang sebanyak itu. Mungkin kita pun ikut berseru di depan layar televisi, "Beli emas saja!" Mungkin kita ikut degdegan melihat Y yang terpingsan-pingsan karena harus terburu-buru membelanjakan uang 10 juta rupiah. Atau penasaran melihat isi rumah Z dan menerka barang apa yang sekiranya layak dijual. Perasaan penonton akan terus diombang-ambil selama 15 menit terakhir, yang penuh adegan mengharukan dan berurai air mata. Belum lagi di penghujung program, di mana bertaburan adegan cium tangan, isak tangis dan memeluk Mr EM, Peggy Melati Sukma, Mbak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt; dan teman-teman pemandu acara lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah di sini kita sudah boleh terharu? Saya lebih merasa sakit hati, ketimbang terharu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya justru merasa mereka tengah 'dihukum' atas kondisi mereka. Mereka miskin, maka kita boleh menonton mereka. Mereka miskin, maka kita boleh mengintip isi rumah mereka. Mereka miskin, maka mereka boleh diminta (dan tak diberi kesempatan untuk menolak) melakukan apa saja atas nama amal. Mereka miskin dan menjadi tontonan karena mereka miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Triwarsana 'berdalih' bahwa acara seperti ini dimaksudkan untuk menggugah empati penonton, maka saya ingin bertanya kembali. Empati apa? Empati untuk menolong? Atau empati untuk menonton mereka yang terengah-engah mengejar amal? Apa perasaan seperti itu layak disebut empati? Kalau memang empati untuk menolong yang ingin digarisbawahi produser, apa bentuknya? Saya sungguh tidak merasa sisi empati saya diketuk ketika saya menonton ini. Kalau ada yang merasa berempati, bolehlah saya diberitahu bagaimana rasanya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simsalabim! Semua berubah tanpa kendali orang tersebut. Seperti memain-mainkan pisang di hadapan monyet, yang sudah tentu bakal dikejar. Apa itu bisa disebut pemberdayaan? Pemberdayaan macam apa yang diberikan reality show? Bagi saya, target reality show itu dipermainkan dengan uang. Dan itu sungguh bukan pemberdayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah saya bukannya menampik bahwa ada juga reality show memberi kail, bukan ikan. Saya senang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekolah Gratis&lt;/span&gt; tak memberikan uang kontan, tapi memberikannya dalam bentuk tabungan. Saya senang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rejeki Nomplok&lt;/span&gt; memberikan modal untuk membuka warung. Tapi jangan lupa juga, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt; adalah reality show amal yang bertahan paling lama di televisi, dari akhir tahun 2004 sampai sekarang, pun meraih Panasonic Award 2005. Dengan konsep 'mengejar uang gampangan', acara inilah yang meraup rating dan audience share paling besar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;[mari kita asumsikan kita bisa percaya pada rating AC Nielsen]&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah yang kita saksikan dalam waktu 30 menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Louis Althusser menyebut,"Ideology 'acts' or 'functions' in such a way that it 'recruits' subjects among the individuals (it recruits them all), or 'transforms' the individuals into subjects (it transforms them all) by that very precise operation which I have called &lt;span style="font-style:italic;"&gt;interpellation&lt;/span&gt; or hailing, and which can be imagined along the lines of the most commonplace everyday police (or other) hailing: 'Hey, you there!'" (1971: 160) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ibaratkan program reality show amal itu adalah si orang yang memanggil, siapa yang dipanggil oleh program macam ini? Who is being interpellated by these programmes? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triwarsana menyebut bahwa target acara ini adalah laki-laki dan perempuan, dari rentang umur berapa pun, status sosial ekonomi mana pun. Target 'keluarga' memang target paling mudah bagi program televisi, demi menjamin raupan penonton yang cukup lumayan. Tapi apa iya, semua orang 'dipanggil' untuk menonton acara tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helmy Yahya, dalam balutan kostum Mr EM, kerap bertanya kepada calon target, "Bapak/Ibu kenal saya?" Dalam beberapa program yang saya tonton, calon target selalu mengaku tak kenal. Mimin sempat menonton &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt; beberapa kali, tapi ia tidak mengira bahwa laki-laki berjas hitam, bertopi tinggi, berjanggut-kumis palsu dan berkacamata hitam adalah si Mr EM dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt;. Kalau kita anggap Mimin adalah bagian dari target 'keluarga' yang disasar oleh Triwarsana, maka mungkin harusnya Mimin kenal Mr EM. Tapi toh tidak begitu kejadiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duga, yang sebenarnya disasar oleh Triwarsana, atau produser program reality show mana pun, adalah middle class. Kelas menengah. Mereka yang tidak semiskin si target yang tengah ditolong. Mereka yang merasa bahwa memberikan uang, amal atau apa pun adalah hal yang bakal membuat dunia 'si miskin' berubah. Mereka yang memberikan 'imbalan' kepada mereka yang miskin &lt;u&gt;dan&lt;/u&gt; berkelakuan positif. Ah, Helmy Yahya pun pernah &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/25/04.htm"&gt;berkata&lt;/a&gt;, "Golongan bawah, teruslah bermimpi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau saya semena-mena. Saya merasa program reality show amal tak ubahnya acara kunjungan Soeharto (dulu) ke desa-desa. Bertemu dengan penduduk di desa setempat, berbincang sedikit dan tak berarti, lalu memberikan bantuan. Penduduk sumringah, Soeharto bahagia, TVRI pun menayangkannya ke penjuru negeri. Penonton bahagia, karena melihat penduduk tersebut 'ditolong'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, feodal betul rasanya. Unsur feodal dalam program reality show buat saya jelas-jelas dipertunjukkan di penghujung program. Ketika Mr EM dengan tenang mengajukan tangannya untuk dicium oleh si target yang sudah membeli barang anu itu. Ketika pemandu acara bertangis-tangisan dengan si target; dengan si pemandu acara yang 'didandani' dan si target yang sekadarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan kelas seolah dirawat betul di sini. Kau yang miskin, berbaju jelek lah, nanti ditolong. Tapi kau mesti berkelakuan baik, kalau tak baik maka tak akan ditolong. Lalu si pemandu acara pun dipoles demi kepentingan televisi. Mr EM dengan konstumnya, Mbak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lunas&lt;/span&gt; dengan setelah putih-putihnya. Dan perbedaan kelas yang dipertontonkan di program reality show ini sungguh tidak menyisakan kesan simpati atau empati. Yang tersisa justru perasaan nyaman ketika menonton mereka yang terengah-engah mengejar amal. "Kita tak semiskin dia." "Dia tak seberuntung kita." Perasaan nyaman kita, si kelas menengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa itu semua pantas membuat kita merasa terharu? Bahkan menulis ini pun sudah cukup untuk membuat saya sakit hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-115533976387153563?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/115533976387153563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=115533976387153563&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115533976387153563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115533976387153563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/reality-tv-terharukah-anda.html' title='Reality TV: Terharukah Anda?'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-115493887117724628</id><published>2006-08-07T15:17:00.000+07:00</published><updated>2006-08-09T05:08:45.436+07:00</updated><title type='text'>Pembajak Blog</title><content type='html'>Baruuu aja gw berasa gegar jadi blogger, eh mesti dihadapkan sama isu bajak membajak. Pas gw baca &lt;a href="http://blog.sepatumerah.net/"&gt;sepatumerah&lt;/a&gt;, gw membacalah itu postingan tentang aksi bajakan terhadap tulisan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.sepatumerah.net/"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://blog.sepatumerah.net/uploaded_images/profile1-780829.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah seorang bernama &lt;a href="http://dersca.blogs.friendster.com/"&gt;X&lt;/a&gt; konon membajak tulisan dia. Ternyata Mbak X gak cuma ngebajak tulisan dari sepatumerah, tapi juga dari beberapa blog lain. Daaaann niat banget pula ngebajaknya. Lengkap dengan link, plus foto. Widih. Emang siiiyy kita mesti total dalam mengerjakan segala sesuatu... tapi mbok yao...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu gw dan Victor pernah berbincang soal asas copy-paste dalam blog. Soalnya gw abis berkunjung ke blog &lt;a href="http://kodoksakti.blogspot.com"&gt;kodoksakti&lt;/a&gt; dan menyadari foto yang dia bikin itu caem-caem. Kan nyesek pasti rasanya kalo tiba-tiba dia nemu foto karya dia di blog orang, tanpa sepengetahuan dia. Kalo Victor sih bilangnya, "Ah dia aja yang fotonya lebih keren dari gw, foto-fotonya gak diproteksi," sambil merujuk ke satu blog lain. Mmmm, tapi kaaannn Viicc..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gw siy, kalo sampe ada yang ngopi-paste tulisan gw, gw heran kali yak. Apalagi tulisan di &lt;a href="http://pippilottagoinguk.blogspot.com"&gt;pippilotta&lt;/a&gt;, lah itu kan personal, situasional dan lokasional (ada gak sih kata ini?) banget. Lagian kayaknya gw juga gak siap kalo tulisan gw tiba-tiba melihat tulisan gw dikopi sama orang lain. GR-nya mah jelas, tapi abis itu pasti bingung mau diapain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gw cerita ke &lt;a href="http://mablangq.blogspot.com"&gt;Nita&lt;/a&gt; soal kasus ini, dia langsung mengurungkan niatnya untuk naro tulisan feature radio dan karya-karya puisi dia di blog. "Takut dibajak," gitu katanya. Iya siy, gw ngerti pertimbangan itu. Gw juga suka ngeri kalo sajak-sajaknya &lt;a href="http://dansaserigala.blogspot.com"&gt;minke&lt;/a&gt; dibajak orang. Dianya sih gak pikirin amat, nah gw-nya ntar yang sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terus gimana dong? Masa kita berhenti berkarya karena takut dibajak? Masa kita jadi gak nulis blog karena ngeri ada yang main copy-paste? Ini bukannya ibarat gak makan karena takut gendut yak? Itu mah bulimia aje lu! Yaaaaa.. risiko mah emang ada di mana-mana ya. Tapi masa kita jadi gentar sih dengan pembajak-pembajak blog ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya gw seneng pas nemu icon 'jangan asal copy paste'. Gw langsung pasang deh di blog pippilotta dan blog ini. Tentu saja memasang icon gak akan memproteksi apa pun yang gw tulis di sini. Paling enggak, ngasi woro-woro dari awal kalo gw berpaham demikian, jadi jangan macem-macem. Ibarat pasang gembok di pintu pager, niatnya kan woro-woro sama maling kalo si pemilik rumah sudah siap memproteksi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, mungkin ada ya ada kode-kode HTML yang membuat tulisan gak bisa dicopy. Tapi disertasi gw bakal di ujung tanduk kalo gw nekat nyari kode-kode HTML itu sekarang, hihihi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: sepatumerah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-115493887117724628?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/115493887117724628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=115493887117724628&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115493887117724628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115493887117724628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/pembajak-blog.html' title='Pembajak Blog'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-115493765869529088</id><published>2006-08-07T14:34:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T04:09:19.550+07:00</updated><title type='text'>Gegar Pemula</title><content type='html'>Sejak gw punya blog, gw mulai membangun hobi baru untuk ngintip blog-blog orang. Berkelana aja dari satu blog ke blog yang lain. Ngeklik &lt;a href="http://blog.sepatumerah.net/"&gt;sepatu merah&lt;/a&gt;, ntar kebawa ke blog-blog entah siapa lagi. Ngeklik siapa lagi ntar kebawa ke &lt;a href="http://hericz.net/"&gt;kodok ngerock&lt;/a&gt;. Ntar ke mana lagi, ketemu &lt;a href="http://bla3x.blogspot.com"&gt;bla3x&lt;/a&gt;. Dan setiap klik-an itu berarti pengetahuan baru buat gw. Setiap saat pula gw selalu jatuh kagum, betapa ada begitu banyaaaaaaakk orang yang pinter nulis. Senang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gw selalu seneng baca tulisan orang. Karena lewat tulisan orang, kita bisa belajar orang lain itu kayak apa. Seneng banget rasanya kalo baca tulisan tentang hal kecil dan sepele, tapi jadi penting bener buat si penulis. Kekekeke, kan gw juga suka gitu. Kecil, tapi berarti. Hayaaah.. kiekeiekiee.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw punya blog karena gw lebih suka nulis daripada ngomong. Ehm, bukan nulis sih, ngetik tepatnya, kekekeke. Karena gw merasa pikiran gw bisa lebih runut kalo gw tulis. Karena gw bisa belajar tentang diri sendiri lewat tulisan gw. Kadang-kadang kan gw kali ngetik ya main ngetik hajar bleh gitu aja. Gak pake dipikir-pikir. Abis itu baru dibaca lagi sambil mikir 'Oh, gw tuh gini ya' hihihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang gw sadari (plus gw tau dari orang lain) tentang gaya blog gw. Tulisan gw panjang-panjang. Kadang-kadang itu membuat calon pembaca jadi patah semangat sih, karena keburu males baca tulisan panjang. Tapi gimana dong, gw emang demennya nulis panjang-panjang. Kronologis. Lengkap dengan segala detilnya. Karena sekali lagi, hal-hal kecil lah yang bikin sesuatu berarti. Dan hal-hal kecil itu membahagiakan *terharu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sejak gw di London ini, gw mulai jadi blogger teratur. Nulis segala macem. Dan gw membangun jati diri gw sebagai penulis sekaligus sebagai pemasar. Gile capek ya bo. Abis nulis, mesti pamer-pamer blog ke orang lain biar dibaca. Hihihihihi. Rasanya puwas aja kalo ada orang seneng baca tulisan kita. Ketika gw nulis, sebetulnya gw tidak membayangkan publik tertentu yang kira-kira bakal baca tulisan gw. Namanya juga tulisan gratisan, ya suka-suka penulis aja, hihihihi. Karena itu rasanya bahagiya aja kalo ada yang seneng sama tulisan gw. Atau kalo tiba-tiba ada orang yang 'protes' karena gw gak update blog. Uhuy! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jati diri baru gw sebagai blogger, bener-bener deh, ada banyak hal baru yang gw tau. Yang paling sederhana, gw baru tau kalo sepupu gw &lt;a href="http://gadisantahberantah.blogspot.com"&gt;Diani&lt;/a&gt; itu edan nulis juga. Dan gak cuma Diani dong, ada banyaaaaaak banget jagoan nulis blog. Gw suka tersesat sendiri kalo mampir-mampir ke blog orang. Ibarat kena narkoba, gw kecanduan baca blog orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang suka minder juga baca tulisan-tulisan orang itu. Wah, dia hebat ya bisa nulis seperti itu. Huhuhu, tulisannya keren banget. Ahay, fotonya menawan. Aduh, ini dia dapet layout dari mana ya. Eh, ada link baru nih, klik aaah. Begituuuu terus. Lalu kalo blog itu terlalu menawan untuk dilewatkan, gw segera add to favorite, biar gak ilang lagi. Lantas besok lusa, gw klik lagi untuk melihat postingan terbarunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, gw semakin sulit berkonsentrasi mengerjakan disertasi nih. Ngulik bahasa HTML buat blog, nyari template baru, nyari icon baru buat blog ternyata sungguh mengasikkan! Huhuhuhuhu..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-115493765869529088?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/115493765869529088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=115493765869529088&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115493765869529088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115493765869529088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/gegar-pemula.html' title='Gegar Pemula'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-115482016080165143</id><published>2006-08-06T06:17:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T06:53:20.760+07:00</updated><title type='text'>Acara Tivi Buat Siapa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/akucemburu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/akucemburu.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini ada protes yang beredar di milis tentang sinetron &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Cemburu 2&lt;/span&gt; di Indosiar. Ibnu AA yang melakukan protes ini gak habis pikir gimana bisa Indosiar meloloskan sinetron 'kayak gini'. Ada adegan co minta ce segera bugil, co telanjang dada di pinggir kolam renang dengan titit ditutup daun pisang serta keluhan seorang co karena ce-nya gak mau diajak gituan. Sinetron ini diputar Indosiar hari Sabtu jam 22-23 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh, sabar di boncengan. Sewot jelas boleh. Tapi lebih penting kalo kita jadi menelaah lagi acara tivi yang sering kita tonton. Apa acara-acara itu beneran  dibikin buat kita, penonton tivi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham ekonomi berkata, ada permintaan, ada barang. Jadi kalo sinetron &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku Cemburu&lt;/span&gt; ini dikenakan paham ekonomi itu, berarti ada dong seseorang somewhere out there yang rikues acara macem gini. Entah lah siapa dia itu, tapi yang jelas ada orang itu. Buktinya ada penulis yang bikin sinetron itu, buktinya ada yang mau memproduksi, buktinya Indosiar mau terima dan nayangin sinetron itu. Berarti, secara hitungan matematis ala anak tivi, sinetron ini ada duitnya laaahh... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kalo kita menjadi Pak/Bu Ibnu AA, kita mungkin sepakat juga. Bukan sekali dua kali lah kita suntuk sama acara yang ada di tivi. Sinetron yang dibilang mengada-ada lah, Warkop yang slapstick lah, sinetron mistik yang nakut-nakutin orang, kartun yang sadis lah, ada aja pokoknya deh komentar kita sebagai penonton tivi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalo kita protes begitu, artinya kita gak setuju kan sama acara tivi itu. Kita merasa, acara itu tidak untuk kita, sehingga bagi yang kesel, ya mending matiin tivi aja. Ibaratnya pedagang kaki lima di Jatinegara, dagangan jelas gak laku. Wong calon pembelinya gak mampir, apalagi membeli dagangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh tapi, katanya tadi ada permintaan ada barang. Kalo sebagian (besar atau kecil) dari kita merasa tidak meminta barang dagangan berupa acara-acara katro, lalu siapa yang minta dong? Siapa yang membuat seolah-olah ada permintaan, sehingga kemudian pihak stasiun tivi atau PH membuat sinetron itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantukah yang meminta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekarang kita bayangkan diri kita jadi Raam Punjabi. Doi kan paling sering tuh kena 'tulah' disalahin kanan kiri atas bawah depan belakang karena sinetron-sinetronnya dianggap gak membumi. Tapi dia mah tenang-tenang aja di boncengan. Dia tinggal bilang kalo "pemirsa yang minta" sinetron kayak gitu. Lalu kita pun menjerit "Enak aja! Kan sinetron situ bapuk!". Lantas Raam Punjabi pun tertawa terkekeh, "Situ oke? Nih ratingnya bagus!" Trus kita manyun dong. Rating bagus kan katanya berarti acara disukai penonton. Kalo si 'kita' yang protes ini merasa tidak meminta, apalagi menilai bagus, sinetron tersebut, lalu lagi-lagi pertanyaanya kembali ke situ: siapa yang minta acara ini sebenernya seeh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu ya ajang saling klaim di kancah pertelevisian ini. Ampe pegel linu, klaim-klaim-an gini bisa gak kelar-kelar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orang TV merasa paham selera penonton, sehingga dia bikin acara A. Acara itu dipasang di prime time, iklan banyak masuk, kantong duit tebel. Bahasa ekonominya jelas: duit banyak karena barang laku; barang laku karena banyak yang nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nielsen bilang acara A laku karena ratingnya tinggi. Orang TV mengartikan rating ini sebagai 'sekian persen dari 200 juta masyarakat Indonesia suka acara A', padahal sampel dan populasi riset medianya Nielsen gak transparan juga. Hmm, atau kita memang harusnya mengartikan rating sebagai perwakilan dari sampelnya Nielsen, dan bukan seluruh penduduk Indonesia? Bisa jadi begitu. Tapi kayaknya gak begitu yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada sekelompok orang yang kegerahan sama acara A ini. Alasan yang puwaling sering dipake adalah 'pengaruh buruk bagi anak-anak dan generasi muda'. Atau kalo acara ini diadaptasi dari Amrik (atau negara bulai lainnya), maka alasan yang kemudian diajukan adalah 'pengaruh Barat atau budaya asing menodai budaya Timur' atau 'moralitas'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Lalu orang TV bisa aja balik mengklaim bahwa sekelompok orang itu cuma sebagian kecil orang, yang bisa jadi bukan target market dari acara A. Dengan kata lain, ngomong aja sama tembok! Lah wong acaranya bukan buat situ.. Mungkin kurang lebih begitu pembelaan diri dari orang TV-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Si sekelompok orang ini pun kesel, lalu woro-woro boikot tivi, protes sana sini, atau matiin tivi tanda kesel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sementara si Nielsen, ya tenang-tenang aja. Buat Nielsen kan yang penting membuat rating sebagai kunci utama kesuksesan sebuah acara sehingga orang tivi-nya juga ketergantungan. Ibarat narkoba lah. Sekali terjerumus (halaaah, terjerumuuss), susah berhenti. Ke-dewa-an rating inilah yang tetep dijaga sama Nielsen. Yaaa wajar dong, namanya juga jualan rating... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekekeke.. Kejar-kejaran aja deh kayak hamster!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk kita kembali ke pertanyaan awal: apakah acara tivi itu beneran dibikin buat para penontonnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urutannya kan begini. Orang tivi bikin program. Program dibikin, dijual ke pengiklan, iklan dipasang. Nielsen pun mulai bekerja, mengumpulkan sampel X dari populasi Y di kota Z untuk dicatet kebiasaan nonton tivi-nya. Angka rating keluar, dikasih ke orang tivi. Orang tivi girang kalo rating tinggi. Rating ini pun langsung dikabarkan ke pengiklan, berikut rate iklan yang tambah besar. Orang iklan ikutan seneng, karena membuncah harapan kalo barang yang diiklankan bakal laris manis tanjung kimpul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu, tunggu. Di mana elemen penontonnya neh? Bukankah acara dibuat untuk ditonton oleh kita sang penonton? Apakah elemen penonton hanya di "sampel X dari populasi Y di kota Z" saja? Oh yeah. Seberapa representatifkan X-Y-Z itu untuk mewakili 'penonton'? Gile cing, ada 200 juta penduduk Indonesia nih! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita ambil contoh nyata. Sinetron &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bawang Merah Bawang Putih&lt;/span&gt;. Menurut kawan yang bekerja di RCTI, angka rating melonjak tinggi ketika Bawang Putih disiksa ibu tiri. Satu tamparan, rating naik. Dua tamparan, rating melejit. Nah kalo begini, jelas dibaca Nielsen dan orang tivi dengan cara: "Penonton tivi Indonesia seneng acara tampar-tamparan dalam sinetron. Kita tambahin yuk tampar-tamparannya!" Ya gak sih? Logis dong. Lalu ada yang protes karena acara tampar-tamparan gak baik buat penonton. Jadi, acara ini gak representatif? Lalu, siapa nih yang menjadikan angka rating begitu tinggi? Bisa aja nih Nielsen nyari sampel rating!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kegilaan-kegilaan yang ada, maka gw cuma bisa bilang kalo banyak orang sok tau. Orang TV sok tau. Penonton pun ada yang sok tau. Sementara Nielsen asik dagang. Hiehiehiehie, pegel dah lu. Sok tau bergulir jadi mengklaim. Mengklaim bergulir jadi berasa bener. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba kita mengkritisi keedanan ini. Orang TV atau PH atau siapapun yang berperan dalam membuat program, apa iya pernah nanya ke calon penonton "Hai kamu, kamu pingin nonton acara kayak apa?" Atau, jangan-jangan yang ditanya sama orang TV adalah pengiklan.. "Hai kamu, kamu pinginnya pasang iklan di acara tivi kayak apa sih?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau si penonton yang protes. Kalo dia bilang, acara X berbahaya bagi generasi muda... ah situ sok tau aja kaliiii. Buktinya, yang ngomong toh 'orang tua', bukan si 'anak muda' yang terancam bahaya itu. Atau si 'anak muda' ini masih terlalu lugu untuk mengetahui bahwa acara X ini berbahaya? Atau ketika klaim ini mempertentangkan 'budaya Barat' dan 'budaya Timur', apakah lantas si pemrotes itu lebih tau tentang 'buruknya budaya Barat' dibandingin orang lain? Wah wah. Bukankah itu terdengar seperti klaim kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huhuhu, jadi pigimana iki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menonton televisi! Jangan bengong ah, ntar kesambet lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: indosiar&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-115482016080165143?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/115482016080165143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=115482016080165143&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115482016080165143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115482016080165143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/acara-tivi-buat-siapa.html' title='Acara Tivi Buat Siapa?'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-115476787909833940</id><published>2006-08-05T15:50:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T06:55:55.890+07:00</updated><title type='text'>Reality TV: Realita Apa?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.ioffer.com/img/1099641600/_clubs/13/57/reality-show-watchers-photo.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://www.ioffer.com/img/1099641600/_clubs/13/57/reality-show-watchers-photo.