Tuesday, July 31, 2012

Mencongkel Ingatan




Sejak film itu pertama kali dirilis, Luna sudah jatuh cinta pada isi ceritanya. Judulnya "Eternal Sunshine of the Spotless Mind". 

Dan sekarang, Luna begitu ingin melakoni apa yang ada di dalam film itu. Ia ingin mencongkel ingatan-ingatan buruk yang ada di kepalanya. 

Padahal ini bertentangan dengan apa yang dia percaya selama ini. Bahwa seseorang terdiri dari rangkaian ingatan-ingatan, baik-buruk, besar-kecil, yang membentuk seseorang jadi dirinya seperti sekarang. Utuh, penuh, seluruh. Tak ada yang bisa menghapus ingatan atau kenangan, bahkan yang terburuk sekali pun, karena itulah yang menjadikannya seseorang seperti saat ini. 

Tapi Luna tak ingin percaya itu. Dia merasa apa yang selama ini dipercaya, runtuh. Seketika. Sekarang ia berusaha keras mencongkel ingatan buruk supaya ia bisa melanjutkan hidupnya kembali. Betapa rindu ia bisa hidup normal. Tak didera perasaan gelisah, penuh curiga, penuh selidik, sekaligus lemas karena merasa tak dicintai.

Betul. Merasa tak dicintai. Ini adalah problem terberat Luna seumur hidupnya di bilangan 34 ini. Sejak masa pacaran dulu, dengan pacar nomor berapa pun, merasa tidak dicintai adalah momok. Itu bisa membuat Luna berang, lantas terisak, tapi kemudian meradang, lemas menanti bantuan, tapi kemudian menyergah. Dengan pacar keempatnya, dia putus lantaran soal ini. Luna merasa tidak dicintai dan tidak dibutuhkan, sementara dia sudah mati-matian mencintai dan menunjukkan kebutuhan dia akan si pacar nomor 4. 

Dan ini juga yang sedang menyerang Luna. Dia merasa tidak dicintai oleh suaminya. Suaminya yang dua bulan lalu mengaku telah selingkuh. Dan itu semua terjadi ketika Lina justru tengah merasa sangat tenang dan sangat nyaman dengan perkawinannya. Mereka punya rumah sendiri. Dikaruniai satu anak. Sama-sama bekerja di bidang yang sangat mereka sukai. Jarak dari kantor ke rumah memang jauh, seperti layaknya keluarga-keluarga urban lainnya. Tapi Lina merasa bahagia. Dia merasa utuh, penuh, seluruh.

Tapi di saat itu juga suaminya selingkuh. Selama 30 hari pertama, Luna tak henti mengutuki diri sendiri. Dia sibuk bertanya apa yang salah? Apakah karena dia membawa pekerjaan ke rumah? Apakah karena mereka jarang pergi berdua lagi? Apakah karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing? Atau karena sudah sejak lama Luna dan Bima hanya berbincang urusan domestik dan anak?

Ketika Bima menjawab tidak atas semua pertanyaan itu, Luna limbung. Dia tidak tahu apa yang bisa jadi pegangannya. Jika tidak ada yang salah dengan dirinya dan perkawinannya selama ini, kenapa Bima selingkuh? Ini pertanyaan yang tak kunjung terjawab, bahkan setelah lewat 30 hari. Dan Luna terus berhitung, sejak hari pertama. Bima terus menjawab 'tidak tahu' dan mencoba meyakinkan kalau masalahnya bukan ada pada Luna. 

'Lantas apa?' jerit Luna. Dia tak sanggup lagi berpikir. Dia ambil laptop Bima dan menelusuri satu per satu puluhan folder yang ada di laptop suaminya. Dia buka semua file, semua foto, dan semua apa pun yang mungkin berhubungan dengan orang itu. Sejak hari ke-10, Luna memutuskan untuk tidak lagi menyebut nama perempuan itu, dan hanya menyebutnya dengan 'orang itu'. Luna bahkan mengisi kolom "Search" di laptop dan mengetik nama 'orang itu' sekadar untuk mengecek.

Dan Luna puas dengan perolehan dia hari ini: semua foto yang ada wajah 'orang itu' sudah dihapus. Recycle bin pun dikosongkan. Rapi, tak ada jejak, tak ada sisa. Lantas dia menelusuri satu per satu folder musik, masih dalam laptop Bima. Dengan semangat yang sama membara, Luna menyisir seluruh lagu. Dia masih ingat  persis apa yang dilihatnya dalam email antara Bima, suaminya, dengan 'orang itu' - teman sekantornya, juga teman sekantor Luna. Mereka bertukar-tukaran lagu - layaknya anak SMP yang dilanda cinta. Dan Luna menghapus semua lagu dari folder yang ada dalam pertukaran email suaminya dan 'orang itu'. 

Luna menutup laptop Bima. Ia merasa sangat letih. Tapi paling tidak dia sudah mencongkel ingatan-ingatan buruk itu secara manual. 

Besok, dia akan menyisir smartphone Bima. Mencari jejak 'orang itu' di sana dan mencongkelnya secara paksa. Paling tidak ini lebih nyata ketimbang jawaban 'tak tahu' dari suaminya. 

Membunuh Sepi




Sore itu Marni kesepian. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Menonton TV, bosan. Mendengarkan radio, malas. Dia sedang ingin sendiri. Dan meresapi kesepian yang membekapnya. Tapi ia bisa gila kalau tak melakukan apa-apa. Lantas ia mendekat ke lemari buku dan mulai merapikan buku-buku yang ada. Satu per satu buku diambil, lalu dilapnya dengan lap kering. Satu per satu. 

Sampai ia mengambil selembar amplop. Tertera di depannya: PT KAI. Marni semula enggan membuka amplop itu, tapi ia tahu ia tak kuasa menahan tangannya sendiri. Di dalamnya ada tiket kereta api. Sudah terpakai. Tanggalnya adalah 31 Maret 2012. Belum lama. Paling baru dua bulan silam. Ketika itu Marni pergi ke Bandung bersama Miskun, suaminya, dan Mantra, anak mereka. Merayakan ulang tahun Miskun dan ulang tahun perkawinan mereka yang kelima. 


Tapi melihat tiket itu membuat Marni teringat satu kalimat muram. Satu kalimat yang diucapkan Miskun malam itu. Kamar mereka gelap. Mantra sudah tidur lelap dari tadi. Tapi malam mendadak jadi neraka ketika kalimat itu terucap. Miskun tercekat sebelum bicara: "I cheated on you." Dan Miskun mencium perempuan jahanam itu tepat sehari sebelum kepergian mereka ke Bandung. Dan setelahnya mencium perempuan jahanam itu berkali-kali lagi. 


Marni mendadak tersengal. Susah payah ia menaruh amplop itu lagi. Marni ingin membuangnya jauh-jauh. Tapi sejauh apa pun ia membuang tiket dan amplop itu, ingatan itu sudah terpatri dalam kepala. Kalau ada operasi otak yang bisa mencongkel memori-memori buruk yang sudah dipilih dengan saksama, Marni bersedia mengantri. Sepanjang apa pun itu antrian, Marni mau. Dia tak sanggup lagi hidup dengan kelebatan-kelebatan ingatan buruk yang datang dan pergi tanpa permisi. Saat Marni hendak tidur. Saat Marni hendak mandi. Saat Marni hendak ke kantor. Saat Marni tengah masak di dapur. Saat apa pun. 


Sore itu sebetulnya Marni sedang tak ingin terluka, lagi. Dia hanya merasa kesepian, juga tersesat. Tapi mengambil amplop tiket kereta itu sungguh sebuah langkah yang maha salah. Sudah 30 hari ini Marni bersusah payah menata hidupnya lagi pasca kalimat laksana bom nuklir yang diucapkan Miskun, suaminya, tengah malam itu. Tengah malam yang mengubah keseluruhan hidup Marni. Juga Miskun.


***


Sore itu Miskun kesepian. Lagi-lagi Marni harus pergi ke luar kota. Miskun mengklaim dirinya sebagai suami yang pengertian dan mendorong istrinya mencapai bintang setinggi langit ketujuh. Kalau perlu, kedelapan. Tapi Miskun tak bisa menampik kesepian itu. Kesepian karena istrinya lagi-lagi mesti pergi. Dia tahu dia tak boleh mengungkapkan keberatan itu. Sekali bicara, maka istrinya bisa-bisa tidak akan berani lagi mencapai cita-citanya. Dan dia tidak sanggup mesti bertanggung jawab atas itu. 


Tapi dia kesepian. Dan kesepian, bagi Miskun, justru membuka pintu perandai-andaian. Perempuan berbibir tipis yang duduk di seberang mejanya mendadak jadi pengobat kesepian. Padahal bukan perempuan berbibir tipis itu yang membuatnya merasa kesepian. Miskun tak berani mengaku kesepian pada istrinya. Dia tak  mau istrinya merasa bersalah. 


Si perempuan berbibir tipis itu juga mendadak sering cerita padanya. Tentang keluarganya. Tentang laki-laki yang dijodohkan padanya. Tentang bapaknya yang baru meninggal. Tentang kucing-kucingnya. Tentang hal remeh temeh yang terjadi dalam hidupnya. Kadang Miskun tak berbincang apa pun dengan si perempuan berbibir tipis itu. Hanya berdua saja menemani Miskun yang sedang menghabiskan bekal makan siang yang dimasakkan Marni tadi pagi. 


