Saturday, August 12, 2006

Reality TV: Terharukah Anda?



Seorang teman menyampaikan kepada saya bagaimana reaksinya menonton salah satu program reality show amal di televisi.

Citra, kmrn malem gw nangis liat satu reality show, judulnya “Rejeki Nomplok”. Itu sekali2nya gw nangis krn acara tv di republik kampret ini. Jd ceritanya, si Peggy Melati Sukma kasih modal sebuah keluarga miskin buat jualan nasi (buka warung makan). Keluarga itu punya 2 anak: perempuan kelas 5 SD dan laki2 masih balita (yg tampak kurang gizi). Yg bikin gw nangis adalah ketika gw menatap mata anak perempuan itu..hiks..kesiyan banget klo anak sepinter dan senurut dia yg punya semangat tinggi hrs putus sekolah. Trus, jadinya anak itu dibiayai sekolahnya plus dikasih alat2 sekolah. Gw setuju dgn si Peggy yg kasih modal keluarga itu, krn insya Allah mereka jd empowered, self-reliant. Namun..hmmm..emang siy, sprt halnya reality show sejenis, ada bumbu tangis, wajah2 memelas & prihatin yg dijual..tapi ya gmn? tapi, tapi..apa ini berarti gw termakan reality show sejenis itu?
[diambil dari milis, nama disembunyikan, tulisan diedit seperlunya]

Apa Anda termasuk yang terharu kalau menonton program reality show di televisi? Mari kita persempit sedikit cakupannya: reality show amal. Apakah Anda terharu? Saya kok enggak ya.

Kenapa orang suka reality show macam begini? Kenapa pas Spontan, orang bisa kesel kalau dikerjainnya keterlaluan, lalu pas Harap-harap Cemas orang juga bisa kesel karena itu seperti menjajah wilayah pribadi seseorang? Bukankah Uang Kaget juga ngerjain seseorang dengan meminta orang tersebut menghabiskan uang 10 juta rupiah dalam waktu setengah jam? Bukankah Lunas juga menjajah wilayah pribadi seseorang dengan main masuk ke rumah orang dan meminta orang tersebut menjual barang-barang dalam rumahnya? Bukankah Bedah Rumah merenovasi rumah seseorang tanpa menkonsultasikannya pada pemilik rumah?

Kenapa kita menghujat reality show lain dan memuja reality show amal? Apa karena ada kata 'amal' di situ, lantas semuanya jadi baik-baik saja?

Seorang teman berkata, dia suka acara reality show amal karena yang dibantu adalah orang yang membutuhkan. Mereka yang dihadirkan dalam reality show amal melulu orang miskin, bagaimanapun 'miskin' itu didefinisikan. Banyak dari target (atau korban?) reality show amal ini punya rumah, entah itu ngontrak atau punya sendiri. Lho, kok itu miskin? Bukankah masih banyak orang yang tinggal di kolong jembatan? Banyak juga target reality show amal yang masih bisa jual televisi. Jadi, gimana 'orang miskin' itu didefinisikan? Siapa yang mendefinisikan 'orang miskin'?

Dalam kasus reality show amal ini, maka yang mendefinisikan 'miskin' adalah si pemilik program. Taruhlah produk-produk macam Uang Kaget, Lunas, Bedah Rumah dan sebagainya, maka yang mendefinisikan 'orang miskin' adalah Triwarsana selaku produser. Definisi 'miskin'-nya sendiri tak saklek betul. Kalau mau saklek, mungkin Triwarsana sebaiknya cari data angka penduduk miskin keluaran pemerintah (meskipun kesahihannya juga perlu dipertanyakan).

Tapi, oh tunggu dulu. Miskin, memang satu faktor penting. Tapi faktor yang menentukan seseorang masuk di reality show amal atau tidak adalah profil si target. Tak sembarang orang miskin boleh masuk jadi target reality show amal. Dia miskin, tapi juga mesti punya profil positif di antara tetangga-tetangganya. Yang berhak mendapat uang dari acara Pulang Kampung, jelas bukan pengangguran yang ingin pulang kampung, tapi dia yang dianggap 'kurang beruntung' merantau di Jakarta. Narasi awal di Lunas pun jelas-jelas disebut, bahwa Lunas akan melunasi utang dia yang memiliki utang karena musibah, bukan karena dia main togel. Rumah Pak Soegito batal diperbaiki Bedah Rumah karena anak perempuan Pak Soegito sakit jiwa. Sakit jiwa si anak dianggap menodai profil Pak Soegito. Batallah itu rumah Pak Soegito direnovasi bak sulap bukan sihir.

Oke, sekarang kita punya si target. X dari Kampung Y, miskin tapi pekerja keras. Lalu tanpa angin tanpa hujan, datanglah segerombolan kru berkamera datang ke kediaman X. Suherman (Uang Kaget) berwajah sangat sangat kaget ketika didatangi Mr EM yang berkostum aneh untuk ukuran Jakarta. Mimin (Uang Kaget) mengernyitkan dahi sambil berdiri agak menjauh ketika Mr EM bertanya, "Bu Mimin kenal saya?" Sumanah (Lunas) bermuka masam ketika dua perempuan penagih hutang tiba-tiba meminta dia menjual jam dinding yang menempel di dinding rumahnya, hanya 40 hari setelah suaminya meninggal yang tak cuma menyisakan duka, tapi juga hutang di rumah sakit.

Apakah mereka diberi ruang untuk menyergah balik para kru berkamera? Apakah Sumanah diberi kesempatan untuk menginterogasi balik para penagih hutang yang hanya mengidentifikasi diri mereka sebagai "petugas dari kantor" semata? Suherman ketakutan karena mengira dia bakal diusir dan tak boleh lagi memperbaiki kompor di sana. Istrinya berwajah cemas dan berurai air mata ketika pertama kali bertemu dengan Mr EM.

Mungkin belum saatnya kita mengurai rasa haru. Nanti dulu. Air mata belum diperas, hati masih belum diiris-iris.

Lalu sampailah kita di sajian utama reality show amal. Kita, penonton, dibuat begitu tekun mengikuti apa yang akan dilakukan X dengan uang sebanyak itu. Mungkin kita pun ikut berseru di depan layar televisi, "Beli emas saja!" Mungkin kita ikut degdegan melihat Y yang terpingsan-pingsan karena harus terburu-buru membelanjakan uang 10 juta rupiah. Atau penasaran melihat isi rumah Z dan menerka barang apa yang sekiranya layak dijual. Perasaan penonton akan terus diombang-ambil selama 15 menit terakhir, yang penuh adegan mengharukan dan berurai air mata. Belum lagi di penghujung program, di mana bertaburan adegan cium tangan, isak tangis dan memeluk Mr EM, Peggy Melati Sukma, Mbak Lunas dan teman-teman pemandu acara lainnya.

Apakah di sini kita sudah boleh terharu? Saya lebih merasa sakit hati, ketimbang terharu.

Saya justru merasa mereka tengah 'dihukum' atas kondisi mereka. Mereka miskin, maka kita boleh menonton mereka. Mereka miskin, maka kita boleh mengintip isi rumah mereka. Mereka miskin, maka mereka boleh diminta (dan tak diberi kesempatan untuk menolak) melakukan apa saja atas nama amal. Mereka miskin dan menjadi tontonan karena mereka miskin.

Ketika Triwarsana 'berdalih' bahwa acara seperti ini dimaksudkan untuk menggugah empati penonton, maka saya ingin bertanya kembali. Empati apa? Empati untuk menolong? Atau empati untuk menonton mereka yang terengah-engah mengejar amal? Apa perasaan seperti itu layak disebut empati? Kalau memang empati untuk menolong yang ingin digarisbawahi produser, apa bentuknya? Saya sungguh tidak merasa sisi empati saya diketuk ketika saya menonton ini. Kalau ada yang merasa berempati, bolehlah saya diberitahu bagaimana rasanya itu.

Simsalabim! Semua berubah tanpa kendali orang tersebut. Seperti memain-mainkan pisang di hadapan monyet, yang sudah tentu bakal dikejar. Apa itu bisa disebut pemberdayaan? Pemberdayaan macam apa yang diberikan reality show? Bagi saya, target reality show itu dipermainkan dengan uang. Dan itu sungguh bukan pemberdayaan.

Ah saya bukannya menampik bahwa ada juga reality show memberi kail, bukan ikan. Saya senang Sekolah Gratis tak memberikan uang kontan, tapi memberikannya dalam bentuk tabungan. Saya senang Rejeki Nomplok memberikan modal untuk membuka warung. Tapi jangan lupa juga, Uang Kaget adalah reality show amal yang bertahan paling lama di televisi, dari akhir tahun 2004 sampai sekarang, pun meraih Panasonic Award 2005. Dengan konsep 'mengejar uang gampangan', acara inilah yang meraup rating dan audience share paling besar [mari kita asumsikan kita bisa percaya pada rating AC Nielsen].

Dan itulah yang kita saksikan dalam waktu 30 menit.

Louis Althusser menyebut,"Ideology 'acts' or 'functions' in such a way that it 'recruits' subjects among the individuals (it recruits them all), or 'transforms' the individuals into subjects (it transforms them all) by that very precise operation which I have called interpellation or hailing, and which can be imagined along the lines of the most commonplace everyday police (or other) hailing: 'Hey, you there!'" (1971: 160)

Kalau kita ibaratkan program reality show amal itu adalah si orang yang memanggil, siapa yang dipanggil oleh program macam ini? Who is being interpellated by these programmes?

Triwarsana menyebut bahwa target acara ini adalah laki-laki dan perempuan, dari rentang umur berapa pun, status sosial ekonomi mana pun. Target 'keluarga' memang target paling mudah bagi program televisi, demi menjamin raupan penonton yang cukup lumayan. Tapi apa iya, semua orang 'dipanggil' untuk menonton acara tersebut?