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reality TV mulai rame di Indonesia dari tahun 2003. Reality show, begitu kita menyebutnya, yang termasuk generasi awal adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Spontan&lt;/span&gt;. Acara 30 menit yang isinya becandaan slapstick, ngerjain orang di tempat ramai, lalu rame-rame ngomong 'uhuy!' sambil tersenyum lebar-lebar menghadap kamera. Sejak itu, ramailah orang berbondong-bondong bikin reality show. Bisa bikin sendiri, niru, atau mengadaptasi reality show dari Amrik, mengingat acuan acara tivi kebanyakan dari sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aja sih realita yang (katanya) ditampilkan oleh tontonan reality show?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silih berganti, sub-genre reality show juga berubah. Bosen sama becandaan slapstick, gantilah ke reality show berbau selebriti. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mimpi Kali Ye&lt;/span&gt; termasuk salah satu reality show pertama yang melibatkan artis. Inget dong, isinya ya 'orang biasa' kepengen ketemu artis. Semakin gokil dan fanatik si fans, semakin mengharu biru lah tontonan itu. Apalagi selalu dibuat drama seolah-olah si artis gak bisa dateng. Kadang-kadang saya heran. Emangnya si calon peserta itu apa gak pernah nonton &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mimpi Kali Ye&lt;/span&gt; apa ya, kok masih bisa ketipu sama trik kuno kayak gitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkait selebriti, kali ini reality show yang melihat sisi 'orang biasa' dari selebriti. Yang keingetan sama saya sekarang adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketok Pintu&lt;/span&gt;, yang diputer pagi-pagi di TV7 (karena saya suka nonton sebelum ngojek ke kantor). Lucu ya reality show ini. 'Orang biasa' mendadak jadi artis, artis pengen diliat versi 'orang biasa'nya. Dunia kebulak-balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah kelar reality show selebriti-'orang biasa', bergantilah jadi reality show kontes. Kebanyakan sih kontes nyanyi. Tentu saja semua orang ingat betul sama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akademi Fantasi Indosiar&lt;/span&gt;. Indosiar emang terkenal nekat buat acara-acara tivi yang sifatnya harian. Dulu, cerita silat digeber harian, sekarang giliran kontes-kontesan yang ditayangin dari hari ke hari. Sampe enek dah tuh tiap hari liat calon-calon bintang itu diasah (ceritanya) untuk jadi penyanyi ternama. Juga tentu saja ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Indonesian Idol&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kontes Dangdut Indonesia&lt;/span&gt; dan macem-macem kontes lainnya yang menyusul berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosen sama kontes, kali ini giliran hantu-hantuan. Ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paranoid&lt;/span&gt; yang nakut-nakutin orang, sampe kiai-kiai berjubah putih yang nguber hantu dan masukin ke dalam botol di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemburu Hantu&lt;/span&gt;. Belum lagi sesi gambar hantu dengan mata tertutup, yang seringkali berwujud perempuan ala zaman Belanda gitu. Saya dan kakak saya pernah secara khusus mendedikasikan waktu untuk nonton dan terpingkal-pingkal sepanjang nonton acara ini. Edan sumpah Lativi ini, acara nguber hantu kok ya dibikin tayangan live. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, tibalah giliran reality show amal. Sepanjang tahun 2005 aja paling enggak ada 22 reality show amal. Yang paling keinget orang palingan sih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt; di RCTI. Acara ini emang dasyat, bertahan dari akhir tahun 2004 sampai sekarang, perolehan rating bagus, pernah dapet Panasonic Award pula. Ketika saya bilang dasyat, maka ini berarti secara ekonomis. Soal penting enggaknya, ngaruh enggaknya acara ini buat yang nonton, itu lain perkara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mari kita berhenti di sini sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba kita kembali sebentar ke kata 'reality'. Realitas, dalam bahasa Indonesia. Artinya: kenyataan. Acara semacam ini emang semena-mena dianggap merepresentasikan realitas karena 'tokoh' dalam acara ini bukan aktor atau artis yang belajar akting. Juga, katanya, gak ada skenario, naskah atau skrip. Namanya juga 'reality show', ya gak sih? Nama programnya kan menyiratkan 'keaslian' alias kenyataan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Real people, real action, real emotion," katanya begitu yang mau ditangkap sama reality show. Padahal, seperti kata Ratna Mahadi dari Antv, reality show tetep punya skrip. Dia sendiri menyebut konsep acara ini sebagai 'realita yang diarahkan'. Haha. So what's so real about reality show then?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sekarang kita mengingat acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Spontan&lt;/span&gt;. Kalo &lt;span style="font-style:italic;"&gt;AFI&lt;/span&gt;? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Paranoid&lt;/span&gt;? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemburu Hantu&lt;/span&gt;? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uang Kaget&lt;/span&gt;? Apa iya itu semua bener-bener berusaha menangkap realita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo saya jadi produser acara TV, pastinya saya sinting kalo bener-bener pengen menangkap realita as-it-is. Caranya gimana? Naro kamera di tengah pasar, lalu nangkep reaksi orang terhadap kamera itu? Widih, udah gila apa. Program kayak gitu mau dijual pigimana? Lalu kemudian dibuatlah sebuah skrip. Kamera ditaro di pasar, lalu enaknya ada kejadian apa yah yang ditangkap (sebagai sebuah realita) oleh kamera? Coba deh ngerjain orang, trus diliat gimana reaksinya, mungkin seru juga. Atau didatengin selebriti ke situ yang pura-pura jadi pedagang ikan? Hm, boleh juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's a conducted reality after all, rite mate? Sebagai suatu bisnis dengan putaran uang yang begitu besar, tentu saja acara TV gak akan dibuat tanpa pertimbangan ekonomi. Dan dengan pertimbangan ekonomi itulah, terlalu berisiko kalo 'merelakan' kamera menangkap realita begitu aja, tanpa dipoles-poles dikit di sana sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalo kita nonton reality show, realita apa dong yang tengah kita tonton? Wong semuanya juga berdasarkan skenario, sesederhana apa pun skenario itu. Kalo reality show ternyata tetep melibatkan skenario, lalu apa bedanya dengan sinetron? Apa disebut 'reality show' jika tokoh ceritanya adalah 'orang biasa' dan bukan 'bintang sinetron'? Lalu kalo salah satu janji reality show adalah menangkap realita, apa bedanya reality show sama dokumenter? Hmm, jadi mirip juga dong sama segmen vox-pop di acara berita televisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Reality TV: audiences and popular factual television&lt;/span&gt; (2005), Annette Hill bilang kalo "Reality TV is a catch-all category that includes a wide range of entertainment programmes about real people. Sometimes called popular factual television, reality TV is located in border of territories, between information and entertainment documentary and drama." See.. reality show emang ada di wilayah abu-abu. Ibarat masa remaja, masih terombang-ambing tuh jati dirinya (kiekiekeieke). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kenapa dong teteup kekeuh disebut sebagai 'reality show' kalo kenyataannya yang ditangkap bukanlah realita, seperti yang dijanjikan? Hahaha.. nah lho nah lho! Pesan moralnya begini. Jangan percaya reality TV yang ngaku-ngaku menangkap realita. What's so real about that anyway?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: ioffer&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-115476787909833940?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/115476787909833940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=115476787909833940&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115476787909833940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/115476787909833940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/08/reality-tv-realita-apa.html' title='Reality TV: Realita Apa?'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-114650525251920136</id><published>2006-05-02T00:32:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:05:07.853+07:00</updated><title type='text'>Arianto</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pengantar:&lt;br /&gt;Di Indonesia, Anda mungkin tak pernah mendengar nama Arianto. Kalau menyandingkan nama Arianto dengan neurofibroma atau tumor di wajah kanannya, apakah Anda lantas kenal dengan Ari? Tak apa. Ari hanyalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang punya cacat di wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan tak sengaja dengan Ari di London, membawa reporter KBR 68h Citra Prastuti berkenalan dengan Ari dan perjalanannya dari Jakarta ke London untuk mendapatkan operasi pengangkatan tumor seberat nyaris 1 kilogram dari wajah sebelah kanan Ari. Citra sempat berbincang dengan Ari dan hendak membaginya bersama Anda. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/100_4681.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/100_4681.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;BAGIAN 1&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nama saya Ari. Untuk kehidupan yang tahun-tahun depan mungkin lebih cerah daripaa tahun-tahun kemarin. Mungkin bisa lebih baik daripada yang dulu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki muda itu baru berusia 20 tahun. Idolanya adalah penyanyi rap Eminem dan ia bergaya serupa Eminem. Dengan jaket dan celana training berbahan kaos warna putih dan gombrang, juga dengan gel yang membuat rambutnya jigrak, Ari menyelipkan earphone hitam di lubang telinganya. Lantas memastikan disc man-nya terselip rapi dalam kantong jaket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya sudah dipermak lewat operasi sebanyak lima kali. Kini tak ada lagi tumor seberat nyaris satu kilogram di sisi kanan wajahnya. Tumor itu membuat Ari bertahun-tahun seperti memiliki dua wajah yang terpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Ari ke London akhir tahun lalu adalah yang kedua kali, menjalani operasi wajah di Rumah Sakit Chelsea and Westminster. Sehari-hari, Ari tinggal sendiri di kamarnya di Mary Ward House, di tengah kota London. Kamarnya kecil saja, tapi cukup nyaman dengan dinding kamar bercat warna kuning terang. Ada satu tempat tidur dan dihadapannya terletak TV 14 inchi, alat pemutar DVD serta Playstation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah jendela, Ari membuat kalender sendiri. Dari kertas polos warna putih yang dipotong persegi. Ari menulis tanggal serta nama hari di sana, dalam bahasa Inggris, bahasa yang masih asing bagi lidah dan telinga Ari. Di situ tertera 14, Friday. Hari terakhir Ari di London sebelum pulang ke Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin lebih beda. Kalau waktu dulu kan penyakitnya masih ada, sekarang kan sudah agak berkurang. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari mengidap penyakit neurofibroma, penyakit yang berbentuk benjolan, seperti daging yang lembut, yang berasal dari jaringan saraf. Pertama kali Ari merasakan ada benjolan tersebut saat ia berusia 7 tahun, ketika ia masih tinggal bersama keluarganya di Desa Umbuljoyo, Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelihatannya bola mata yang hitam itu berubah putih. Ari tambah besar, katanya ada bintik-bintik di bagian muka. Lantas tambah umur, jadinya besar. Sudah berapa tahun ini penyakit Ari. Untuk mengingatnya susah juga. Bukannya gak mau, tapi susah untuk mengingat. Yang jelas dari mata terlihat putih semua. Dari pipi itu ke Kalau ganas, maka dia nambah umur tiap tahun. Ini membesarnya nggak setiap tahun, mungkin beberapa tahun. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, hidup mulai tak terlalu menyenangkan bagi Ari kecil. Ia harus menanggung tatapan jijik dari orang yang melihat dia, mesti menunduk saat orang melihatnya dengan pandangan aneh. Benjolan di sisi kanan wajah Ari tumbuh teramat besar, bahkan lebih besar dari ukuran kepalanya sendiri. Benjolan berat itu membuat leher Ari terancam patah akibat menanggung beban terlalu berat. Benjolan yang membuat Ari tampak berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dulu pas lagi masih sekolah, ya sering ada anak-anak yang nggak suka. Mungkin ya menjauhi Ari. Gak pernah nyakitin (fisik) sih, tapi dengan kata-kata. Bukan dengan pukulan. Bilangnya, jangan deket anak itu, nanti ketularan atau apa gitu. Ada yang bilang, tapi ya biarin aja, nanti yang di atas kan lebih tau daripada Ari.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari memilih untuk menyimpan sendiri rasa sakit hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Gak banyak cerita juga Ari sama orang tua. Kalo ada apa-apa, Ari pikir saja sendiri untuk gimana kalau bisa biar tenang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari lahir dan besar di kampung kecil di Lampung, bersama orangtua dan tiga adik perempuannya. Ibu dan Bapaknya adalah petani penggarap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di rumah juga bantu-bantu orangtua. Apa gitu. Pernah ikut mengarit padi, untuk apa saja yang disuruh atau dilakukan orangtua.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari hanya sekolah sampai di kelas 2 SD saja, lantaran tak ada biaya dan tak sanggup menghadapi tatap mata orang lain. Hingga kini, di usianya yang ke-20, Ari mengaku masih kesulitan membaca rangkaian tiga huruf sekaligus. Justru di London ia berkesempatan belajar baca tulis lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pak Wilbert. Tapi untuk menyatukan itu berpikirnya sangat susah. Kalau tiga disatukan itu susah, masih bingung. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilbert yang disebut Ari adalah orang yang mengajarkan baca tulis selama Ari tinggal di London. Laki-laki paruh baya ini adalah warga negara Belanda yang cakap berbahasa Indonesia setelah 30 tahun lebih tinggal di Jakarta. Laki-laki paruh baya ini yang sehar-hari mendampingi Ari ketika Ari sendirian melalui operasi-operasi penting bagi dirinya, di tengah negara berbahasa aneh bagi telinga Ari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ada sih sedihnya, pas lagi di rumah sakit, gak ada yang bisa nemenin gitu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orang Kedutaan juga jarang ngontak. (Mereka) nggak tahu kalau Ari sudah punya nomor telfon, tapi kalau itu, mereka nggak pernah ngontak kita. Cuma sekali dua kali saja. Cuma gitu saja. Mereka bilang ‘Kalau ada apa-apa bisa telfon saya di sini, nomor saya ini’. Tapi dikontak, mereka tidak datang. Ada Ibu Wilbert yang ngontak, tapi mereka nggak datang. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai Ari pulang pertengahan Maret lalu, tak ada kontak lagi antara Ari dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGIAN 2 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Wajah adalah jendela hati’. Pakem inilah yang dipegang yayasan non-profit yang berbasis di London, Facing the World. Yayasan ini didirikan oleh dokter-dokter bedah ternama Inggris, yang khusus menangani kasus seperti Ari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari bukan satu-satunya pasien yang pernah ditangani dokter-dokter yang tergabung dalam yayasan ini, meski ia satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Ada Angela dari Honduras, Hadisa dari Kabul, Kalyani dari India, serta enam anak lainnya dari berbagai penjuru dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Di Indonesia dua kali, eh tiga kali. Di sini dua kali. Total lima kali.  Di Indonesia, bagian mata dan hidung. Mata diambil. Hidungnya, tadinya kan ada tulangnya, jadi gak ada. Di sini, operasinya bagian pipi, di sini ya semua. Dari pipi, mata, hidung.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari beruntung bisa memperoleh operasi gratis untuk memperbaiki struktur wajahnya. Tiga kali ia dioperasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sampai akhirnya dokter di tanah air menyerah. Peralatan serta kemampuan kedokteran yang tersedia ternyata tak mampu membuat Ari tampak seperti anak lainnya. Normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Ari memang cukup lama sebelum akhirnya berkesempatan dioperasi di London. Sebelumnya, ia sempat muncul di dua stasiun televisi swasta untuk mendapatkan sumbangan demi operasi wajahnya. Lantas ia hijrah ke Jakarta dan ditampung di Yayasan Sinar Pelangi, sebelum akhirnya terbang ke Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Waktu itu.. kok bisa? Ari pikir, ah mungkin nggak bisa. Ari tunggu terus, ada panggilan dari sini. Lantas 2004 berangkat pertama kali ke London.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2004, Ari tiba di London dan sebulan setelahnya mendapat operasi pertama. Operasi yang dilakukan 15 dokter bedah ini berhasil mengangkat satu kilogram tumor dari wajah Ari. Untuk pertama kalinya, mata, hidung dan mulut Ari ada dalam kondisi agak sejajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu setengah tahun kemudian, tepatnya bulan Desember 2005, Ari kembali ke London untuk menjalani operasi lanjutan. Kali ini, operasi diarahkan pada bagian dagu, bibir serta mengganti tulang hidung yang hancur akibat desakan tumor. Dengan hidung barunya, kini Ari bisa bernafas lewat kedua lubang hidungnya serta bisa makan dan berbicara dengan lebih baik lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya lebih sama kayak yang kiri. Lebih sama. Tapi ya nggak sama 100 persen, tapi agak ke bawah sedikit. Tapi ya sudah. Kalo sudah kayak gini mau diapain lagi.(Kalau boleh minta operasi lagi?) Katanya sih mau dioperasi lagi, kurang tahu sih.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalo dipegang, ya masih ada rasanya. Meskipun sarafnya udah mati. Rasanya kayak kulit biasa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Arianto punya wajah baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/100_4650.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/100_4650.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGIAN 3 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada senengnya, ada sedihnya juga. Jauh. Mungkin kalau jauh dari orangtua itu sudah terbiasa, tapi kalau ini terlalu jauh. Untuk kontak saja sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari memang sering tinggal berjauhan dengan orangtuanya. Sejak ia hijrah ke Jakarta dan tinggal di Yayasan Sinar Pelangi, hanya beberapa kali saja ia menghubungi rumah. Maklum, di rumahnya tak ada telfon, sehingga ia hanya bisa menyampaikan kabar lewat temannya. Di yayasan, Ari mulai menjalin kekariban dengan teman-teman senasib di yayasan. Sama-sama cacat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karena tempatnya itu kan yang ada cuma anak-anak itu saja. Ya mungkin lebih aman juga. Tapi ya tergantung. Kalo ada orang yang baru datang dari mana dan lihat anak-anak yang lain juga, mmm beda. Kirain cuma Ari saja yang cacat, tahunya pas Ari lihat di yayasan, lebih banyak dari yang Ari kira.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004 dan 2005, ia dua kali ke London untuk waktu yang lama dan nyaris tak bisa menghubungi sanak saudara di rumah. Sinyal buruk, begitu kata Ari. Lagipula, telfon selular yang selalu disangkutkan Ari di kerah kaosnya itu baru didapatnya beberapa bulan lalu. Diberikan oleh dokter yang merawatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di London, Ari tinggal di sebuah tempat penginapan bernama Mary Ward House. Kamar Ari terletak di bawah tanah. Kamarnya berukuran sedang. Ari lantas menunjuk televisi 14 inchi, DVD player dan playstation yang ada di kamarnya. Dibeliin pemilik rumah, begitu penjelasan singkat Ari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di London, Ari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Berjalan-jalan sendirian, turun naik bus menuju rumah sakit tempat ia dirawat dan dioperasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kontrol, periksa gimana keadaannya. Di-scanning, periksa darah. Lantas untuk beberapa minggu langsung operasi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menyebut orang Inggris itu dingin dan tak ramah. Tapi kesan itu tak melintas di benak Ari. Bagi dia, orang-orang Inggris justru ramah, tak seperti orang Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orang sini biasa aja. Malah di sini lebih, orangnya lebih ramah. Lebih enak. Kayaknya kalau kita tau bahasanya, lebih kita bisa berteman lebih dekat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya. Kalo di Indonesia kan orang-orang yang belum tau kan… Nah kalo di sini kan orang-orangnya tahu (kalau) ini kenapa. Kalau di Indonesia kan efeknya lain. Ada yang efeknya jijik atau gimana gitu. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koper Ari, sudah tersimpan baik-baik kenangan akan Inggris. Sekotak coklat untuk oleh-oleh teman-teman di yayasan, selembar kaos tim sepakbola Inggris, selembar kaos kesebelasan Fulham (baca: Fulem) lengkap dengan tandatangan seluruh pemainnya serta kenangan tiga kali menonton bola langsung dari stadion, tak hanya di layar kaca saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari menutup koper, siap pulang. Kalender buatan Ari di kamar menunjukkan angka 14 dan hari Jumat. Hari terakhir Ari di London. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGIAN 4&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keterampilan, ada sih. Tapi belum terlalu bisa untuk bikin sendiri karena belum tau banyak. Mungkin harus belajar dulu untuk bikin sesuatu, mainan apa gitu yang dari kayu. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mahir bertukang, Ari sudah mengasah kemampuan montirnya. Ia mengaku bisa memperbaiki sepeda motor bebek dari berbagai merk. Setelah rampung operasi yang membuat wajahnya tampak lebih baik, Ari mulai memikirkan kemungkinan bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sesudah operasi, bisa sedikit bekerja. Soalnya kalau anak cacat kan kalau di Indonesia kan untuk cari kerja itu sangat-sangat sulit. Sangat sulitnya itu kita mau kerja apa. Soalnya kalau di Indonesia kan lihat Ari saja ih gimana gitu. Kayak orang jijik. Buang ludah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, Ari merasa tak berguna sebagai manusia ketika wajahnya belum dioperasi. Tapi kini, ia mulai bisa merencanakan masa depannya. Sepulangnya ke kampung halaman kelak, ia berencana hendak mengumpulkan teman-teman masa kecilnya serta mengajak mereka membuka usaha bengkel motor bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin ada beberapa teman di kampung yang bisa ngajak kompromi, gimana. Misalnya buka bisnis bareng dia. Bisa Ari telfon dan kontak ke London untuk minta bantuan, bahwa Ari butuh peralatan ini gitu. Kontak lah. Dokter pernah bilang, kalau bisa, apa yang bisa Ari perbuat, dia bisa membantu dari sini. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah punya rencana untuk masa depannya kelak, Ari enggan menyebutnya ‘cita-cita’. Bagi Ari, cita-cita itu milik anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Belum ada sih.  Menulis saja belum begitu, untuk cita-cita.. belum kepikiran untuk cita-cita. Kalau kita, kalau masih kecil, cita-cita itu masih bisa diharapkan. Untuk Ari.. untuk berpikir yang lebih tinggi itu sulit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi memikirkan soal pasangan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk naksir cewek, belum belum begitu penting untuk hidup Ari. Yang penting sekarang kesembuhan dulu. Kalau sudah sembuh mikirin yang apa kek apa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ari, yang lebih penting sekarang adalah dia sudah tampak ‘berbeda’, alias semakin mirip dengan anak-anak lainnya. Anak-anak normal. Sehingga Ari bisa mendapatkan kembali kehidupan normalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin lebih penting normal ya. Untuk kehidupan nanti, gimana ya. Kalo gini terus kan gak bisa juga untuk bekerja atau apa. Untuk berpikir.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk itu, Ari tahu ia tak boleh berputus asa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reportase Citra Prastuti, dari London.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;[Radio 68h, Mei 2005]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-114650525251920136?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/114650525251920136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=114650525251920136&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/114650525251920136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/114650525251920136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2006/05/arianto.html' title='Arianto'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-113154227824037330</id><published>2005-11-10T04:17:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:17:18.166+07:00</updated><title type='text'>Apa Itu 'Film Nasional'?</title><content type='html'>Ini dimulai dengan pertanyaan mendasar dan sangat penting 'apa itu film nasional?' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sinema-indonesia.com/"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://www.pakde.com/sinema.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mengacu pada film di Indonesia, mari coba kita lihat. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sherina&lt;/span&gt; dibikin Mira Lesmana, yang pernah sekolah di Australia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk Rena&lt;/span&gt; digarap Riri Riza, yang mengambil kuliah S2-nya di Inggris. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Arisan&lt;/span&gt; yang dibuat Nia Dinata, juga pasti ada lah ngaruhnya dari hasil sekolah dia di Amerika. Tentu nggak melulu latar belakang pendidikan (di luar negeri) yang harus jadi acuan di sini. Nah kalau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eiffel I'm in Love&lt;/span&gt;, latar belakang film itu sebagian adalah Paris, Perancis. Atau film-film jaman &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan Si Boy&lt;/span&gt; dulu, banyak yang ber-setting Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau coba kita ambil film Hollywood. Misalnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Independence Day&lt;/span&gt;. Film yang bercerita tentang serangan alien ke Amerika Serikat (alias juga ke seluruh dunia itu) sangat kental nuansa 'patriotis'-nya. "Amrik banget deh," kurang lebih begitu. Tapi ternyata sutradaranya adalah orang Jerman. Nah lho. Patriotisme mana yang masuk ke dalam film itu, Amerika atau Jerman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara untuk melihat suatu film, mencoba memberi label apakah suatu film itu film nasional atau bukan. Pertama, apakah film ini dibuat dari industri dalam negeri alias domestik? Kedua, apa yang mau disampaikan dalam film ini? Ketiga, siapa yang mengkonsumsi. Keempat, dilihat dari segi 'kritis' yang 'mengharapkan' suatu film nasional adalah 'film berseni' (ah, apa pula itu 'berseni' toh?