Di rumah, Miskun tetap kesepian. Marni tengah begitu gempita menyiapkan kepergiannya. Miskun tak mau meredupkan semangat istrinya. Miskun percaya, dialah si suami yang suportif, yang mendukung istrinya pergi ke langit ketujuh. Kedelapan kalau perlu. Karenanya dia tak bisa bilang kalau dia kesepian. Meski dia betul-betul kesepian. 


Miskun lantas mengajak Marni bercinta. Mereka bergumul malam itu. Marni tampak cantik malam itu. Tapi hati Miskun tetap tergantung entah ke mana, dan pikirannya entah ada di mana. Besoknya, Marni terbang. 


***


Sore itu Avi kesepian. Dia bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja. Orangtunya sudah tak ada, tak ada lagi yang diajak berbincang. Di rumah, ia tinggal bersama adiknya, yang juga sibuk. Sebetulnya ada sepupunya yang cukup akrab dan kebetulan sekantor dengannya. Tapi ia tak suka pacar si sepupu dan memilih untuk berhenti berbincang dengan keduanya. Hidup Avi hanya kantor dan rumah, juga kucing-kucing jalanan yang dipeliharanya. 


Kakak adiknya melulu mencoba menjodohkannya dengan laki-laki. Entah sudah berapa laki-laki yang disodorkan padanya. Begitu juga sahabat perempuannya di kantor, berkali-kali mencoba mengenalkannya pada laki-laki. Dia pernah satu dua kali mencoba tapi sesudah itu malas. Avi memilih memendam diri pada pekerjaan kantor - dari bosnya yang sedang sibuk ikut kampanye politik. Ini sebetulnya bukan pekerjaan dia, tapi ya sudah, daripada dia kesepian, lebih baik dikerjakan saja. 


Avi bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja. Hidup lurus tanpa belokan. Tapi ia terlalu malas untuk berbelok. Untuk melakukan hal-hal berbeda. Hidupnya stagnan saja. Lantas tiba-tiba Miskun mendatangi mejanya. Menatapnya lekat-lekat sembari berkata: "aku cinta padamu". Avi kaget bukan kepalang. Tak pernah sedikit pun ia mengira Miskun bakal melakukan itu semua. Miskun sudah punya istri. Dan Marni adalah sahabat dari sahabat perempuannya di kantor. Ketika Marni pergi ke luar kota bulan lalu, Marni memberi Avi sebentuk gantungan kunci. 


Tapi kata-kata Miskun membuat dia tak bisa berkedip. Ketika Miskun memanggilnya masuk ke ruang kerjanya, Avi tak menolak. Dia seperti terhipnotis kata-kata Miskun yang manis, dan tak diduga-duga datangnya. Selama ini dia hanya tahu Miskun suka kucing, itu saja. Dan Miskun pandai bergurau dan main ukulele. Tapi tanpa disadari, Avi sudah ada di ruangan Miskin. Dan Miskun menciumnya. Dan Avi membalasnya. Begitu juga keesokan harinya. Dan esoknya lagi. Dan esoknya lagi. Dan esoknya lagi, setelah Marni terbang ke luar kota. 


Sejak itu Avi tidak merasa kesepian lagi. Dia merasa punya teman bercerita. Sejak itu ia banyak tersenyum. Lantas bercerita tentang apa saja pada Miskun. Meski lebih sering tak punya bahan cerita dan berdiam-diaman saja. Avi tak ingin kehilangan perhatian Miskun. "Apakah Marni akan sakit jika tahu?" begitu tanya Avi. Tentu dia tahu jawabannya dengan persis. Karena Avi juga perempuan. Tapi Avi tidak ingin kehilangan perhatian Miskun. 



Lantas dia berkata,"Kalau kau bilang Marni, aku pergi."

***


Marni dan Miskun berpegangan tangan di depan penasihat perkawinan. Orang asing yang mereka mintai bantuan untuk memperbaiki kehidupan perkawinan mereka. Lebih tepatnya, ini keputusan Marni. Miskun tak mau. Ia merasa aneh melibatkan orang yang tak tahu menahu soal mereka sebagai solusi. Tapi Marni berkeras. Dia menangis ketika meminta Miskun ikut bersamanya - dan ia tak tega. Miskun masih cinta Marni - cintanya tak pernah hilang, sebetulnya. Hanya entah apa yang menyangkut di pikirannya ketika mendatangi Avi, menciumnya sekali, dua kali, tiga kali, empat kali dan entah berapa kali dalam satu setengah bulan terakhir ini. 


Marni melepaskan pegangan ketika ia sampai di cerita ini: bahwa ia tak tahan ketika melihat Miskun suaminya berkata di hadapannya kalau dia cinta pada Avi - yang saat itu ada di hadapan Marni. Runtuh semua sudah dunia yang selama ini dibangun Marni. Dunia jambon perkawinan yang selalu dipercayanya. Bahwa menikah adalah pencapaian terbesar dalam hubungan antara dua manusia - dan setelahnya usah lagi kau lara sendiri, usah lagi kau risau merasa tak dibutuhkan. 


Penasihat perkawinan itu menaruh pensilnya sejenak. Lantas menatap Miskun seraya berkata,"Bapak harus memilih." Miskun tercekat. Mendadak ia tak tahu apa yang harus dia pilih. Apakah harus memilih cinta yang meledak-ledak yang dirasakannya ketika bersama Avi atau memilih Marni, istrinya, ibu dari anaknya, sebagai pilihan paling rasional yang harusnya segera diucapkan. Lidahnya kelu. Mukanya pias. Tangannya dingin. Jantungnya berdegup lima kali lebih cepat. 


Dan Marni memandangnya lekat-lekat. Tak percaya pandangan matanya, bahwa pertanyaan begitu sederhana rupanya begitu sulit untuk dijawab suaminya. Dia tak tahu mana yang harus disiapkannya lebih dulu. Menyampaikan kalau ibu-bapak tak bisa lagi bersatu untuk Mantra, anak mereka yang baru berusia 4 tahun, atau menata lagi kehidupan perkawinan mereka. Entah dengan apalagi yang masih tersisa. 


Marni kesepian dan terluka. Miskun kesepian dan terluka. Dan Avi, tak ada yang memikirkan ketika dia terluka. Itu ganjaran yang harus ditanggung Avi seumur hidup. Akibat menyambut cinta Miskun yang sudah beristri dan berkhianat terhadap pertemanannya dengan Marni. Avi kesepian, dan tidak ada yang peduli. Karena itu adalah ganjaran bagi perempuan ketiga. Perempuan jahanam yang berbibir tipis itu. 


Miskun tercekat, Emak benar selama ini. Kesepian itu temannya setan. Dan tak ada setan yang tak menawarkan keasikan. Meski dia tahu persis keasikan itu hanya sesaat saja sifatnya. Meski untuk itu dia harus didera kesakitan hampir setiap pagi ketika bangun pagi dengan Marni di sisinya, karena dia tahu siangnya dia pasti berkeinginan untuk mencium Avi. Dia tahu itu salah, tapi kenikmatan itu rasanya tak ingin disudahi. 


Marni tercekat. Di rak buku ini ada silet berkarat. Dia ingin melesap dengan kesepiannya. Untuk kali ini, dia tidak ingin menjadi orang yang mudah menyerah. Dia sungguh-sungguh ingin menyerah karena bayangan hidupnya runtuh sama sekali. Dia ingin melesap dengan kesepiannya. 

Wednesday, March 16, 2011

Bom Utan Kayu: I Was There

Ini bukan merujuk ke tulisan yang seringkali ada di tempat wisata atau toilet umum. ‘There’ yang saya maksud adalah Komunitas Utan Kayu, ketika ledakan itu terjadi.

Saya baru saja sampai rumah, tapi saya masih ingat betul ketika sore tadi saya terjengkang dari posisi jongkok persis di baw

**

Pagi, paket diterima di resepsionis. Bentuknya kotak, bersampul cokelat, ditujukan kepada Ulil Absar Abdhalla, salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal, JIL. Siangnya, paket dibuka staf JIL. Dari situ baru ketahuan, itu buku bukan sembarang buku. Di dalamnya ada kabel, jam dan batere. Satpam langsung dikontak, polisi langsung dihubungi.

Kabar sampai ke redaksi KBR68H di lantai dua, beda gedung dengan JIL. Sebuah pesan singkat lewat Vypress chat membawa kabar serupa. Ada paket diduga bom untuk Ulil. Kami masih sempat bercanda,”Ah itu mungkin kotak kabel punyanya Kang Kur,” celetuk seorang teman sembari menyebut nama salah satu staf bagian Umum.

Kami menerima kabar itu cenderung biasa saja. Tanpa tergesa, Koordinator Reporter Doddy Rosadi meminta salah satu reporter untuk ke bawah dan mengecek. Rony Rahmata yah garis polisi.ang ke sana, membawa Marantz dan kamera. Begitu kembali ke lantai 2, dia menyerahkan kamera kepada saya.

Dalam foto, tampak paket itu. Sebuah buku tebal, bersampul warna merah. Juga surat yang menyertainya. Pengirimnya adalah Drs Sulaiman Azhar, Lc, tak jelas apa itu ‘Lc’. Tertera juga alamat dan nomor telfon selulernya. Di dalam surat, ditulis kalau penulis minta Ulil untuk menuliskan kata pengantar untuk bukunya. Begini judul bukunya, saya tulis persis,”Mereka harus di bunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin.” Dari penulisan ini sih ketara kalau penulisnya tidak paham penulisan Bahasa Indonesia yang baik hoho #plak

Setelah menerima foto dan surat itu, saya menulis berita dan menguploadnya ke website KBR68H. Lantas saya ke bawah, membawa HP dan kamera. Niatnya mulia, mau motret dan nge-twit.