Helmy Yahya, dalam balutan kostum Mr EM, kerap bertanya kepada calon target, "Bapak/Ibu kenal saya?" Dalam beberapa program yang saya tonton, calon target selalu mengaku tak kenal. Mimin sempat menonton Uang Kaget beberapa kali, tapi ia tidak mengira bahwa laki-laki berjas hitam, bertopi tinggi, berjanggut-kumis palsu dan berkacamata hitam adalah si Mr EM dari Uang Kaget. Kalau kita anggap Mimin adalah bagian dari target 'keluarga' yang disasar oleh Triwarsana, maka mungkin harusnya Mimin kenal Mr EM. Tapi toh tidak begitu kejadiannya.

Saya duga, yang sebenarnya disasar oleh Triwarsana, atau produser program reality show mana pun, adalah middle class. Kelas menengah. Mereka yang tidak semiskin si target yang tengah ditolong. Mereka yang merasa bahwa memberikan uang, amal atau apa pun adalah hal yang bakal membuat dunia 'si miskin' berubah. Mereka yang memberikan 'imbalan' kepada mereka yang miskin dan berkelakuan positif. Ah, Helmy Yahya pun pernah berkata, "Golongan bawah, teruslah bermimpi."

Maaf kalau saya semena-mena. Saya merasa program reality show amal tak ubahnya acara kunjungan Soeharto (dulu) ke desa-desa. Bertemu dengan penduduk di desa setempat, berbincang sedikit dan tak berarti, lalu memberikan bantuan. Penduduk sumringah, Soeharto bahagia, TVRI pun menayangkannya ke penjuru negeri. Penonton bahagia, karena melihat penduduk tersebut 'ditolong'.

Ah, feodal betul rasanya. Unsur feodal dalam program reality show buat saya jelas-jelas dipertunjukkan di penghujung program. Ketika Mr EM dengan tenang mengajukan tangannya untuk dicium oleh si target yang sudah membeli barang anu itu. Ketika pemandu acara bertangis-tangisan dengan si target; dengan si pemandu acara yang 'didandani' dan si target yang sekadarnya.

Perbedaan kelas seolah dirawat betul di sini. Kau yang miskin, berbaju jelek lah, nanti ditolong. Tapi kau mesti berkelakuan baik, kalau tak baik maka tak akan ditolong. Lalu si pemandu acara pun dipoles demi kepentingan televisi. Mr EM dengan konstumnya, Mbak Lunas dengan setelah putih-putihnya. Dan perbedaan kelas yang dipertontonkan di program reality show ini sungguh tidak menyisakan kesan simpati atau empati. Yang tersisa justru perasaan nyaman ketika menonton mereka yang terengah-engah mengejar amal. "Kita tak semiskin dia." "Dia tak seberuntung kita." Perasaan nyaman kita, si kelas menengah.

Lantas apa itu semua pantas membuat kita merasa terharu? Bahkan menulis ini pun sudah cukup untuk membuat saya sakit hati.

Monday, August 07, 2006

Pembajak Blog

Baruuu aja gw berasa gegar jadi blogger, eh mesti dihadapkan sama isu bajak membajak. Pas gw baca sepatumerah, gw membacalah itu postingan tentang aksi bajakan terhadap tulisan dia.



Tersebutlah seorang bernama X konon membajak tulisan dia. Ternyata Mbak X gak cuma ngebajak tulisan dari sepatumerah, tapi juga dari beberapa blog lain. Daaaann niat banget pula ngebajaknya. Lengkap dengan link, plus foto. Widih. Emang siiiyy kita mesti total dalam mengerjakan segala sesuatu... tapi mbok yao...

Waktu itu gw dan Victor pernah berbincang soal asas copy-paste dalam blog. Soalnya gw abis berkunjung ke blog kodoksakti dan menyadari foto yang dia bikin itu caem-caem. Kan nyesek pasti rasanya kalo tiba-tiba dia nemu foto karya dia di blog orang, tanpa sepengetahuan dia. Kalo Victor sih bilangnya, "Ah dia aja yang fotonya lebih keren dari gw, foto-fotonya gak diproteksi," sambil merujuk ke satu blog lain. Mmmm, tapi kaaannn Viicc..

Kalo gw siy, kalo sampe ada yang ngopi-paste tulisan gw, gw heran kali yak. Apalagi tulisan di pippilotta, lah itu kan personal, situasional dan lokasional (ada gak sih kata ini?) banget. Lagian kayaknya gw juga gak siap kalo tulisan gw tiba-tiba melihat tulisan gw dikopi sama orang lain. GR-nya mah jelas, tapi abis itu pasti bingung mau diapain.

Ketika gw cerita ke Nita soal kasus ini, dia langsung mengurungkan niatnya untuk naro tulisan feature radio dan karya-karya puisi dia di blog. "Takut dibajak," gitu katanya. Iya siy, gw ngerti pertimbangan itu. Gw juga suka ngeri kalo sajak-sajaknya minke dibajak orang. Dianya sih gak pikirin amat, nah gw-nya ntar yang sewot.

Lalu terus gimana dong? Masa kita berhenti berkarya karena takut dibajak? Masa kita jadi gak nulis blog karena ngeri ada yang main copy-paste? Ini bukannya ibarat gak makan karena takut gendut yak? Itu mah bulimia aje lu! Yaaaaa.. risiko mah emang ada di mana-mana ya. Tapi masa kita jadi gentar sih dengan pembajak-pembajak blog ini?

Makanya gw seneng pas nemu icon 'jangan asal copy paste'. Gw langsung pasang deh di blog pippilotta dan blog ini. Tentu saja memasang icon gak akan memproteksi apa pun yang gw tulis di sini. Paling enggak, ngasi woro-woro dari awal kalo gw berpaham demikian, jadi jangan macem-macem. Ibarat pasang gembok di pintu pager, niatnya kan woro-woro sama maling kalo si pemilik rumah sudah siap memproteksi diri sendiri.

Well, mungkin ada ya ada kode-kode HTML yang membuat tulisan gak bisa dicopy. Tapi disertasi gw bakal di ujung tanduk kalo gw nekat nyari kode-kode HTML itu sekarang, hihihi..

dok: sepatumerah

Gegar Pemula

Sejak gw punya blog, gw mulai membangun hobi baru untuk ngintip blog-blog orang. Berkelana aja dari satu blog ke blog yang lain. Ngeklik sepatu merah, ntar kebawa ke blog-blog entah siapa lagi. Ngeklik siapa lagi ntar kebawa ke kodok ngerock. Ntar ke mana lagi, ketemu bla3x. Dan setiap klik-an itu berarti pengetahuan baru buat gw. Setiap saat pula gw selalu jatuh kagum, betapa ada begitu banyaaaaaaakk orang yang pinter nulis. Senang!

Gw selalu seneng baca tulisan orang. Karena lewat tulisan orang, kita bisa belajar orang lain itu kayak apa. Seneng banget rasanya kalo baca tulisan tentang hal kecil dan sepele, tapi jadi penting bener buat si penulis. Kekekeke, kan gw juga suka gitu. Kecil, tapi berarti. Hayaaah.. kiekeiekiee..

Gw punya blog karena gw lebih suka nulis daripada ngomong. Ehm, bukan nulis sih, ngetik tepatnya, kekekeke. Karena gw merasa pikiran gw bisa lebih runut kalo gw tulis. Karena gw bisa belajar tentang diri sendiri lewat tulisan gw. Kadang-kadang kan gw kali ngetik ya main ngetik hajar bleh gitu aja. Gak pake dipikir-pikir. Abis itu baru dibaca lagi sambil mikir 'Oh, gw tuh gini ya' hihihihi.

Ada satu hal yang gw sadari (plus gw tau dari orang lain) tentang gaya blog gw. Tulisan gw panjang-panjang. Kadang-kadang itu membuat calon pembaca jadi patah semangat sih, karena keburu males baca tulisan panjang. Tapi gimana dong, gw emang demennya nulis panjang-panjang. Kronologis. Lengkap dengan segala detilnya. Karena sekali lagi, hal-hal kecil lah yang bikin sesuatu berarti. Dan hal-hal kecil itu membahagiakan *terharu*

Lalu sejak gw di London ini, gw mulai jadi blogger teratur. Nulis segala macem. Dan gw membangun jati diri gw sebagai penulis sekaligus sebagai pemasar. Gile capek ya bo. Abis nulis, mesti pamer-pamer blog ke orang lain biar dibaca. Hihihihihi. Rasanya puwas aja kalo ada orang seneng baca tulisan kita. Ketika gw nulis, sebetulnya gw tidak membayangkan publik tertentu yang kira-kira bakal baca tulisan gw. Namanya juga tulisan gratisan, ya suka-suka penulis aja, hihihihi. Karena itu rasanya bahagiya aja kalo ada yang seneng sama tulisan gw. Atau kalo tiba-tiba ada orang yang 'protes' karena gw gak update blog. Uhuy!

Dengan jati diri baru gw sebagai blogger, bener-bener deh, ada banyak hal baru yang gw tau. Yang paling sederhana, gw baru tau kalo sepupu gw Diani itu edan nulis juga. Dan gak cuma Diani dong, ada banyaaaaaak banget jagoan nulis blog. Gw suka tersesat sendiri kalo mampir-mampir ke blog orang. Ibarat kena narkoba, gw kecanduan baca blog orang.

Kadang suka minder juga baca tulisan-tulisan orang itu. Wah, dia hebat ya bisa nulis seperti itu. Huhuhu, tulisannya keren banget. Ahay, fotonya menawan. Aduh, ini dia dapet layout dari mana ya. Eh, ada link baru nih, klik aaah. Begituuuu terus. Lalu kalo blog itu terlalu menawan untuk dilewatkan, gw segera add to favorite, biar gak ilang lagi. Lantas besok lusa, gw klik lagi untuk melihat postingan terbarunya.

Duh, gw semakin sulit berkonsentrasi mengerjakan disertasi nih. Ngulik bahasa HTML buat blog, nyari template baru, nyari icon baru buat blog ternyata sungguh mengasikkan! Huhuhuhuhu..

Sunday, August 06, 2006

Acara Tivi Buat Siapa?



Belum lama ini ada protes yang beredar di milis tentang sinetron Aku Cemburu 2 di Indosiar. Ibnu AA yang melakukan protes ini gak habis pikir gimana bisa Indosiar meloloskan sinetron 'kayak gini'. Ada adegan co minta ce segera bugil, co telanjang dada di pinggir kolam renang dengan titit ditutup daun pisang serta keluhan seorang co karena ce-nya gak mau diajak gituan. Sinetron ini diputar Indosiar hari Sabtu jam 22-23 WIB.