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu cara lain juga untuk melihat suatu 'film nasional' katanya adalah melihat dari &lt;em&gt;national identity&lt;/em&gt; yang ada di dalam film tersebut. Lantas kemudian kita bertanya lagi dong, apa itu identitas nasional? Apa itu 'orang Indonesia'? Apakah orang yang tinggal dari Aceh sampai Papua itu adalah orang Indonesia? Atau mereka yang mengusung paham NKRI adalah orang Papua? Gimana dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, apakah mereka boleh juga menyebut diri sebagai 'orang Indonesia'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, datanglah Benedict Anderson dengan definisinya tentang &lt;em&gt;nation as an imagined community&lt;/em&gt;. Sebagai sebuah komunitas yang punya &lt;em&gt;secure and shared identity &lt;/em&gt;serta &lt;em&gt;sense of belonging&lt;/em&gt;. Artinya, ini sama sekali tidak terbatas pada batas-batas geografis dan politis. Ya toh? Dan ini semakin sulit membuat definisi dari 'film nasional' itu sendiri. Karena tak mesti tinggal di wilayah geografis Indonesia untuk bisa menyebut diri sebagai orang Indonesia yang punya alur pikiran Indonesia, dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, film yang dibuat oleh orang Indonesia yang sejak kecil tinggal di luar negeri lalu dia membuat film tentang Indonesia, apakah karyanya bisa dianggap 'film nasional'? Secara &lt;em&gt;content&lt;/em&gt;, iya, tentang Indonesia. Tapi kalo diliat secara ekonomi, ini kan tidak dibuat di bawah kerangka industri domestik alias dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi 'film nasional' sempat dilihat sebagai perlawanan terhadap film Hollywood. Ah masa iya selalu begitu? Rasanya enggak juga. Karena film-film Hollywood itu terhitung curi start, maka dia sudah mengukuhkan 'standar' tentang bagaimana itu narasi film yang bagus, bagaimana itu marketing film yang efektif dan bagaimana itu efek dramatisasi yang menawan. Konsep itu kemudian diimpor dari 'barat' ke 'timur' dan jadilah industri film di 'timur' terhegemoni dengan konsep film ala Hollywood. Dan ini membuat kita ketika menonton &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eiffel I'm in Love&lt;/span&gt; ketika di adegan Sandy Aulia berlari-lari karena salah menunggu di bandara Soekarno-Hatta dan lantas bertubrukan dengan Samuel Rizal, seketika terlintas "Ah ini adegan Hollywood banget." Paling tidak di kepala saya sih terlintas pikiran itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas ada kategorisasi lain, berjudul &lt;em&gt;cultural identity of national cinema&lt;/em&gt;. Isinya adalah apa yang disampaikan dalam film, cara pandang serta gaya narasi serta representasi yang digunakan dalam film tersebut. Ah, ini makin sulit lagi mendefinisikan film nasional. Indonesia saja punya budaya yang begitu beragam, mana yang disebut sebagai 'budaya Indonesia'? Lantas kalaupun ada konsep 'budaya Indonesia' maka pastilah itu propaganda dari pemerintah (NKRI, budaya timur, atau apalah itu namanya). Lantas kalaupun kita terima apa itu 'budaya Indonesia' artinya dalam film nasional ada &lt;em&gt;internal cultural colonialism&lt;/em&gt;. Idih, gak asik banget gak sih. Kita dijajah sama film sendiri tentang makna nasionalisme. Yang kebayang, langsung film G30S/PKI yang wajib ditonton jaman dulu (damn, itu penulisan PKI aja juga &lt;em&gt;fait-a-compli&lt;/em&gt; serta propaganda luar biasa toh?). Dari kategori ini lantas disimpulkan lagi bahwa film nasional tidak serta merta merefleksikan identitas diri dan budaya yang sifatnya homogen. Setuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ada juga kategori &lt;em&gt;inward-looking&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;outward-looking&lt;/em&gt;. Yang pertama adalah dengan memperhatikan kondisi ekonomi, sosial dan politik di negara masing-masing. Yang kedua maksudnya adalah mencari identitas film nasional dengan membandingkan dengan film negara lain. Misalnya, ketika kita lihat film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Full Monty&lt;/span&gt; maka itu kita anggap film "Inggris banget". Lalu kita memecahnya jadi beberapa identifikasi (mengapa kita menganggapnya 'Inggris banget' gitu) dan membandingkannya dengan film Indonesia. "Saya cakep karena kamu jelek" gitu deh gampangnya, hihihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrew Higson menyampaikan tiga wanti-wanti yang bisa dipakai untuk melihat apa itu film nasional. Pertama, sirkulasi film. Kedua, bagaimana penonton 'menggunakan' film tersebut. Ketiga, hubungan antara sirkulasi film dengan kemungkinan mencapai penonton yang berbeda. Nah lho, yang ketiga ini emang rada ribet. Karena bisa dilihat dari &lt;em&gt;intellectual discourse&lt;/em&gt;, yaitu film nasional adalah film yang 'berkesenian' dan &lt;em&gt;populist discourse&lt;/em&gt;, yang melihat film nasional sebagai hiburan massal yang mendaur ulang mitos-mitos yang populer di tengah masyarakat. Ah ini kok makin ribet lagi. Setuju gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAH, kebingungan mendefinisikan film nasional tidak berhenti di sini saudara-saudara. Kenapa? Karena argumentasi yang dari tadi diajukan Andrew Higson itu seolah mengklaim bahwa 'identitas nasional' adalah sesuatu yang udah saklek dan terbentuk matang. Padahal, kalau lagi-lagi mengacu pada Benedict Anderson dengan &lt;em&gt;imagined community&lt;/em&gt;-nya, coba, gimana kita mendefinisikan 'identitas nasional'. Ini kan masih &lt;em&gt;on-going process &lt;/em&gt;juga, karena identitas nasional itu selalu berproses. Gitu bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah hal lain yang luput diperhatikan Andrew Higson di tulisan pertamanya tentang &lt;em&gt;inward-looking &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;outward-looking&lt;/em&gt;. Asumsi itu ternyata dianggap problematik (anjrit, 80-an banget.. 'problematik') karena (1) seolah-olah identitas nasional itu sudah jadi dan matang (2) karena sulit betul menegaskan 'batas nasional' karena dunia ini sudah menjadi oh begitu global dan transnasional. Betul kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngehe-nya, di tulisan kedua Higson ini (yang isinya kurang lebih 'koreksi' atas tulisan pertamanya yang dibuat 10 tahun silam), Higson malah mempertanyakan kembali pertanyaannya. "Penting gak sih mendefinisikan apa itu 'film nasional'?" Dwoooh. Kayak Olin aja nih di film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;30 Hari Mencari Cinta&lt;/span&gt;... huhuhuhu. Trus dari tadi ngapain kita ngomongin soal kategori-kategori dan &lt;em&gt;ways to define 'national cinema'&lt;/em&gt;?? Plis deeehh... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Higson mengakhiri tulisannya dengan kesimpulan bahwa &lt;em&gt;it is inappropriate to assume that cinema and film culture are bound by the limits of the nation-state&lt;/em&gt;. Juga bahwa &lt;em&gt;to make assumptions about national specificity is to beg too many questions&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;It doesn't seem useful to me to think through cultural diversity and cultural specificity in solely national terms : to argue for a national cinema is not necessarily the best way to achieve either cultural diversity or cultural specificity. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngarti? Jadi ngapain capek-capek nulis segala macem cara mendefinisikan 'film nasional' kalau ternyata "tidak penting untuk membicarakan apa itu 'film nasional'"? Huaaaaaa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Terinspirasi &lt;a href="http://www.uea.ac.uk/eas/people/higson/higson.shtml"&gt;Andrew Higson&lt;/a&gt; dalam "The Concept of National Cinema" (1989) dan "The Limiting Imagination of National Cinema" (2000)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: sinemaindonesia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-113154227824037330?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/113154227824037330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=113154227824037330&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/113154227824037330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/113154227824037330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/11/apa-itu-film-nasional.html' title='Apa Itu &apos;Film Nasional&apos;?'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-113114548001457148</id><published>2005-11-05T21:02:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:20:05.366+07:00</updated><title type='text'>Lebaran</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Lebaran di London, Inggris, tak seperti di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia, yang ditandai dengan hari libur plus cuti bersama. Di sana, kehidupan bergulir seperti biasa. Jalanan tetap macet, orang-orang tetap bekerja dan tidak ada hari libur. Reporter 68h, Citra Prastuti, saat ini tengah berada di London untuk melanjutkan studinya. Bagaimana dia dan juga warga Indonesia lainnya di kota tersebut merayakan Lebaran, jauh dari kampung halaman? Berikut laporan Citra Prastuti dari London.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kemarin pagi saya ada di Jakarta, saya pasti sudah dibangunkan dengan gemuruh takbir dan beduk yang bertalu-talu. Tapi pukul 7 pagi di London kemarin sama seperti pagi-pagi lainnya. Dingin mulai menusuk di hari-hari awal musim gugur. Jangan terlalu berharap kehangatan suasana Lebaran di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota London, diperkirakan ada satu juta umat Muslim yang tinggal di sini. Kalau ditotal dari berbagai penjuru Inggris Raya, kira-kira ada sekitar dua juta umat Muslim yang datang dari berbagai belahan dunia. Kalau kita bergerak menuju daerah pemukiman Muslim, barulah terasa nuansa hari raya. Orang-orang tampak keluar rumah dengan pakaian yang lebih istimewa. Tak sekadar baju kerja atau sekolah yang mereka pakai sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;London Central Mosque, mesjid terbesar di London, menunjukkan kemeriahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan orang tumpah ruah di mesjid yang rampung dibangun tahun 1978 silam ini.  Berbagai macam bentuk rupa manusia ada di sana, dengan beragam warna dan atribut diri, semuanya memancarkan kegembiraan hari raya. Mesjid yang dirancang Sir Frederick Gibberd ini sanggup menampung 1800 jemaat, dengan ornamen khas Islam dengan dominasi warna biru di balik kubah besar berwarna emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Indonesia yang tinggal di London dan sekitarnya lebih memilih melaksanakan shalat Idul Fitri di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Grosvernor Square. Kantor KBRI London ini letaknya berdekatan dengan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat, di kawasan cukup elit, tak jauh dari tempat belanja nan hiruk pikuk, Oxford Street. Meski kantor diliburkan untuk urusan visa dan sebagainya, suasana di dalam sungguh riuh. Celetukan bahasa Indonesia mulai ramai terdengar di sana sini, bercampur tuturan bahasa Inggris yang fasih dari anak-anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Rizki Fona, ini adalah lebaran kedua tanpa keluarga. Sejak Februari lalu, Kiki, panggilan akrabnya,   melanjutkan studi S1-nya di London Metropolitan University. Perempuan berkacamata ini kangen betul berlebaran di rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Gimana rasanya lebaran dua kali tanpa keluarga?) Bete sih sebenernya… sebenernya sih bete.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://pippilottagoinguk.blogspot.com/2005_11_01_pippilottagoinguk_archive.html"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7913/1636/1600/100_1018.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kiki, Lebaran juga berarti keriaan berburu makan gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Biasanya, seperti kayak di Jakarta sih. Shalat Ied dulu pagi-pagi. Kalau yang mahasiswa biasanya hunting makanan gratis di Mawar Restoran di Edgware, lalu siangnya kita ngumpul di rumah dutanya, makan siang bareng. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar, yang disebut-sebut Kiki, adalah nama sebuah restoran yang menyajikan makanan Malaysia, yang rasanya mirip dengan masakan Indonesia. Setiap Lebaran, restoran ini mengkhususkan diri menyajikan makanan gratis, demi bersama-sama merayakan hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Kiki rindu rumah, Aidinal Al Rashid justru lebih sulit berhitung berapa kali bisa berlebaran di kampung halamannya, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia sudah nyaris 30 tahun tinggal di London bersama keluarganya dan kini bekerja di British Council. Aidi, yang juga Ketua Federasi Pencak Silat Inggris Raya, mengaku selalu menyempatkan diri cuti saat Lebaran. Suasana lebaran dari tahun ke tahun, bagi Aidi, terasa makin semarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau lebaran itu tambah lama tambah meriah kayaknya. Waktu saya pertama datang, 30 tahun yang lalu, umat Islam di Inggris ini belum terlalu banyak. Sejak jaman reformasi ini, KBRI ini sudah jauh lebih terbuka. (Jaman dulu memangnya?) Jaman dulu itu KBRI itu agak sedikit angker. Maklum saja, jaman Orde Baru dulu, masyarakat biasa kadang-kadang nggak terlalu ditanggap, kecuali bos-bos lah, atau anak-anak bos…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tak usah risau. Suasana halal bihalal, berkumpul bersama kerabat seperti layaknya Lebaran di rumah sendiri, tetap bisa dilakukan di London. Bahkan warga Indonesia yang tinggal di luar kota London, banyak yang mengkhususkan diri untuk melancong demi berlebaran dengan kerabat dan teman dekat di sini. Termasuk jika harus berkelana naik kereta minimal satu jam lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa, banyak yang memilih bolos. Sementara mereka yang sudah bekerja, harus mengajukan cuti dahulu kalau mau berlebaran dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Walaupun banyak orang Islam di Inggris Raya ini, Idul Fitri bukan tanggal merah. Jadi kayak saya dan teman-teman yang kerja terpaksa ambil cuti untuk merayakan. (pernakah ada dorongan untuk menjadikan lebaran sebagai hari libur?) Kayaknya belum pernah ya. Pernah ada dari masyarakat umumnya, masyarakat Islam di Inggris, yang mulai berpikir bahwa kita memberikan kontribusi ekonomi dan politik yang mulai besar, terutama ekonomi ya. Sedangkan kita itu nggak diakui hari besar kita. Nah, sementara ini dari pemerintah sikapnya itu, oh ya bisa aja ambil cuti sehari, dikasih special leave, tergantung instansi masing-masing. Tapi belum sampai di tahap dijadikan tanggal merah, itu belum.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di manakah tempat bagi mereka yang merindu dan ingin menikmati sajian makanan lebaran khas Indonesia?  Wisma Nusantaralah tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat halal bihalal ini bernama Wisma Nusantara. Lokasinya di daerah East Finchley, berjarak sekitar 20 menit dari pusat kota London, jika perjalanan ditempuh dengan menggunakan kereta bawah tanah. Dari stasiun kereta, masih harus berjalan lagi sekitar 15 menit, di tengah deru angin musim gugur yang mulai menusuk tulang.&lt;br /&gt;Wisma ini adalah rumah dinas duta besar Indonesia untuk Inggris. Setelah Juwono Sudarsono didaulat menjadi Menteri Pertahanan, posisi duta besar sampai sekarang masih kosong. Menurut staf KBRI, Marty Natalegawa, sebagai pengganti Juwono, baru akan datang setelah Lebaran nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah berbata merah ini berukuran besar, terletak di daerah perumahan yang terbilang tampak lengang. Di daerah ini juga, penyanyi Mick Jagger dan George Michael pernah bertempat tinggal. Untuk menambah luas arena halal bihalal, di bagian belakang rumah ditambah lagi dengan tenda tertutup berwarna putih yang terdiri dari dua bagian, satu di tengah dan satu di kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini, suasana jauh lebih ramai lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang disajikan juga mengundang selera. Paling tidak, memuaskan rindu pada masakan Indonesia terhitung sulit dimasak sendiri. Ada opor ayam, rendang, kentang kering, serta gulai nangka dan kerupuk. Lalu di meja camilan, ada bajigur, minuman bersoda, juga kue lumpur dan pastel. Bayangkan kalau makanan seperti itu harus dimasak sendirian di dapur asrama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Othniel Lande termasuk warga perantauan yang tak bisa ikut bertemu kawan-kawan setanah air di Wisma Nusantara. Ia tak bisa cuti Lebaran. Sebagai penjaga malam di kantor KBRI, ia mesti masuk, menggantikan teman kerjanya yang lebih dahulu cuti. Artinya, ia harus melewatkan sepanjang hari Lebaran kemarin berjaga di kantor KBRI seorang diri. Pun, jauh dari keluarga di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Temen saya itu satu pulang. (sendirian dong pak?) Iya nih, saya ambil alih sementara jadinya. (wah jadi dubes sementara dong pak?) Hahahaha.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Lebaran semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra Prastuti, London, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Radio 68h, November 2005]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-113114548001457148?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/113114548001457148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=113114548001457148&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/113114548001457148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/113114548001457148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/11/lebaran.html' title='Lebaran'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-111556462553635841</id><published>2005-05-09T12:02:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:33:14.780+07:00</updated><title type='text'>Perempuan-perempuan Joe</title><content type='html'>Mula-mula saya pikir perempuan-perempuan yang ada di tayangan reality TV &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; itu pasti perempuan bodoh. Jelas bodoh, karena mereka mau saja disuruh tampil di depan televisi (yang artinya ada di hadapan puluhan juta pasang mata di seluruh Indonesia) dan memperebutkan satu laki-laki yang milyuner bohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula juga saya kasihan sama mereka, karena terperangkap dalam konsep-konsep buatan manusia dalam rangka memperebutkan sesuatu. Perempuan tercantik lah yang akan dipilih, sementara yang kurang cantik, maka pulang lah kau dengan tangan hampa. Sang laki-laki pun punya kesempatan yang sangat mewah, untuk bisa menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang pulang setiap pekan, dengan kesadaran nyata bahwa dia sejatinya bukanlah orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/perempuanjoe.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/perempuanjoe.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya bicara dengan perempuan-perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tary kehilangan pekerjaannya karena tak kunjung tereliminasi dalam tayangan itu. Sandra bolos dari pekerjaannya sebagai model atas seijin agensinya untuk ikut memperebutkan Joe cap Madura alias Marlon. Dinar menangis sesegukan karena harus berpisah dengan ibunya selama satu bulan syuting di Bali. Ketika ditanya, semua sepakat berkata bahwa ini semata-mata pengalaman yang ‘kenapa nggak dicoba?’ Lalu kemudian tentu saja ada uangnya. Kalau tidak, mengapa harus mengorbankan segala hal yang sudah dimiliki di dunia nyata? Yang lain tak mau mengaku berapa uang yang dikantonginya. Cuma Tary yang menyebut pasti : 100 juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah itu tak sedikit bagi Tary yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai swasta di sebuah perusahaan milik Aburizal Bakrie. Bagi Sandra dan Dinar yang sehari-harinya bekerja sebagai model, uang ini juga bukan sesuatu yang bisa mereka peroleh dalam satu kali kesempatan. Tapi kesempatan bersama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; ini adalah sesuatu yang mewah : berkesempatan ke Bali, gratis, bisa mendapat perhiasan dan hadiah-hadiah menarik per minggunya, juga bisa ‘bersaing’ memperebutkan Marlon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan-perempuan ini berkeras : mereka sadar penuh bahwa ini adalah permainan. Di awal kontrak memang tak pernah disebut apa nama program reality show ini. Mereka hanya diberitahu kalau akan muncul dalam ‘big tv date’, tanpa menyebut judul tayangannya. Begitu sampai di Bali, barulah mereka menebak-nebak acara apa gerangan yang tengah mereka ikuti. Dari saat Marlon turun dari helikopter dalam episode pertama, Tary sudah yakin, “Ini pasti acara seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;For Love or Money&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire&lt;/span&gt;. Saya kan nonton acara-acara seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak saya sudah diyakinkan dalam satu poin : mereka ikut ini semua dengan kesadaran penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu program &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; ini muncul di RCTI pertengahan Maret lalu, langsung muncul kritik di sana-sini. Kebanyakan protes seputar ketidaksetaraan relasi antara perempuan dan laki-laki yang jelas-jelas muncul di sana : 20 perempuan memperebutkan satu laki-laki, milyuner bohongan pula. Acara ini tentu saja bukan ide orisinil pemuda-pemudi bangsa yang telah menyingsingkan lengan baju, karena ini aseli mencontek. Artinya, penonton Indonesia juga sudah pernah melihat versi asli tayangan seperti ini. Ragamnya pun banyak, ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Bachelor/Bachelorette&lt;/span&gt;, ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;For Love or Money&lt;/span&gt; dan ada juga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire&lt;/span&gt;. Bukan barang baru. Tapi begitu diadaptasi ke Indonesia, kenapa jadi begitu menyakitkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah permainan. Saya sadar, perempuan-perempuan itu juga sadar, Naratama sang sutradara pun berharap begitu. Pastinya. “Penonton Indonesia sudah cukup pandai untuk memahami bahwa ini adalah permainan,” alasan macam ini yang pastinya dikedepankan. Saya bukannya tidak setuju dengan argumentasi itu. Toh, saya tidak dalam posisi membodohi penonton, karena saya juga penonton televisi (yang aktif memindah saluran dengan kekuatan remote di tangan, tentunya). Tapi frase ini sangat rentan. Frase ini sama rentannya dengan argumentasi para pembuat sinetron : “Kita hanya menyesuaikan dengan selera penonton Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/joemillionaire.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/joemillionaire.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kita kembali ke perempuan-perempuan ini. Apakah mereka bersungguh-sungguh ketika memperjuangkan perhatian Joe?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan-perempuan yang saya tanya ternyata serius betul memperlakukan ini sebagai sebuah permainan : “Kami hanya melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri.” Ini ibarat permainan tiap 17 Agustus, saat kita beradu cepat makan kerupuk atau lomba balap karung. Namun pialanya bukan lagi trofi besar berwarna kuning, tapi seorang laki-laki. Jangan lupa, layaknya permainan, juga ada persaingan di dalamnya. Ada saja perempuan-perempuan yang mengungkapkan keirian mereka terhadap satu sama lain. Yang saya ingat betul, Tere jelas-jelas memperlihatkan itu kepada Nelly, ketika Marlon hanya mengajak Nelly naik ke atas gajah. Saya lantas berpikir, apakah mereka tidak merasa ridiculous ketika harus melakoni lomba itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau saya jadi mereka, saya mungkin juga akan bermain sebaik mungkin supaya tidak tereliminasi.  Ini momen tepat untuk memperkaya diri sendiri. Apalagi untuk orang seperti Tary yang dipecat dari pekerjaannya karena terlalu lama bolos kerja untuk syuting. Tiap pekan, ada bayaran yang menanti. Juga ada kalung, gelang dari Goldmart, sebagai salah satu sponsor. Berkesempatan pakai baju-baju bagus, didandanin, experiencing to be ‘someone else’, dibayar pula. I might as well do as they did : do my best. Haha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah tontonan, apalagi dibesut oleh seorang Naratama yang bukan orang baru di dunia televisi, tentu dia tak kan menyerah pada argumennya sendiri : tak ada skenario. Skenario toh dibangun berdasarkan karakter. Dan tim produksi lah yang menentukan karakter perempuan macam apa yang dimainkan di tayangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; kali ini. Karakter yang saya anggap cukup membantu arahan ‘skenario’ adalah Tere dan Meidy. Tere, karena memperlihatkan rasa iri secara cukup jelas. Meidy, sebagai karakter antagonis sejati sepanjang program berjalan, sampai dia tereliminasi. Karakter yang lain, yah sekedarnya saja lah. Ada rasa-rasa iri sedikit yang agak muncul, tapi perempuan-perempuan itu berusaha diplomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meidy adalah satu-satunya karakter antagonis di sini. Jebolan (alias DO) FISIP UI ini terlihat beberapa kali menghina teman-temannya sesama kandidat pacar Joe, sebagai ‘badut-badut Joe’. Ajaib juga mendapati pernyataan seperti ini muncul, karena toh dia ada di dalam program yang sama. Beda kalau pernyataan itu keluar dari kita yang menonton di luar layar kaca. Tapi hei, ente kan ada di di situ juga, terlibat dalam kegilaan itu… Apa tak terpikir acaranya bakal segila ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu poin lagi yang disasar 'pecinta' &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt;, termasuk saya, adalah soal ‘penting gak sih acara ini?’