Sampai di bawah, rupanya sudah ramai, banyak wartawan lain dan polisi. Bertegur sapa dengan kawan lama yang sudah lama tak jumpa. Lantas mendekat ke arah polisi. Garis polisi dipasang, saya mendekat. Saya jongkok supaya bisa memotret tanpa halangan garis melintang warna kuning. Tangan kanan kamera, tangan kiri HP, supaya bisa langsung upload ke Facebook, hehe.

Persis di bawah garis polisi, saya bisa melihat jelas apa yang dilakukan polisi. Tiga polisi mengelilingi buku yang sudah ditaruh di pelataran belakang Kedai Tempo. Satu polisi dengan jaket, membuka buku, sembari orang lain menyiramkan air lewat selang. Pada saat itu, saya terheran-heran,”Apa emang gini ya cara menaklukkan bom, dengan menyiram air? Kok tradisional sekali.”

Ketika paket dibuka, salah satu polisi agak mundur,”Ada kabelnya!” kata dia. Satu polisi lagi menyebut,”Ada handphone!”

Sesaat kemudian, dwaarrrrr..

Saya terjengkang. Yang bisa saya lihat hanya asap abu-abu. Kuping pengang seketika.

Suaranya sangat kencang, untuk saya yang berjarak sekitar 1 meter dari ledakan, persis di bawah garis polisi. Saya beruntung ledakannya hanya sebegitu, sehingga efeknya hanya saya terjengkang. Bukan seperti si pak polisi berjaket yang membuka paket itu; tangan kirinya terluka parah.

Saat itu saya sadar, saya begitu gegabah ada begitu dekat dengan benda-yang-ternyata-betulan-bom itu.

Saat ledakan terjadi, program Buletin Sore KBR68H tengah mengudara. Seketika saya telfon Ade Wahyudi, Manajer Program KBR68H. “Gw yang live! Gw yang live!” jerit saya.

***

Ini bukan kali pertama teror datang ke Komunitas Utan Kayu. Pada 2005, kami diancam bakal diserang kelompok yang tak suka pada JIL, juga KBR68H yang punya program ‘Agama dan Toleransi’. Penyerbu urung datang, mungkin keburu jiper melihat penjagaan polisi dan Banser NU di sepanjang Jalan Utan Kayu. Saat itu saya jadi salah satu penyiar, yang meminta siapa pun yang mendukung kebebasan berekspresi untuk datang dan memberikan dukungan kepada kami di Utan Kayu.

Sementara tadi, saya laporan live untuk Buletin Sore serta memotret untuk website dan Twitter KBR68H. Saya puas lahir batin bisa mengoreksi TVOne yang salah menyebut nama kantor kami menjadi Radio 68H (yang betul itu KBR68H ya, bukan KBRH atau KRH atau kesalahan lainnya). Juga mengoreksi TVOne yang menyebut kami dimiliki oleh JIL. Itu salah besar.

Kami bertetangga di Komunitas Utan Kayu. Di sini ada banyak kantor, mulai dari KBR68H, Green Radio, Tempo TV, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), School for Broadcast Media (SBM), Jaringan Islam Liberal (JIL), Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) dan Toko Buku Kalam. Sebelum teater pindah ke Salihara, ada juga Teater Utan Kayu dan Galeri Lontar.

Kami adalah institusi yang berbeda, dengan misi yang sama: memperjuangkan kebebasan berekspresi. Karenanya teror macam begini tak bakal mempan. Karenanya saya sungguh berdebar begitu mendengar kata-kata Direktur KBR68H Santoso saat mengawali konferensi pers di Kedai Tempo,”Kami mengutuk keras tindakan ini. Tindakan ini tidak akan membuat kami keder.”

Keder, pemilihan kata yang menarik kaan.. :) Tapi Mas Tosca benar, kami tidak keder.

Dalam twit kesembilannya, Goenawan Mohamad menulis: “Sejak mula kami di KUK sadar: selalu ada bahaya dlm ikhtiar utk membangun kemerdekaan berpikir dan bersuara.”

Saya senang menjadi bagian dari Komunitas Utan Kayu. Bangganya tak terkira. Dan saya senang bukan kepalang, bisa ada di sini, di dua momen bersejarah Komunitas Utan Kayu memperjuangkan kebebasan berekpresi. Mengutip Ging Ginanjar di Twitter beberapa menit lalu,”Dalam keadaan seperti ini, kita semua adalah orang Utan Kayu 68H.”

Utan Kayu, 15 Maret 2011.

PS: Terima kasih untuk teman dan keluarga yang telah menelfon saya. Juga semua teman yang mampir lagi ke KBR68H, termasuk membawakan makanan. Terima kasih untuk polisi yang sampai saya pulang tadi masih berjaga-jaga dan besok siap mengabsen karyawan. Saya tetap gembira kok, meski tampaknya harus periksa ke THT hihihi.

PS2: Trims ya Lele buat videonya, we were that close :)

Monday, May 17, 2010

Transgender

Kemarin di Rossy (Global TV) tema yang diangkat adalah soal transgender.

Ini kali pertama tamu di Rossy gak sebanyak biasanya. Hanya 2. Biasanya lebih 5 orang ditamapilkan dalam acara tersebut, sehingga tiap orang hanya kebagian satu-dua pertanyaan dan tidak bisa dieksplorasi lebih.

Saya menganggap diri saya punya keberpihakan terhadap kelompok LGBT. Paling enggak, saya nggak punya phobia terhadap mereka. Saya kira Rossy juga semestinya begitu. Angle yang dia angkat dari para waria alias transgender ini adalah sisi positifnya.

Tapi tetap, ada yang mengganggu.

Di segmen pertama, Rossy mewawancarai Dea -- yang dulu bernama Agus, lantas operasi kelamin, yang kemudian disahkan pengadilan setempat. Dea cukup terbuka bercerita. Tapi yang mengganggu justru pertanyaan dari Rossy. Di ujung segmen, sebelum beralih ke iklan, Rossy bertanya,'Sadarkah kamu betapa kamu telah menghancurkan hati orangtua kamu dengan menjadi begini?'

Ah. Dan kata 'menghancurkan' dipakai berkali-kali. Baik kepada Dea, atau kepada Merlyn, tamu waria berikutnya.

Buat saya, itu pertanyaan yang memojokkan. Akan jauh lebih elegan rasanya jika Rossy bertanya,'Bagaimana perasaan orangtua kamu?'. Jikalau betul hati ortu Dea dan Merlyn ini hancur, biarlah itu datang dari mereka. Bukan dari Rossy yang adalah pihak ketiga, yang adalah orang asing.

Saya nggak tau, seperti apa rasanya jadi waria. Saya nggak tau bagaimana rasanya hidup tertekan dengan 'tubuh yang salah'. Saya memang sebal dengan perut bergelambir saya, tapi saya bisa menyalahkan diri saya untuk itu. Saya nggak tau gimana rasanya harus hidup dengan cibiran orang, kiri kanan depan belakang, setiap hari.

Saya juga nggak tau, gimana rasanya jadi waria, yang lagi di TV, lantas dianggap menghancurkan hati orangtua saya. Tapi kalau saya dapat pertanyaan itu, rasanya saya akan sebal. Saya akan merasa dipojokkan.

Saturday, May 30, 2009

Reality Show yang Mengerikan

Tadi sore, secara tidak sengaja saya menonton ’Dibayar Lunas’, sebuah reality show di RCTI. Rupanya ini program baru, baru tayang sejak 9 Mei kemarin.

Dari judulnya saja, sudah bisa terbayangkan dengan jelas bagaimana plot cerita yang ditawarkan reality show tersebut. Bisa diduga, production house acara itu adalah Triwarsana, yang dimiliki oleh Helmi Yahya. Dia memang biangnya reality show sejak awal booming di stasiun televisi swasta di tahun 2005-an, kalau tidak salah.

Semua reality show yang melibatkan orang miskin itu kejam. Orang miskin jadi bulan-bulanan, dipermalukan karena mereka miskin, dan penonton diharapkan untuk sedih atau kasihan dengan kondisi mereka. Tak perlu ditampilkan di TV pun, hidup mereka mestinya sudah cukup susah. Tapi hidup jadi tambah susah lagi karena mereka ditempatkan sebagai obyek tontonan. Lebih tepatnya, obyek untuk dipermalukan karena mereka miskin.

Saya tidak perlu waktu lama untuk merasakan kekejaman reality show ’Dibayar Lunas’. Saya tidak tahu persoalan apa yang dialami oleh si perempuan miskin itu. Saya sudah bisa memahami konteks cerita begitu melihat rumah si perempuan berpakaian daster itu dan dua laki-laki bertubuh tegap dengan kaos warna hitam. Apalagi dengan raut muka si perempuan yang stres dan beberapa kali mengusap air mata, sementara si laki-laki (sok) kejam. Si perempuan pasti punya hutang, dan dua laki-laki itu adalah debt collector. Mudah ditebak.

Yang membuat saya langsung sewot adalah ketika salah satu debt collector itu mengancam akan mengambil anak si perempuan.

Mengambil anak?

Si debt collector bahkan melanjutkan dengan ’tawaran’, dia ’hanya’ akan mengambil salah satu anak dari dua anak yang dimiliki si perempuan. "Ibu kan punya dua anak, saya ambil satu saja," kurang lebih bagitu kata salah satu laki-laki. What a generous offer, eh?

Sinting.