Okeh, sabar di boncengan. Sewot jelas boleh. Tapi lebih penting kalo kita jadi menelaah lagi acara tivi yang sering kita tonton. Apa acara-acara itu beneran dibikin buat kita, penonton tivi?

Paham ekonomi berkata, ada permintaan, ada barang. Jadi kalo sinetron Aku Cemburu ini dikenakan paham ekonomi itu, berarti ada dong seseorang somewhere out there yang rikues acara macem gini. Entah lah siapa dia itu, tapi yang jelas ada orang itu. Buktinya ada penulis yang bikin sinetron itu, buktinya ada yang mau memproduksi, buktinya Indosiar mau terima dan nayangin sinetron itu. Berarti, secara hitungan matematis ala anak tivi, sinetron ini ada duitnya laaahh...

Lalu kalo kita menjadi Pak/Bu Ibnu AA, kita mungkin sepakat juga. Bukan sekali dua kali lah kita suntuk sama acara yang ada di tivi. Sinetron yang dibilang mengada-ada lah, Warkop yang slapstick lah, sinetron mistik yang nakut-nakutin orang, kartun yang sadis lah, ada aja pokoknya deh komentar kita sebagai penonton tivi.

Nah, kalo kita protes begitu, artinya kita gak setuju kan sama acara tivi itu. Kita merasa, acara itu tidak untuk kita, sehingga bagi yang kesel, ya mending matiin tivi aja. Ibaratnya pedagang kaki lima di Jatinegara, dagangan jelas gak laku. Wong calon pembelinya gak mampir, apalagi membeli dagangan.

Eh tapi, katanya tadi ada permintaan ada barang. Kalo sebagian (besar atau kecil) dari kita merasa tidak meminta barang dagangan berupa acara-acara katro, lalu siapa yang minta dong? Siapa yang membuat seolah-olah ada permintaan, sehingga kemudian pihak stasiun tivi atau PH membuat sinetron itu?

Hantukah yang meminta?

Coba sekarang kita bayangkan diri kita jadi Raam Punjabi. Doi kan paling sering tuh kena 'tulah' disalahin kanan kiri atas bawah depan belakang karena sinetron-sinetronnya dianggap gak membumi. Tapi dia mah tenang-tenang aja di boncengan. Dia tinggal bilang kalo "pemirsa yang minta" sinetron kayak gitu. Lalu kita pun menjerit "Enak aja! Kan sinetron situ bapuk!". Lantas Raam Punjabi pun tertawa terkekeh, "Situ oke? Nih ratingnya bagus!" Trus kita manyun dong. Rating bagus kan katanya berarti acara disukai penonton. Kalo si 'kita' yang protes ini merasa tidak meminta, apalagi menilai bagus, sinetron tersebut, lalu lagi-lagi pertanyaanya kembali ke situ: siapa yang minta acara ini sebenernya seeh?

Lucu ya ajang saling klaim di kancah pertelevisian ini. Ampe pegel linu, klaim-klaim-an gini bisa gak kelar-kelar.

- Orang TV merasa paham selera penonton, sehingga dia bikin acara A. Acara itu dipasang di prime time, iklan banyak masuk, kantong duit tebel. Bahasa ekonominya jelas: duit banyak karena barang laku; barang laku karena banyak yang nonton.

- Nielsen bilang acara A laku karena ratingnya tinggi. Orang TV mengartikan rating ini sebagai 'sekian persen dari 200 juta masyarakat Indonesia suka acara A', padahal sampel dan populasi riset medianya Nielsen gak transparan juga. Hmm, atau kita memang harusnya mengartikan rating sebagai perwakilan dari sampelnya Nielsen, dan bukan seluruh penduduk Indonesia? Bisa jadi begitu. Tapi kayaknya gak begitu yang terjadi.

- Ada sekelompok orang yang kegerahan sama acara A ini. Alasan yang puwaling sering dipake adalah 'pengaruh buruk bagi anak-anak dan generasi muda'. Atau kalo acara ini diadaptasi dari Amrik (atau negara bulai lainnya), maka alasan yang kemudian diajukan adalah 'pengaruh Barat atau budaya asing menodai budaya Timur' atau 'moralitas'.

- Lalu orang TV bisa aja balik mengklaim bahwa sekelompok orang itu cuma sebagian kecil orang, yang bisa jadi bukan target market dari acara A. Dengan kata lain, ngomong aja sama tembok! Lah wong acaranya bukan buat situ.. Mungkin kurang lebih begitu pembelaan diri dari orang TV-nya.

- Si sekelompok orang ini pun kesel, lalu woro-woro boikot tivi, protes sana sini, atau matiin tivi tanda kesel.

- Sementara si Nielsen, ya tenang-tenang aja. Buat Nielsen kan yang penting membuat rating sebagai kunci utama kesuksesan sebuah acara sehingga orang tivi-nya juga ketergantungan. Ibarat narkoba lah. Sekali terjerumus (halaaah, terjerumuuss), susah berhenti. Ke-dewa-an rating inilah yang tetep dijaga sama Nielsen. Yaaa wajar dong, namanya juga jualan rating...

Trus?

Kekekeke.. Kejar-kejaran aja deh kayak hamster!

Yuk kita kembali ke pertanyaan awal: apakah acara tivi itu beneran dibikin buat para penontonnya?

Urutannya kan begini. Orang tivi bikin program. Program dibikin, dijual ke pengiklan, iklan dipasang. Nielsen pun mulai bekerja, mengumpulkan sampel X dari populasi Y di kota Z untuk dicatet kebiasaan nonton tivi-nya. Angka rating keluar, dikasih ke orang tivi. Orang tivi girang kalo rating tinggi. Rating ini pun langsung dikabarkan ke pengiklan, berikut rate iklan yang tambah besar. Orang iklan ikutan seneng, karena membuncah harapan kalo barang yang diiklankan bakal laris manis tanjung kimpul.

Tunggu, tunggu. Di mana elemen penontonnya neh? Bukankah acara dibuat untuk ditonton oleh kita sang penonton? Apakah elemen penonton hanya di "sampel X dari populasi Y di kota Z" saja? Oh yeah. Seberapa representatifkan X-Y-Z itu untuk mewakili 'penonton'? Gile cing, ada 200 juta penduduk Indonesia nih!

Sekarang mari kita ambil contoh nyata. Sinetron Bawang Merah Bawang Putih. Menurut kawan yang bekerja di RCTI, angka rating melonjak tinggi ketika Bawang Putih disiksa ibu tiri. Satu tamparan, rating naik. Dua tamparan, rating melejit. Nah kalo begini, jelas dibaca Nielsen dan orang tivi dengan cara: "Penonton tivi Indonesia seneng acara tampar-tamparan dalam sinetron. Kita tambahin yuk tampar-tamparannya!" Ya gak sih? Logis dong. Lalu ada yang protes karena acara tampar-tamparan gak baik buat penonton. Jadi, acara ini gak representatif? Lalu, siapa nih yang menjadikan angka rating begitu tinggi? Bisa aja nih Nielsen nyari sampel rating!

Atas kegilaan-kegilaan yang ada, maka gw cuma bisa bilang kalo banyak orang sok tau. Orang TV sok tau. Penonton pun ada yang sok tau. Sementara Nielsen asik dagang. Hiehiehiehie, pegel dah lu. Sok tau bergulir jadi mengklaim. Mengklaim bergulir jadi berasa bener.

Sekarang coba kita mengkritisi keedanan ini. Orang TV atau PH atau siapapun yang berperan dalam membuat program, apa iya pernah nanya ke calon penonton "Hai kamu, kamu pingin nonton acara kayak apa?" Atau, jangan-jangan yang ditanya sama orang TV adalah pengiklan.. "Hai kamu, kamu pinginnya pasang iklan di acara tivi kayak apa sih?"

Atau si penonton yang protes. Kalo dia bilang, acara X berbahaya bagi generasi muda... ah situ sok tau aja kaliiii. Buktinya, yang ngomong toh 'orang tua', bukan si 'anak muda' yang terancam bahaya itu. Atau si 'anak muda' ini masih terlalu lugu untuk mengetahui bahwa acara X ini berbahaya? Atau ketika klaim ini mempertentangkan 'budaya Barat' dan 'budaya Timur', apakah lantas si pemrotes itu lebih tau tentang 'buruknya budaya Barat' dibandingin orang lain? Wah wah. Bukankah itu terdengar seperti klaim kembali?

Huhuhu, jadi pigimana iki?

Selamat menonton televisi! Jangan bengong ah, ntar kesambet lho...

dok: indosiar

Saturday, August 05, 2006

Reality TV: Realita Apa?



Reality TV mulai rame di Indonesia dari tahun 2003. Reality show, begitu kita menyebutnya, yang termasuk generasi awal adalah Spontan. Acara 30 menit yang isinya becandaan slapstick, ngerjain orang di tempat ramai, lalu rame-rame ngomong 'uhuy!' sambil tersenyum lebar-lebar menghadap kamera. Sejak itu, ramailah orang berbondong-bondong bikin reality show. Bisa bikin sendiri, niru, atau mengadaptasi reality show dari Amrik, mengingat acuan acara tivi kebanyakan dari sana.

Apa aja sih realita yang (katanya) ditampilkan oleh tontonan reality show?

Silih berganti, sub-genre reality show juga berubah. Bosen sama becandaan slapstick, gantilah ke reality show berbau selebriti. Mimpi Kali Ye termasuk salah satu reality show pertama yang melibatkan artis. Inget dong, isinya ya 'orang biasa' kepengen ketemu artis. Semakin gokil dan fanatik si fans, semakin mengharu biru lah tontonan itu. Apalagi selalu dibuat drama seolah-olah si artis gak bisa dateng. Kadang-kadang saya heran. Emangnya si calon peserta itu apa gak pernah nonton Mimpi Kali Ye apa ya, kok masih bisa ketipu sama trik kuno kayak gitu.