. Ingatkah Anda pada kalimat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’? Lalu di mana letak kalimat bombastis ini pada tayangan satu jam di Minggu malam dan satu jam di Rabu malam ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra, Tary dan Dinar yakin bahwa ada sisi edukatif dalam tayangan ini. Mereka menyebut sejumlah contoh pertemuan mereka dengan Larasati, Miss Singapore, dan pakar-pakar macam itu lainnya di salah satu hari-hari syuting mereka di Bali. Kalau dilihat dari kacamata itu, mungkin itu berguna bagi mereka, sebagai pelakon calon pacar Joe. Tapi buat penonton? Sisi edukasi apa yang tersisa bagi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; adalah kontroversi sesaat. Diskusi yang digelar wartawan-wartawan hiburan beberapa waktu lalu sebetulnya juga sudah bisa ditebak arahnya, siapa berargumentasi seperti apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung dari kontroversi, bagi sebuah program televisi,  sama jelasnya, yaitu kenaikan rating. Dan itu sudah dibuktikan oleh Naratama. Ibu Naratama giat berhitung, acara yang digarap anaknya meraup iklan yang terus bertambah tiap pekannya. Sandra, Tary dan Dinar tak pernah menyangka bahwa acara mereka bakal dibenci sekaligus ditunggu. RCTI tentu tenang-tenang saja di belakang meja, karena program kontroversial sama dengan rating tinggi sama dengan uang banyak. So, what’s to worry?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinar masih rajin mengirim SMS kepada saya, supaya tak lupa menonton Joe Millionaire Indonesia, di hari Rabu dan Minggu. Malam ini, kata Dinar, tak ada yang dieliminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, benar begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menonton &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Joe Millionaire Indonesia&lt;/span&gt; malam ini. Seperti juga Minggu-Minggu malam sebelumnya di pukul 22 WIB. Ibu saya sampai enek karena semakin saya nonton, semakin saya mengerang. Saya tidak suka tontonan itu. Tapi saya harus paham betul apa yang saya tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kesyel, karena itu saya menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: cybertainment, nova&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-111556462553635841?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/111556462553635841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=111556462553635841&amp;isPopup=true' title='17 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111556462553635841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111556462553635841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/05/perempuan-perempuan-joe.html' title='Perempuan-perempuan Joe'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-111535007947813403</id><published>2005-05-07T00:30:00.000+07:00</published><updated>2006-08-06T07:49:19.900+07:00</updated><title type='text'>Kreativitas Lima Ribu Perak</title><content type='html'>Yang namanya ide, pastilah mahal harganya. Apalagi kreativitas. Orang dituntut untuk berpikir out of the box untuk menghasilkan sesuatu yang brilian. Tidak semua orang, mestinya, punya kemampuan kreatif yang tinggi. Dan untuk itu, kreativitas, juga ide, mesti dihargai secara pantas dan layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau sebuah kreativitas, gagasan, ide hanya dihargai Rp 5 ribu per lembarnya, apa jadinya? Dan itulah saudara-saudara, harga dari selembar skrip sinetron yang setiap jam-nya kita tonton di televisi Indonesia, di saluran mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau kita baca cerita tentang penulis-penulis muda untuk sinetron, sepertinya yang muncul hanya yang bagus-bagus saja. Secara uang, mereka bisa kaya raya, tinggal di apartemen, dihargai tinggi dan lain-lain. Itu mungkin untuk mereka yang sudah punya ‘nama’ di kalangan sinetron. Tapi buat yang baru memulai? Ya Rp 5 ribu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat ditawari untuk menulis skrip sinetron untuk sebuah rumah produksi berinisial MD (ah, nggak inisial banget sih!). Saya tidak tahu berapa bukaan harga pertama sebagai calon penulis yang tidak punya pengalaman apa pun di bidang tulis menulis sinetron. Kemampuan menulis, jelas ada, tapi tidak untuk sinetron, yang for God sake, sungguh-sungguh saya benci. Saya ingin menjajal emosi dan kemampuan saya saja ketika mengajukan diri untuk pekerjaan itu : sanggupkah saya mengerjakan sesuatu yang saya benci?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja di tawaran pertama itu saya tidak sungguh-sungguh diserahi tanggung jawab untuk menulis keseluruhan skenario. Ah, siapa lah saya ini di hadapan mereka. Saya akan menjadi asisten co-writer. Jadi ternyata begitu cara kerja di sinetron : ada writer yang punya gagasan besar tentang sinopsis suatu sinetron, lalu ada co-writer yang memecah gagasan itu per episode dan per scene, lalu ada seorang saya, alias asisten co-writer, yang memecah adegan per scene itu dalam dialog. Sebetulnya, judul “asisten co-writer” itu hanya karangan saya saja, karena saya tidak tahu nama resmi pekerjaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula saya diberi tes dulu oleh penyelia. Ini adalah jabatan di antara writer dan co-writer, untuk memastikan supaya gagasan sang writer ini diterjemahkan secara tepat ke dalam episode dan scene. Oleh si penyelia ini, saya diberi gambaran tentang sebuah situasi. Misalnya seperti ini. Ani itu orang jahat dan Ina itu orang baik. Mereka berdua adalah saudara tiri, tinggal satu rumah, dengan ibu tiri – yaitu ibunya si Ani jahat – dan ayah kandung yang lemah (layaknya laki-laki tak berkepribadian di sinetron itu). Ina baik ini pacaran dengan laki-laki ganteng dan kaya raya bernama Budi. Lalu tiba-tiba Budi ini lupa ingatan dan ‘diracuni’ pikirannya oleh Ani jahat bahwa yang jahat sesungguhnya adalah Ina. Lalu saya diminta menggambarkan dialog antara Ina baik dan Budi, ketika Ina berupaya meyakinkan Budi yang lupa ingatan itu bahwa mereka masih pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ini mah cincay!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mulailah saya menulis. Oya, sebelum saya lupa, saya menulis keseluruhan dialog itu nantinya dalam bahasa Inggris. Kenapa? Karena saya akan bekerja untuk seorang writer dari India. Hm, well, sinetron kita kan memang dikuasai ‘mafia’ keluarga India, toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah saya serahkan hasilnya ke penyelia, dia datang kembali dengan wajah bahagia : We like it. Saya langsung pasang wajah bahagia, tersipu malu dan ekspresi aduh-gak-nyangka-dipuji-padahal-kan-ini-baru-pertama-kali-lho. Padahal ya nggak merasa dipuji juga. Ya ampun, ini sinetron gitu! Kenapa juga mesti bangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari penyelia, barulah saya bertemu dengan si writer. Laki-laki, 40an tahun, sudah punya satu anak usia SD. Si penyelia ini adalah istri si writer. India juga. Lalu kita mulai bicara-bicara uang di apartemennya di kawasan Senen, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga episode pertama, dibayar Rp 250 ribu/episode. Tiga puluh episode berikutnya, dibayar Rp 350 ribu/episode. Setelah itu, bayarannya meningkat menjadi Rp 500 ribu/episode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengangguk saja. Oke. Di kepala saya cuma satu hal : jajal saja dulu, jangan pikirin duitnya! Tapi sadar tidak sadar, saya segera meraih telfon selular saya. Memencet angka 8 yang lama, lalu keluar ‘calculator’. 250000 : 50 = 5000. Astaga! Saya mendekatkan layar telfon untuk meyakinkan diri bahwa saya menghitung jumlah angka nol dengan tepat. Iya, benar. Lima ribu. Satu episode terdiri dari kira-kira 50 halaman. Yah, minimal 40 halaman lah : font ukuran 12, spasi 1,5. Hitung saja dengan angka maksimal, 50 halaman. Lalu ini artinya, satu halaman hanya dihargai Rp 5 ribu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That’s way too low!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, jangan panik, jangan parno. Coba kita lihat sisi terangnya (manaaaa?). Ini adalah pengalaman baru, patut dicoba, seberapa pun saya benci pada sinetron. Siapa tahu saya bisa menyalurkan ide-ide logis saya supaya di masa yang akan datang, sinetron Indonesia bisa lebih masuk akal, wajar, mendekati kenyataan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Basically, we are doing what we don’t  believe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kata si penyelia, istri dari writer India yang menguji kemampuan gw menulis dialog itu. Hm, oke. Paling tidak, ternyata mereka sadar kalau yang mereka tulis itu sungguh mengada-ada. Saya pikir tadinya mereka ibarat anak autis, yang sibuk dengan dunianya sendiri, yang sibuk percaya bahwa ‘selera penonton’ yang mereka anut itu sejatinya hanya ilusi saja. Ah ternyata mereka sadar juga. Tapi kalau sadar, kenapa tetap begitu-begitu saja sinetron kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berbekal anggukan kepala itu, saya menjadwalkan pertemuan berikutnya : untuk mendapat briefing soal sinetron yang akan segera digarap dan saya buatkan dialognya. Sampai di titik ini, saya masih berbesar hati. Saya masih dengan semangat besar (yah, nggak besar-besar banget sih) untuk menjajal sesuatu yang baru, seraya menitipkan harapan pada sinetron Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sampailah saya pada keterpurukan begitu tahu sinetron apa yang akan saya garap. Tadinya saya sudah menyiapkan diri untuk berbagai sinetron anak sekolah, orang sangat baik versus orang sangat jahat, pengkhianatan, percintaan, perselingkuhan, intrik antar keluarga pebisnis dan sebangsanya. Saya langsung garuk-garuk kepala begitu tahu gagasan sinetron yang akan segera ditulis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gatotkaca versus Dajjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh yeeeaaaaahhhh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahan, bertahan, bertahan… ini pengalaman baru… dicoba saja dulu.. kalau tidak dicoba, mana tahu bisa atau tidaknya.. You have to know what you hate… hayo bertahan, bertahan, bertahan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu si co-writer ini menjelaskan panjang lebar tentang episode pertama dan kedua yang sudah digarap sebelumnya. Saya berusaha memasang mimik serius selagi mendengarkan dia, menahan diri untuk tidak ketelepasan berekspresi menghina. Setelah menjabarkan episode satu dan dua, lalu kita mulai membicarakan episode ketiga, yang akan saya garap dialognya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia meminta saya untuk mencatat adegan per scene. MENCATAT? Apa tidak bisa saya hanya ambil print-out, saya baca-baca, saya tanya yang tidak saya mengerti, lalu salaman dan pulang? Oh tidak bisa. Karena si co-writer baru menyelesaikan rincian per scene itu kira-kira beberapa jam yang lalu, sehingga itu semua masih dalam bentuk coretan kasar, tulisan tangan jelek yang sama sekali tidak mudah dimengerti. Argh. Tapi lagi-lagi dengan kerangka bertahan-cobalah-ini-pengalaman-baru, saya mencatat. Total ada 30 scene yang harus saya catat. Berlembar-lembar notes saya habis sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan mencatat, saya merasa didera begitu banyak penderitaan. Yang paling kronis tentu saja karena saya harus mengerjakan sesuatu yang saya benci dan siapa lah saya untuk bisa mengubah kegilaan sinetron ini menjadi lebih waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha, elo tau lah penonton Indonesia kayak apa, kita kasih yang gampang-gampang aja!” begitu ucap co-writer-nya. Ringan. Seolah tak pernah kenal frase monumental seperti ‘mencerdaskan bangsa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan lain adalah karena saya tidak siap dengan cerita silat. Saya paling tidak berminat dengan cerita silat, berkelahi atau semacamnya. Apalagi untuk konsumsi sinetron Indonesia, kok pastinya bakal bodor banget gitu. Terbersit juga rasa curang, karena kalau cerita silat, mestinya tidak banyak dialognya toh? Masa iya ‘ciaaaat’ pun harus dibuatkan dialognya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bergulirnya cerita, saya mulai menyadari betapa banyaknya dialog yang harus saya buat. Apalagi karena lawan si Gatotkaca ini adalah Dajjal, maka ada banyak juga petuah-petuah agama yang mesti saya masukkan dalam dialog. Agama saya sih memang Islam, tapi pengetahuannya tiarap. Coba saja tanya saya tentang hari besar Islam, mana pun itu, saya pasti terbengong-bengong, tak bisa menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahan, bertahan, bertahan… tapi… LIMA RIBU PER LEMBAR?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya tak bisa lepas dari frase itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;250000 : 50 = 5000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ribu rupiah saja per lembar untuk segala kegilaan yang harus saya tuangkan dalam dialog-dialog bodoh sinetron Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaibnya, dengan kesadaran penuh macam itu pun, saya masih butuh berhari-hari untuk memutuskan apakah saya akan mengambil pekerjaan ini atau tidak. Butuh berjuta-juta kali telfon penuh gundah gelisah untuk meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa bagi saya untuk melepas kesempatan menulis komersil yang satu ini. Butuh puluhan ribu rupiah bagi saya untuk menelfon sana sini mencari penguatan bahwa saya dibayar teramat murah untuk menulis dialog, apalagi dalam bahasa Inggris, untuk sinetron itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan ini karena tiga hal : uangnya kecil, waktunya tidak sempat, dan co-writer. Entah mengapa, saya kontan benci dengan co-writer sinetron ini karena ucapan ringannya itu. Ini pastinya semata-mata kebetulan belaka saja. Kebetulan karena dia memverbalkan pikiran itu, sebuah pikiran yang saya duga keras ada di kepala setiap penulis sinetron: berikan saja yang mudah-mudah kepada penonton Indonesia. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Point of no return banget. Sekali bodoh, tetap bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya SMS saja si writer India itu : I’m very sorry. I can’t continue working with you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang pengecut soal ini, tak sanggup bicara langsung. Bahkan ketika kebencian saya begitu menggunung, saya memilih SMS.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-111535007947813403?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/111535007947813403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=111535007947813403&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111535007947813403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111535007947813403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/05/kreativitas-lima-ribu-perak.html' title='Kreativitas Lima Ribu Perak'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-111210622202038824</id><published>2005-03-30T12:23:00.000+07:00</published><updated>2006-08-12T07:44:50.110+07:00</updated><title type='text'>Google, Carilah Saya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/google-knickers.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/google-knickers.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah gak sih elo masuk ke google, lalu mengetikkan nama lo sendiri? Berapa situs yang memunculkan nama lo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw sering lho melakukan itu. Sakit jiwa gak sih? Narsistik banget gitu. Barusan, gw (lagi-lagi) melakukan itu. Anehnya, setiap kali melakukan pencarian diri sendir, munculnya pasti beda-beda. Nama gw kan terdiri dari tiga suku kata. For the sake of kemudahan artikulasi saat siaran, maka nama itu semena-mena gw potong, jadi nama pertama dan nama ketiga saja. Nama kedua, gw hilangkan paksa. Nah, kalo gw google dengan tiga suku kata, muncul sekian situs. Dengan dua suku kata, muncul sekian situs lagi. Pake tanda ".." dan tidak, juga ngaruh, ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam di kantor, segelintir anak-anak yang tersisa juga ramai-ramai melakukan itu. Kita ketik nama temen-temen kita, lalu kita cek, berapa banyak nongolnya di google. Terus kita ketawain rame-rame kalo keluarnya yang katro-katro. Misalnya ada satu temen gw yang ternyata dulu lulusan Universitas Mercu Buana, menulis suatu hal yang menye tentang kampusnya. Deile. Atau kalau nama yang terhitung pasaran, dan muncul di google dengan cerita aneh-aneh, yang memang bukan kehidupan si temen kita itu, kita cela-celain juga 'Gak nyangka yah ternyata si Anu itu begitu... hahahaha' Atau kalau nama temen kita itu gak nongol sama sekali di google, maka kita akan memberi penguatan 'Wah elo kurang usaha nih, makanya gak nongol di google' Kalau kemudian kita ketikin nama temen kita, dan muncul sesuatu yang betulan positif, yang gak kita tau sebelumnya, lantas kita bakal manggut-manggut 'wah dia oke juga ya ternyata'. Dan kita mulai dapat pengetahuan baru tentang si temen kita itu, tentang sesuatu yang mungkin aja dia gak pernah cerita sama kita. Atau kayak satu temen kantor gw yang mendadak panik, karena kita sempet tau postingan dia di sebuah milis. Lah, kan biasa aja yak. Itu kan cuma resiko posting sesuatu di dunia maya, yang bisa diakses semua orang tanpa batas, sehingga tanpa batas juga kita bisa tau tentang orang lain. Serta merta dia panik, padahal ya postingan yang kita temui juga gak penting-penting amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pencarian diri sendiri di google ini gw rasakan seperti cermin. Ya kayak friendster dan blog juga pada akhirnya. Hm, gimana ya kira-kira orang ngeliat gw? Gimana kalo ada orang juga punya kebiasaan buruk yang sama dengan meng-google nama orang, lalu mencari tau tentang orang tersebut? Apa yah yang nongol di kepala orang, kalo dia google nama gw? Hm, besok-besok apa gw perlu lebih hati-hati ya kalo posting di internet? Dudududududu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw pernah terkagum-kagum, karena waktu itu nemu nama gw di sebuah situs perpustakaan di universitas negeri seberang (lupa di mana). Oh, ternyata feature radio yang pernah gw buat itu termasuk simpenan di sana. Widih, keren juga. Atau begitu gw balik dari Swedia untuk training jurnalis dari FOJO, nambah satu lah situs yang memuat nama gw. Uhuy. Trus waktu gw belum kerja di tempat gw sekarang, gw pernah diwawancara sama seorang jurnalis negara Skandinavia gitu, tentang Majalah Pantau. Aih, ternyata itu nongol juga di google. Lalu, soal suatu petisi yang dibikin temen-temen saat pelatihan di Puncak, ada juga. Atau ketika hujatan gw di sebuah milis tentang acara Sang Lelaki, yang ternyata nyampe di milis berpredikat 'india'. Juga ada tulisan gw di milis, yang mencela penggunaan bahasa redaksional-nya TV7, berbuah pada pelatihan jurnalistik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw berasa... sukses, haha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: b3tards&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-111210622202038824?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/111210622202038824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=111210622202038824&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111210622202038824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111210622202038824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/03/google-carilah-saya.html' title='Google, Carilah Saya'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-110974123282471011</id><published>2005-01-26T03:26:00.000+07:00</published><updated>2006-08-03T06:56:59.596+07:00</updated><title type='text'>Demi Rakyat Kalian, Letakkan Senjata</title><content type='html'>&lt;em&gt;Di sela-sela kabar soal korban tsunami di Aceh Darussalam, bantuan yang mengalir, ternyata masih terselip bunyi letusan senjata. Status darurat sipil di Tanah Rencong memang masih melekat. Artinya, TNI masih terus mengejar anggota Gerakan Aceh Merdeka. Persis saat misi kemanusiaan sedunia dijalankan untuk menyelamatkan orang-orang yang selamat. Apakah Indonesia dan GAM saat ini tetap berhadap-hadapan? Saling mengabaikan keharusan melakukan gencatan senjata? Lalu bagaimana pula di negara korban terjangan tsunami lainnya, seperti Sri Lanka yang berurusan dengan kelompok pembebasan Macan Tamil? Citra Prastuti menghimpun laporan berikut ini. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa Kofi Annan terhitung sudah dua kali menyerukan dana kontan bagi negara-negara korban tsunami. Annan tak mau negara-negara internasional ingkar janji seperti waktu bencana alam menerjang Iran beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBB juga mengingatkan situasi yang aman di negara-negara yang diterjang tsunami harus dipertahankan. Karena bantuan dari internasional bisa-bisa tidak sampai ke tangan yang tepat, dengan aman dan selamat, jika muncul gangguan keamanan di sana sini. Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jan Egeland mengatakan, bencana tsunami harusnya menandakan dimulainya perdamaian di antara kelompok yang bertikai di suatu negara. Konflik harus diredam, dan kelompok yang saling bertikai ini bekerja sama demi membantu para korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Suspend your conflict and work together with us to help your own people. There is peace now in both Aceh, and in a cease-fire in the Tamil areas of Sri Lanka and in the better part of Somalia. We need that peace to hold, because if new conflict breaks out we cannot help the people&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Aceh Darussalam, status darurat sipil yang belum dicabut, membuat tentara merasa masih perlu untuk menggelar operasi militer menyapu Gerakan Aceh Merdeka. Sejak bulan Mei 2003, Aceh sudah berbalut status darurat militer, lalu turun levelnya menjadi darurat sipil pada 2004. Panglima TNI Endriartono Sutarto memang menegaskan fokus utama tentara di ujung barat Indonesia itu sementara ini untuk menjalankan misi kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak melakukan operasi pengejaran, ofensif. Prajurit yang ada kita gunakan untuk menyelesaikan permasalahan gempa yang ada. Membuka dialog dengan GAM? Itu masih jauh lah. Kita selesaikan dulu masalah yang ada. Mau dialog atau nggak dengan GAM, pokoknya kita pulihkan dulu kehidupan di Aceh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, fakta bicara bahwa status darurat sipil masih belum dicabut dari Tanah Rencong. Artinya, mereka yang diduga keras sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka GAM masih menjadi incaran tentara Indonesia yang bertugas di sana. Kantor berita BBC sempat menulis, pasukan TNI pernah menghalang-halangi tugas helikopter Amerika Serikat yang akan memberikan bantuan kemanusiaan di sebuah daerah yang dikuasai GAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di lapangan, selain keberadaan ribuan jenazah yang masih belum terurus sepenuhnya, dilaporkan cukup mencekam. Sejumlah laporan menunjuk adanya kontak senjata, juga ada kabar penculikan seorang dokter di Kabupaten Aceh Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita dapat informasi dari salah satu posko relawan kemanusiaan, yang katakan ada seorang dokter dari anggota IDI Jakarta, disandera oleh pihak Gerakan Aceh Merdeka di daerah Krueng Raya, Aceh Besar. Di kawasan itu ada sebuah kamp pengungsian yang diketahui kamp bayangan, hanya dibentuk untuk memancing relawan ke sana. Dokter tersebut, belum pasti namanya. Kebetulan tim relawan sedang menuju ke arah Krueng Raya dan menemukan penduduk yang memanggil rombongan supaya segera masuk ke kamp pengungsian, karena ada yang belum mendapatkan logistik. Tim tersebut lantas disandera dengan sedikit ancaman," begitu isi laporan dari Reporter Radio Prima FM Banda Aceh, Safri Muarif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi relawan itu menuju tempat, jaraknya ada tiga kilo, baru sekitar beberapa menit evakuasi jenazah, ada kontak senjata. Semua langsung kabur. Jaraknya sekitar satu kilo-an gitu. Ada suara tembakan. Yang saling tembak itu Brimob, mereka masuk menyisir lereng gunung," tutur seorang warga yang menjadi saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepolisian Indonesia juga mendapat laporan soal kejahatan-kejahatan yang dilakukan GAM, saat bantuan kemanusiaan mengalir deras ke Tanah Rencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Kepolisian Indonesia, Dai Bachtiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwa mereka turun, juga melakukan kejahatan, disamping melakukan penyerangan, juga penjarahan. Dalam suasana seperti itu, mereka bisa menyamar, apakah jadi warga biasa atau menjadi anggota kepolisian dengan seragam yang mirip-mirip, atau menggunakan seragam kepolisian. Belum dilaporkan secara lengkap. Tapi misalnya di daerah sekitar Meulaboh, ada yang melaporkan melihat ada senjata tertinggal, mungkin diambil atau nggak. Di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar juga ada yang melakukan penyerangan, tapi semuanya bisa kita kendalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen tsunami ini sedikit banyak diharapkan sejumlah pihak menjadi titik balik nasib Nangroe Aceh Darusalam selanjutnya. Seperti diungkap Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jan Egeland tadi. Banyak pihak yang mendesak supaya status keamanan darurat sipil dicabut saja, demi memudahkan akses bantuan kemanusiaan. Rekonsiliasi dengan Gerakan Aceh Merdeka GAM juga sempat digulirkan, supaya pemerintah Indonesia dan GAM bisa bekerja sama menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh. Apalagi PBB juga sudah mengingatkan, bantuan bisa tak sampai, atau bahkan dihentikan, jika kondisi di lapangan dianggap tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dari London mengatakan, sudah ada semacam kesepakatan damai dengan GAM, pasca tsunami. &lt;em&gt;Gentleman aggreement&lt;/em&gt;, begitu BBC menulisnya, supaya GAM tak mengganggu bantuan kemanusiaan yang mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari komunitas internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, pernyataan ini dibantah GAM. Perdana Menteri GAM di Swedia Malik Mahmud mengatakan, tidak pernah ada kesepakatan yang diajukan pemerintah Indonesia, pasca bencana tsunami. GAM justru menggarisbawahi, mereka lah yang mengajukan tawaran gencatan senjata kepada Indonesia, meski hingga kini belum bersambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malik juga membantah semua anggapan penjarahan atau apa pun yang dilakukan anggotanya di Aceh, setelah bencana terjadi. Tak ada itu penjarahan truk oleh GAM, begitu kata Malik Mahmud. Penjarahan bantuan , menurut dia, justru dilakukan oleh pasukan TNI yang memang punya akses dalam distribusi bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia kini bergerak lebih maju, dalam pengertian yang total sebaliknya. Yakni, melarang pekerja kemanusiaan untuk bepergian ke daerah terpencil di Aceh Darusalam. BBC melaporkan, Panglima TNI Endriartono Sutarto meminta para pekerja kemanusiaan harus mendaftarkan diri bila ingin bepergian ke luar kota Banda Aceh dan Meulaboh. TNI, kata Jenderal Tarto, tak menjamin keamanan mereka di luar dua kota itu. Aturan itu diakui bisa menghambat kerja dan penyaluran bantuan kemanusiaan. Namun langkah ini harus diambil, demi melindungi para pekerja kemanusiaan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tetap gontok-gontokan antara pemerintah Indonesia dan GAM membuat sejumlah organisasi non pemerintah perlu mengkritik keras. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan disingkat Kontras, mendesak pemerintah segera melakukan rekonsiliasi dengan GAM. Menurut Koordinator Kontras, Usman Hamid, rekonsiliasi bisa dilakukan dengan memberikan akses bantuan kepada anggota GAM, yang juga menjadi korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama, memberikan akses kemanusiaan kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Hampir seluruh lapisan masyarakat di Aceh itu menjadi korban bencana alam, baik gempa bumi, maupun tsunami. Baik yang ada di pesisir, maupun di pegunungan. GAM harus dilihat sebagai entitas korban dari bencana alam tersebut. Tidak &lt;em&gt;fair &lt;/em&gt;jika presiden, pemerintah atau TNI/Polri membuat GAM menderita atau kelaparan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Indonesia yang harus berhadapan dengan kelompok pemberontak, pasca bencana tsunami menghantam wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Pemerintah Sri Lanka juga masih harus bersitegang dengan pemberontak Macan Tamil. Kelompok Macan Tamil kesal dan merasa daerah mereka seolah dianaktirikan dalam hal perolehan bantuan kemanusiaan. Padahal, mereka juga menderita cukup parah akibat tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah timur pantai Sri Lanka yang digempur tsunami, adalah daerah yang selama ini diguncang konflik sipil, di mana sebelah selatan dihuni mayoritas warta Sinhalese, sementara kelompok Tamil mendiami sebelah utara wilayah itu. Perdana Menteri Sri Lanka Mahinda Rajapakse menyebut kedua kubu sebagai ‘saudara dalam kesengsaraan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Sri Lanka Chandrika Kumaratunga, yang dikenal tak mentoleransi kelompok Tamil, berjanji akan tetap menolong korban di wilayah kelompok pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;We are working to give them [Tamils] the maximum amount of relief we can and the reconstruction process we will not make any difference between the North East and the South.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Tamil pun menunjukkan sinyal positif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemimpin Kelompok Pemberontakan Tamil, Velupillai Prabhakaran menyampaikan rasa duka cita kepada warga di selatan Tamil, yang menjadi korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ini tak berarti tidak ada ketegangan. Presiden Sri Lanka telah melarang Sekretaris Jendral PBB Kofi Anan mengunjungi daerah Tamil yang disapu tsunami. Sementara kelompok Macan Tamil menuduh pemerintah menahan bantuan bagi wilayah Tamil dan menggunakan alasan bencana sebagai jalan untuk mengirim lebih banyak lagi pasukan ke wilayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan damai tak boleh putus. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Collin Powell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;We are hopeful however, that if all Srilankan come together to deal with this common catasthropes, this common crisis, and work with each other, cooperate with each other, then perhaps that spirit of cooperation can be elevated and extended in political dialogue, and find a way forward to political solution to this long standing crisis between the government and LTTE&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh baik datang dari India. Pemerintah dan kelompok pemberontak Khasmir di sana sama-sama menunjukkan niat baik pasca bencana tsunami, yang juga menewaskan warga mereka. Kelompok pro-kemerdekaan Khasmir melakukan aksi menyumbang darah bagi warga India yang menjadi korban tsunami. Pemimpin Senior Front Pembebasan Jammu Kashmir Ghulan Rasool Edi menjadi orang pertama yang menyumbangkan darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Suspend your conflict and work together with us to help your own people. There is peace now in both Aceh, and in a cease-fire in the Tamil areas of Sri Lanka and in the better part of Somalia. We need that peace to hold, because if new conflict breaks out we cannot help the people&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, letakkan senjata. Selama ini, baik tentara maupun kelompok yang dicap pemberontak sama-sama mengatasnamakan rakyat untuk kegiatan mereka. Sekarang waktunya membuktikan klaim tersebut. Demi rakyat kalian, letakkan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Radio 68h, Januari 2005]&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-110974123282471011?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/110974123282471011/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=110974123282471011&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110974123282471011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110974123282471011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2005/01/demi-rakyat-kalian-letakkan-senjata.html' title='Demi Rakyat Kalian, Letakkan Senjata'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-111081605264057858</id><published>2004-10-02T02:13:00.000+07:00</published><updated>2006-08-03T06:57:49.193+07:00</updated><title type='text'>Democracy At Work</title><content type='html'>We discovered the idea of "a handbook for every day’s life in the newsroom" after visiting Sveriges Radio or Swedish Radio (SR). This handbook is ‘the right track’ for everybody in the newsroom. This handbook might be useful for your newsroom too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Why do we need a handbook? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;You may reject this idea, having the grand thought that we journalists should be free from any rules. This is not a book telling you how to write your news. This is a guideline or code of conduct for every day’s life in the newsroom. Don’t worry; there will be no punishment or sanctions in this handbook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;But, again, why should we need a code of conduct? We don’t need a book telling us how to run things.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let’s put it this way. Picture yourself in a newsroom, your newsroom. Have you ever been confused about what you are doing? You start to wonder, whether it is right or wrong. Or you just got your first big assignment, you are so thrilled, but you didn’t know where to start. Or when you got shocked after hearing an offensive feedback from your boss. Or, you are a frustrated young journalist, don’t know where to look for assistance. Or, have you ever fought very hard for story ideas such that in the process you accidentally hurt other people’s feelings? How do you know that what you are doing is right or wrong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How do you handle that kind of situation? This is when you need a handbook, where you can refer many things. Anytime.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;That handbook thing looks authoritarian to me. Where’s the democratic value of it? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The process of making and applying the handbook are the democratic values.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Try this. Sit with all members of the newsroom. Discuss about problems that occur in your newsroom. They can be anything: how to assist a new journalist, how to give feedbacks without hurting others’ feelings, agreement on meetings, aggreement on evaluation for your works, anything! Argue for whatever it is that you think is important to be in the handbook. Try to listen to others’ problems, whether he/she is the boss, middle manager or young journalist. This is democracy : where every voice counts. And then, find ‘the right track’ that fits with the rest of the newsroom. Make it useful for yourself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And now, let’s say that someone has done something that is considered ‘wrong’ by the handbook. What should we do? Do coaching. Since there’s no punishment inside this book, talk about your problems. Try to find out the core of those problems through coaching. It is not necessary that the boss should always be the coach. Everybody can be the coach. You can be the coach! Refer to the handbook of the right track for problems occurred.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;So, it’s a problem-solving book? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes. This handbook will give you suggestions and possible solutions. Well, you can’t expect instant answers to every problem that occurs in the newsroom. But it will give guidelines to keep you on the right track. This track will guide you to the real solutions, through coaching.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When should we refer to this handbook? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anytime. Let’s say that there is a new, young, recently graduated, energetic journalist in your newsroom. He\She must be hungry for assistance, because she is not used to a real situation, environment and guidelines in your newsroom. Refer to the handbook and look for the right track to assist her/him. Surely, this new journalist will feel delighted about the assistance, because she/he knows that she/he is not being abandoned by the other members of the newsroom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Or you are in the middle of a heavy argument about a story idea with your boss. Your boss has just rejected your idea and you thought it was the greatest idea ever to have crossed your mind. You feel very angry and you are ready to punch your boss because of that. Stay calm. Take a deep breath. Refer to this handbook, look for the chapter on ‘feedback’. Make sure that you will do the right thing : ask for professional and constructive feedback from your boss. You can do coaching as well, ask your boss to coach you.&lt;br /&gt;Anytime, on everything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;This is interesting.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What’s more interesting is that you can always revise this handbook. Your handbook is too old and no longer suitable for the conditions in your newsroom? There are new prolems taking place in your newsroom? Revise it. Discuss it all over again. Try to find new solutions and suggestions for your new handbook. Change it. Make it suitable again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s the process that makes this handbook alive. This is democracy at work. Thats what makes this book valuable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[www.fo.hik.se; &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Journalism and Democracy Seminar, FOJO, Kalmar-Stockholm, Sweden, October 1, 2004]&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Journalism and Democracy is a world-wide seminar launched by Fojo (the Institute for Further Education of Journalists) and financed by Sida since 1991. One of the outcomes of the 2004 year's course is this web-site, produced by19 journalists from 17 countries and designed by Nedjma, freelance journalist and web designer. Seminar leaders were Per Nygren, journalist at the Swedish daily, Göteborgs-Posten and Marie Kronmarker, trainer at Fojo. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-111081605264057858?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/111081605264057858/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=111081605264057858&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111081605264057858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111081605264057858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2004/10/democracy-at-work.html' title='Democracy At Work'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-110974039747621404</id><published>2004-08-09T02:07:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T08:02:05.496+07:00</updated><title type='text'>Tak Ada Hakim Tubuh Perempuan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Harusnya perempuan lajang tak boleh kelimpungan waktu mengetahui tengah hamil. Mestinya ada kebebasan menentukan sikap, melanjutkan tanpa dibebani pertimbangan-pertimbang di luar tubuhnya. Faktanya, sampai kini perempuan masih dilingkupi perasaan was-was untuk mengambil sikap atas kandungannya. Apakah harus diteruskan dengan beban dilirik dengan sinis oleh masyarakat atau menggagalkan diam-diam. Yang terakhir ini, kerap dilakukan secara tidak aman. Sungguh berisiko. Dua nama, dua pengalaman berikut akan menutur pada kita. Liputan Citra Prastuti dibantu Nita Roshita tentang aborsi. Penyebutan nama dua tokoh dalam laporan ini disamarkan. Saudara, berikut Citra Prastuti dalam “Tak Ada Hakim Tubuh Perempuan”, dibawakan Alif Imam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sfgate.com/c/pictures/2006/01/22/ba_abortion3211.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://www.sfgate.com/c/pictures/2006/01/22/ba_abortion3211.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Nila, bertahun-tahun hidup dikawal mimpi tentang bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue jujur gue ngomong. Pas keluar anak gue di kamar mandi, seminggu berturut-turut gue ditangisin sama bayi dalam mimpi gue. Sampai terakhir gue mimpi bayi banyak megang kaki gue. Gimana mental gue, gue tanya elo. Gimana rasanya.. gimana gue nggak mau dendam seumur hidup kalo gitu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dendam pada masa lalu yang pernah dilakoni. Persisnya dua tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue terakhir ML paling gak dua minggu sebelumnya, atau tiga minggu sebelumnya. Pokoknya itu sebelum akhir tahun. Gue tahunya itu Januari akhir. Sedangkan, hitungannya orang hamil, misalnya gini, hari ini gue ML, trus gue gak dapet bulan depan, itu itungannya gue udah dua minggu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nila baru saja putus hubungan kekasih saat mengetahui ada bakal kehidupan berdiam di tubuhnya. Tanpa pengetahuan yang cukup untuk menentukan sikap. Tanpa orang kepercayaan yang membantu membangun kepercayaan diri. Dan waktu terus berhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Informasi gue nol, nol sama sekali. Gue nggak tahu apa-apaan. Gue ada temen, namanya R. Dia tahu gue pregnant, itu gue pertama kali cerita. ‘Gue hamil’. ‘Ah elo gila lo, keadaan gini elo hamil? Elo mau nuntut?’ Gue bilang, nggak, gue nggak mau nuntut. Dan dia juga nggak tahu apa-apaan, pacaran juga dia gak pernah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue minta dia beliin resep dokter untuk beliin obat itu. Gue pernah bilang sama dokter, 'dok saya sudah nikah'. Belinya kan gak boleh di apotek sembarangan, harus ada resep dokter. Gue minta ke klinik itu. Setelah itu, gue balik lagi ke dokter itu. Gue bilang ke dia, 'saya udah keluar nih'. Dia bilang, 'oh ya udah bersih kok, Bu', dia bilang gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue cuma minta itu resepnya. Gue minta ginecosid. Ternyata kan gue gak dapat ginecosid itu dari bidan. Padahal gue udah bilang, gue udah nikah. Gue beli di tempat cina. Ada toko obat cina, racikannya. Harganya tuh satu tablet 20 ribu, satu tablet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Nila lantas memutuskan. Menanggalkan embrio yang belum lagi bersiap menjadi janin itu. Meminum ramuan dan menyiksa tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Setiap minum obat, gue loncat, sit up, loncat, sit up. Sampe jam 2 pagi gila lho, gue loncat-loncat. Gila gak sih. Pakai logika gak tuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suatu hari, kegelisahan Nila berakhir di kamar mandi. Sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sendiri. Nobody knows. Gue melakukan itu sendirian. Gue sendirian tidak ada siapa pun yang tahu dan tidak ada siapa pun orang untuk berbagi. Dan gue juga gak minta uang siapa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue make obat itu sehari dua kali, itu kan dosisnya udah tinggi. Trus gue minum obat-obat kayak pil tuntas, sama kiranti untuk perlancar haid. Gue juga sengaja loncat-loncat gitu. Gue pake itu. Trus keluar di kamar mandi. Abis itu ke klinik. Kata orang kliniknya, gue bersih. Ya itu, janin gue kan langsung mati, kayak gumpalan darah, kecil-kecil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih baik gue ngorbanin diri gue sendiri. Daripada bokap gue tiba-tiba stroke, atau nyokap gue tiba-tiba sakit jantung..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk merahasiakan kehamilan dari lelaki yang sempat dia cintai. Dia bertutur lagi dalam pertemuan kami yang kesekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bokap nyokap gue mungkin bisa lebih &lt;em&gt;survive&lt;/em&gt; karena mereka lebih tau siapa gue. Cuma kalau bokap nyokap dia itu kan aduh gimana ya. Dia itu tahunya gue kayak porselen, gak mungkin retak. Gue pikir ini rahasia seumur hidup lah. Dia itu di depan orangtua gue dan temen-temen gue itu baik sekali. Dan karena gue cinta sama dia, gak mungkin gue coreng nama dia, gitu lho."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nila pikir, setelah gumpalan darah kecil-kecil itu tumpah di kamar mandi, persoalan bertemu dengan akhir. Ternyata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elo inget gak, gue pernah sakit perut? Gue sakit perut melulu nih. Ternyata bulan Desember itu klimaks, gue drop. Keringet dingin, muntah terus, mual, asam lambung gue naik. Gue pikir itu karena maag gue. Ternyata itu dari janin gue yang udah membusuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngerasa! Gue cuma mikir, perut gue sering sakit, kram. Gue pikir ini cuma maag gue, lambung gue kan gak beres sejak dulu. Ternyata pas udah sakit-sakit gitu, gue &lt;em&gt;colaps&lt;/em&gt;, di bawa ke RS Islam. Perut gue di-USG, gue pingin liat apa penyakit dalam perut gue. Ternyata di atas dinding rahim gue masih ada sisa janin. Dan itu udah mati, terpecah-pecah. Di situlah gue &lt;em&gt;shock&lt;/em&gt; dan langsung operasi. Bukan operasi, tapi dikuret."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Nila mulai berkawan dengan mimpi selama nyaris dua tahun. Hari ke hari, bahkan ketika ia mengetahui bekas pacarnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;So far so good&lt;/em&gt;. Tapi sekarang ke mental. Mental gue jadi jatoh abis. Ibaratnya itu anak lo, nyawa, darah daging lo. Itu harus segera elo buang karena elo gak punya status apa-apaan sama laki-laki. Hamil di luar nikah. Sementara laki yang elo harapkan, kawin sama orang lain. Apa yang mesti gue rasain? Itu aja yang gue tanyain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang embrio hidup dalam mimpi Nila, tumbuh seperti kebanyakan bayi yang sempat terlahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai dua bulan terakhir, dia udah bisa manggil gue ‘mama’ dan minta gendong. Terakhir, bulan Juli, dia gak ngomong apa-apa Cuma berdiri di sudut ruangan. Serba putih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue cuma minta maaf. Pokoknya, gue cuma satu aja dalam hidup gue, gue mungkin udah membuat kesalahan fatal. Dan mungkin berefek seumur hidup gue. Dan ini berefek seumur hidup sama gue. Gue gak ingin anak gue menuntut gue di akhirat. Gue pingin minta maaf, tapi gak bisa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Nila. Teman Citra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klinik biasa. Kayak rumah tua gitu dijadikan klinik. Kalau aku bilang cukup bersih untuk kondisi saat itu. Tapi ya cukup inilah, karena ada ruang tunggu klien, ruangan dokternya juga gak terlalu besar sih. Tapi di ruangan dokternya agak suram, kalau kata aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di klinik itu, Nadia berpisah dengan calon anak pertamanya. Sembilan tahun lalu, Nadia masih kuliah dan tak siap dengan kehadiran si kecil. Ia sempat meminum pil KB demi menggugurkan kandungan, di tengah kebingungan bersama pacarnya kala itu. Tak berani banyak tanya, karena bagi Nadia, ini sama saja dengan membuka rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya ia menemukan klinik aborsi di pinggaran kota Cimahi, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gak salah sih waktu itu nanya umur, pekerjaan sama sudah berapa lama telatnya. Abis itu disuruh naik di atas meja operasinya. Tempat tidur, terus ada tempat buat kakinya. Dia periksa dalam dulu. Baru setelah itu aku disuntik bius. Kerasa sih ada beberapa alat yang dimasukin. Tapi aku gak tau itu dikuret atau disedot. Karena aku gak tau apa itu dikuret dan apa itu disedot."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit saja. Biusnya pun hanya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma kalau aku lihat alat-alatnya, kalau aku &lt;em&gt;flashback&lt;/em&gt; waktu itu, kayaknya emang udah gak terlalu… apa ya, kayak alat yang udah lama. Soalnya udah agak kotor. Jadi soal sterilisasinya, saya gak nanya sama sekali, saya gak tau sama sekali. Dan waktu itu kan saya gak tau apa-apa, jadi saya gak tanya apakah itu bisa berakibat something di masa yang akan datang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fisiknya pasti lemah sekali, kita gak bisa mikir sama sekali. Aku kan waktu itu dibonceng motor, kayaknya udah mau jatuh aja. Pikiran itu stres. Aku sempat seminggu lebih gak ke kampus. Sempet ada haid sebentar. Bukan haid sih, tapi perdarahan, 2-3 harian. Jadi karena fisiknya juga gak enak, masih kepikiran juga, sedih gimana. Kepikiran yang gak tau kenapa, perasaan kehilangan yang seharusnya gak dipikirin, tapi jadi kepikiran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klinik itu klinik aborsi. Ilegal, tentunya. Tak jarang, memasang plang dokter umum. Tak ada yang istimewa dari tampilan sebuah klinik aborsi. Seperti layaknya klinik yang dirujuk para calo aborsi di daerah Raden Saleh, Jakarta Pusat. Lokasi yang dipercaya sebagai pusat informasi aborsi. Tanya saja penjaga warung atau tukang parkir di sepanjang jalan itu, mereka siap mengantar perempuan-perempuan kebingungan ke klinik aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nico, salah satu calo aborsi di sana, mengaku sudah menjalani profesi ini selama puluhan tahun. Ia kenal berbagai klinik menggugurkan kandungan. Bisa dipilih, sesuai isi kantong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti kalau kemahalan, saya yang bantu ngomong. Gitu lho. Kalau memang bener-bener masih dua minggu, biar cepet. Nanti kalau satu setengah bulan lebih, bisa satu setengah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin besar usia kandungan, biaya aborsi tentu makin mahal. Karena resiko yang ditanggung makin besar. Tapi sang calo juga menyebut, asal ada uang, semua bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasanya kan kalau begini pemeriksaan sama bidan dulu. Kalau cocok, baru dokter yang kerjain. Kayak kemarin, itu kan bidan. Proses seperti biasa. Kalau kemarin belum diperiksa kan? Baru tanya-tanya. Kalau mau, bilang aja terus terang, saya mau diginiin. Nanti diperiksa, lalu ditanya biayanya. Lalu ditanya sama dia. Baru situ yang nego, situ yang ngomong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat aborsi masih terhitung perbuatan ilegal, harusnya polisi juga ikut waspada. Polisi bukannya tak tahu. Menurut Nico, pemilik klinik biasanya sudah mengisi kantong Pak Polisi supaya tak banyak bicara. Besarnya, tergantung ramai tidaknya pasien berkunjung ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klinik yang Citra datangi di kawasan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat, juga melakukan hal yang sama. Membayar, supaya tak digerebek. Kalaupun digerebek, beberapa hari kemudian klinik itu sudah dibuka kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itu, nyawa sang ibu diregang, nyawa si janin dilepas. Tersembunyi. Tertutup rapat. Tak ada yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap satu jam, dua perempuan meninggal akibat aborsi serampangan. Peralatan tak steril, tanpa pengetahuan teknik yang tepat, juga sembarangan menenggak obat, merupakan sedikit daftar dari praktik-praktik aborsi yang tak aman. Janin atau bahkan baru embrio di perut ibu, mungkin memang mati-ti. Tapi jiwa perempuan yang mengandungnya, bisa turut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ninuk Widyantoro dari Yayasan Kesehatan Perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sih kita itu? Saya malah pingin balik tanya ke kamu. Jadi kamu gak apa-apa buat kamu dua perempuan mati setiap jam? Kamu gak pingin nolong dan berdosa? Tenang aja gitu? Bukan gara-gara tua. Tapi gara-gara kehamilan, persalinan, keguguran.. gak apa-apa? Apa itu bukan sesuatu yang dasyat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan mana yang tak bingung menghadapi kehamilan yang tak diinginkan. Kalau ada mungkin sedikit. Penyebabnya, bisa lantaran betul-betul tak siap atau kegagalan alat kontrasepsi pencegah kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan, nyatanya, tak melulu disambut senyum sumringah. Taruhlah Nila, yang baru putus dari pacar ketika sadar dia hamil. Atau Nadia yang saat itu masih kuliah, dan tak siap punya rumah tangga. Atau kasus lain, seperti perkosaan dan perkawinan sedarah. Jangan harap senyum sumringah mampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, menikah atau tidak menikah, perempuan tetap punya hak atas tubunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perempuan itu adalah seorang individu, dia itu yang berhak menentukan dirinya. Kalau mau berunding dengan pasarangan atau tidak, terserah. Tidak harus, haru. Kita harus berhenti mengatur perempuan. Karena kita sok ngatur perempuan, hasilnya adalah kematian perempuan yagn tinggi sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran Ninuk adalah adalah menyelamatkan puluhan, ratusan, jutaan jiwa perempuan dari praktik tidak aman atas tubuh mereka. Barangkali ini anjuran paling bermoral dari prinsip-prinsip yang selama ini diklaim sebagai tatanan moral masyarakat. Dua perempuan mati dalam satu jam akibat aborsi serampangan, wanti Ninuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo&lt;em&gt; belief&lt;/em&gt;, orang gak setuju banget, ya udah. Yang mau bantu, ya gak apa-apa kan. &lt;em&gt;You respect each other&lt;/em&gt;. Kalo gak setuju, ya jangan lakukan. &lt;em&gt;Make sure they are not having unwanted pregnancy&lt;/em&gt;. Jadi mereka gak perlu aborsi. Kita bukan nyuruh-nyuruh orang aborsi. Kita akan mulai dari pendidikan supaya tidak perlu terjadi KTD, kehamilan tidak diinginkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia PKBI membuka diri terhadap kemungkinan melakukan praktik aborsi. Caranya, dijamin aman. Hartono Hadisaputro dari PKBI Semarang dan Kusminari dari PKBI Jogjakarta, berbagi cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita fokus ke pasangan yang sudah menikah. Ada surat nikah fotokopi, fotokopi kartu keluarga dan bersedia untuk kontrasepsi lagi tergantung dari jumlah anak. Pasiennya memang harus pasangan yang sudah menikah. Kalau tidak ada surat2nya, tidak bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pilihannya tidak selalu harus aborsi. Bisa dinikahkan. Ada yang takut bilang sama orang tua untuk menikah, kami pernah menikahkan juga. Harus dilihat kasusnya. Ada juga yang tidak ada pasangannya. Yang tidak ada pasangannya, bisa ke &lt;em&gt;shelter&lt;/em&gt;. Kita punya &lt;em&gt;shelter&lt;/em&gt;. Kalau sudah melahirkan, anaknya bisa dititip, diadopsi atau diserahkan ke &lt;em&gt;shelter&lt;/em&gt;. Pilihannya tidak harus aborsi untuk KTD..