Saya tidak tahu rasanya punya hutang besar dan didatangi oleh debt collector. Saya tidak tahu ancaman apa yang biasa dan bisa diajukan oleh seorang debt collector ketika menagih hutang. Yang saya tahu, reality show pasti semuanya rekayasa dan semaga-mata mempermainkan emosi si obyek saja. Reality show tidak pernah jadi ajang berbagi kasih atau bertindak filantropis, tapi semata-mata mempermalukan salah satu pihak. Dalam kasus 'Dibayar Lunas': orang miskin. Tidak lebih dari itu. Tapi ketika ancaman rekayasa itu adalah mengambil anak, ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan.

Sebagai sebuah program pun, konsep yang ditawarkan sangat usang. Konsep yang sama persis sudah ada di program ’Uang Kaget’, yang juga tayang di RCTI dan juga diproduksi oleh Triwarsana. Begitu juga program se-genre lainnya, seperti 'Bedah Rumah', 'Lunas', 'Rejeki Nomplok', semuanya di tahun 2005.

Ini tulisan saya di tahun 2005, di blog ini. Sudah 4 tahun berlalu, ada 4x365 hari yang disediakan Tuhan untuk memikirkan konsep tontonan TV yang lebih berkualitas, tapi rupanya konsep yang ditawarkan sama usangnya, pun sama buruknya.

Banyak orang berkata, TV adalah seonggok kotak yang membodohi pemirsanya. Saya selalu punya hubungan love-hate-relationship dengan TV. Saya yakin, pemirsa bisa jauh lebih pintar daripada tontonan TV, selama kita menontonnya dengan waras. Saya juga masih ingin percaya bahwa kolega-kolega saya di dunia pertelevisian cukup punya otak dan hati ketika membuat sebuah program.

Saya khawatir, saya salah besar soal ini.

Thursday, April 02, 2009

Tantangan

Beberapa silam, gw berbincang dengan teman di kantor soal kebosanan. Kalau sudah bosan, kerja apa pun jadi malas. Padahal kinerja buruk, kita juga yang ketempuhan. Kerja jadi gak asik, teman kerja jadi gak asik juga kerja bareng kita, dan sebagainya.

Kalo kata Mario Teguh, kita harus memantaskan diri untuk apa yang ingin kita dapat.

Itu yang tengah gw lakukan. Gw hanya berusaha sebaik-baiknya memantaskan diri untuk apa yang ingin gw dapat. Gw ingin dapat dinamika kerjaan? Gw putus rantai kebosanan di kerjaan gw. Gw ingin senang-senang? Gw liat Facebook atau update blog dulu.

Gw harus selalu menemukan tantangan baru. Kalo enggak, gw hanya akan jadi robot.

Karenanya gw sungguh senang bisa terlibat dalam sebuah proyek besar pengerjaan buku tentang radio. Ini sungguh wilayah baru buat gw, yang menunggu untuk gw selami dalam-dalam. Gw sudah melakoni setahun penuh baca buku-belajar-nulis ketika di Inggris dan kini gw akan menjalaninya lagi. Tapi kali ini sembari kerja; bukannya diliburkan dari kantor.

Ini tantangan luar biasa besar. Dan gw teramat bangga bisa terlibat dalam proyek besar ini.

It's an honor, Sir.

Wednesday, March 04, 2009

Uang Haram

Dalam waktu berdekatan, jurnalis KBR68H menerima uang dari Komisi Pemilihan Umum dan Sekretariat Wakil Presiden. KBR68H diundang untuk ikut liputan ke luar kota bersama dua institusi Negara ini. Begitu pulang, diberi sangu. Uang ditaruh dalam amplop lantas diberikan kepada setiap wartawan yang ikut meliput, termasuk jurnalis KBR68H.

Kebijakan kami di media ini jelas, terang benderang dan tanpa ampun. Kami menolak amplop, suap, uang sogokan atau apa pun namanya, dengan alasan apa pun. Kami punya integritas yang cukup tinggi untuk tidak mau menerima uang dari pihak ketiga. Biarlah yang memberi uang dan gaji adalah media tempat kami bekerja, bukan narasumber sebagai sumber informasi.

Pikiran macam begini rupanya masih hidup di zaman sekarang, ketika usia reformasi sudah lebih satu dasawarsa. Bahwa jurnalis harus diberi uang supaya menulis yang bagus-bagus, bahwa jurnalis bisa dikendalikan lewat fulus. Yang menyedihkan, institusi Negara yang melakukan itu bukan saja di tingkat ecek-ecek tapi juga tingkat tinggi, seperti KPU. KPU mestinya lebih mengalokasikan uang untuk sosialisasi Pemilu, ketimbang menganggarkan uang bagi wartawan. Ketika KBR68H hendak mengembalikan uang pun, ditolak. Alasannya, sudah terlanjur dianggarkan.

Ini yang mesti diubah. Tak ada perlunya menganggarkan dana khusus bagi wartawan karena melakukan liputan. Itu sudah tugasnya. Seperti tukang sapu tugasnya menyapu, seperti Presiden tugasnya memimpin Negara. Semua sesuai porsi dan akan diberi uang imbalan berupa gaji oleh tempatnya bekerja. Bukan oleh pihak ketiga.

Kalau mau memberi fasilitas prima kepada wartawan, bukan uang jawabannya. Membuka akses informasi seluas-luasnya adalah harta tak ternilai bagi pekerjaan jurnalistik. Narasumber bisa dihubungi dan memberikan informasi sesuai kompetensinya. Tak ada pembatasan wilayah atau akses liputan, dengan birokrasi yang tidak ribet. Kemudahan mendapatkan informasi demi kepentingan publik, itu yang terpenting bagi tugas wartawan sebagai pewarta berita.

Tapi harus diakui pula, budaya amplop ada dan nyata di kalangan wartawan Indonesia. Ada permintaan, ada pemberian; begitu juga sebaliknya. Tanpa diminta, kerap kali narasumber, instansi, departemen, perusahaan swasta atau siapa pun memberikan uang kepada wartawan. Kalau kita menghapuskan prasangka, mungkin ini maksudnya sekadar menjaga hubungan baik. Tapi percayalah, ada seribu jalan ke Roma, ada seribu pula jalan untuk menjaga hubungan baik selain uang.

Di KBR68H, sudah ada korban terjungkal akibat amplop dan duit. Kami tidak kenal ampun dan pandang bulu dalam upaya memberantas amplop. Kami pastikan, uang yang sempat mampir pasti dikembalikan.

Maaf, kami tidak terima amplop.


[Tajuk KBR68H, 4 Maret 2009]

Wednesday, January 28, 2009

Sulitnya Menentukan Prioritas

Tak punya uang, mengeluh. Punya uang, malah tak bisa menentukan prioritas. Inilah yang dialami Pemerintah Kota Bekasi. RAPBD Bekasi mengalokasikan uang 2,8 miliar rupiah untuk uang saku tamu walikota dan wakil walikota. Kata Sekda Bekasi, pengalokasian dana ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang dana khusus kepala daerah.

Mungkin Pemkot Bekasi menyamakan pengelolaan pemerintahan daerah dengan menjaga silaturahmi keluarga. Kalau ada keluarga datang jauh-jauh dari kampong halaman, maka begitu si sanak saudara ini pulang akan dibekali uang. Barangkali prinsip ini yang dipegang ketika menyusun RAPBD. Yang bakal dapat uang saku pun bukan orang miskin, karena mereka yang namanya ada dalam daftar adalah pejabat dinas, anggota dewan, tokoh masyarakat, pengurus partai politik, ulama dan wartawan.

Tentu saja, pemerintahan tak bisa bisa dikelola seperti menjaga silaturahmi keluarga. Uang yang dikelola pun tidak berasal dari kantong pribadi, tapi dari uang rakyat. Pajak ditarik untuk pembangunan, bukan untuk disia-siakan dan masuk ke kantong orang yang tak kekurangan materi. Jalan bolong menanti untuk dibenahi, kemacetan menunggu diurai, anak miskin memendam keinginan sekolah gratis, sementara para orangtua membutuhkan berobat gratis.

Itu yang harusnya jadi prioritas. Bukan uang saku buat tamu walikota.

Cobalah meniru apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Bulan ini mereka melansir program berobat gratis, dan Juli mendatang, akan ada program sekolah gratis. Ini jelas program yang mengedepankan rakyat, berusaha memenuhi apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Jangan lupa, pemerintah adalah pelayan, bukan bos yang direstui untuk buang-buang uang.

Mari kita kalkulasikan uang 2,8 miliar yang disediakan pemerintah Kota Bekasi ke program Jamkesmas, program kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. kita kalkulasikan ke program kesehatan buat masyarakat miskin lewat program Jamkesmas. Pemerintah menetapkan premi per orang sebesar Rp 5 ribu per bulan. Artinya dalam setahun, setiap orang mendapat alokasi dana Rp 60 ribu. Dana 2,8 miliar yang dialokasikan Pemkot Bekasi untuk uang saku sebetulnya bisa untuk biaya kesehatan 46 ribu orang selama setahun. Jumlah ini pasti lebih besar dibandingkan total tamu yang bakal mengunjungi walikota dan wakil walikota Bekasi dalam setahun.

Ini pun sesuai dengan aspirasi warga Bekasi, paling tidak mereka yang masuk ke situs pemerintah Kota Bekasi. Di rubrik Polling atau Jajak Pendapat, masalah yang dianggap mendesak dan harus segera diselesaikan adalah pendidikan dan kesehatan. Jadi, sebetulnya tak ada hal yang menyulitkan dalam membuat prioritas. Pemerintah adalah pelayan warga, jadi adalah keniscayaan untuk mengutamakan kepentingan warga.