Masih terkait selebriti, kali ini reality show yang melihat sisi 'orang biasa' dari selebriti. Yang keingetan sama saya sekarang adalah Ketok Pintu, yang diputer pagi-pagi di TV7 (karena saya suka nonton sebelum ngojek ke kantor). Lucu ya reality show ini. 'Orang biasa' mendadak jadi artis, artis pengen diliat versi 'orang biasa'nya. Dunia kebulak-balik.

Udah kelar reality show selebriti-'orang biasa', bergantilah jadi reality show kontes. Kebanyakan sih kontes nyanyi. Tentu saja semua orang ingat betul sama Akademi Fantasi Indosiar. Indosiar emang terkenal nekat buat acara-acara tivi yang sifatnya harian. Dulu, cerita silat digeber harian, sekarang giliran kontes-kontesan yang ditayangin dari hari ke hari. Sampe enek dah tuh tiap hari liat calon-calon bintang itu diasah (ceritanya) untuk jadi penyanyi ternama. Juga tentu saja ada Indonesian Idol, Kontes Dangdut Indonesia dan macem-macem kontes lainnya yang menyusul berikut.

Bosen sama kontes, kali ini giliran hantu-hantuan. Ada Paranoid yang nakut-nakutin orang, sampe kiai-kiai berjubah putih yang nguber hantu dan masukin ke dalam botol di Pemburu Hantu. Belum lagi sesi gambar hantu dengan mata tertutup, yang seringkali berwujud perempuan ala zaman Belanda gitu. Saya dan kakak saya pernah secara khusus mendedikasikan waktu untuk nonton dan terpingkal-pingkal sepanjang nonton acara ini. Edan sumpah Lativi ini, acara nguber hantu kok ya dibikin tayangan live.

Sekarang, tibalah giliran reality show amal. Sepanjang tahun 2005 aja paling enggak ada 22 reality show amal. Yang paling keinget orang palingan sih Uang Kaget di RCTI. Acara ini emang dasyat, bertahan dari akhir tahun 2004 sampai sekarang, perolehan rating bagus, pernah dapet Panasonic Award pula. Ketika saya bilang dasyat, maka ini berarti secara ekonomis. Soal penting enggaknya, ngaruh enggaknya acara ini buat yang nonton, itu lain perkara.

Oke, mari kita berhenti di sini sebentar.

Sekarang coba kita kembali sebentar ke kata 'reality'. Realitas, dalam bahasa Indonesia. Artinya: kenyataan. Acara semacam ini emang semena-mena dianggap merepresentasikan realitas karena 'tokoh' dalam acara ini bukan aktor atau artis yang belajar akting. Juga, katanya, gak ada skenario, naskah atau skrip. Namanya juga 'reality show', ya gak sih? Nama programnya kan menyiratkan 'keaslian' alias kenyataan.

"Real people, real action, real emotion," katanya begitu yang mau ditangkap sama reality show. Padahal, seperti kata Ratna Mahadi dari Antv, reality show tetep punya skrip. Dia sendiri menyebut konsep acara ini sebagai 'realita yang diarahkan'. Haha. So what's so real about reality show then?

Coba sekarang kita mengingat acara Spontan. Kalo AFI? Paranoid? Pemburu Hantu? Uang Kaget? Apa iya itu semua bener-bener berusaha menangkap realita?

Kalo saya jadi produser acara TV, pastinya saya sinting kalo bener-bener pengen menangkap realita as-it-is. Caranya gimana? Naro kamera di tengah pasar, lalu nangkep reaksi orang terhadap kamera itu? Widih, udah gila apa. Program kayak gitu mau dijual pigimana? Lalu kemudian dibuatlah sebuah skrip. Kamera ditaro di pasar, lalu enaknya ada kejadian apa yah yang ditangkap (sebagai sebuah realita) oleh kamera? Coba deh ngerjain orang, trus diliat gimana reaksinya, mungkin seru juga. Atau didatengin selebriti ke situ yang pura-pura jadi pedagang ikan? Hm, boleh juga.

It's a conducted reality after all, rite mate? Sebagai suatu bisnis dengan putaran uang yang begitu besar, tentu saja acara TV gak akan dibuat tanpa pertimbangan ekonomi. Dan dengan pertimbangan ekonomi itulah, terlalu berisiko kalo 'merelakan' kamera menangkap realita begitu aja, tanpa dipoles-poles dikit di sana sini.

Jadi, kalo kita nonton reality show, realita apa dong yang tengah kita tonton? Wong semuanya juga berdasarkan skenario, sesederhana apa pun skenario itu. Kalo reality show ternyata tetep melibatkan skenario, lalu apa bedanya dengan sinetron? Apa disebut 'reality show' jika tokoh ceritanya adalah 'orang biasa' dan bukan 'bintang sinetron'? Lalu kalo salah satu janji reality show adalah menangkap realita, apa bedanya reality show sama dokumenter? Hmm, jadi mirip juga dong sama segmen vox-pop di acara berita televisi?

Dalam buku Reality TV: audiences and popular factual television (2005), Annette Hill bilang kalo "Reality TV is a catch-all category that includes a wide range of entertainment programmes about real people. Sometimes called popular factual television, reality TV is located in border of territories, between information and entertainment documentary and drama." See.. reality show emang ada di wilayah abu-abu. Ibarat masa remaja, masih terombang-ambing tuh jati dirinya (kiekiekeieke).

Jadi, kenapa dong teteup kekeuh disebut sebagai 'reality show' kalo kenyataannya yang ditangkap bukanlah realita, seperti yang dijanjikan? Hahaha.. nah lho nah lho! Pesan moralnya begini. Jangan percaya reality TV yang ngaku-ngaku menangkap realita. What's so real about that anyway?

dok: ioffer

Tuesday, May 02, 2006

Arianto

Pengantar:
Di Indonesia, Anda mungkin tak pernah mendengar nama Arianto. Kalau menyandingkan nama Arianto dengan neurofibroma atau tumor di wajah kanannya, apakah Anda lantas kenal dengan Ari? Tak apa. Ari hanyalah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang punya cacat di wajahnya.

Pertemuan tak sengaja dengan Ari di London, membawa reporter KBR 68h Citra Prastuti berkenalan dengan Ari dan perjalanannya dari Jakarta ke London untuk mendapatkan operasi pengangkatan tumor seberat nyaris 1 kilogram dari wajah sebelah kanan Ari. Citra sempat berbincang dengan Ari dan hendak membaginya bersama Anda.




BAGIAN 1

Nama saya Ari. Untuk kehidupan yang tahun-tahun depan mungkin lebih cerah daripaa tahun-tahun kemarin. Mungkin bisa lebih baik daripada yang dulu.

Laki-laki muda itu baru berusia 20 tahun. Idolanya adalah penyanyi rap Eminem dan ia bergaya serupa Eminem. Dengan jaket dan celana training berbahan kaos warna putih dan gombrang, juga dengan gel yang membuat rambutnya jigrak, Ari menyelipkan earphone hitam di lubang telinganya. Lantas memastikan disc man-nya terselip rapi dalam kantong jaket.

Wajahnya sudah dipermak lewat operasi sebanyak lima kali. Kini tak ada lagi tumor seberat nyaris satu kilogram di sisi kanan wajahnya. Tumor itu membuat Ari bertahun-tahun seperti memiliki dua wajah yang terpisah.

Kedatangan Ari ke London akhir tahun lalu adalah yang kedua kali, menjalani operasi wajah di Rumah Sakit Chelsea and Westminster. Sehari-hari, Ari tinggal sendiri di kamarnya di Mary Ward House, di tengah kota London. Kamarnya kecil saja, tapi cukup nyaman dengan dinding kamar bercat warna kuning terang. Ada satu tempat tidur dan dihadapannya terletak TV 14 inchi, alat pemutar DVD serta Playstation

Di bawah jendela, Ari membuat kalender sendiri. Dari kertas polos warna putih yang dipotong persegi. Ari menulis tanggal serta nama hari di sana, dalam bahasa Inggris, bahasa yang masih asing bagi lidah dan telinga Ari. Di situ tertera 14, Friday. Hari terakhir Ari di London sebelum pulang ke Indonesia.

Mungkin lebih beda. Kalau waktu dulu kan penyakitnya masih ada, sekarang kan sudah agak berkurang.

Ari mengidap penyakit neurofibroma, penyakit yang berbentuk benjolan, seperti daging yang lembut, yang berasal dari jaringan saraf. Pertama kali Ari merasakan ada benjolan tersebut saat ia berusia 7 tahun, ketika ia masih tinggal bersama keluarganya di Desa Umbuljoyo, Lampung.

Kelihatannya bola mata yang hitam itu berubah putih. Ari tambah besar, katanya ada bintik-bintik di bagian muka. Lantas tambah umur, jadinya besar. Sudah berapa tahun ini penyakit Ari. Untuk mengingatnya susah juga. Bukannya gak mau, tapi susah untuk mengingat. Yang jelas dari mata terlihat putih semua. Dari pipi itu ke Kalau ganas, maka dia nambah umur tiap tahun. Ini membesarnya nggak setiap tahun, mungkin beberapa tahun.

Sejak itu, hidup mulai tak terlalu menyenangkan bagi Ari kecil. Ia harus menanggung tatapan jijik dari orang yang melihat dia, mesti menunduk saat orang melihatnya dengan pandangan aneh. Benjolan di sisi kanan wajah Ari tumbuh teramat besar, bahkan lebih besar dari ukuran kepalanya sendiri. Benjolan berat itu membuat leher Ari terancam patah akibat menanggung beban terlalu berat. Benjolan yang membuat Ari tampak berbeda.

Dulu pas lagi masih sekolah, ya sering ada anak-anak yang nggak suka. Mungkin ya menjauhi Ari. Gak pernah nyakitin (fisik) sih, tapi dengan kata-kata. Bukan dengan pukulan. Bilangnya, jangan deket anak itu, nanti ketularan atau apa gitu. Ada yang bilang, tapi ya biarin aja, nanti yang di atas kan lebih tau daripada Ari.

Ari memilih untuk menyimpan sendiri rasa sakit hatinya.

Gak banyak cerita juga Ari sama orang tua. Kalo ada apa-apa, Ari pikir saja sendiri untuk gimana kalau bisa biar tenang.