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ada revisi terhadap peraturan yang berlaku, aborsi masih ilegal di Indonesia. Haram. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan hanya membenarkan aborsi dilakukan sebagai tindakan darurat untuk menyelamatkan jiwa ibu. Artinya, semata-mata pertimbangan klinis. Tanpa berhitung daya ekonomi, apalagi kesiapan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya merevisi terang ada. Perjalanannya sudah beringsut lama. Saat ini orang-orang yang ingin menyelamatkan nyawa perempuan dari praktik aborsi serampangan seperti Ninuk Widyantoro tengah mendesak Presiden agar segera mengeluarkan Amanat Presiden. Amanat kepada DPR untuk mempercepat pembahasan revisi Undang-undang Kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka sudah pakai inisiatifnya, sepakat untuk mengamendemen. Akbar (Akbar Tanjung, saat itu Ketua DPR) sudah tulis ke Mega (Megawati, saat itu Presiden Indonesia) , Megawati tinggal tulis Ampres (Amanat Presien) . Kalau sudah gitu, kita bisa duduk terkait dengan departemen terkait. Kalau semua sudah setuju dengan &lt;em&gt;draft&lt;/em&gt; yang ada, ya sudah. Jangan sampai ada perbedaan pikiran antara kita dan Departemen Kesehatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu ngotot mengukir frase ‘aborsi aman’ dalam revisi aturan. Yang penting, menurut Ninuk, adalah kewajiban negara terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kita cuma liat aborsi itu cuma yang jelek, dari bertahun-tahun kita begitu aja. Lagian gak akan ada yang nyuruh aborsi kok. Daripada aborsi sampai mati, apa gak kita lebih baik menyelamatkan dan ngasih pendidikan. Pendidikan itulah yang harus diadakan Undang-Undang ini, sehingga orang tahu how to protect."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Targetnya, kalau sampai ada pilihan mengaborsi kandungan oleh perempuan mana pun, dalam status apa pun, melalui proses dan penanganan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai dari pendidikan, konseling, sampai kalau perempuan itu daripada mati, dia bisa asal harus begini-begini, gitu. Misalnya, gak boleh lebih dari 12 minggu, kita &lt;em&gt;inline&lt;/em&gt; sama agama Islam. Harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan tersertifikasi. Gak bisa dukun atau dokter asal. Harus lewat persyaraatan. Tidak boleh komersialisasi. Harus ada konselingnya. Sama seperti guidline WHO (World Health Organization –red)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada negara yang ngotot meyakinan warga negara akan dilindungi, dan ada Pemerintah yang mengelola negara, kesehatan perempuan terang menjadi tanggung jawabnya. Tanpa berhitung status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berkejaran dengan waktu. Kalau dalam satu jam ada dua perempuan mati karena aborsi tidak aman, maka dalam sehari ada 48 perempuan melepas nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu, 336 perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun, 17.472 perempuan. Mati. Sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Radio 68h, 8 Agustus 2004)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: sfgate&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-110974039747621404?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/110974039747621404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=110974039747621404&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110974039747621404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110974039747621404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2004/08/tak-ada-hakim-tubuh-perempuan.html' title='Tak Ada Hakim Tubuh Perempuan'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-111128974367869287</id><published>2004-05-04T09:34:00.000+07:00</published><updated>2006-08-12T07:48:15.563+07:00</updated><title type='text'>Ketika Sekolah Jadi Sengketa</title><content type='html'>Coba jawab pertanyaan ini. Kalau Anda punya anak yang saat ini bersekolah di SLTP 56 Melawai, apa yang akan Anda lakukan? Bertahan atau pindah ke sekolah lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya pada lima teman saya. Empat dari mereka menjawab cepat : pindah sekolah. Saya sendiri tidak tahu persis, apa yang akan saya lakukan kalau anak saya sekolah di SLTP 56 Melawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/SMP56.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/SMP56.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah sekolah tampaknya menjadi pilihan praktis yang relatif aman. Sebab ancamannya sudah jelas. Siswa tidak akan menerima Nomor Induk Siswa dan tidak menerima rapor. Kalau tidak mendapat NIS, sama saja memberi cap baru pada anak kita : siswa liar. Sementara kalau tak dapat rapor, tak bisa dibayangkan bagaimana kelanjutan nasib pendidikan anak-anak itu. Apalagi mereka baru kelas satu SLTP. Masih ada dua jenjang lagi di SLTP, lalu tiga tahun berikutnya dihabiskan di SLTA. Belum lagi kalau sampai lanjut ke universitas. Tapi kalau dari kelas satu saja sudah tidak mendapat rapor, apalagi pengakuan, bagaimana mereka bisa bertahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan-pilihan ‘praktis’ itu tentunya tak salah. Itu juga bukannya dibuat tanpa perhitungan. Pendidikan adalah satu hal yang teramat menentukan masa depan seseorang. Minimal, dengan pendidikan yang lebih baik, pilihan-pilihan lebih terbuka untuk merentang masa depan. Anak-anak yang terperangkap dalam sengketa sekolah mereka dengan PT Tata Disantara, perusahaan milik pengusaha Pasaraya Abdul Latif, masih teramat cilik. Mereka baru kelas satu SLTP. Masih sangat jauh perjalanan pendidikan mereka. Wajar saja kalau orang tua lantas tak mau ambil resiko dengan ‘membahayakan’ pendidikan anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan cerita ini pula yang dikembangkan Pemerintah Jakarta. “Orang tua jangan mengorbankan anak-anak mereka dengan bertahan di SLTP 56 Melawai,” begitu Gubernur Sutiyoso pernah berucap. Tak ada yang terlalu salah dengan pernyataan SUtiyoso. Yang salah adalah bagaimana pemerintah mendudukkan persoalan SLTP 56 Melawai versus PT Tata Disantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengketa sekolah ini bermula di tahun 2000 silam. Ketika kontrak dibuat antara Departemen Pendidikan Nasional dengan PT Tata Disantara, dengan nilai kontrak di atas 2,5 milyar rupiah untuk masa itu. Abdul Latif langsung menyediakan dua tanah miliknya, di Jeruk Purut dan Bintaro sebagai pengganti lahan di Melawai. Kelihatanya cukup adil. Tapi nanti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejanggala demi kejanggalan terlihat dalam surat kontrak tersebut. Sebut saja dari harga tanahnya. Tanah di Melawai sangat ‘seksi’ dari segi bisnis. Bisa dibayangkan keuntungan yang bisa dikeruk kalau membuat usaha di daerah belanja yang ramai seperti Melawai. Dengan ‘keseksian’ yang ditawarkan, harganya juga tentu tak murah. Data dari Dirjen Pajak menyebutkan, tanah di daerah itu tahun 2000 saja sudah mencapai 9,5 juta rupiah per meter persegi. Anehnya, dalam kontrak tukar guling itu hanya tertera angka 5 juta rupiah per meter persegi. Ke mana sisa 4,5 juta rupiah lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu saja. Kontrak tukar guling dengan nominal di atas 100 juta rupiah harusnya diteken langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Asisten Kesejahteraan Masyarakat Jakarta Rohana Manggala juga memastikan, meski tak rinci, bahwa tak ada yang salah dengan perjanjian tukar guling itu. Tapi pengacara SLTP 56 Melawai Lambok Gultom membantah,”Mana Kepresnya? Yang ada hanya Surat Keputusan Menteri saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Enough about the business deal&lt;/em&gt;. Abdul Latif hanyalah seorang pengusaha, yang tentu saja berpikir dengan sudut pandang keuntungan belaka. Ada persoalan yang lebih besar daripada ‘sekedar’ kontrak tukar guling yang mungkin ngawur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu tanggal 18 April lalu, pukul 4 dini hari, puluhan aparat Dinas Ketentraman dan Ketertiban Jakarta ‘menyerbu’ gedung SLTP 56 Melawai. Orang tua murid yang berjaga 24 jam di gedung sekolah itu keruan panik dan lari mencari bala bantuan. Tapi begitu mereka kembali, petugas berseragam biru-biru sudah bertengger di dalam gedung sekolah. Pagar dirantai, lengkap dengan dua gembok besar. Papan putih segera didirikan. “Tanah dan Bangunan ini Milik Negara. Dilarang Masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa ini? Kenapa harus ada ‘pendudukan’ segala? Kalau pun Pemerintah Jakarta berusaha ‘mengamankan aset mereka’ – seperti yang selalu mereka ucapkan – kenapa harus hari Minggu? Kenapa harus dini hari? Kenapa harus melibatkan aparat Dinas Ketentraman dan Ketertiban, aparat yang erat dengan razia pedagang serta penggusuran? Kenapa negara harus melakukan kekerasan terhadap siswa didiknya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh lain kekerasan yang dilakukan negara terhadap civitas akademika SLTP 56 Melawai. Listrik dimatikan hingga air pun otomatis ikut mati, bangku dan meja sekolah diangkut ke gedung baru SLTP 56 di Jeruk Purut. Tenggat waktu terus diberikan kepada siswa dan guru SLTP 56 Melawai untuk segera hengkang dari sekolah mereka sendiri. Gaji untuk Nurlaila, satu-satunya guru memilih untuk bertahan, dicekal sejak bulan Desember tahun lalu. Dinas Pendidikan Dasar Jakarta tak berperan sebagai ‘pahlawan’ di sini, karena mereka justru mengirimkan surat peringatan kepada para orang tua murid. Belum lagi ancaman lewat telfon atau didatangi lurah setempat, yang semuanya membawa satu pesan tegas : pindah atau dianggap liar. Dinas Pendidikan Dasar Jakarta juga sudah melaporkan Nurlaila ke polisi karena dianggap melakukan kegiatan belajar mengajar tanpa ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi itu kalau bukan kekerasan negara terhadap warganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurlaila, ibu tiga anak yang sudah mengabdi selama nyaris 10 tahun di SLTP 56 Melawai, tak habis mengerti. “SLTP 56 itu kan sekolah. Kenapa harus ditukar dengan usaha bisnis? Pak Latif memang bilang, tanah ini nanti untuk institut bisnis. Tapi itu kan pasti buat masyarakat menengah ke atas. Bagaimana dengan masyarakat menengah ke bawah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji langsung diumbar Sutiyoso. “Siswa SLTP 56 Melawai bisa pindah ke SLTP 12, letaknya dekat dan juga termasuk sekolah favorit. Atau bisa juga pindah ke SLTP lain di seluruh Jakarta. Saya janjikan, gratis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji manis itu ternyata hanya di mulut. Aditya Putri, gadis kecil yang duduk di kelas SLTP 56 Melawai, menceritakan kenyataan yang berbeda. “Aku tadinya juga mau pindah ke sekolah lain. Tapi ibuku disuruh bayar. Mahal.” Atau pengalaman teman-temannya yang akhirnya jadi pindah ke SLTP 12, seperti sudah dijanjikan Sutiyoso. Cibiran dan ejekan ternyata datang menyapa mereka, tak hanya dari teman sebaya, tapi juga dari para guru. “Temen-temenku dibilangin gini ‘Kasian deh lo, sekolahnya di-&lt;em&gt;ruislag&lt;/em&gt; ya?’ atau ada yang dimusuhin temannya karena kita sekolahnya gratis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori banding sudah dilayangkan ke Pengadilan Tinggi Jakarta sejak akhir April lalu. Seharusnya dengan begitu, tak ada satu pun yang bisa melakukan apa pun terhadap SLTP 56 Melawai. Semua harus kembali netral, sampai ada putusan hukum tetap sebagai jawaban atas banding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan masih sangat panjang. Tapi Aditya dan 50-an siswa lainnya sudah terlanjur tidak mendapat rapor, apalagi Nomor Induk Siswa. Juga ada Nurlaila yang terancam hukuman 10 tahun penjara atau denda 1 milyar rupiah, sesuai laporan yang diterima polisi karena Nurlaila dianggap melanggar Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aditya punya satu puisi untuk Sutiyoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aku bukan siapa-siapa&lt;br /&gt;Aku adalah seorang anak manusia di antara ribuan anak bangsa&lt;br /&gt;yang ingin mendapatkan hak-hak atas pendidikan&lt;br /&gt;Inikah sekolahku?&lt;br /&gt;Inikah Jakartaku?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Mei 2004)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: liputan6&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-111128974367869287?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/111128974367869287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=111128974367869287&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111128974367869287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/111128974367869287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2004/05/ketika-sekolah-jadi-sengketa.html' title='Ketika Sekolah Jadi Sengketa'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-110969960629255250</id><published>2004-03-02T15:56:00.000+07:00</published><updated>2006-08-12T07:51:37.706+07:00</updated><title type='text'>Tarmizi ‘Mejik Jar’ Harva</title><content type='html'>Perawakannya tinggi kurus. Kulitnya hitam legam dengan rambut keriting sebahu. Kacamata hitamnya lebih sering bertengger di atas kepala ketimbang dipakai sesuai fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/tarmizi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/tarmizi.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Tarmizi Harva, pewarta foto dari Reuters. Fotonya yang merekam gambar jenazah Muzakir terikat di pohon pinang memikat hati juri World Press Photo. Ganjaran untuk Meji : penghargaan fotografi jurnalistik paling bergengsi untuk kategori Penghargaan Khusus (Honorable Mention) Foto Berita Tunggal tahun 2004. Foto ini dinilai telah berhasil menampilkan realita kengerian konflik politik yang sadis, secara santun dan informatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilannya singkat saja, Meji. Nama pendek itu sempat membuat saya bertanya-tanya siapa sebetulnya nama lengkap laki-laki ini. Begitu tahu nama depannya Tarmizi, saya langsung terkekeh ketika berjabat tangan pertama kali dengan Meji. “Kalau begitu, saya akan panggil kamu Mejik Jar!” Meji tertawa, tak keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami dari Nila dan ayah dari Nami dan Bintang ini bergabung dengan Kantor Berita Reuters terhitung April 2002 lalu. Sebelumnya, ia didera kebimbangan menentukan pilihan hidupnya. Maklum, jalur pendidikan Meji bukan di bidang fotografi, tapi di Teknik Sipil. Pada rentang tahun 1998-2000, ia mendua, memotret dan bekerja sebagai kontraktor. Ia merasa harus bertanggung jawab pada kedua orangtuanya, yang sudah membiayai kuliah Meji di Jurusan Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan di tengah santapan mi goreng di depan Kantor Biro Kompas di Medan tahun 2000 lalu, juga memberi pencerahan bagi Meji. Teman-temannya berhasil meyakinkan hati Meji untuk berangkat ke Jakarta. Ia pun mulai menggeluti pekerjaan barunya sebagai pewarta foto Majalah Gamma selama dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya hanya coba-coba. Pergaulannya dengan teman-teman suka fotografi lantas menyeret Meji dalam pusaran pewarta foto. Orang yang berpengaruh dalam paruh hidup ini adalah fotografer lepas bernama Edward Sinaga. Sederetan kamera baru terus dipamerkan Edu kepada Meji, sekaligus menularkan nikmatnya memotret. Coba-coba pertama Meji di Lomba Foto Olahraga Nasional tahun 1997 ternyata berbuah lumayan, pemenang harapan II di Lomba Foto Olahraga Nasional. Meji menjadi satu-satunya pemenang yang bukan wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tinggal menunggu waktu saja sampai Meji terbang ke Amsterdam dan menerima langsung penghargaan World Press Photo 2004. Penghargaan ini sekaligus menghentikan pencarian Meji akan jalur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya Tuhan menginginkan Meji menjadi pewarta foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;[Aceh Kita, Maret 2004] &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: fotografer.net&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-110969960629255250?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/110969960629255250/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=110969960629255250&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110969960629255250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110969960629255250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2004/03/tarmizi-mejik-jar-harva.html' title='Tarmizi ‘Mejik Jar’ Harva'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-110969955369333373</id><published>2004-03-02T15:52:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:44:57.226+07:00</updated><title type='text'>Merekam Muzakir dalam Ingatan</title><content type='html'>Matahari sudah bergerak ke barat ketika rombongan sekitar tujuh mobil tiba di Desa Seumirah, Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Kala itu, Nisam tengah naik daun. Kabar burung memang menyebutkan, William Nessen, jurnalis lepas Amerika yang tengah bersama Gerakan Aceh Merdeka GAM, ada di sana. Panglima Komando Operasi Militer NAD saat itu, Bambang Darmono, sudah memerintahkan Nessen untuk segera keluar dari hutan. Meski menjadi tempat liputan favorit, tak banyak yang berani berangkat hanya dengan satu mobil. Minimal tiga mobil, baru berani berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya dan teman-teman dalam satu mobil sewaan tak ikut bersama rombongan yang lain. Saya satu mobil dengan Berni Mustafa yang saat itu masih di The Jakarta Post, Berthus Mandey dari Suara Pembaruan dan Djaka Susila dari Jawa Pos, juga supir mobil itu, Pak Halim. Kami tak ikut jalur rombongan mobil yang lain, yang langsung menuju Nisam. Setelah berputar-putar mencari jalan dan nyaris berputus asa, akhirnya kami bertemu rombongan itu. Nisam memang bukan daerah yang bersahabat. Jarak kecamatan ini dari tepi JalanMedan-Banda Aceh jauhnya kira-kira 20 kilometer, dengan kondisi jalan bergelombang. Patokannya, Simpang KKA atau Simpang ASEAN. Kalau sudah masuk jauh ke dalam, ada begitu banyak pilihan belokan yang sangat mungkin membuat kami tersesat. Setelah sekitar dua jam mencari jejak mereka, akhirnya kami bersama rombongan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan mobil yang lain sebetulnya tengah berada dalam perjalanan pulang. Mereka usai membuat liputan tentang penemuan delapan ton bahan peledak, yang diduga milik GAM. Ketika tiba di persimpangan jalan, kami dicegat warga. Saya urung turun karena teman-teman yang turun segera bergegas masuk kembali ke dalam mobil. Saya hanya mendapat kabar pendek, warga menemukan jenazah yang terikat di pohon pinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah? Terikat di pohon?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa membayangkan apa yang akan saya hadapi kemudian. Perjalanan menuju ke tempat yang ditunjukkan warga cukup jauh. Di kiri kanan, hutan pohon pinang tampak mengelilingi kami. Jalan yang bergelombang membuat perjalanan terasa semakin jauh. Rombongan mobil berjalan pelan. Saya merasa makin tegang. Di sepanjang jalan tak tampak rumah warga. Hanya ada deretan pohon dan jajaran kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di suatu titik, warga tampak berdiri di pinggir-pinggir jalan. Wajah mereka ketakutan. Kebanyakan ibu-ibu yang ada di sana, menggendong anak mereka yang masih kecil. Akhirnya rombongan mobil kami berhenti. Tempat ini adalah Dusun Batee Leusung, Desa Seumirah, Kecamatan Nisam, Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa warga segera saja menyeruak menyambut kedatangan kami. Sebagian teman langsung bergerak menuju deretan pohon-pohon pinang yang ada di sebelah kanan jalan. Pergerakan saya terhenti ketika berpapasan dengan seorang bapak tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut mukanya tegang bercampur panik. Keriput di wajah serta uban yang menyelimuti rambut dan janggutnya menambah kesan tua di bapak itu. Saya gapai tangan bapak itu, bersalaman. Sekaligus mencoba membuatnya lebih tenang. Belum sempat saya mulai bertanya, bapak ini sudah memulai berbicara. Bapak itu bernama Abdullah Adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, Pak, pelan-pelan. Bagaimana cerita sebenarnya, Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba membuat bapak tua ini sedikit tenang. Dia terlihat begitu terengah-engah, seperti ada ribuan kata yang ingin segera diluncurkan untuk menjawab pertanyaan saya. Dengan tutur kata yang campur aduk, bahasa Indonesia yang tidak baku bercampur logat Aceh yang kental, Abdullah Adam menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah yang terikat di pohon pinang adalah anaknya. Namanya Muzakir Abdullah, usianya baru 20 tahun. Dengan terbata-bata, bapak tua ini bercerita bahwa semalam anaknya diambil oleh OTK alias orang tak dikenal. Wajah mereka yang mengambil Muzakir bertutup topeng kain. Juga berpakaian loreng dan bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ke arah depan. Sebagian teman-teman yang lain sudah langsung menuju ke deretan pohon pinang yang berada tak jauh dari tepi jalan. Tak sampai lima meter jaraknya. Saya salami kembali bapak itu dan menyusul yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa jauh di depan saya, (almarhum) Ersa Siregar, dari RCTI. Dalam hati saya mulai bertanya-tanya, di mana sebetulnya jenazah itu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, itu dia,” begitu kata Bang Ersa, sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya celingukan mencari. Beberapa detik kemudian saya menemukan jenazah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/1600/deadman-tarmizi2003.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4391/894/200/deadman-tarmizi2003.