Satu lagi. Tolong hapus nama wartawan dalam daftar penerima uang dari pemerintah. Kami memang akan bertamu, tapi kami tak butuh uang gelap seperti itu.

[Tajuk KBR68H, 28 Januari 2009]

Monday, January 19, 2009

Guilty Pleasure

Sekarang gw menonton 'Termehek-mehek' sebagai bagian dari guilty pleasure.

Minggu kemarin, cerita yang diangkat sumpah mati ajaib banget. Lupa nama tokoh di sana, tapi nama yang terlintas itu Deni dan Dita. Anggap saja nama mereka betulan itu. Ceritanya, Deni mencari Dita, pacarnya yang sudah menghilang selama setahun. Entah apa sebabnya. Deni menganggap kisah cintanya masih 'menggantung'. Jadilah minta 'Termehek-mehek' untuk mencari si pacar ini.

Selama kisah penelusuran, Mandala-Panda ditolak-tolakin sama teman-temannya si Dita ini. Semua pada parno sama Deni, padahal si Deni ini hanyalah laki-laki kurus dan begeng. Mandala-Panda sampe bingung, kenapa semua pada parno.

Sampai akhirnya ketemu satu teman Dita yang bilang kalo Dita itu sebenernya bukan pacarnya Deni, tapi kakaknya.

Lho. Ajaib. Gw melongo dong di depan TV.

Bla bla blu blu. Akhirnya Mandala-Panda ketemu rumah si tante siapa itu, tempat Dita tinggal. Si Dita ini ternyata udah lama pingin ketemu Deni. Eh gitu atau bukan ya, abis gw bingung ngikutin ceritanya. Dari si Dita ini terungkap kalo si Deni ini jadi psycho gitu setelah nyokap mereka meninggal, dan Deni ingin membunuh ayah mereka yang dianggap jadi penyebab matinya si nyokap.

Lho. Ajaib. Lagi-lagi gw melongo di depan TV.

Abis itu di luar terdengar suara brmmmm mobil. Itu mobilnya Deni. Ternyata Deni menguntit Mandala-Panda dan menemukan juga rumah si Dita. Trus Dita bilang, kalo Deni lagi 'ngaco', maka dia akan ke makam si nyokap. Bener aja, Deni ada di sana, lagi nangis-nangis, sambil ngais-ngais kuburan si nyokap. Entah menyeracau apa dia di sana.

Bla bla blu blu, si Deni berhasil masuk ke rumah Dita, lalu menemukan si bokap. Si bokap ini udah tua, rambut putih semuanya, pernah terserang stroke, duduk di kursi roda dalam kondisi payah. Deni nyamper ke arah bokapnya, lalu ngamuk di situ dan kursi roda bapaknya dijatohin. Mandala yang berusaha menahan sampe ikutan dihalau sama Deni, kalah kuat.

Trus dalam hitungan detik, tiba-tiba si Deni berubah seperti jadi orang lain. Yang tadinya ngamuk, jadi nangis tersedu-sedu di depan bokapnya, menyeracau, bertanya kenapa bapaknya bisa kayak gini. Lalu si Dita, kakaknya, bilang kalo ayah mereka stroke. Trus entah lah ngomong apalagi mereka itu sambil tangis-tangisan.

Lho. Ajaib. Gw masih melongo di depan TV.

Sayup-sayup di belakang gw mendengar suara Hilman ngakak. Dia ngetawain gw yang serius banget nonton 'Termehek-mehek' sampe ngerebut remote TV dari tangan Senja ketika tiba-tiba saluran TV dipindah secara tidak sengaja. Anak umur 1 tahun gitu lhoh.

Yah, maklum deh. Namanya juga guilty pleasure. Wajar dong kalo terbius *alesan*

Wednesday, January 14, 2009

Banjir Bersama Sang Ahli

Sejak kemarin, bisa dipastikan warga Jakarta ketar-ketir. Langit hitam, angin kencang, hujan deras. Sepanjang malam pun, hujan tak henti-hentinya mengguyur dari langit. Deras, reda, deras, reda, seperti memainkan emosi warga Jakarta. Sebab hujan berarti genangan, sementara hujan deras berarti banjir. Begitu cerita yang terjadi dari tahun ke tahun.

Setiap banjir, yang ada hanya kegagapan. Mulai saling tuding, kenapa si anu tidak melakukan ini dan itu. Mulai menyesal, kenapa tidak melakukan perbaikan yang diperlukan saat musim kemarau. Gerutu mulai dilontarkan kalau jalan bolong tak terlihat lantaran tertutup genangan. Gelisah kalau hujan makin deras, sembari sibuk memindahkan barang ke lokasi yang lebih tinggi. Berita yang serta merta jadi favorit adalah ketinggian pintu air, serta mencari celah untuk mengutuk banjir kiriman, kalau ada yang betul-betul mengirim.

Di Jakarta, kegagapan soal banjir dilakukan pemerintah dan warganya. Sudah tahu daerahnya rawan banjir, ya tinggalnya masih di situ-situ juga. Tapi buat warga miskin, pilihan tak banyak. Tanpa uang, rakyat miskin tak bisa berharap bisa dapat tempat tinggal yang bebas banjir. Bagi yang punya uang berlebih, banjir membuat mereka jadi pengungsi di hotel.

Tapi yang mesti dikritik tajam adalah kegagapan pemerintah. Setiap musim kemarau, tak terdengar upaya mencegah banjir yang melibatkan masyarakat Jakarta. Sampah masih menumpuk di sungai-sungai, padahal ini bisa disingkirkan kalau ingin menekan dampak buruk banjir. Tata kota bisa dibenahi, supaya tanah Jakarta bisa bernafas, memberi ruang bagi kelebihan air. Pejabat yang memberi izin pembangunan mal di tengah Jakarta yang bisa menambah risiko banjir, mestinya kena sanksi berat.

Betul, ada Banjir Kanal Timur yang tengah dibangun. Di kawasan Jakarta Timur, sudah menganga got raksasa di sepanjang Jalan Raden Inten. Tapi pembangunan BKT belum lagi usai. Gubernur sudah berganti, proyek raksasa itu masih saja berlanjut. Dan kini Jakarta ada di bawah kendali orang yang katanya paling ahli.

Jika kali ini Jakarta lagi-lagi kebanjiran, maka ini akan jadi banjir pertama untuk Fauzi Bowo-Prijanto. Bulan-bulan ini juga akan jadi masa pembuktian buat keduanya, seberapa sigap dan tanggap mereka menyiasati banjir Jakarta. BKT belum rampung, jalan masih bolong, pohon tinggi siap roboh, sementara pompa air, hm, jangan-jangan macet.

"Ayo-ayo bersihin got, jangan takut badan belepot," kata almarhum Benyamin Sueb. Belum terlambat untuk memulai hal sesederhana membersihkan got di depan rumah Anda.

[Tajuk KBR68H, 14 Januari 2009]

Saturday, December 20, 2008

Taman Yapto

Sabtu jam 10 pagi, Jakarta lagi mendung. Sempet gerimis, tapi udah lewat. Cuaca nggak cerah, tapi adem-adem asoy gitu. Kebetulan lagi mengarah ke Adorama Menteng, wah cakep juga kali yak kalo mampir Taman Menteng, secara gw dan Senja belum pernah ke sana.

Mobil parkir di gedung parkir Taman Menteng. Dari gedung parkir, sebetulnya ada akses langsung ke Taman Menteng. Tapi ada cowok-cowok berambut cepak dan berbadan tegap berjaga di situ. Kaos mereka warna abu-abu. Tulisan di bagian belakang kaos bikin serem: Guard. Ada secarik kertas ditempel di tembok, ditulis pake tangan. Gw lupa tulisan lengkapnya, yang pasti di situ tertera: HTM Rp 15 ribu.

Lho. HTM? Harga Tiket Masuk?

Gw tanya ke salah satu cowok tegap itu. 'Lho, Mas, jadi gak bisa masuk ke Taman Menteng?'

Dia menjawab pasti,'Bisa, tapi bayar 15 ribu. Lagi ada pertandingan futsal dan 3-on-3'

Ih. Gw langsung ngedumel agak kenceng, berharap supaya si Mas tegap itu mendengar: Taman Menteng kan taman publik, masa bayar.

Gw, Hil dan Senja jalan ke arah Taman Menteng. Baru deh di situ kita menyaksikan betapa Taman Menteng dibentengi triplek-triplek dibentuk seperti pagar. Kayak kalo gedung lagi dibangun gitu, dipagerin triplek. Dicat oranye, bertuliskan Japto S Soerjosoemarno Cup. Ini 'the' Yapto Partai Pelopor dan Pemuda Pancasila kan? Ah no wonder kalo gitu soal cowok berbadan tegap berkaos tulisan 'Guard' itu yak. 

Dari arah depan, akses betul-betul ketutup. Ada booth tiket dari bangunan berdinding gedek. Ada dua jalur pemeriksaan tiket, lagi-lagi dijaga pemuda tegap berkaos abu-abu bertuliskan 'Guard'.

Gw iseng, mendatangi booth jualan tiket. Yang jaga perempuan. 

'Mbak, jadi saya gak bisa masuk ke Taman Menteng ya?'
'Bisa, tapi bayar 15 ribu.'
'Lho, kok gitu? Kenapa saya  mesti bayar padahal saya gak tau ada kegiatan apa. Ngomong-ngomong di dalem situ ada apa sih?'
'Oh, ada futsal dan 3-on-3 Mbak. Nanti juga ada Rastafara'
'Tapi saya gak tertarik sama semua itu. Saya cuma mau ke Taman Menteng. Gak bisa?'
'Bisa, tapi bayar 15 ribu Mbak.'
'Kok gitu? Emang bisa ya Taman Menteng disewa?'
'Bisa.' Kali ini giliran pemuda tegap yang bicara, bukan lagi si Mbak penjaga tiket.