Ari lahir dan besar di kampung kecil di Lampung, bersama orangtua dan tiga adik perempuannya. Ibu dan Bapaknya adalah petani penggarap.

Di rumah juga bantu-bantu orangtua. Apa gitu. Pernah ikut mengarit padi, untuk apa saja yang disuruh atau dilakukan orangtua.

Ari hanya sekolah sampai di kelas 2 SD saja, lantaran tak ada biaya dan tak sanggup menghadapi tatap mata orang lain. Hingga kini, di usianya yang ke-20, Ari mengaku masih kesulitan membaca rangkaian tiga huruf sekaligus. Justru di London ia berkesempatan belajar baca tulis lebih baik.

Pak Wilbert. Tapi untuk menyatukan itu berpikirnya sangat susah. Kalau tiga disatukan itu susah, masih bingung.

Wilbert yang disebut Ari adalah orang yang mengajarkan baca tulis selama Ari tinggal di London. Laki-laki paruh baya ini adalah warga negara Belanda yang cakap berbahasa Indonesia setelah 30 tahun lebih tinggal di Jakarta. Laki-laki paruh baya ini yang sehar-hari mendampingi Ari ketika Ari sendirian melalui operasi-operasi penting bagi dirinya, di tengah negara berbahasa aneh bagi telinga Ari.

Ada sih sedihnya, pas lagi di rumah sakit, gak ada yang bisa nemenin gitu.
Orang Kedutaan juga jarang ngontak. (Mereka) nggak tahu kalau Ari sudah punya nomor telfon, tapi kalau itu, mereka nggak pernah ngontak kita. Cuma sekali dua kali saja. Cuma gitu saja. Mereka bilang ‘Kalau ada apa-apa bisa telfon saya di sini, nomor saya ini’. Tapi dikontak, mereka tidak datang. Ada Ibu Wilbert yang ngontak, tapi mereka nggak datang.

Sampai Ari pulang pertengahan Maret lalu, tak ada kontak lagi antara Ari dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia.

BAGIAN 2

‘Wajah adalah jendela hati’. Pakem inilah yang dipegang yayasan non-profit yang berbasis di London, Facing the World. Yayasan ini didirikan oleh dokter-dokter bedah ternama Inggris, yang khusus menangani kasus seperti Ari.

Ari bukan satu-satunya pasien yang pernah ditangani dokter-dokter yang tergabung dalam yayasan ini, meski ia satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Ada Angela dari Honduras, Hadisa dari Kabul, Kalyani dari India, serta enam anak lainnya dari berbagai penjuru dunia.

Di Indonesia dua kali, eh tiga kali. Di sini dua kali. Total lima kali. Di Indonesia, bagian mata dan hidung. Mata diambil. Hidungnya, tadinya kan ada tulangnya, jadi gak ada. Di sini, operasinya bagian pipi, di sini ya semua. Dari pipi, mata, hidung.

Ari beruntung bisa memperoleh operasi gratis untuk memperbaiki struktur wajahnya. Tiga kali ia dioperasi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sampai akhirnya dokter di tanah air menyerah. Peralatan serta kemampuan kedokteran yang tersedia ternyata tak mampu membuat Ari tampak seperti anak lainnya. Normal.

Perjalanan Ari memang cukup lama sebelum akhirnya berkesempatan dioperasi di London. Sebelumnya, ia sempat muncul di dua stasiun televisi swasta untuk mendapatkan sumbangan demi operasi wajahnya. Lantas ia hijrah ke Jakarta dan ditampung di Yayasan Sinar Pelangi, sebelum akhirnya terbang ke Inggris.

Waktu itu.. kok bisa? Ari pikir, ah mungkin nggak bisa. Ari tunggu terus, ada panggilan dari sini. Lantas 2004 berangkat pertama kali ke London.

April 2004, Ari tiba di London dan sebulan setelahnya mendapat operasi pertama. Operasi yang dilakukan 15 dokter bedah ini berhasil mengangkat satu kilogram tumor dari wajah Ari. Untuk pertama kalinya, mata, hidung dan mulut Ari ada dalam kondisi agak sejajar.

Satu setengah tahun kemudian, tepatnya bulan Desember 2005, Ari kembali ke London untuk menjalani operasi lanjutan. Kali ini, operasi diarahkan pada bagian dagu, bibir serta mengganti tulang hidung yang hancur akibat desakan tumor. Dengan hidung barunya, kini Ari bisa bernafas lewat kedua lubang hidungnya serta bisa makan dan berbicara dengan lebih baik lagi.

Ya lebih sama kayak yang kiri. Lebih sama. Tapi ya nggak sama 100 persen, tapi agak ke bawah sedikit. Tapi ya sudah. Kalo sudah kayak gini mau diapain lagi.(Kalau boleh minta operasi lagi?) Katanya sih mau dioperasi lagi, kurang tahu sih.
Kalo dipegang, ya masih ada rasanya. Meskipun sarafnya udah mati. Rasanya kayak kulit biasa.

Kini Arianto punya wajah baru.



BAGIAN 3

Ada senengnya, ada sedihnya juga. Jauh. Mungkin kalau jauh dari orangtua itu sudah terbiasa, tapi kalau ini terlalu jauh. Untuk kontak saja sulit.

Ari memang sering tinggal berjauhan dengan orangtuanya. Sejak ia hijrah ke Jakarta dan tinggal di Yayasan Sinar Pelangi, hanya beberapa kali saja ia menghubungi rumah. Maklum, di rumahnya tak ada telfon, sehingga ia hanya bisa menyampaikan kabar lewat temannya. Di yayasan, Ari mulai menjalin kekariban dengan teman-teman senasib di yayasan. Sama-sama cacat.

Karena tempatnya itu kan yang ada cuma anak-anak itu saja. Ya mungkin lebih aman juga. Tapi ya tergantung. Kalo ada orang yang baru datang dari mana dan lihat anak-anak yang lain juga, mmm beda. Kirain cuma Ari saja yang cacat, tahunya pas Ari lihat di yayasan, lebih banyak dari yang Ari kira.

Tahun 2004 dan 2005, ia dua kali ke London untuk waktu yang lama dan nyaris tak bisa menghubungi sanak saudara di rumah. Sinyal buruk, begitu kata Ari. Lagipula, telfon selular yang selalu disangkutkan Ari di kerah kaosnya itu baru didapatnya beberapa bulan lalu. Diberikan oleh dokter yang merawatnya.

Di London, Ari tinggal di sebuah tempat penginapan bernama Mary Ward House. Kamar Ari terletak di bawah tanah. Kamarnya berukuran sedang. Ari lantas menunjuk televisi 14 inchi, DVD player dan playstation yang ada di kamarnya. Dibeliin pemilik rumah, begitu penjelasan singkat Ari.

Selama di London, Ari lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Berjalan-jalan sendirian, turun naik bus menuju rumah sakit tempat ia dirawat dan dioperasi.

Kontrol, periksa gimana keadaannya. Di-scanning, periksa darah. Lantas untuk beberapa minggu langsung operasi.

Banyak orang menyebut orang Inggris itu dingin dan tak ramah. Tapi kesan itu tak melintas di benak Ari. Bagi dia, orang-orang Inggris justru ramah, tak seperti orang Indonesia.

Orang sini biasa aja. Malah di sini lebih, orangnya lebih ramah. Lebih enak. Kayaknya kalau kita tau bahasanya, lebih kita bisa berteman lebih dekat.
Ya. Kalo di Indonesia kan orang-orang yang belum tau kan… Nah kalo di sini kan orang-orangnya tahu (kalau) ini kenapa. Kalau di Indonesia kan efeknya lain. Ada yang efeknya jijik atau gimana gitu.

Di koper Ari, sudah tersimpan baik-baik kenangan akan Inggris. Sekotak coklat untuk oleh-oleh teman-teman di yayasan, selembar kaos tim sepakbola Inggris, selembar kaos kesebelasan Fulham (baca: Fulem) lengkap dengan tandatangan seluruh pemainnya serta kenangan tiga kali menonton bola langsung dari stadion, tak hanya di layar kaca saja.

Ari menutup koper, siap pulang. Kalender buatan Ari di kamar menunjukkan angka 14 dan hari Jumat. Hari terakhir Ari di London.


BAGIAN 4

Keterampilan, ada sih. Tapi belum terlalu bisa untuk bikin sendiri karena belum tau banyak. Mungkin harus belajar dulu untuk bikin sesuatu, mainan apa gitu yang dari kayu.

Sebelum mahir bertukang, Ari sudah mengasah kemampuan montirnya. Ia mengaku bisa memperbaiki sepeda motor bebek dari berbagai merk. Setelah rampung operasi yang membuat wajahnya tampak lebih baik, Ari mulai memikirkan kemungkinan bekerja.

Sesudah operasi, bisa sedikit bekerja. Soalnya kalau anak cacat kan kalau di Indonesia kan untuk cari kerja itu sangat-sangat sulit. Sangat sulitnya itu kita mau kerja apa. Soalnya kalau di Indonesia kan lihat Ari saja ih gimana gitu. Kayak orang jijik. Buang ludah.

Dulu, Ari merasa tak berguna sebagai manusia ketika wajahnya belum dioperasi. Tapi kini, ia mulai bisa merencanakan masa depannya. Sepulangnya ke kampung halaman kelak, ia berencana hendak mengumpulkan teman-teman masa kecilnya serta mengajak mereka membuka usaha bengkel motor bersama.

Mungkin ada beberapa teman di kampung yang bisa ngajak kompromi, gimana. Misalnya buka bisnis bareng dia. Bisa Ari telfon dan kontak ke London untuk minta bantuan, bahwa Ari butuh peralatan ini gitu. Kontak lah. Dokter pernah bilang, kalau bisa, apa yang bisa Ari perbuat, dia bisa membantu dari sini.

Meski sudah punya rencana untuk masa depannya kelak, Ari enggan menyebutnya ‘cita-cita’. Bagi Ari, cita-cita itu milik anak-anak.