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh itu kaku. Warna kulitnya pucat, tersaru dengan warna batang pohon pinang yang juga pucat. Tubuhnya terikat di batang pohon, dengan kedua tangan dililit tali ke arah belakang. Di tengah mulut ada sapu tangan putih juga terikat pada batang pohon, menahan kepalanya agar tak terjatuh. Dalam mulutnya ada sumpalan kain yang sudah tak jelas lagi warnanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya agak sedikit miring. Lehernya nyaris putus. Wajahnya menyisakan sisa-sisa lebam. Matanya terpejam. Kakinya menekuk tepat di bagian lutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potongan tubuh yang terikat ini tinggi besar. Otot-otot yang liat terlihat jelas di sana. Dia hanya mengenakan celana dalam saja, warna hijau tua. Di sekujur tubuhnya ada sisa-sisa darah kering. Mulai dari leher. Di dada. Di paha. Sampai ke kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma bisa terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil gambarnya dari belakang saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Bang Ersa menyadarkan saya. Saya bergerak mendekat, agak ke arah samping. Dari situ saya bisa melihat sayatan pada leher bagian kiri. Saya menengok ke kiri. Tarmizi Harva atau Meji, pewarta foto dari Reuters terlihat gelisah. Kameranya masih terus dipegang. Kelihatannya ia belum menentukan sudut yang tepat untuk mengambil gambar. Teman-teman yang lain, dari media cetak dan televisi mulai bergerak mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga gelisah. Saya tak tahu mana yang harus lebih dahulu saya kerjakan : menenangkan diri saya atau maju lebih dekat memastikan di mana dan apa saja bekas luka di tubuh jenazah itu. Saya lakukan yang kedua. Saya bisa kehilangan peristiwa penting kalau tak segera bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah saya ada perempuan yang terus menangis sambil mengucap bermacam-macam doa. Kelihatannya ia juga baru tiba. Perempuan itu berkerudung putih, mengenakan kaos warna abu-abu dan bercelana kain warna hijau. Berkali-kali ia menyebut nama Allah sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Farida. Ia bergerak mendekati tubuh kaku yang terikat di pohon. Ia mengusap-usap bahu dan dada jenazah itu, sambil terus menggumamkan berbagai doa. Bergantian dengan tangisannya yang meraung. Ia terus berkata-kata dalam bahasa Aceh yang tak saya mengerti. Tubuh yang terikat itu adalah adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyodorkan alat perekam ke arah Farida. Saya harus menggambarkan kembali suasana di tempat ini dengan baik. Farida terus mengucapkan berbagai macam doa. Ia mengelilingi jenazah Muzakir, sambil terus menyentuh tubuh kaku itu. Ia tak sendirian. Di dekatnya juga ada dua orang lain, kemungkinan sanak saudaranya. Abdullah Adam, ayah Muzakir, juga ada di sana. Warga setempat memilih berada di lingkaran luar, melihat dari jauh, sambil mengangkat kaos mereka sedikit untuk menutupi hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia sudah punya istri, Kak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Muzakir masih muda, baru 20 tahun dan belum berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia anak Bapak? Anak kandung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dari salah satu wartawan membuat saya mengalihkan perhatian ke Abdullah Adam. Saat itu pukul 15 sore. Ia benar-benar baru tahu beberapa menit yang lalu tentang terbunuhnya Muzakir. Dengan gerakan tangannya ia menjelaskan, mereka yang datang ke rumahnya semalam menggunakan baju tentra dan tutup muka. Ia menunjuk Farida di bagian mulut, menunjukkan bekas tendangan orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida langsung bercerita. Muzakir sudah tidur ketika semalam, sekitar pukul 20.30 WIB, rumah mereka didatangi OTK, orang tak dikenal, dengan seragam loreng, topeng di wajah dan senjata di tangan. Pintu ditendang dan mereka berteriak, menyuruh Muzakir supaya tidak lari, tidak keluar dari rumah. Mereka lantas masuk ke dalam rumah. Farida juga terbangun malam itu. Ia berteriak-teriak minta tolong. Ia mencoba meyakinkan mereka bahwa adiknya tak bersalah. Ia minta penjelasan, kenapa adiknya dicari-cari. Pertanyaan itu dijawab dengan tamparan dan tendangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bilang, Pak, jangan Pak, adik saya nggak bersalah. Apa ini Pak? Bilang dulu Pak, saya bilang. Bilang dulu Pak, apa salah adik saya. Dia tak jawab apa-apa. Dia hanya bilang, diam kau, diam, sambil tampar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida tak tahu siapa mereka. Yang jelas, seragam yang dikenakan loreng. Layaknya tentara. Setidaknya ada empat orang yang masuk ke dalam rumahnya. Di luar, masih ada beberapa orang lagi berjaga-jaga. Juga dengan seragam loreng, topeng di wajah dan senjata di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada yang menanyakan soal bahasa yang digunakan pria-pria berseragam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahasa Indonesia, bahasa nggak tahu lagi ada juga. Nggak ada bahasa Aceh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada juga ora gelem. Seperti itu ada juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sang ayah selesai menyebut kalimat itu, kami berpandang-pandangan. Berbahasa Jawa. Tidak bisa bahasa Aceh. Aboe Prijadi Santoso, atau ‘Opa’ Tossi, dari Radio Nederland langsung membuat raut muka penuh mafhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keucik dusun setempat angkat berbicara. Hasballah namanya. Ia membenarkan identitas Muzakir sebagai warga desanya. Menurut dia, Muzakir sehari-hari membantu mengajar mengaji di Pesantren Nurul Huda. Setiap hari, Muzakir bisa ditemui di sana. Hasballah bercerita, sekitar tiga hari yang lalu, pasukan TNI masuk ke dusun mereka. Setiap kali bertemu warga, TNI pasti bertanya soal GAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga desa makin banyak yang memberanikan diri mendekat ke sana. Ada yang membawa tikar. Tali yang mengikat jenazah Muzakir di pohon pinang itu mulai dicopot. Saya bergerak menjauh dari lingkaran di sekitar pohon dan jenazah Muzakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bergabung bersama Berthus, Berni dan Djaka. Mereka tengah berbincang dengan seorang lelaki. Memakai peci putih, kemeja kotak-kotak dan sarung. Dia ternyata saudara Muzakir. Sebut saja namanya Yusuf. Ia bercerita, pagi tadi ketika di kedai kopi, ia bertemu dua anggota TNI. Dua tentara ini tengah bercerita tentang sebuah kejadian yang mereka sebut sebagai ‘kejadian semalam’. Satu kalimat saja yang diingat betul oleh Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah sendiri anaknya nggak dilarang, lalu kita ambil dan hilangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya ia tak ambil pusing dengan kalimat itu. Begitu tahu nyawa saudaranya melayang, ia mulai berpikir yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, lihat pangkatnya apa? Berapa garis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Berthus dijawab singkat. Satu garis merah. Yusuf juga menyebut tiga angka yang ada di lengan kanan seragam loreng itu. Identitas kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhenti mencatat pada angka itu. Saya pastikan, informasi itu terekam dalam alat perekam saya. Terlalu penting untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melongok ke arah pohon pinang, ke arah jenazah Muzakir. Jenazah Muzakir sudah diturunkan, ditaruh di atas tikar. Tubuhnya ditutupi kain. Laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, mengelilingi tubuh Muzakir. Mendoakan Muzakir dengan sepatutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghampiri Zainal Bakri, wartawan Tempo. Wajahnya masih gelisah, tak banyak berubah sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di dusun ini. Zainal adalah wartawan yang hebat, asli kelahiran Tanah Rencong. Ia menunjuk ke seorang bocah laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namanya Aswari. Dia yang pertama kali menemukan jenazah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghampiri bocah itu. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kejadian hari ini bisa menjadi trauma tersendiri bagi Aswari. Sudah sejak menjelang siang ia menemukan jenazah laki-laki terikat di pohon pinang. Ia segera saja memberitahukan ibunya. Tak lama, seluruh warga desanya tahu. Tapi tak ada yang berani berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar menurunkan jenazah Muzakir. Mereka memilih untuk menunggu kedatangan Palang Merah Indonesia PMI. Padahal PMI kadang tak berani ambil resiko terlalu besar untuk masuk ke pelosok-pelosok desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya lagi mau ke sungai. Tiba-tiba ada anjing yang menggonggong terus. Saya sudah hantam dia, tapi tak mau juga diam. Saya datangi. Saya lalu lihat ada mayat di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Aswari adalah keterangan terakhir yang saya rekam. Saya memasukkan alat perekam ke dalam tas. Data yang sudah ada nyaris lengkap. Kecuali satu, konfirmasi ke TNI. Saya sudah membuat lingkaran penanda di frase ‘satu garis merah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melirik jam tangan saya. Hari sudah semakin sore. Teman-teman dari media televisi mulai gelisah, mengejar tenggat waktu penayangan berita sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa siapa yang mengusulkan, tapi gagasan untuk konfirmasi ke TNI muncul juga. Ada yang setuju, ada yang tidak. Yang tidak setuju, khawatir dengan keselamatan warga desa. Jangan-jangan, setelah Muzakir malah ada orang lain yang menyusul. Tapi konfirmasi dengan TNI tetap sangat penting dilakukan. Demi akurasi berita, cek silang ke pihak yang berkepentingan harus tetap dilakukan. Sampai kami semua bergegas masuk ke dalam mobil, belum juga ada kata sepakat. Pos TNI terdekat letaknya tak terlalu jauh dari lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam mobil, saya terdiam. Saya menengok ke arah Berthus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan pertama kali saya lihat orang meninggal. Tapi baru kali ini yang bener-bener…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai lima belas menit perjalanan, rombongan kembali berhenti. Mobil yang paling depan memutuskan untuk mampir di pos TNI terdekat. Pasukan itu berasal dari Detasemen Pemukul 3 Satuan Tugas Mobil 2. Beberapa mobil terlihat ragu untuk berhenti. Saya, Berni, Berthus, Djaka dan Pak Halim memutuskan untuk berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat wajah yang saya kenal. Rimbo Karyono, Komandan Detasemen itu. Saya pernah bertemu dia dalam liputan sebelumnya. Dia juga masih mengenali saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Bakri dan Cahyo Junaedy dari Tempo membuka percakapan dengan Rimbo. Mereka menjelaskan apa yang baru saja kami lihat. Saya menyiapkan alat perekam, tangan saya siaga di tombol record. David O’Shea dari SBS Australia satu-satunya yang menyorot dengan handycam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya malah baru tahu. Di mana daerah Seumirah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Rimbo keheranan. Ia baru mendengar dari kami soal penemuan jenazah yang terikat di pohon. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengecek lewat radio panggil. Tak puas, ia segera menyusul ke balik terpal markas kecilnya di tengah hutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau TNI nggak ada yang pakai topeng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu penjelasan pertama yang disampaikan Rimbo. Setelah mengecek ke anak buahnya, mungkin sudah ada laporan yang datang. Rimbo mencoba memastikan agar kami tak berpikir TNI sebagai pelaku pembunuhan Muzakir. Menurut Rimbo, pasukannya tak pernah masuk ke kampung itu di malam hari. Penjagaan hanya dilakukan di pinggir desa saja. Rimbo menambahkan, yang biasanya memakai topeng adalah pasukan GAM. Dari versi Rimbo, jelas bukan TNI pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kami pulang. Sepanjang jalan pulang, saya terdiam. Saya memikirkan bagaimana cara yang paling tepat untuk memaparkan semua informasi yang saya dapatkan di lapangan. Di tengah medan konflik yang panas seperti Aceh, penemuan satu jenazah ‘saja’ mungkin tidak signifikan. Tapi Muzakir begitu penting bagi saya. Satu laporan lima menit segera saja saya buat. Demi Muzakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, 244 hari lewat dari kejadian itu. Saya masih ingat betul wajah Muzakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;{Aceh Kita, Maret 2004}&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: tarmiziharva&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-110969955369333373?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/110969955369333373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=110969955369333373&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110969955369333373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110969955369333373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2004/03/merekam-muzakir-dalam-ingatan.html' title='Merekam Muzakir dalam Ingatan'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11164938.post-110970005078750922</id><published>2003-08-02T14:50:00.000+07:00</published><updated>2006-08-08T07:49:05.416+07:00</updated><title type='text'>Untungnya Saya Bukan Tentara</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sebagai bekal untuk memutuskan, fokus kita bukan TNI vs GAM, tapi korban, kerusakan, dkk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kepanikan yang tiba-tiba menyergap saya pagi itu, pesan singkat di telfon genggam saya seperti mengembalikan akal sehat saya. Pesan itu datang dari Heru Hendratmoko, Direktur Program KBR 68h yang adalah bos saya, setelah sebelumnya saya berondong dengan serangkaian telfon penuh kepanikan dari Lhokseumawe, Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu (22 Mei 2003) kami tiba-tiba dikumpulkan di Markas Komando Operasi TNI di Lhokseumawe, Aceh Utara untuk ikut bergabung bersama pasukan di garis depan. Garis depan? Kami? Ah, masa... yang benar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata betul begitu. Tak ada unsur bercanda, apalagi mencoba mempermainkan kami ketika Juru Bicara Koops TNI Achmad Yani Basuki memberi penjelasan pada kami. Penjelasan yang tidak jelas, tepatnya. Ia sama sekali tidak bisa memberikan bayangan yang sedikit nyata tentang apa itu ‘operasi’ yang akan kami hadapi. Ia hanya berkata, kami akan dibagi dalam dua kelompok untuk dilekatkan bersama pasukan yang sedang menggelar operasi di medan perang. Kami segera saja bergerak merubung ke arah Pak Yani dan meminta penjelasan yang lebih detil mengenai ‘operasi’ yang digelar di sana. Apalagi saya, dengan gelayutan tanda tanya besar plus ketakutan yang tak kalah besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yani sama sekali tidak memberi penjelasan yang memuaskan. Dia hanya berkali-kali mengulangi pernyataannya, bahwa kami akan dilekatkan ke pasukan untuk ikut operasi. Titik. Dia tentu saja tidak bersedia menjelaskan operasi apa yang sedang digelar. “Ini kan operasi, kalau saya beritahu nanti bisa ketahuan musuh…” Oh ya, betul juga. Mereka tentara yang sedang berperang. Tentu saja membocorkan rencana operasi adalah sesuatu yang maha bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Fine&lt;/em&gt;. Mungkin bukan rencana operasi yang bisa dibocorkan di sini, tapi saya terus berharap dia akan memberitahu sesuatu. Sekedar untuk menenangkan hati, pertanyaan kemudian saya alihkan ke durasi ‘operasi’ itu. Ternyata pertanyaan ini pun tak bersambut. Lagi-lagi Pak Yani memberikan penjelasan yang tidak memadai, tapi ‘tentara’ betul penjelasannya. “Tentara itu kalau operasi kan tidak kenal waktu. Kalau tiga hari bisa dapat sasarannya, ya bagus. Kalau tidak, nanti kan bisa didatangi tim logistik untuk pasokan baru.” Ah, ya betul sekali. Siapa lah kami warga sipil ini, tentunya tidak setangguh tentara di mata Pak Yani. Lama operasi kok ditanyain, mungkin begitu yang ada di pikiran dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yani tampaknya tidak peduli betul dengan ketakutan, kecemasan dan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Ia malah kemudian menyergah saya dengan pernyataan “Mana komitmen kamu sama Sanggabuana? Yang saya tahu, kalian sudah dilatih di Sanggabuana dan siap ikut bergerak bersama kami.” &lt;em&gt;Yeah rite&lt;/em&gt;. Komitmen? Siapa yang membuat komitmen dengan TNI? Saya? Tidak. Sontak terlintas bayangan saya dalam seragam loreng yang sempat memegang senjata SS1 ketika dilatih di Sanggabuana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, Pak Yani mengangkat tangan kirinya dan melirik ke arah jam tangannya. “Kalian punya waktu 30 menit untuk berkemas. Setelah itu, segera kembali ke sini. Posisikan diri sesuai kelompok yang sudah saya bagikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkemas? Jadi ini serius? Kami akan ditempatkan bersama pasukan di garis depan? Kami yang tak punya pengalaman sebagai tentara ini harus ikut operasi peperangan? Ah yang benar saja. Bisa-bisa kerja tentara kita malah kocar-kacir akibat kekacauan yang sudah pasti akan kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanya ke kiri atau ke kanan hanya akan menambah kadar kecemasan itu sendiri. Lagipula, tidak ada yang lebih tahu daripada yang lain, karena toh informasi yang disampaikan Pak Yani terlampau pelit untuk dicari-cari makna tersiratnya. Apalagi, tidak semua teman punya kecemasan yang sama besarnya dengan saya. Beberapa malah kegirangan, karena akhirnya terjun juga ke ‘medan perang’. Sementara saya, merasa nelangsa karena sebagai warga sipil sejati seolah digiring untuk ikut memanggul senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.tribuneindia.com/2003/20030613/world2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://www.tribuneindia.com/2003/20030613/world2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman empat hari ‘dididik menjadi tentara’ di Sanggabuana nyatanya tidak membuat kecemasan saya hilang. Yang muncul lagi-lagi rasa cemas, karena bukan tidak mungkin apa yang selama empat hari saya pelajari di sana, akan menjadi nyata dalam hitungan jam saja. Pelajaran 5M (menghilang, mengguling, membidik, menembak, meliput) yang sempat kami pelajari di sana serta merta menjadi pembicaraan yang serius, minimal teman-teman terlihat saling mengingatkan soal pelajaran itu. Tapi tidak ada yang tidak cemas. Yang hanyalah ada yang berhasil menyembunyikan kecemasan itu, ada yang tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja saya telfon bos saya. Bagaimana pun juga dia harus tahu kecemasan yang saya alami dan kenyataan yang ada di depan mata. Tidak ada keraguan, dia pasti menangkap betul kebingungan saya, bahkan dari jarak ribuan kilometer sekali pun. Ini pun bukan kecemasan saya yang pertama yang saya sampaikan ke dia, sejak hari pertama menjejakkan kaki di Aceh. Tapi dia menyerahkan semua keputusan pada saya. Karena saya yang ada di Lhokseumawe. Karena saya yang akan ikut operasi, jika keputusan itu yang saya ambil. Karena saya yang memilih untuk ikut ‘pelatihan kedaruratan militer’ alias latihan perang TNI di Sanggabuana. Karena saya sendiri yang minta untuk pergi ke Aceh. Semua seolah-olah berbalik ke saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampailah pesan singkat itu di telfon genggam saya. Saya memutuskan untuk ikut ‘berperang’ bersama TNI, ikut dalam operasi yang mereka gelar, apa pun itu bentuknya. Saya berusaha keras mengusir pikiran-pikiran buruk yang terlanjur ada. Dalam hitungan 10 menit, saya berkemas, memasukkan barang-barang yang sekiranya diperlukan selama… yah, berapa lama pun operasi itu akan digelar. Tiga kaos, lima kaset kosong, sepuluh baterai baru, dua tape recorder, topi, jaket, lotion pengusir nyamuk, rasanya cukup. Ketika masih di Markas Koops tadi, kami sudah sepakat untuk tidak ada yang membawa seragam loreng karena terlalu berbahaya. Sekedar saling mengingatkan saja, karena ada saja kawan yang jiwa ketentaraannya makin terasah setelah ikut Sanggabuana dan pergi ke Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritsleting ransel &lt;em&gt;daypack&lt;/em&gt; biru saya segera saya tutup, sambil terus berdoa supaya semua akan baik-baik saja. Kamar hotel segera saja saya kunci, mudah-mudahan dalam beberapa hari ke depan saya sudah bisa bertemu kamar hotel ini lagi. Kecemasan yang sedari tadi ada, mulai saya anggap sebagai suatu kewarasan belaka. Rasa takut tentu adalah hal yang wajar. Saya pikir, saya hanya bertindak waras dengan tidak mau ikut ke garis depan. Karena yang harus melakukan itu memang tentara, bukan wartawan yang juga adalah warga sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar hotel, seketika itu juga saya teringat dan segera berlari menuju kamar. Ternyata ada yang tertinggal. Kartu Sanggabuana. Kartu kecil berwarna hijau, bertuliskan Puspen TNI, dengan pasfoto 4x6 berlatar merah, saya dalam seragam loreng. Siapa tahu bisa jadi jimat. Baru kali ini saya menyelipkan kartu itu di kantong depan ransel saya. Biasanya, saya pendam di bagian paling bawah &lt;em&gt;carrier&lt;/em&gt; tempat baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul saja. Begitu sampai di Markas Koops, teman-teman sudah menunggu. Tak lama, Kelompok I dipersilahkan jalan, naik ke atas reo alias truk tentara. Seorang kawan tiba-tiba menyikut saya dan berkata,”Orang-orang GAM pasti udah liat nih siapa aja yang naik reo. Kita mesti tetap hati-hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desas-desus soal tidak amannya kami sebagai wartawan melekat alias &lt;em&gt;embedded journalist&lt;/em&gt; memang sudah lama beredar, bahkan sejak kami masih dilatih tentara di Sanggabuana. Konon, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah memegang daftar nama-nama kami yang melekat pada TNI. Tidak ada yang bisa memastikan kebenaran kabar itu, kami pun saling menenangkan diri setiap kali teringat kabar itu. Ketidaktahuan memang selalu menimbulkan kecemasan. Tapi seorang kawan yang kebetulan pernah masuk ke markas GAM menyebutkan, mereka memang betul-betul punya daftar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa reo yang diperuntukkan bagi kelompok I berlalu. Mereka diarahkan menuju Peureulak, Aceh Timur. Sementara saya dan kelompok dua nanti akan ke Simpang KKA, masih masuk wilayah Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar lima orang yang tergabung dalam kelompok dua. Semua sudah siap dengan ranselnya masing-masing. Yang paling repot bawaannya mungkin teman-teman foto karena kamera manual mereka berat-berat, belum lagi harus membawa peralatan untuk mengirim gambar. Sementara saya, lebih direpotkan dengan kecemasan saya. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya tiba juga reo yang akan membawa kami ke Simpang KKA. Kami pun diperkenalkan dengan Kolonel Panji, komandan yang bertanggung jawab di wilayah tersebut. Dia hanya mengeluarkan kalimat seperlunya, dengan kalimat yang pendek-pendek. Wajahnya agak tegang. Mungkin dia sedang membayangkan anak buahnya akan ketambahan kerjaan untuk mengurus kami-kami yang wartawan ini. Atau bisa jadi dia membayangkan kekalahan yang akan dialami karena kami ikut bersama rombongan TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah lah apa yang ada dalam pikirannya. Saya sudah enek berpikiran ngeri tentang operasi TNI ini. Karena toh reo sudah parkir di jalan depan Markas Koops, mau apa lagi, tinggal membesarkan hati dan naik ke atas reo. Akhirnya punya pikiran cemas jadi tidak berguna, hanya membuat perut melilit saja. Toh tidak ada yang bisa memberitahu saya apa yang akan dihadapi nanti. Jadi ya dinikmati saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di atas reo, sudah ada sekitar 10 orang tentara di sana. Mereka siap dengan senjata SS1 di tangan. Tentu juga dengan atribut-atribut lain yang melekat di tubuh mereka, pisau komando, persediaan amunisi SS1 dan botol air. Di tengah-tengah reo terdapat SMB atau Senjata Mesin Berat yang amunisinya 12,7 milimeter. Besar, ya. Saya jadi teringat pada Rambo. Tidak semua prajurit diperbolehkan memegang SMB. Selain karena spesifikasinya yang berbeda dengan senjata lain, juga karena tentara yang memegang SMB tidak boleh meninggalkan reo ketika tiba-tiba kontak senjata berlangsung. Dia harus terus memuntahkan amunisinya dan mengalihkan perhatian musuh sehingga prajurit lain yang ada di reo bisa berlarian mengejar musuh. Hm, kalau begitu, jika tiba-tiba ada kontak senjata, saya sudah tahu saya akan bersembunyi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di sebelah seorang tentara berpangkat Sersan Kepala. Sepanjang perjalanan selama kurang lebih 2 jam, kami berbincang dengan cukup akrab. Saya memancing dia untuk bercerita tentang keluarganya. Dengan bersemangat ia berkisah tentang anaknya yang belum lagi berusia 5 tahun, juga tentang bagaimana ia bertemu perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Tentang gajinya yang kecil, tentang makna pengabdian bagi seorang tentara seperti dirinya, tentang rasa takut, juga tentang Aceh. Sebelum ke Aceh, ia sempat ditugaskan ke Ambon. Menurut dia, konflik di Aceh berbeda jauh dengan Ambon. Kalau di Ambon, yang bertikai adalah antar masyarakat sendiri, sehingga tentara tidak terlalu banyak bekerja. Sementara di Aceh, baru di sinilah ia merasa betul-betul di medan perang. Walau tetap didera rasa takut tak bisa lagi bertemu dengan istri dan anaknya, baru kali ini ia merasa betul-betul menjadi tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa. Saya tak terbayang apa jadinya kalau kami bertukar posisi, kalau saya jadi tentara. Saya tidak tahu apakah saya sanggup punya ‘kebanggaan’ yang sebegitu besar untuk menjadi tentara. Ketika berperang adalah suatu kebanggaan. Ketika menembak musuh seperti membuktikan pengabdian pada negara. Kelihatannya saya adalah produk gagal Sanggabuana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua tentara bisa asik bercengkrama seperti Sersan Kepala yang saya ajak berbincang. Beberapa di antara mereka tetap berdiri sepanjang perjalanan, berjaga-jaga, siap dengan SS1 yang sudah terkokang. Kelihatannya mereka berusaha tetap trendi walau terkungkung dalam seragam loreng. Kaca mata hitam, balaklava loreng, sarung tangan. Secara fungsional itu memang ada gunanya, untuk melawan terik matahari di Aceh Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di suatu belokan, tiba-tiba sang Sersan Kepala di sebelah saya bergegas berdiri. Posisinya langsung siaga, setelah mengokang senjata di tangannya. Tangannya sempat juga meraba ke kantong penyimpanan cadangan amunisi. Tidak hanya dia yang bersiaga, tapi semua tentara yang ada di dalam reo itu langsung bersiap siaga. Saya dan tiga wartawan lainnya yang ada dalam reo yang sama langsung berpandang-pandangan, karena tidak tahu mengapa tiba-tiba kesiagaan seperti itu langsung dipertunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengintip lewat lubang yang ada di reo. Pabrik Kertas Kraft Aceh (KKA). Rupanya kita telah tiba di Simpang KKA. Pantas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian perjalanan truk berhenti di suatu tempat. Mereka menyebut tempat ini sebagai Detasemen Rudal, Denrudal. Satu ruangan besar seperti hanggar terletak di sebelah kanan reo yang berhenti di tengah lapangan parkir. Kami segera turun ke sana. Saya akhirnya menemukan teman yang sama ‘waras’nya dengan saya, Ade Siboro dari The Jakarta Post, untuk tidak mau ikut operasi ke garis depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk di bangku yang tersedia. Ruangan besar itu hanya bersekat tripleks saja. Saya sadar betul, kami sudah masuk ke wilayah tentara, bersama para tentara pula. Para cantoi alias mata-mata GAM pasti sudah mengabarkan kedatangan kami. Satu-satunya barang bukti bahwa kami adalah wartawan hanya ID Card yang terus menggantung di leher. Menjadi pengingat bahwa kami bukan tentara dan masih tetap warga sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi yang panjang, Kolonel Panji yang juga sudah tiba di lokasi, mempersilahkan kami untuk mengambil rompi anti peluru. Seonggokan rompi anti peluru sudah terlihat menanti kami di tengah ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sudah lah. Saya sudah terlalu capek merasa cemas dan ini adalah saatnya untuk bersenang-senang. Kalau tidak menjadi wartawan dan tidak embedded seperti ini dengan TNI, mungkin saya tidak akan punya kesempatan lagi untuk menggunakan rompi anti peluru seberat 13-an kilogram ini. Akhirnya saya dan teman saya itu mendekat dan memilih rompi anti peluru. Bermotif loreng tentunya, walaupun saya mungkin lebih ingin memilih yang bermotif zebra. Semua rompi itu kotor, seperti terkena lumpur lantas mengering sebelum sempat dibersihkan. Saya tidak sempat bertanya-tanya lagi, sebetulnya rompi ini datang dari mana, karena waktu yang sempit. Akhirnya saya pun memilih satu rompi yang paling pas. Tentu saja mengenakannya butuh bantuan. Berat 13 kilogram itu tidak bohongan, ini serius. Tak heran kalau mengangkatnya dan mengenakannya, saya butuh bantuan. Tadinya mau coba-coba sok tau dan memasangnya sendirian, tapi ternyata terbalik. Terlalu banyak tali yang harus disangkutkan. Ternyata saya masih butuh TNI juga, untuk memasang