Hm, siwalun. Coba andaikata gw datang dari daerah, jauh-jauh datang demi menikmati Taman Menteng yang tersohor ini, trus mesti gigit jari karena 
acaranya Yapto ini 2 hari, malessss kaaaannn..

Langsung aja gw dorong-dorong Hil untuk laporan pandangan mata buat Green. Ini taman publik gitu lho, masa tega bener bisa disewa-sewa buat kepentingan pribadi gitu. Di mana unsur publiknya? Hil laporan, lantas kira-kira sejam kemudian dia dapat telfon dari Kepala Dinas Pertamanan Jakarta Utara. Kata si Pak 
ini sih, taman kota memang boleh disewa tapi gak boleh menutupi akses publik.

Kalo menetapkan HTM Rp 15 ribu, apa itu bukan namanya menutupi akses publik?

Hm rese. Padahal dulu pas di London, masuk ke Kew Gardens justru gratis pas lagi ada acara Salaam Festival. Mending dong, acaranya nyanyi-nyanyi asik. Nah ini, futsal dan 3-on-3, gak ada asik-asiknya buat gw. 

Yapto... Yapto...

Monday, December 15, 2008

Bekerja di TV

Gw gatau gimana rasanya kerja di TV. Gw juga gatau gimana proses redaksional di stasiun TV.

Ketika gw kuliah dulu, gw pikir kerja di media cetak, radio, TV itu kayak 'naik kelas'. Di mana TV adalah 'kelas' terakhir. Soalnya kan kayaknya semua orang pada pingin kerja di TV, dengan berbagai alasan. Jadi semula gw pikir, kerja di TV adalah sebuah achievement yang sangat tinggi sebagai seorang jurnalis.

Ternyata enggak.

Makin hari gw belajar bahwa cetak-radio-TV ya semata-mata spesifikasi saja. Pilihan, elu mau ada di mana. Setiap media punya karakteristik yang berbeda, dan perlu perlakuan yang berbeda pula. Gw belum pernah kerja di media cetak, tapi gw pernah ada di belakang penerbitan sebuah tabloid. More or less, mungkin sama. Kerja di TV, gak pernah juga, karena gw sebatas magang untuk Pemilu 2004 dulu.

Kerja di radio, ya sekarang ini. Profesi. Kerjaan. Digaji.

Makin hari gw juga belajar bahwa jadi jurnalis radio itu amboy nian. Menulis pendek tapi jelas, adalah sebuah tantangan yang sangat berat. Menyampaikan informasi tanpa berbekal alat bantu apa pun adalah sebuah pekerjaan yang sangat menarik. Memberitahukan sesuatu seperti kita menggambarkan sesuatu kepada orang buta, sungguh rumit. Tapi ini membuat pekerjaan gw, setiap hari, selalu menantang.

Mungkin orang lain pada bosen karena mesti ngerjain yang sama dari waktu ke waktu. Tapi, seperti kata temen gw yang lain, kalo diliat dari bosennya, ya bosen. Tapi kalo dicoba dinikmati, ya nikmat juga. Sejauh ini sih gw belum bosen. Apalagi gw harus selalu bersentuhan dengan tulisan-tulisan panjang yang kadang ahoy, kadang ampun dah. Jadilah gw selalu menemukan tantangan baru.

Bukan hanya secara tulisan, tapi juga dari soal brainstormingnya. Gw seneng ada di kantor gw sekarang. Gw merasa proses brainstormingnya cukup oke. Kadang mandek, biasa lah, namanya juga kehidupan. Tapi I feel like, this is where I belong. Apalagi kerjaan gw sejauh ini menyenangkan. Jadilah gw gembira aja.

Gw jadi inget cerita seorang kawan yang pindah dari sini lalu ke TV. TV komersil, yang hidup dari ke hari di bawah tekanan rating. Hm, I wonder how it feels like. Dia pernah cerita soal rapat redaksi di kantornya. Ketika itu dia mengusulkan liputan tentang pelarangan film Lastri. Kan banyak yang protes karena dianggap membawa nilai komunisme, tapi gak pernah jelas siapa yang sebenernya keberatan. Itu menarik dong. Ya kan? Kan isu komunisme itu penting, isu kebebasan berekspresi itu juga penting, plus ini kegiatan berkesenian. Penting dong.

Tapi enggak menurut sidang redaksi di TV tersebut. Alasannya cuma satu: nggak menjual.

Ide liputan pelarangan film Lastri kemudian kalah dengan ide yang, menurut gw, sungguh sepele dan remeh temeh. Yaitu, duren berformalin.

What?

Iya. Duren berformalin. Ooo ada toh hal semacam itu. Baru tau.

Oke, itu memang pengetahuan baru. Terima kasih. Itu memang salah satu peran media, menginformasikan hal-hal baru.

Tapi penting gitu tau ada duren berformalin? Dibandingkan Lastri?

Hm. Untung gw gak kerja di sana ya. Bisa-bisa orientasi hidup gw berubah, bisa-bisa kepala gw benjol karena sering jedoting kepala ke tembok.

Thursday, November 20, 2008

Komik Kebencian

Wujud kebencian bisa bermacam-macam. Kali ini ada yang membenci Islam, terutama Nabi Muhammad, lantas menuangkannya dalam bentuk komik. Sampai kemarin petang, blog alias situs pribadi lewat penyedia jasa Wordpress itu masih bisa diakses.

Ada dua komik di situ, keduanya dimuat tanggal 12 November, masih anyar. Di situ digambarkan cerita berjudul ‘Muhammad dan Zainab’ serta ‘Kartun Sex Muhammad dengan Budak’. Ada satu tokoh yang disebut dan digambarkan sebagai Nabi Muhammad. Ini adalah sesuatu yang sangat mustahil terjadi di agama Islam, karena Islam tak membolehkan Nabi Muhammad digambarkan. Kedua komik ini menggambarkan Nabi Muhammad sebagai manusia yang cabul dan gila seks, serta mencari pembenaran aktivitas seksualnya berdasarkan dalil-dalil Al Quran.

Ini bukan kali pertama Islam, atau agama secara keseluruhan, dijadikan sumber kebencian. Terkait Islam, tahun 2006 silam umat Muslim dibuat gerah dengan kartun Nabi Muhammad yang dilansir di salah satu harian Denmark. Atau kontroversi film ‘Fitna’ karya Geert Wilders yang hampir membuat situs You Tube diblokir. Sekarang giliran komik cabul ini, yang dibuat oleh orang Indonesia. Departemen Komunikasi dan Informasi langsung mengirim surat kepada pengelola Wordpress, meminta situs ditutup. Mudah-mudahan yang diminta hanya pemblokiran situs yang bermasalah, tak keseluruhan Wordpress.

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sangat mungkin digunakan polisi untuk menangkap pengelola situs komik kebencian ini. Pasal yang bisa jadi bakal digunakan adalah pasal 28 ayat 2, tentang penyebarluasan informasi untuk menimbulkan rasa benci atau permusuhan berdasarkan suku, ras, agama dan antargolongan. Ancaman hukumannya terhitung serius, yaitu lima tahun penjara.

Warga Muslim mungkin dengan gegap gempita langsung ingin menggunakan pasal ini untuk memberangus pengelola situs komik kebencian itu. Tapi pikirkanlah, betapa lenturnya pasal ini. Betapa frase ‘menimbulkan kebencian’ bisa ditafsirkan beribu rupa oleh orang yang berbeda. Betapa pasal ini mengingatkan akan pasal hatzai artikelen alias pasal karet di KUHP. Betapa ‘benci’ adalah sesuatu yang sangat sangat subyektif.

Pada saat yang sama, sebuah situs perdebatan soal Islam juga tutup, tepatnya, menutup diri sendiri. Di sini, Islam adalah teror, perang, diskriminasi, dan pelanggaran HAM. Tanpa diminta siapa pun, situs ini resmi tutup. Di halaman muka, pengelola menyatakan forum ditutup terhitung kemarin demi terciptanya keharmonisan beragama di Indonesia. Pengelola situs pun tak lupa menyelipkan kata maaf jika forum dianggap telah meresahkan masyarakat.

Ini suatu langkah yang luar biasa. Setiap orang sangat boleh bersuara dan berekspresi seluas-luasnya, asal ingat kalau setiap kebebasan ada batasnya. Batas kebebasan kita adalah kebebasan orang lain. Pengelola situs forum perdebatan Islam itu tak merasa perlu menunggu protes, demo atau makian dari kiri kanan, lantas tanpa ba bi bu langsung menutup situs.

Tak ada yang salah dengan berbeda pendapat, tapi jangan sampai membuncah jadi kebencian yang saling menyudutkan. ‘Agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu’. Inilah saatnya mengedepankan keharmonisan kehidupan beragama, bukannya mengkotak-kotakkan, saling mencari perbedaan, atau yang paling parah, saling menyerang.

[Tajuk KBR68H, 20 November 2008]

Tuesday, November 18, 2008

Satu Jari, Empat Jari

Yang paling enak, juga paling gampang, adalah menyalahkan orang lain.

Itu yang dilakukan Wakil Gubernur Jakarta Prijanto, seputar masih banyaknya pelanggaran terhadap Perda Rokok di Jakarta. Kata Prijanto, pemerintah sudah membuat Perda Anti Rokok dan menyosialisasikannya. Kalau ada pelanggaran, maka yang salah adalah masyarakat karena masyarakat tidak mengerti.