Belum ada sih. Menulis saja belum begitu, untuk cita-cita.. belum kepikiran untuk cita-cita. Kalau kita, kalau masih kecil, cita-cita itu masih bisa diharapkan. Untuk Ari.. untuk berpikir yang lebih tinggi itu sulit.

Apalagi memikirkan soal pasangan…

Untuk naksir cewek, belum belum begitu penting untuk hidup Ari. Yang penting sekarang kesembuhan dulu. Kalau sudah sembuh mikirin yang apa kek apa.

Bagi Ari, yang lebih penting sekarang adalah dia sudah tampak ‘berbeda’, alias semakin mirip dengan anak-anak lainnya. Anak-anak normal. Sehingga Ari bisa mendapatkan kembali kehidupan normalnya.

Mungkin lebih penting normal ya. Untuk kehidupan nanti, gimana ya. Kalo gini terus kan gak bisa juga untuk bekerja atau apa. Untuk berpikir.

Dan untuk itu, Ari tahu ia tak boleh berputus asa.

Reportase Citra Prastuti, dari London.

[Radio 68h, Mei 2005]

Thursday, November 10, 2005

Apa Itu 'Film Nasional'?

Ini dimulai dengan pertanyaan mendasar dan sangat penting 'apa itu film nasional?'



Kalau kita mengacu pada film di Indonesia, mari coba kita lihat. Sherina dibikin Mira Lesmana, yang pernah sekolah di Australia. Untuk Rena digarap Riri Riza, yang mengambil kuliah S2-nya di Inggris. Arisan yang dibuat Nia Dinata, juga pasti ada lah ngaruhnya dari hasil sekolah dia di Amerika. Tentu nggak melulu latar belakang pendidikan (di luar negeri) yang harus jadi acuan di sini. Nah kalau Eiffel I'm in Love, latar belakang film itu sebagian adalah Paris, Perancis. Atau film-film jaman Catatan Si Boy dulu, banyak yang ber-setting Amerika.

Atau coba kita ambil film Hollywood. Misalnya Independence Day. Film yang bercerita tentang serangan alien ke Amerika Serikat (alias juga ke seluruh dunia itu) sangat kental nuansa 'patriotis'-nya. "Amrik banget deh," kurang lebih begitu. Tapi ternyata sutradaranya adalah orang Jerman. Nah lho. Patriotisme mana yang masuk ke dalam film itu, Amerika atau Jerman?

Ada banyak cara untuk melihat suatu film, mencoba memberi label apakah suatu film itu film nasional atau bukan. Pertama, apakah film ini dibuat dari industri dalam negeri alias domestik? Kedua, apa yang mau disampaikan dalam film ini? Ketiga, siapa yang mengkonsumsi. Keempat, dilihat dari segi 'kritis' yang 'mengharapkan' suatu film nasional adalah 'film berseni' (ah, apa pula itu 'berseni' toh?).

Lalu cara lain juga untuk melihat suatu 'film nasional' katanya adalah melihat dari national identity yang ada di dalam film tersebut. Lantas kemudian kita bertanya lagi dong, apa itu identitas nasional? Apa itu 'orang Indonesia'? Apakah orang yang tinggal dari Aceh sampai Papua itu adalah orang Indonesia? Atau mereka yang mengusung paham NKRI adalah orang Papua? Gimana dengan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, apakah mereka boleh juga menyebut diri sebagai 'orang Indonesia'?

Nah, datanglah Benedict Anderson dengan definisinya tentang nation as an imagined community. Sebagai sebuah komunitas yang punya secure and shared identity serta sense of belonging. Artinya, ini sama sekali tidak terbatas pada batas-batas geografis dan politis. Ya toh? Dan ini semakin sulit membuat definisi dari 'film nasional' itu sendiri. Karena tak mesti tinggal di wilayah geografis Indonesia untuk bisa menyebut diri sebagai orang Indonesia yang punya alur pikiran Indonesia, dsb.

Lalu, film yang dibuat oleh orang Indonesia yang sejak kecil tinggal di luar negeri lalu dia membuat film tentang Indonesia, apakah karyanya bisa dianggap 'film nasional'? Secara content, iya, tentang Indonesia. Tapi kalo diliat secara ekonomi, ini kan tidak dibuat di bawah kerangka industri domestik alias dalam negeri.

Definisi 'film nasional' sempat dilihat sebagai perlawanan terhadap film Hollywood. Ah masa iya selalu begitu? Rasanya enggak juga. Karena film-film Hollywood itu terhitung curi start, maka dia sudah mengukuhkan 'standar' tentang bagaimana itu narasi film yang bagus, bagaimana itu marketing film yang efektif dan bagaimana itu efek dramatisasi yang menawan. Konsep itu kemudian diimpor dari 'barat' ke 'timur' dan jadilah industri film di 'timur' terhegemoni dengan konsep film ala Hollywood. Dan ini membuat kita ketika menonton Eiffel I'm in Love ketika di adegan Sandy Aulia berlari-lari karena salah menunggu di bandara Soekarno-Hatta dan lantas bertubrukan dengan Samuel Rizal, seketika terlintas "Ah ini adegan Hollywood banget." Paling tidak di kepala saya sih terlintas pikiran itu.

Lantas ada kategorisasi lain, berjudul cultural identity of national cinema. Isinya adalah apa yang disampaikan dalam film, cara pandang serta gaya narasi serta representasi yang digunakan dalam film tersebut. Ah, ini makin sulit lagi mendefinisikan film nasional. Indonesia saja punya budaya yang begitu beragam, mana yang disebut sebagai 'budaya Indonesia'? Lantas kalaupun ada konsep 'budaya Indonesia' maka pastilah itu propaganda dari pemerintah (NKRI, budaya timur, atau apalah itu namanya). Lantas kalaupun kita terima apa itu 'budaya Indonesia' artinya dalam film nasional ada internal cultural colonialism. Idih, gak asik banget gak sih. Kita dijajah sama film sendiri tentang makna nasionalisme. Yang kebayang, langsung film G30S/PKI yang wajib ditonton jaman dulu (damn, itu penulisan PKI aja juga fait-a-compli serta propaganda luar biasa toh?). Dari kategori ini lantas disimpulkan lagi bahwa film nasional tidak serta merta merefleksikan identitas diri dan budaya yang sifatnya homogen. Setuju.

Atau ada juga kategori inward-looking dan outward-looking. Yang pertama adalah dengan memperhatikan kondisi ekonomi, sosial dan politik di negara masing-masing. Yang kedua maksudnya adalah mencari identitas film nasional dengan membandingkan dengan film negara lain. Misalnya, ketika kita lihat film Full Monty maka itu kita anggap film "Inggris banget". Lalu kita memecahnya jadi beberapa identifikasi (mengapa kita menganggapnya 'Inggris banget' gitu) dan membandingkannya dengan film Indonesia. "Saya cakep karena kamu jelek" gitu deh gampangnya, hihihi.

Andrew Higson menyampaikan tiga wanti-wanti yang bisa dipakai untuk melihat apa itu film nasional. Pertama, sirkulasi film. Kedua, bagaimana penonton 'menggunakan' film tersebut. Ketiga, hubungan antara sirkulasi film dengan kemungkinan mencapai penonton yang berbeda. Nah lho, yang ketiga ini emang rada ribet. Karena bisa dilihat dari intellectual discourse, yaitu film nasional adalah film yang 'berkesenian' dan populist discourse, yang melihat film nasional sebagai hiburan massal yang mendaur ulang mitos-mitos yang populer di tengah masyarakat. Ah ini kok makin ribet lagi. Setuju gak?

NAH, kebingungan mendefinisikan film nasional tidak berhenti di sini saudara-saudara. Kenapa? Karena argumentasi yang dari tadi diajukan Andrew Higson itu seolah mengklaim bahwa 'identitas nasional' adalah sesuatu yang udah saklek dan terbentuk matang. Padahal, kalau lagi-lagi mengacu pada Benedict Anderson dengan imagined community-nya, coba, gimana kita mendefinisikan 'identitas nasional'. Ini kan masih on-going process juga, karena identitas nasional itu selalu berproses. Gitu bukan?

Nah hal lain yang luput diperhatikan Andrew Higson di tulisan pertamanya tentang inward-looking dan outward-looking. Asumsi itu ternyata dianggap problematik (anjrit, 80-an banget.. 'problematik') karena (1) seolah-olah identitas nasional itu sudah jadi dan matang (2) karena sulit betul menegaskan 'batas nasional' karena dunia ini sudah menjadi oh begitu global dan transnasional. Betul kan?

Ngehe-nya, di tulisan kedua Higson ini (yang isinya kurang lebih 'koreksi' atas tulisan pertamanya yang dibuat 10 tahun silam), Higson malah mempertanyakan kembali pertanyaannya. "Penting gak sih mendefinisikan apa itu 'film nasional'?" Dwoooh. Kayak Olin aja nih di film 30 Hari Mencari Cinta... huhuhuhu. Trus dari tadi ngapain kita ngomongin soal kategori-kategori dan ways to define 'national cinema'?? Plis deeehh...

Higson mengakhiri tulisannya dengan kesimpulan bahwa it is inappropriate to assume that cinema and film culture are bound by the limits of the nation-state. Juga bahwa to make assumptions about national specificity is to beg too many questions.

It doesn't seem useful to me to think through cultural diversity and cultural specificity in solely national terms : to argue for a national cinema is not necessarily the best way to achieve either cultural diversity or cultural specificity.

Ngarti? Jadi ngapain capek-capek nulis segala macem cara mendefinisikan 'film nasional' kalau ternyata "tidak penting untuk membicarakan apa itu 'film nasional'"? Huaaaaaa...

[Terinspirasi Andrew Higson dalam "The Concept of National Cinema" (1989) dan "The Limiting Imagination of National Cinema" (2000)]

dok: sinemaindonesia

Saturday, November 05, 2005

Lebaran

Lebaran di London, Inggris, tak seperti di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia, yang ditandai dengan hari libur plus cuti bersama. Di sana, kehidupan bergulir seperti biasa. Jalanan tetap macet, orang-orang tetap bekerja dan tidak ada hari libur. Reporter 68h, Citra Prastuti, saat ini tengah berada di London untuk melanjutkan studinya. Bagaimana dia dan juga warga Indonesia lainnya di kota tersebut merayakan Lebaran, jauh dari kampung halaman? Berikut laporan Citra Prastuti dari London.