rompi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenakan rompi, saya merasa seperti orang lain. Lumayan lah, sehari membeli kepribadian tentara. Dengan rompi yang masih menempel di badan, saya justru merasa makin tidak tenang. Memang, rompi ini bisa menangkal peluru, walaupun tidak ada janji untuk peluru-peluru tertentu, apalagi kalau jarak tembaknya dekat. Tapi kalau saya jalan-jalan dengan rompi ini, yang ada malah ditembak oleh GAM, karena dari jarak jauh saya sudah terlihat seperti tentara. Tidak ada bedanya. Apalagi kalau dibandingkan dengan ID Pers saya yang teramat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kami mematut-matut. Kami kembali dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Wilayah Kolonel Panji disebut sebagai Sektor B. Sektor B ini dibagi lagi menjadi empat Detasemen Pemukul atau Denkul. Tiap Denkul nantinya dipecah lagi menjadi beberapa satuan. Seorang Perwira Hukum dari Yonif 403 Diponegoro yang kami sapa dengan Pak Yanu membagi kami ke Denkul-denkul yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memilih untuk berada di Denkul 3, tempat Pak Yanu bertugas. Kelihatannya dia cukup tenang dan rasional dalam memberikan penjelasan tentang operasi yang akan dihadapi. Dia pun memberikan jaminan pengamanan terhadap kami, para wartawan, kalau benar akan ikut operasi. Selain itu, dia juga menjanjikan setiap saat kami mau pulang, maka kami bisa meminta pada mereka, dan akan disediakan pengawalan. Nah, ini dia yang saya cari : kepastian pulang. Ada empat orang yang ikut di Denkul 3, selain saya, ada Ade Siboro dan Berto Wedatama dari The Jakarta Post, serta Alex Suban dari Suara Pembaruan. Kebetulan, saya, Ade dan Berto adalah teman sekamar, sementara Alex Suban lebih sering berada di kamar kami ketimbang di kamarnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua teman sudah ditempatkan di Denkul-denkul yang lain. Tempatnya sebetulnya tidak terlalu saling berjauhan, tapi berbeda arah. Setelah bersalam-salaman, seolah-olah kami akan berpisah lama, kami pergi ke reo kami masing-masing. Sempat saya bertanya pada seorang kawan, berapa lama yang dia perkirakan akan ikut ‘operasi’ itu. Dia hanya mengangkat bahu. Dia hanya berkata,”Kalau udah dapat satu cerita paling juga minta pulang. Itu pun kalau tidak merepotkan. Gue juga nggak mau lama-lama.” Alhamdulillah, ternyata kewarasan bukan milik saya seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Ade ternyata sudah disiapkan tempat duduk di depan. Tempat duduk di bagian depan reo rasanya jadi lebih sempit karena ada tiga orang yang semuanya mengenakan rompi anti peluru. Ternyata sulit juga menutup pintu reo yang sudah dilapis baja. Setelah kami bertiga duduk manis di depan, lapisan baja pun ditarik Ade, yang duduk di pinggir. Tapi setelah lapisan baja itu ditarik, ternyata pintu reo justru belum didekatkan sehingga tidak bisa ditutup. Akhirnya tentara yang duduk di sebelah kanan saya, yang mengemudikan reo, harus turun dan membantu menutup pintu untuk kami. Dasar sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, kami berdua banyak sekali bertanya pada tentara supir ini. Saya tak sempat mengintip label namanya karena sudah tertutup rompi anti peluru. Dia juga kelihatannya punya banyak cerita yang ingin dibagi dengan kami. Rute yang kami lewati termasuk cerita yang disampaikan. Ketika saya mengintip ke belakang, semua prajurit memang terlihat siaga. Tidak ada yang duduk mengobrol, seperti yang sempat saya lakukan. Dia bercerita, rute yang sedang kami lewati tidak terlalu aman. Dia menunjuk jauh ke sebelah kiri dan menyebutkan, GAM seringkali menyerang dari arah sana. Di sebelah kiri kami terdapat perbukitan yang dipenuhi pohon kelapa. Sangat sulit untuk bisa memastikan apakah pada saat reo kami berlalu ada GAM yang mengintai kami atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga sempat bercerita tentang bom rakitan yang ditemui di jalan. Ada kalanya mereka sudah bisa mengantisipasi adanya bom, tapi tak jarang mereka menjadi korban bom itu. Dia bercerita tentang bom rakitan yang pernah dia temui, yang meledak dan membuat sebuah mobil Kijang terlempar ke udara. Dengan nada agak menenangkan, dia menambahkan, kalau bom itu meledak di bawah panser, mungkin hanya akan bergetar sedikit saja. Kalau meledak di bawah reo? “Ya bolong,” begitu ujarnya, tenang. Menjejaki adanya bom menjadi salah satu tugas dia. Sebelum reo bergerak dari Denkul tadi, sudah ada tim yang berjalan duluan untuk menyisir rute yang akan kami lalui. Siapa tahu ada seutas kawat yang dihubungkan ke bom rakitan, misalnya. Saya langsung mengelus dada, pastinya tim ini pemberani sekali. Sudah berjalan kaki, berpanas-panas, di jalan ada resiko besar untuk dihadang GAM, sementara yang diamankan adalah kami yang bergerak di atas reo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan berlalu begitu lama, karena reo berjalan lambat. Alex Suban dan Berto Wedatama terlihat cukup sibuk memotret. Mereka cukup awas untuk tidak memotret dengan cara berdiri. Mereka hanya mengacungkan kamera mereka ke atas dan memotret dengan insting. Sementara saya dan Ade menikmati bulir-bulir peluh yang mengalir deras dari dahi hingga paha. Ruang yang sempit untuk kami bertiga di bagian depan reo sudah cukup untuk membuat gerah. Apalagi, dengan lapisan baja di samping kiri dan kanan, hanya menyisakan satu kotak kecil sebagai tempat lalu lalangnya udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reo pun memasuki sebuah kompleks. Saya luput memperhatikan plang ketika reo memasuki kompleks perumahan ini. Tapi kelihatannya ini adalah kompleks perumahan karyawan KKA. Kompleks yang cukup menyenangkan, dengan deretan rumah berukuran sedang yang asri dan tidak berpagar, beberapa orang tampak bersantai di luar rumah mereka. Mungkin mereka sudah tidak asing lagi melihat reo tentara bersliweran di depan rumah mereka. Tak asing juga dengan pos-pos tentara yang terdapat di pojok-pojok kompleks. Tentara supir ini melanjutkan ceritanya, kalau di kompleks ini terdapat keluarga GAM. Ia menunjuk satu rumah kecil yang terletak tidak terlalu jauh dari pintu gerbang utama. “Sudah tahu GAM kenapa tidak ditangkap?” begitu tanya saya. Menurut dia, tentara tidak bisa serta merta menangkap mereka karena belum terbukti melakukan apa pun. Mereka hanya bisa berjaga-jaga dengan lebih waspada untuk rumah tersebut. Akhirnya kami tiba di pos tentara. Kelihatannya ini pos utama untuk sektor ini. Betul saja. Begitu kami semua turun dengan kepenatan menggunakan rompi anti peluru, Pak Yanu kembali menyambut kami dengan senyum lebarnya. Menurut Pak Yanu, kami akan segera diperkenalkan dengan Rimbo Karyono, komandan Detasemen Pemukul 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rimbo? Tiba-tiba saya terbayang seorang pria bertubuh besar, dengan perut kotak-kotak, rambut agak gondrong dan memegang senjata mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bertemu dengan Rimbo, kami menunggu dulu sambil menonton TV. Bertemu dengan TV rasanya sudah kembali bersentuhan dengan dunia nyata. Ruangan untuk menonton TV hanya mengambil lokasi di lorong penghubung antar bangunan. Kursi yang digunakan seperti kursi metromini, tiga berderet ke belakang. Kursi yang paling depan adalah sofa yang sudah terkoyak di sana-sini, busa sofa pun sudah teramat tipis. Pasti kursi sofa ini ditujukan bagi komandan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, kami berkenalan dengan Rimbo. Posturnya tentu berbeda dengan Rambo. Sama-sama tinggi besar, badannya masih tegap, cukup ganteng, usianya sekitar 40-an tahun. Percakapan segera meluncur di antara kami berlima. Di awal-awal, seperti sudah saya duga, dia akan menyampaikan kekagumannya kepada kami. Karena kami yang wartawan ini sudah dilatih di Sanggabuana dan ‘berani’ ikut tentara. Padahal saya tak merasa ada hebat-hebatnya ikut berlatih di Sanggabuana. Tapi mereka, sebagai tentara, tentu bangga ada orang-orang sipil yang mau berlatih seperti tentara. Walaupun saya tak bangga, tapi fakta bahwa saya ikut berlatih di Sanggabuana, seringkali saya lontarkan saat saya berbincang dengan tentara. Untuk mencairkan suasana saja. Beberapa kali, saya lantas dipanggil wartawan perang. Aih, ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakjelasan jalur informasi mulai terasa ketika Rimbo bertanya pada kami berempat, berapa lama rencananya kami akan ikut bersama pasukan. Kami pun berpandang-pandangan. Sebab, berpuluh-puluh kilometer ke belakang, ketika kami masih di Lhokseumawe, Pak Yani sempat berucap, lama atau tidaknya kami di pasukan juga tergantung dari pergerakan pasukan itu sendiri. Seolah kami tak punya andil untuk menentukan waktu kepulangan. Saya sempat kesal juga. Seperti dipingpong, untuk sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti di garis depan bersama pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untungnya kami segera ambil kata sepakat. Besok, kami akan ikut pasukan untuk mengantar logistik ke pasukan yang ada di garis depan. Setelah itu, pasukan yang sama akan mengantarkan kami kembali ke Lhokseumawe. Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, kami berkeliling kompleks KKA. Di seputaran kompleks ini, ada begitu banyak pos tentara. Tempatnya bermacam-macam, ada yang nyaman, tapi ada juga yang tersiksa. Ada yang posnya menempati rumah warga kompleks yang sudah ditinggalkan. Kami mendapat oleh-oleh nangka dari tentara yang berjaga di sana. Tentunya, nangka itu tak dari pohon di halaman pos, tapi dari tetangga kiri dan kanan. Ada juga yang menempati pos di perbukitan, atau di pojokan jalan, atau di tengah pepohonan. Saya tak terbayang kata lain yang mampu menggambarkan pekerjaan mereka sehari-hari di pos : bosan. Mereka harus berjaga, melihat jauh ke depan, setiap detik merasa was-was khawatir diserang GAM, tak boleh memicingkan mata sekalipun sampai waktu berjaga habis. Saya tidak akan mau disuruh menggantikan tugas mereka, bahkan hanya untuk setengah hari sekalipun. Tidak bisa membunuh waktu sambil membaca atau melakukan kegiatan lain. Tidak boleh lengah. Dipenuhi rasa takut terus menerus. Apalagi sore itu, angin bertiup sepoi-sepoi, membuat mata terkantuk-kantuk. Bisa-bisa pos kebobolan kalau saya yang disuruh berjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara iseng, saya sempat bertanya pada Johanes, salah satu tentara yang berjaga di sana. Badannya tegap, usianya kelihatannya masih muda. Sepantaran saya, ternyata. Balok merah di lengan kirinya ada dua, pangkatnya prajurit satu. Saya tanya dia, apakah dia pernah pacaran dengan gadis-gadis yang ada di kompleks itu. Sontak, wajahnya merona merah di kulitnya yang coklat gelap. Teman-temannya langsung tertunduk malu. Saya langsung terpingkal-pingkal menghadapi mereka yang mendadak grogi. Jawaban yang akhirnya keluar pun sangat standar, tentara banget. Mendahulukan kepentingan bangsa dan negara, mempertahankan wilayah, yang penting adalah waspada, pacarannya ditunda dulu saja, bla bla bla. Kasihan. Mereka tak punya cukup waktu untuk mereguk sedapnya masa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pos yang lain, tentara yang berjaga juga masih seusia saya. Beberapa malah tampak lebih culun. Saya suka agak jengah setiap kali menyadari tentara yang berhadapan dengan saya usianya tak terpaut jauh. Seolah-olah kami berada di dua dunia yang berbeda jauh. Salah satu pasukan yang berjaga ternyata berasal dari Kodam Jaya, Jakarta. Kami berempat seperti merasa bertemu teman sekampung di perantauan. Sore itu mereka sedang bersantai. Ada yang berjaga, tapi kata mereka, situasi di sore hari relatif aman. Kewaspadaan baru ditingkatkan menjelang Maghrib, karena pada jam-jam itu suka muncul serangan dari GAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berbincang dengan salah satu tentara. Namanya Yudi. Waktu di Jakarta, dia lebih sering bertugas menghadapi mahasiswa ketika terjadi unjuk rasa. Ia baru dua bulan di Aceh, masih ada empat bulan yang harus dijalani. Tapi ia mengaku senang ada di Aceh. Karena di sini ia baru merasa menjadi tentara, berhadapan dengan musuh, mengeluarkan pelor demi mempertahankan bangsa. Saya tak habis-habisnya mengagumi sikapnya. Luar biasa, untuk usia yang sepantaran, saya tak pernah punya pikiran yang sama dengan mereka. Perbedaan antara kami berdua tentu sangat jauh. Saya cuma sempat mencicipi hidup ketentaraan selama empat hari, sementara Yudi, seumur hidup. Pikiran-pikiran seperti itu tentu sudah merasuk ke tulang belulang Yudi. Sementara saya, lebih memilih untuk mengartikan nasionalisme, perang, serta nusa dan bangsa dalam bentuk-bentuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya semua toh tak separah yang kami bayangkan. Tadinya saya berpikir, kami harus menginap di tenda hijau bersama tentara-tentara ini. Saya sempat sibuk mengingat-ingat, apakah saya sudah membawa lotion pengusir nyamuk atau belum. Nyatanya, kami disediakan kamar tidur yang nyaman. Agak spooky saja suasananya, karena mess yang kami gunakan adalah mess karyawan PT KKA, yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan lagi. Bau debu terasa di seluruh kamar. Taman yang ada di depan kamar kami pun sama sekali tak terurus. Kamar mandi di kanan dan kiri kamar kami tidak ada lampunya. Tapi lumayan, daripada tidur di atas velbed tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tidur, kami sempat berkeliling kompleks PT KKA. Tentunya tak sendirian, karena Pak Yanu, perwira hukum yang menghantar kami sejak awal, juga ikut menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usianya ternyata tak terpaut jauh dengan saya. Tapi balutan baju doreng-nya membuat usia Pak Yanu terasa begitu jauh dibandingkan saya. Dia berusaha mencairkan suasana dan mengecilkan jarak antara dia dengan kami semua. Mungkin yang lain merasa nyaman, tapi saya tidak. Pak Yanu sempat bercerita tentang masa lalunya. Tentang dia yang dulu ketika mahasiswa, tentang dia yang dulu sempat jadi aktivis mahasiswa. Pak Yanu bercerita, dia memutuskan masuk tentara karena merasa terpanggil untuk mengabdi pada negara. Ceritanya tentu tak sesingkat itu, masih panjang lagi ceritanya. Tapi jujur saja, saya tak terlalu banyak mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih sibuk mengamati rumah-rumah yang ada di kompleks PT KKA ini. Rumah-rumah kecil, bentuknya sederhana. Halamannya juga tak terlalu luas, tak ada pagar yang membatasi antar rumah. Persis seperti rumah idaman yang ada di kepala saya. Malam itu memang cukup sejuk, banyak orang yang bermain di depan rumah. Anak-anak kecil masih terlihat berlarian di sekitar kompleks. Anak-anak muda juga ada yang duduk bercengkrama, berdua-duaan. Tak ketinggalan, gadis-gadis muda yang menggoda Teguh, ajudan Rimbo, yang juga ikut bersama kami malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat berkunjung ke salah satu rumah. Pak Yanu terlihat berusaha akrab dan ramah dengan pemilik rumah. Tapi, rasa jengah tetap tak tersembunyikan dari raut wajah bapak itu. Istrinya tampak sedang duduk di bangku teras rumah mereka. Anak-anaknya terlihat bermain di bawah pohon, tak jauh dari tempat ayahnya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak itu layaknya warga Aceh kebanyakan. Tak mampu bersikap. Di wajahnya ada ketakutan, setiap kali harus memilih menyebut TNI atau GAM. Yang diinginkan hanya suasana yang damai dan keluarganya bisa hidup tenang. Ia tetap ingin bisa bepergian bolak balik ke Lhokseumawe, seperti yang dulu pernah dilakukannya. Begitu insiden Simpang KKA terjadi, tak ada yang berani keluar dari kompleks. Tapi karena ia tinggal di kompleks suatu perusahaan yang cukup besar, ia mungkin tak merasakan ketakutan seperti yang dirasakan mereka yang tinggal di desa-desa. Apalagi, di kompleks KKA ini ada begitu banyak tentara yang berjaga. Tentu, ini membuat warga kompleks lebih akrab dengan TNI, ketimbang berhadapan dengan GAM. Kondisi ini pula yang membuat mereka lebih bergidik menyebut GAM, dan berwajah lega ketika bertemu TNI. Sementara di wilayah lain, ada warga yang nyaris tak bisa membedakan TNI dengan GAM, karena kelakuan mereka sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, Pak Yanu berada terlampau dekat dengan kami. Saya tak bisa menggali lebih lanjut soal perlakuan tentara yang berseliweran di sekitar rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tengah malam, kami kembali ke mess. Agak khawatir juga tidak bisa bangun pagi. Operasi dorongan logistik rencananya akan berangkat jam 8 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pagi tiba. Saya makin tak sabar untuk segera ikut dalam operasi dorongan logistik ini. Semakin cepat ini selesai, semakin cepat juga saya bisa kembali ke Lhokseumawe. Setelah menunggu agak lama, akhirnya kami naik ke dalam reo juga. Saya dan Alex Suban ada dalam reo yang sama, sementara Ade Siboro dan Berto Wedatama di reo yang lain. Seperti biasa, kami memakai seragam ‘kebesaran’ kami : rompi anti peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berasa agak deg-degan juga ketika ada di dalam reo ini bersama para tentara. Ketika pertama kali, mungkin saya terlalu sibuk mengatasi rasa takut saya sendiri. Tapi tidak kali ini. Saya lebih khawatir pada lingkungan sekitar. Apalagi kali ini saya ikut di dalam reo, sekaligus ikut dalam operasi yang dilakukan TNI. Kalau sampai saya bertemu GAM di jalan, saya seperti tak punya pembelaan apa pun. Melekat sudah, betul-betul melekat dengan TNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reo akhirnya keluar dari pagar kompleks perumahan karyawan PT KKA. Dari handy talky sayup-sayup terdengar bunyi : dua reo isi wartawan keluar. Agak pias juga mendengarnya. Dari siapa lagi kalau bukan dari GAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami di pagi hari menjelang siang itu dipandu lewat sebuah peta. Kelihatannya komandan perjalanan agak tergagap-gagap juga dalam membaca peta. Mungkin ada perbedaan antara apa yang dibaca dan yang ada di hadapannya. Saya tak berani bertanya. Kelihatannya dia agak gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih untuk berbincang saja dengan tentara yang memegang SMB, Senjata Mesin Berat. Dia terlihat begitu cool dengan senjata besar. Lagi-lagi saya teringat Rambo. Walaupun wajahnya tak segahar Rambo yang betulan, karena kelihatannya dia masih muda dan berwajah cukup baik. Tapi dengan SMB di tangan, kebaikannya rasanya akan luntur ditelan butir-butir amunisi 12,7 milimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, saya juga berbicara dengan tentara yang berperan sebagai dokter. Dulu pernah kuliah juga, dan akhirnya memutuskan untuk jadi tentara. Lama-lama saya enek juga mendengar cerita-cerita heroik dari mulut mereka. Saya letih mendengarkan betapa pentingnya membela negara, bla bla bla. Memang, penting untuk membela negara. Sejauh ini, penting juga untuk menjaga kesatuan bangsa. Tapi letih, letih saja mendengar semua itu. Apalagi, ‘perang’ yang saya kenal ini perang melawan kawan sendiri. Yang di Ambon, yang di Aceh, juga di Timor Leste. Mereka semua kawan kita, sehingga tidak pernah bisa masuk akal saya bagaimana semua perang ini dibenarkan. Saya tak ubahnya massa yang ikut menggebuki seseorang karena ketahuan maling. Dan saya benci sekali tindakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba reo berhenti. Rupanya rombongan reo ini berpapasan dengan mobil pick-up milik masyarakat. Di dalam pick-up itu terdapat tumpukan karung beras. Beberapa anak muda dan ibu-ibu tampak duduk di atas tumpukan beras itu. Mereka langsung turun begitu berpapasan dengan reo tentara. Terbiasa, tampaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya berani mengintip dari atas reo. Tak berani turun. Kecemasan sempat hinggap lagi di kepala saya. Sebab kini saya menggunakan rompi loreng anti peluru milik tentara. Kali ini saya berada di dalam reo tentara. Saya bersama mereka. Kalau saya turun, maka akan ada orng-orang non-tentara yang akan mendapati ada ‘orang asing’ di tengah rombongan tentara. Saya tak bisa memastikan bahwa mereka bukanlah warga sipil biasa. Bisa saja mereka yang saya dengar suaranya di balik handy talky ketika reo baru keluar kompleks. Karena sya tidak pasti, akhirnya saya memutuskan untuk tidak turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melirik ke Alex. Kelihatannya dia punya pemikiran yang sama. Dia tetap memotret dari atas reo. Ia menurunkan slayer biru yang sedari tadi digunakan di atas kepala. Kini ia menggunakan slayernya di depan mulut. Menutupi sebagian besar wajahnya, sehingga yang tersisa hingga bagian dahi dan kacamata ovalnya. Ia memberi kode mata kepada saya. Tidak usah turun, terlampau beresiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya penasaran betul, apa saja yang ditanyakan atau dikatakan para tentara ini kepada mereka yang di atas pick-up. Para tentara terlihat menusuk-nusuk karung beras itu dengan ujung SS1 mereka, pongah. Sesekali bertanya, dengan gaya yang tak kalah angkuhnya. Ada beberapa yang mencoba bersikap sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang turun dari pick-up lantas mengangkat tangan mereka ke atas. Yang laki-laki, bajunya ikut diangkat ke atas. Tentara-tentara itu tentunya mencari sepotong pistol terselip di pinggang mereka. Tak ada. Beberapa lantas menuju ke pick-up, mencoba mengangkat karung. Tingkah saya yang penasaran dijawab oleh tentara yang tinggal di atas reo. “Biasanya suka ada senjata yang diselipin di bawah karung. Makanya kita periksa ke sana.” Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lantas mengeluarkan KTP mereka. Saya teringat kejadian lain. Ketika ada pemeriksaan KTP di dalam bis yang melintasi Jalan Medan – Banda Aceh. Saat itu beberapa anggota Brimob yang masuk dan memeriksa keberadaan KTP dari setiap penumpang. Saat itu ia berucap, kalau tidak punya KTP maka akan dianggap separuh GAM. Saya khawatir, di antara mereka yang sedang diperiksa di dekat pick-up mereka ada yang tidak punya KTP. Tapi mestinya tak terjadi sesuatu pun pada mereka, karena ada kami, wartawan, di atas reo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam kami berhenti, untuk kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Mobil pick-up sudah selesai diperiksa dan berlalu. Saya kembali mengintip dari balik lubang. Saya tetap belum berani memunculkan kepala saya keluar dari reo. Alex sudah mencopot slayer birunya. Wajahnya bersimbah peluh. Matahari sudah ada di atas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan diteruskan. Saya sempat bertanya di mana lokasi kita berada saat ini. Tapi tak satu pun yang bersedia menjawab. Mungkin takut informasi ini saya bocorkan pada pihak lawan. Di kiri dan kanan hanya hutan. Cukup lebat, apalagi bagi mata sipil seperti saya yang tak awas dengan lingkungan. Bukan tak mungkin ada mereka yang berseragam loreng di tengah hutan, bisa TNI, bisa juga TNA. Matahari yang terik, angin tak bertiup ramah, peluh semakin membanjir. Rasanya saya ingin mencopot rompi anti peluru saya. Tapi tak mungkin, tentara di sebelah saya melarang. Akhirnya saya pasrah. Tersender di dinding reo, berharap perjalanan segera berakhir. Saya sempat terkantuk-kantuk, tapi segera dibangunkan dan diminta bergeser sedikit. Sebab leher saya tepat berada di lobang yang ada di dinding reo. Sebetulnya itu sengaja, mencari sedikit kesejukan. Tapi ternyata tidak bisa begitu. “Nanti jadi sasaran tembak,” begitu tentara di sebelah saya mengingatkan. Wah. Gagal sudah usaha saya mencari angin segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perut mulai terasa keroncongan. Saya melirik jam, ternyata sudah pukul 1 siang. Pantas. Sarapan nasi dan telur dadar yang disediakan anak buah Rimbo tak sanggup bertahan sampai sesiang ini. Tapi tak sopan rasanya menuntut makan siang di tengah perjalanan ini. Mereka tentu tak menyiapkan makanan, karena kami juga bukan raja yang harus dilayani. Saya hanya bisa menutup rasa haus dengan meneguk air minum. Untung saja, dua botol besar air minum jadi saya bawa. Tadinya sempat malas. Melihat saya yang ogah-ogahan membawa air minum, Rimbo sempat berkata, “Mendingan dibawa saja. Nggak apa-apa berat sedikit, yang penting nanti nggak sengsara.” Ternyata dia betul juga. Bergantian, saya teguk air yang sudah hangat itu, berbagi dengan Alex. Sebetulnya ada persediaan coklat batangan di dalam tas, tapi hanya dua, cukup untuk saya dan Alex. Kasihan yang lain kalau tidak kebagian.&lt;br /&gt;Akhirnya kita sampai juga di tujuan. Lokasinya sama seperti sepanjang perjalanan, kiri dan kanan hanya hutan. Di sini, saya baru berani turun. Alex juga turun. Begitu turun, banyak wajah-wajah penuh tanya memandang ke arah saya dan Alex. Mereka pasti bingung, ada orang ‘asing’ di tengah teman-teman mereka sesama tentara. Bisik-bisik segera terdengar, ”Wartawan. Yang dilatih perang itu lho.” Ternyata begitu identitas kami di mata mereka. Ternyata informasi ini sudah sampai ke tingkat bawah. Sambutan ramah langsung mengiringi begitu keterangan soal ‘latihan perang’ sudah dilontarkan. Mereka mungkin langsung merasa kami jadi bagian dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang yang ada di atas reo segera diturunkan. Berkarung-karung. Ada rokok, kopi, mi instan, lilin, korek api, makanan kaleng, juga ada barang-barang khas TNI. Saya baru tahu di sana, kalau selain amunisi, pelor, senjata dan sebangsanya, TNI ternyata juga punya merchandise lain. Di antaranya ada baterai berlambang TNI dan buah kaleng bermotif loreng. Mudah-mudahan buahnya tidak ikut-ikutan loreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Agustus 2003)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dok: tribuneindia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11164938-110970005078750922?l=marimenulis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://marimenulis.blogspot.com/feeds/110970005078750922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=11164938&amp;postID=110970005078750922&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110970005078750922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11164938/posts/default/110970005078750922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://marimenulis.blogspot.com/2003/08/untungnya-saya-bukan-tentara.html' title='Untungnya Saya Bukan Tentara'/><author><name>pippilotta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12251577481433499851</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_XMP2JXSToi0/S-vcLTwwGhI/AAAAAAAAAE4/dqp3m4pUBkk/S220/citra.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