Kata orang, kalau satu jari menunjuk ke pihak lain, maka ada empat jari menunjuk ke diri sendiri.

Mari kita lihat satu per satu. Perda Rokok tidak bisa jalan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai dari negara. Misalnya penyediaan fasilitas. Di Perda Rokok Jakarta disebutkan kalau harus ada penetapan kawasan tanpa rokok. Sekarang bayangkan Anda datang ke sebuah mal ber-AC, bertemu perokok. Setelah Anda cari-cari, tak ada ruang merokok tersedia di mal tersebut. Apa yang bisa Anda lakukan? Paling banter, Anda, yang tak merokok, mengalah, pergi menjauh. Padahal Anda lah yang dirugikan. Kalau ada mal tak menyediakan ruang merokok, siapa yang salah? Kenapa pengelola mal tidak dihukum?

Di Perda juga diatur soal iklan rokok, tak boleh sembarangan masuk di jam-jam yang umumnya ditonton keluarga. Kalau tiba-tiba Anda mendapati ada iklan rokok di acara keluarga, apa yang bisa dilakukan? Paling banter, Anda bisa mengganti saluran televisi, supaya tak perlu menonton iklan rokok yang umumnya bersalut gaya hidup modern. Seolah Anda tak trendi kalau tak merokok. Anda harus mengalah, padahal Anda yang dirugikan. Kalau aturan iklan rokok dilanggar, siapa yang salah? Kenapa produsen rokok tak dihukum?

Fakta-fakta di luar Perda Rokok Jakarta juga menunjukkan keberpihakan yang sangat besar kepada kaum perokok. Indonesia adalah salah satu negara dengan cukai rokok terendah. Sedikit banyak ini menunjukkan betapa Pemerintah masih mendewakan penghasilan dari berlinting-linting rokok sarat racun ini. Di kawasan Asia, Indonesia hanya menerapkan cukai sebesar 37 persen, bandingkan dengan Thailand yang 63 persen. Padahal tarif cukai rokok mempengaruhi harga rokok dan tingkat konsumsi masyarakat. Selama cukai rokok masih tinggi, lupakan saja keinginan menekan jumlah perokok di tanah air.

Kalaupun rokok bisa dibasmi dari iklan TV, maka rokok melenggang bebas sebagai sponsor berbagai acara. Sebagai sponsor, mau tak mau iklannya terpampang besar-besar. Ratusan bungkus rokok itu pun dibagikan kepada pengunjung, sebagai bagian dari sponsor. Padahal sudah ada PP 19 tahun 2003 yang melarang hal tersebut. Kalau itu dilanggar, siapa yang salah? Masyarakat?

Kata orang dulu, yang waras, mengalah. Mestinya ini tak boleh berlaku lagi. Buat apa mengalah pada racun yang menyebabkan kemiskinan? Anda dirugikan, jangan mau kalah.

Pak Wakil Gubernur Jakarta yang terhormat, jangan terlalu mudah menyalahkan masyarakat. Lihat dulu empat jari yang mengarah ke Pemerintah.

[Tajuk KBR68H, 18 November 2008]

Monday, November 10, 2008

(Rela) Dibohongi TV

Seberapa jauh kita rela dibohongi televisi?

Semalam saya melakukannya lagi, dengan menonton 'Termehek-mehek' di Trans TV.

Saya tahu tontonan ini lewat pertemuan keluarga. Sejumlah tante begitu gembira bertahan di depan TV sembari menonton acara ini. Saya sebelumnya tidak pernah mengikuti isi acara ini. Sekadar duduk, lalu mereka bercerita dengan riangnya soal betapa serunya 'Termehek-mehek'. 

Cerita yang paling sering 'dibanggakan' adalah soal seseorang yang mencari orang lain, lalu ternyata si orang yang dicari sudah meninggal. Atau seseorang kehilangan anaknya, lalu mencari dari satu kereta ke kereta lainnya karena si anak itu kabarnya dijadikan pedagang asongan. Atau pacarnya si anu tiba-tiba menghilang, setelah ditelusuri ternyata pacaran sama bapaknya si anu. Atau perempuan hamil tapi anaknya terpaksa dikasih ke pacarnya karena si kakek gak setuju cucunya ini menikah, lalu si cucu ini disekolahin di luar negeri, dan setelah balik, si cucu ini nyari anaknya sementara si keluarga mantan pacar malah marah-marah.

Secara umum, cerita-cerita di 'Termehek-mehek' memang ajaib. Extra ordinary. Too good to be true.

Lalu saya membaca bahwa isi program tersebut bohong adanya. Cerita yang ditampilkan adalah rekayasa. Semua orang disuruh berakting dan semuanya adalah skenario. Sandiwara. Ada banyak blog/multiply yang pernah nulis soal ini, seperti diadia dan dia. Diperkuat lagi dengan pernyataan penuh kekesalan dari teman saya yang mengatakan bahwa salah satu pemain di 'Termehek-mehek' adalah tetangganya. Si tetangga itu bahkan sampai 'disidang' warga setempat untuk memperjelas apakah itu betul dia atau bukan. Itu betul dia, dan dia tak punya masalah seperti yang tampil di 'Termehek-mehek'.

Jadi, betulan bohong.

Saya jadi penasaran, adakah aturan KPI yang mengurus soal tayangan bohong? Apalagi 'Termehek-mehek' masuk kategori reality show. Realitas mana yang dimaksud kalau cerita yang tampil adalah bohong belaka? Atau ini memang dimaksudkan sebagai fiksi? Mestinya tidak, karena di akhir acara selalu diumumkan alamat email termehekmehek@transtv.co.id bagi penonton yang ingin mencari seseorang. Persis seperti (so called) tujuan 'Termehek-mehek'.

Saya jadi penasaran, berapa ya rating 'Termehek-mehek' sekarang? Mengingat acara ini tampil dua hari, di Sabtu dan Minggu, mengingat kayaknya duras program diperpanjang, tampaknya rating program cukup baik. Rating baik untuk sebuah acara yang ceritanya bohong, menarik juga.

Saya jadi penasaran. Di antara kru 'Termehek-mehek', berapa banyak yang tahu kalau ceritanya bohongan? Berapa banyak yang pernah baca blog dan multiply yang mengulas kebohongan di acara itu? Apakah Panda dan Mandala tahu kalau klien yang mereka bantu sekadar berakting?

Berapa lama lagi penonton (rela) dibohongi?

Merayakan Penjahat

Aneh sekali menonton TV pasca eksekusi Amrozi, Imam Samudra dan Muklas.

Semua TV berlomba-lomba liputan dari Cilacap, Tenggulun dan Serang. Seolah-olah kita, saya paling tidak, betul-betul ingin tahu tentang tanggapan dari delapan penjuru mata angin soal eksekusi terhadap ketiga penjahat ini. Padahal, yang paling saya ingin tahu hanya sebatas ekskusi sudah atau belum dilakukan. Kalau belum, kapan akan dilakukan. Kalau sudah, ya bagus.

Tapi, seperti yang banyak orang bilang, intensitas pemberitaan yang begitu tinggi tentang eksekusi trio bom Bali ini justru membuat mereka tampak seperti pahlawan. TV membuka ruang selebar-lebarnya bagi ketiga penjahat itu untuk meneriakkan kata jihad, kafir dan ’atas nama Islam’. Setiap hari tak henti-hentinya kita diajak berkenalan dengan Desa Tenggulun dan Serang, tempat tinggal ketiga penjahat itu, seolah-olah kita ingin tahu sisi ’humanis’ dari ketiga penjahat itu.

Menurut saya, ketiganya bukan manusia. Rasanya tidak ada manusia waras yang membunuh orang lain hanya karena orang itu dianggap kafir. Jadi ada di sebelah mana sisi humanis yang perlu kita tahu soal pembunuh sesama manusia?

Sepanjang hari saya sukses menahan diri untuk tidak mengikuti berita pasca eksekusi. Tapi saya terjebak ketika menonton buletin berita sore di salah satu TV swasta.

Berita pertama, soal penguburan ketiga penjahat ini. Digambarkan ada begitu banyak orang mengiringi sampai ke pekuburan. Ada begitu banyak orang ingin menyentuh keranda jenazah mereka. Saya heran, mengapa kamera merasa perlu menyorot spanduk bertuliskan,’Selamat jalan mujahid.’ Seolah-olah setuju bahwa yang mereka lakukan adalah jihad, bukannya membunuh.

Berita kedua, dari desa tempat tinggal ketiga penjahat. Sebagai sesama wartawan, saya merasa berita ini tidak punya nilai sama sekali. Buat apa memberitakan sesuatu yang tidak ada apa-apa, adem ayem? Lalu si reporter menggambarkan bahwa kondisi desa sepi, walaupun ada salah satu warga desa tersebut yang '... menjadi figur dengan banyak pengikut...’ yang baru saja dikubur. Mata gw langsung membelalak. Say what? Figur? F i g u r? Saya pun heran. Si wartawan tahu nggak sih apa yang dia omongin?

Untung saja ketiga penjahat itu betul-betul sudah dieksekusi. Meski saya gak setuju hukuman mati, saya senang, TV akhirnya bebas dari ketiga wajah penjahat itu.

Semoga keluarga korban bom Bali ikut lega, tak perlu lagi dihadapkan terus menerus dengan wajah pembunuh. Tak perlu lagi melihat media, terutama televisi, merayakan penjahat.