Kalau kemarin pagi saya ada di Jakarta, saya pasti sudah dibangunkan dengan gemuruh takbir dan beduk yang bertalu-talu. Tapi pukul 7 pagi di London kemarin sama seperti pagi-pagi lainnya. Dingin mulai menusuk di hari-hari awal musim gugur. Jangan terlalu berharap kehangatan suasana Lebaran di sini.

Di kota London, diperkirakan ada satu juta umat Muslim yang tinggal di sini. Kalau ditotal dari berbagai penjuru Inggris Raya, kira-kira ada sekitar dua juta umat Muslim yang datang dari berbagai belahan dunia. Kalau kita bergerak menuju daerah pemukiman Muslim, barulah terasa nuansa hari raya. Orang-orang tampak keluar rumah dengan pakaian yang lebih istimewa. Tak sekadar baju kerja atau sekolah yang mereka pakai sehari-hari.

London Central Mosque, mesjid terbesar di London, menunjukkan kemeriahan itu.

Ratusan orang tumpah ruah di mesjid yang rampung dibangun tahun 1978 silam ini. Berbagai macam bentuk rupa manusia ada di sana, dengan beragam warna dan atribut diri, semuanya memancarkan kegembiraan hari raya. Mesjid yang dirancang Sir Frederick Gibberd ini sanggup menampung 1800 jemaat, dengan ornamen khas Islam dengan dominasi warna biru di balik kubah besar berwarna emas.

Warga Indonesia yang tinggal di London dan sekitarnya lebih memilih melaksanakan shalat Idul Fitri di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Grosvernor Square. Kantor KBRI London ini letaknya berdekatan dengan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat, di kawasan cukup elit, tak jauh dari tempat belanja nan hiruk pikuk, Oxford Street. Meski kantor diliburkan untuk urusan visa dan sebagainya, suasana di dalam sungguh riuh. Celetukan bahasa Indonesia mulai ramai terdengar di sana sini, bercampur tuturan bahasa Inggris yang fasih dari anak-anak kecil.

Bagi Rizki Fona, ini adalah lebaran kedua tanpa keluarga. Sejak Februari lalu, Kiki, panggilan akrabnya, melanjutkan studi S1-nya di London Metropolitan University. Perempuan berkacamata ini kangen betul berlebaran di rumahnya.

(Gimana rasanya lebaran dua kali tanpa keluarga?) Bete sih sebenernya… sebenernya sih bete.



Bagi Kiki, Lebaran juga berarti keriaan berburu makan gratis.

Biasanya, seperti kayak di Jakarta sih. Shalat Ied dulu pagi-pagi. Kalau yang mahasiswa biasanya hunting makanan gratis di Mawar Restoran di Edgware, lalu siangnya kita ngumpul di rumah dutanya, makan siang bareng.

Mawar, yang disebut-sebut Kiki, adalah nama sebuah restoran yang menyajikan makanan Malaysia, yang rasanya mirip dengan masakan Indonesia. Setiap Lebaran, restoran ini mengkhususkan diri menyajikan makanan gratis, demi bersama-sama merayakan hari raya.

Kalau Kiki rindu rumah, Aidinal Al Rashid justru lebih sulit berhitung berapa kali bisa berlebaran di kampung halamannya, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia sudah nyaris 30 tahun tinggal di London bersama keluarganya dan kini bekerja di British Council. Aidi, yang juga Ketua Federasi Pencak Silat Inggris Raya, mengaku selalu menyempatkan diri cuti saat Lebaran. Suasana lebaran dari tahun ke tahun, bagi Aidi, terasa makin semarak.

Kalau lebaran itu tambah lama tambah meriah kayaknya. Waktu saya pertama datang, 30 tahun yang lalu, umat Islam di Inggris ini belum terlalu banyak. Sejak jaman reformasi ini, KBRI ini sudah jauh lebih terbuka. (Jaman dulu memangnya?) Jaman dulu itu KBRI itu agak sedikit angker. Maklum saja, jaman Orde Baru dulu, masyarakat biasa kadang-kadang nggak terlalu ditanggap, kecuali bos-bos lah, atau anak-anak bos…

Ah, tak usah risau. Suasana halal bihalal, berkumpul bersama kerabat seperti layaknya Lebaran di rumah sendiri, tetap bisa dilakukan di London. Bahkan warga Indonesia yang tinggal di luar kota London, banyak yang mengkhususkan diri untuk melancong demi berlebaran dengan kerabat dan teman dekat di sini. Termasuk jika harus berkelana naik kereta minimal satu jam lamanya.

Bagi mahasiswa, banyak yang memilih bolos. Sementara mereka yang sudah bekerja, harus mengajukan cuti dahulu kalau mau berlebaran dengan tenang.

Walaupun banyak orang Islam di Inggris Raya ini, Idul Fitri bukan tanggal merah. Jadi kayak saya dan teman-teman yang kerja terpaksa ambil cuti untuk merayakan. (pernakah ada dorongan untuk menjadikan lebaran sebagai hari libur?) Kayaknya belum pernah ya. Pernah ada dari masyarakat umumnya, masyarakat Islam di Inggris, yang mulai berpikir bahwa kita memberikan kontribusi ekonomi dan politik yang mulai besar, terutama ekonomi ya. Sedangkan kita itu nggak diakui hari besar kita. Nah, sementara ini dari pemerintah sikapnya itu, oh ya bisa aja ambil cuti sehari, dikasih special leave, tergantung instansi masing-masing. Tapi belum sampai di tahap dijadikan tanggal merah, itu belum.

Lalu di manakah tempat bagi mereka yang merindu dan ingin menikmati sajian makanan lebaran khas Indonesia? Wisma Nusantaralah tempatnya.

Tempat halal bihalal ini bernama Wisma Nusantara. Lokasinya di daerah East Finchley, berjarak sekitar 20 menit dari pusat kota London, jika perjalanan ditempuh dengan menggunakan kereta bawah tanah. Dari stasiun kereta, masih harus berjalan lagi sekitar 15 menit, di tengah deru angin musim gugur yang mulai menusuk tulang.
Wisma ini adalah rumah dinas duta besar Indonesia untuk Inggris. Setelah Juwono Sudarsono didaulat menjadi Menteri Pertahanan, posisi duta besar sampai sekarang masih kosong. Menurut staf KBRI, Marty Natalegawa, sebagai pengganti Juwono, baru akan datang setelah Lebaran nanti.

Rumah berbata merah ini berukuran besar, terletak di daerah perumahan yang terbilang tampak lengang. Di daerah ini juga, penyanyi Mick Jagger dan George Michael pernah bertempat tinggal. Untuk menambah luas arena halal bihalal, di bagian belakang rumah ditambah lagi dengan tenda tertutup berwarna putih yang terdiri dari dua bagian, satu di tengah dan satu di kiri.

Dan di sini, suasana jauh lebih ramai lagi.

Makanan yang disajikan juga mengundang selera. Paling tidak, memuaskan rindu pada masakan Indonesia terhitung sulit dimasak sendiri. Ada opor ayam, rendang, kentang kering, serta gulai nangka dan kerupuk. Lalu di meja camilan, ada bajigur, minuman bersoda, juga kue lumpur dan pastel. Bayangkan kalau makanan seperti itu harus dimasak sendirian di dapur asrama…

Othniel Lande termasuk warga perantauan yang tak bisa ikut bertemu kawan-kawan setanah air di Wisma Nusantara. Ia tak bisa cuti Lebaran. Sebagai penjaga malam di kantor KBRI, ia mesti masuk, menggantikan teman kerjanya yang lebih dahulu cuti. Artinya, ia harus melewatkan sepanjang hari Lebaran kemarin berjaga di kantor KBRI seorang diri. Pun, jauh dari keluarga di Jakarta.

Temen saya itu satu pulang. (sendirian dong pak?) Iya nih, saya ambil alih sementara jadinya. (wah jadi dubes sementara dong pak?) Hahahaha.

Selamat Lebaran semuanya.

Citra Prastuti, London, Inggris.

[Radio 68h, November 2005]

Monday, May 09, 2005

Perempuan-perempuan Joe

Mula-mula saya pikir perempuan-perempuan yang ada di tayangan reality TV Joe Millionaire Indonesia itu pasti perempuan bodoh. Jelas bodoh, karena mereka mau saja disuruh tampil di depan televisi (yang artinya ada di hadapan puluhan juta pasang mata di seluruh Indonesia) dan memperebutkan satu laki-laki yang milyuner bohongan.

Mula-mula juga saya kasihan sama mereka, karena terperangkap dalam konsep-konsep buatan manusia dalam rangka memperebutkan sesuatu. Perempuan tercantik lah yang akan dipilih, sementara yang kurang cantik, maka pulang lah kau dengan tangan hampa. Sang laki-laki pun punya kesempatan yang sangat mewah, untuk bisa menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang pulang setiap pekan, dengan kesadaran nyata bahwa dia sejatinya bukanlah orang kaya.



Lalu saya bicara dengan perempuan-perempuan itu.

Tary kehilangan pekerjaannya karena tak kunjung tereliminasi dalam tayangan itu. Sandra bolos dari pekerjaannya sebagai model atas seijin agensinya untuk ikut memperebutkan Joe cap Madura alias Marlon. Dinar menangis sesegukan karena harus berpisah dengan ibunya selama satu bulan syuting di Bali. Ketika ditanya, semua sepakat berkata bahwa ini semata-mata pengalaman yang ‘kenapa nggak dicoba?’ Lalu kemudian tentu saja ada uangnya. Kalau tidak, mengapa harus mengorbankan segala hal yang sudah dimiliki di dunia nyata? Yang lain tak mau mengaku berapa uang yang dikantonginya. Cuma Tary yang menyebut pasti : 100 juta rupiah.