Wednesday, November 05, 2008

Jelang Eksekusi

Keluarga korban bom Bali I rupanya menyimpan trauma mendalam. Banyak di antara mereka yang enggan bicara dengan media, di tengah pemberitaan yang gencar jelang eksekusi trio bom Bali: Amrozi, Muklas alias Ali Gufron dan Imam Samudra. Hayati Eka Laksmi misalnya, yang tak mau lagi mendengar nama Amrozi cs. Ia hanya meminta ketiganya cepat dihukum, itu saja. Semakin sedikit diberitakan, Eka justru makin senang, karena berarti ketiga teroris ini tak makin populer.

Tapi coba perhatikan media, terutamatelevisi. Dengan gencar, mereka memberitakan kabar terakhir eksekusi Amrozi cs. Tayangan makin getol sejak akhir pekan lalu, karena Kejaksaan Agung memberi kabar bahwa eksekusi akan dilakukan awal November. Empat hari sudah berlalu dari awal bulan, belum ada kabar kapan sebetulnya eksekusi akan dilakukan.

Coba cermati isi tayangan televisi soal ketiga teroris itu: bahasa yang digunakan, bagaimana ledakan bom Bali I itu direkonstruksi dan bagaimana peran ketiga teroris ini. Persoalan hukum kembali diungkit, masalah Peninjauan Kembali dibahas lagi. Sebegitu seringnya sampai tak sadar para teroris ini tampak dipertontonkan sebagai pahlawan, sebagai martir. Mati karena membela yang benar.

Seiring dengan pemberitaan di media, teror tetap berlangsung. Akhir Oktober lalu, beredar pesan pendek di telfon seluler berisi peringatan untuk menghindari mal besar, restoran ala Barat juga Kedutaan Besar negara-negara Barat. Berita di berbagai media juga menyebutkan kalau polisi memperketat pengamanan di sejumlah kedutaan besar, menjelang eksekusi dilakukan.

Ditambah lagi, sebuah surat ancaman muncul di sebuah situs internet. Isinya adalah pernyataan perang dan ajakan membunuh orang-orang yang terlibat dalam eksekusi ini. Sejumlah nama pejabat besar disebut dalam surat ini, mulai dari Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata, Jaksa Agung Hendarman Supanji serta seluruh hakim dan jaksa yang terlibat persidangan bom Bali I. Demi mengesankan keseriusan, ditampilkan juga surat dengan tulisan tangan, berbahasa Inggris dan Arab, dan tandatangan ketiga terpidana mati. Soal benar tidaknya surat itu, tak ada yang tahu.

Apa pun bentuknya, teror tetap berlangsung. Kita seolah dibombardir dengan pernyataan martir, kafir, jihad, dan istilah lainnya yang mengesankan heroisme. Padahal apa yang mereka lakukan tak ada heroik-heroiknya. Yang mereka lakukan adalah membunuh orang tak berdosa, menafikan perbedaan dan membenarkan kekerasan. Untuk itu, mereka pantas, layak dan patut dihukum.

Kami memang tak setuju hukuman mati, karena tak ada manusia yang boleh berlaku sebagai Tuhan. Tapi Amrozi, Muklas alias Ali Gufron dan Imam Samudra harus dihukum, seberat-beratnya. Sejatinya, hukuman apa pun tak akan mengembalikan para korban yang meninggal sia-sia. Paling tidak, negara bisa membuktikan kepada korban: hukum masih ada di negeri ini.

[Tajuk KBR68H, 5 November 2008]

Empat Mata Bubar

Hehe, bubar juga ini acara. Bukannya nyukurin, tapi gw emang gak pernah terlalu suka acara ini. Beda dengan Hil yang selalu ngakak kalo nonton Tukul.

Penyebab Empat Mata bubar adalah dua episode. Satu, karena ada adegan orang makan kodok idup. Satu lagi karena menghadirkan Sumanto sebagai nara sumber. Yang kedua, gw nonton. Untuk pertama kalinya dalam sejarah gw nonton Tukul, gw ketawa. Gw menikmati ketakutan Tukul. Gw menikmati jawaban-jawaban aneh dari Sumanto.

Tapi kenikmatan gw ternyata berujung pada bubarnya Empat Mata.

Gapapa deh. Biar tim produksi acara kayak gitu di TV makin kreatif. Bosen model ngelawak kayak gitu.

Thursday, October 30, 2008

Tukul vs Sumanto

Seumur-umur gw gak pernah suka Empat Mata-nya Tukul. Biar kata Hil ngakak-ngakak kalo nonton itu, gw tetep aja melengos. Gak ada lucu-lucunya, menurut gw.

Tapi semalem pertahanan gw runtuh. Tukul lucu banget. Tapi kayaknya ini ditolong sama tamu Empat Mata semalam: Sumanto.

Sumpah, hillarious banget ngeliat gimana Tukul ketakutan sama Sumanto. Apalagi Sumanto itu kan tampangnya lempeng plus serem banget gitu. Jadilah Tukul betul-betul memperlihatkan muka ketakutan sepanjang acara. Tukul bahkan sempet beberapa kali menyebut,'Duh acaranya lama banget' hahaha.

Pertanyaan-pertanyaan awal dari 'laptop' udah ketara banget bikin Tukul lemes. Dia harus nanya gini ke Sumanto,'Mas Sumanto, sebelum ke sini, sudah makan? Makan apa?' Begitu Tukul mengajukan pertanyan itu, mukanya langsung berubah sepet, lalu dia berdiri dan jalan ke arah belakang panggung. Lalu dia teriak ke tim balik layar,'Mbok nanya jangan yang kayak gitu,' dengan muka panik tapi pasrah.

Lalu di sesi apa gitu, si perempuan figuran bilang ke Sumanto,'Gapapa ya Mas Sumanto, yang penting kan makan gak makan asal kumpul.' Sumanto meringis dan menyahut,'Oh kalo saya beda. Kumpul gak kumpul asal makan.'

Wakwaw. Langsung dah tu mukanya Tukul sepeettttt banget, hahahaha.

Yang ajaib tuh ketika Tukul nanya ke Sumanto soal kenapa dia memakain mayat manusia. Jawaban Sumanto emang gak terlalu jelas, blunder gitu deh. Tapi kurang lebih gini,'Saya makan itu kan buat naik haji. Tapi berhubung ketauan, jadinya gak naik haji.'

Makkkssuuudd lloooohhh...

Tuesday, October 28, 2008

Pedofil, Tangkap Saja

Polisi Indonesia memang aneh. Ada pedofil yang terang-terangan muncul di berbagai media, berfoto dengan wajah bangga, tapi tak juga ditangkap.

Pedofil yang bangga akan kelakuan bejatnya itu adalah Pujiono Cahyo Widianto. Laki-laki usia 43 tahun, yang menikahi perempuan usia 12 tahun. Kelakuannya bejat, itu jelas. Yang lebih bejat lagi adalah fakta bahwa dia adalah seorang kyai, pemilik pondok pesantren. Kita jadi bertanya-tanya, apa gerangan yang dia ajarkan kepada para santrinya? Untuk meniru perbuatan pedofil dan mencari pembenaran atas nama agama?

Tak ada untungnya bagi perempuan usia 12 tahun yang baru lulus SD itu ketika menikah dengan Pujiono yang umurnya 43 tahun. Hak Lutfiana sebagai anak jelas terenggut. Masa depan Lutfiana masih sangat panjang untuk dirajut sendiri, tanpa ikatan perkawinan dengan orang yang lebih pantas menjadi bapaknya. Begitu dinikahi, Lutfiana memang langsung diangkat jadi Manajer PT Sinar Lendoh Terang, perusahaan kaligrafi dari kuningan milik Pujiono. Tapi ini juga bukan keberuntungan. Ini sama saja Lutfiana dijadikan pekerja anak, meskipun jabatannya adalah bos.

Ini adalah pelanggaran aturan yang terang benderang, ada di depan mata, tepat di bawah hidung polisi. Pujiono jelas melanggar UU Perkawinan, yang menyebut usia minimal bagi perempuan untuk menikah adalah 16 tahun. Pujiono juga melabrak UU Perlindungan Anak, karena melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak; juga mempekerjakan anak. Sanksi yang tersedia dari penjara 5 tahun sampai denda 100 juta rupiah. Ditambah lagi, Pujiono juga melanggar KUHP. Nah, kurang banyak apa pelanggaran hukum yang dilakukan Pujiono?

Kini yang kita lihat di media malah Pujiono terkekeh-kekeh. Tak sedikit pun terlihat malu, karena ada banyak aturan hukum yang dilanggar. Pujiono mencoba berkelit dengan alasan pernikahan dilakukan tanpa paksaan dan disetujui orangtua si perempuan yang di bawah umur itu. Dia juga mengajukan dalih agama sebagai pembenaran atas perkawinan tersebut. Lantas apa polisi bisa diam saja dengan pembenaran tak logis macam begini? Ini jelas pelanggaran hukum, dan Indonesia menganut hukum sekuler, bukan hukum agama.

Yang juga bikin pusing kepala adalah pengakuan Pujiono bahwa dia menyukai anak-anak kecil. Kalau disuruh memilih menikah dengan anak kuliahan atau anak kecil, ia jelas-jelas memilih anak kecil. Bukankah ini pengakuan diri secara terbuka sebagai pedofil?

Kasus kekerasan terhadap anak bukanlah delik aduan. Tak perlu dialog macam-macam, tak perlu mencoba memahami, apalagi mengesahkan pembenaran atas nama agama yang dilakukan Pujiono.

Pedofil ya harus ditangkap, bukan dibiarkan.