Jumlah itu tak sedikit bagi Tary yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai swasta di sebuah perusahaan milik Aburizal Bakrie. Bagi Sandra dan Dinar yang sehari-harinya bekerja sebagai model, uang ini juga bukan sesuatu yang bisa mereka peroleh dalam satu kali kesempatan. Tapi kesempatan bersama Joe Millionaire Indonesia ini adalah sesuatu yang mewah : berkesempatan ke Bali, gratis, bisa mendapat perhiasan dan hadiah-hadiah menarik per minggunya, juga bisa ‘bersaing’ memperebutkan Marlon.

Perempuan-perempuan ini berkeras : mereka sadar penuh bahwa ini adalah permainan. Di awal kontrak memang tak pernah disebut apa nama program reality show ini. Mereka hanya diberitahu kalau akan muncul dalam ‘big tv date’, tanpa menyebut judul tayangannya. Begitu sampai di Bali, barulah mereka menebak-nebak acara apa gerangan yang tengah mereka ikuti. Dari saat Marlon turun dari helikopter dalam episode pertama, Tary sudah yakin, “Ini pasti acara seperti For Love or Money atau Joe Millionaire. Saya kan nonton acara-acara seperti ini.”

Paling tidak saya sudah diyakinkan dalam satu poin : mereka ikut ini semua dengan kesadaran penuh.

Begitu program Joe Millionaire Indonesia ini muncul di RCTI pertengahan Maret lalu, langsung muncul kritik di sana-sini. Kebanyakan protes seputar ketidaksetaraan relasi antara perempuan dan laki-laki yang jelas-jelas muncul di sana : 20 perempuan memperebutkan satu laki-laki, milyuner bohongan pula. Acara ini tentu saja bukan ide orisinil pemuda-pemudi bangsa yang telah menyingsingkan lengan baju, karena ini aseli mencontek. Artinya, penonton Indonesia juga sudah pernah melihat versi asli tayangan seperti ini. Ragamnya pun banyak, ada The Bachelor/Bachelorette, ada For Love or Money dan ada juga Joe Millionaire. Bukan barang baru. Tapi begitu diadaptasi ke Indonesia, kenapa jadi begitu menyakitkan?

Ini adalah permainan. Saya sadar, perempuan-perempuan itu juga sadar, Naratama sang sutradara pun berharap begitu. Pastinya. “Penonton Indonesia sudah cukup pandai untuk memahami bahwa ini adalah permainan,” alasan macam ini yang pastinya dikedepankan. Saya bukannya tidak setuju dengan argumentasi itu. Toh, saya tidak dalam posisi membodohi penonton, karena saya juga penonton televisi (yang aktif memindah saluran dengan kekuatan remote di tangan, tentunya). Tapi frase ini sangat rentan. Frase ini sama rentannya dengan argumentasi para pembuat sinetron : “Kita hanya menyesuaikan dengan selera penonton Indonesia.”



Lalu, kita kembali ke perempuan-perempuan ini. Apakah mereka bersungguh-sungguh ketika memperjuangkan perhatian Joe?

Perempuan-perempuan yang saya tanya ternyata serius betul memperlakukan ini sebagai sebuah permainan : “Kami hanya melakukan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri.” Ini ibarat permainan tiap 17 Agustus, saat kita beradu cepat makan kerupuk atau lomba balap karung. Namun pialanya bukan lagi trofi besar berwarna kuning, tapi seorang laki-laki. Jangan lupa, layaknya permainan, juga ada persaingan di dalamnya. Ada saja perempuan-perempuan yang mengungkapkan keirian mereka terhadap satu sama lain. Yang saya ingat betul, Tere jelas-jelas memperlihatkan itu kepada Nelly, ketika Marlon hanya mengajak Nelly naik ke atas gajah. Saya lantas berpikir, apakah mereka tidak merasa ridiculous ketika harus melakoni lomba itu?

Tapi kalau saya jadi mereka, saya mungkin juga akan bermain sebaik mungkin supaya tidak tereliminasi. Ini momen tepat untuk memperkaya diri sendiri. Apalagi untuk orang seperti Tary yang dipecat dari pekerjaannya karena terlalu lama bolos kerja untuk syuting. Tiap pekan, ada bayaran yang menanti. Juga ada kalung, gelang dari Goldmart, sebagai salah satu sponsor. Berkesempatan pakai baju-baju bagus, didandanin, experiencing to be ‘someone else’, dibayar pula. I might as well do as they did : do my best. Haha!

Sebagai sebuah tontonan, apalagi dibesut oleh seorang Naratama yang bukan orang baru di dunia televisi, tentu dia tak kan menyerah pada argumennya sendiri : tak ada skenario. Skenario toh dibangun berdasarkan karakter. Dan tim produksi lah yang menentukan karakter perempuan macam apa yang dimainkan di tayangan Joe Millionaire Indonesia kali ini. Karakter yang saya anggap cukup membantu arahan ‘skenario’ adalah Tere dan Meidy. Tere, karena memperlihatkan rasa iri secara cukup jelas. Meidy, sebagai karakter antagonis sejati sepanjang program berjalan, sampai dia tereliminasi. Karakter yang lain, yah sekedarnya saja lah. Ada rasa-rasa iri sedikit yang agak muncul, tapi perempuan-perempuan itu berusaha diplomatis.

Meidy adalah satu-satunya karakter antagonis di sini. Jebolan (alias DO) FISIP UI ini terlihat beberapa kali menghina teman-temannya sesama kandidat pacar Joe, sebagai ‘badut-badut Joe’. Ajaib juga mendapati pernyataan seperti ini muncul, karena toh dia ada di dalam program yang sama. Beda kalau pernyataan itu keluar dari kita yang menonton di luar layar kaca. Tapi hei, ente kan ada di di situ juga, terlibat dalam kegilaan itu… Apa tak terpikir acaranya bakal segila ini?

Satu poin lagi yang disasar 'pecinta' Joe Millionaire Indonesia, termasuk saya, adalah soal ‘penting gak sih acara ini?’. Ingatkah Anda pada kalimat ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’? Lalu di mana letak kalimat bombastis ini pada tayangan satu jam di Minggu malam dan satu jam di Rabu malam ini?

Sandra, Tary dan Dinar yakin bahwa ada sisi edukatif dalam tayangan ini. Mereka menyebut sejumlah contoh pertemuan mereka dengan Larasati, Miss Singapore, dan pakar-pakar macam itu lainnya di salah satu hari-hari syuting mereka di Bali. Kalau dilihat dari kacamata itu, mungkin itu berguna bagi mereka, sebagai pelakon calon pacar Joe. Tapi buat penonton? Sisi edukasi apa yang tersisa bagi mereka?

Joe Millionaire Indonesia adalah kontroversi sesaat. Diskusi yang digelar wartawan-wartawan hiburan beberapa waktu lalu sebetulnya juga sudah bisa ditebak arahnya, siapa berargumentasi seperti apa.

Ujung dari kontroversi, bagi sebuah program televisi, sama jelasnya, yaitu kenaikan rating. Dan itu sudah dibuktikan oleh Naratama. Ibu Naratama giat berhitung, acara yang digarap anaknya meraup iklan yang terus bertambah tiap pekannya. Sandra, Tary dan Dinar tak pernah menyangka bahwa acara mereka bakal dibenci sekaligus ditunggu. RCTI tentu tenang-tenang saja di belakang meja, karena program kontroversial sama dengan rating tinggi sama dengan uang banyak. So, what’s to worry?

Dinar masih rajin mengirim SMS kepada saya, supaya tak lupa menonton Joe Millionaire Indonesia, di hari Rabu dan Minggu. Malam ini, kata Dinar, tak ada yang dieliminasi.

Wah, benar begitu?

Saya akan menonton Joe Millionaire Indonesia malam ini. Seperti juga Minggu-Minggu malam sebelumnya di pukul 22 WIB. Ibu saya sampai enek karena semakin saya nonton, semakin saya mengerang. Saya tidak suka tontonan itu. Tapi saya harus paham betul apa yang saya tidak suka.

Saya kesyel, karena itu saya menonton.

dok: cybertainment, nova

Saturday, May 07, 2005

Kreativitas Lima Ribu Perak

Yang namanya ide, pastilah mahal harganya. Apalagi kreativitas. Orang dituntut untuk berpikir out of the box untuk menghasilkan sesuatu yang brilian. Tidak semua orang, mestinya, punya kemampuan kreatif yang tinggi. Dan untuk itu, kreativitas, juga ide, mesti dihargai secara pantas dan layak.

Tapi kalau sebuah kreativitas, gagasan, ide hanya dihargai Rp 5 ribu per lembarnya, apa jadinya? Dan itulah saudara-saudara, harga dari selembar skrip sinetron yang setiap jam-nya kita tonton di televisi Indonesia, di saluran mana pun.

Kalau kita baca cerita tentang penulis-penulis muda untuk sinetron, sepertinya yang muncul hanya yang bagus-bagus saja. Secara uang, mereka bisa kaya raya, tinggal di apartemen, dihargai tinggi dan lain-lain. Itu mungkin untuk mereka yang sudah punya ‘nama’ di kalangan sinetron. Tapi buat yang baru memulai? Ya Rp 5 ribu itu.

Saya sempat ditawari untuk menulis skrip sinetron untuk sebuah rumah produksi berinisial MD (ah, nggak inisial banget sih!). Saya tidak tahu berapa bukaan harga pertama sebagai calon penulis yang tidak punya pengalaman apa pun di bidang tulis menulis sinetron. Kemampuan menulis, jelas ada, tapi tidak untuk sinetron, yang for God sake, sungguh-sungguh saya benci. Saya ingin menjajal emosi dan kemampuan saya saja ketika mengajukan diri untuk pekerjaan itu : sanggupkah saya mengerjakan sesuatu yang saya benci?

Tentu saja di tawaran pertama itu saya tidak sungguh-sungguh diserahi tanggung jawab untuk menulis keseluruhan skenario. Ah, siapa lah saya ini di hadapan mereka. Saya akan menjadi asisten co-writer. Jadi ternyata begitu cara kerja di sinetron : ada writer yang punya gagasan besar tentang sinopsis suatu sinetron, lalu ada co-writer yang memecah gagasan itu per episode dan per scene, lalu ada seorang saya, alias asisten co-writer, yang memecah adegan per scene itu dalam dialog. Sebetulnya, judul “asisten co-writer” itu hanya karangan saya saja, karena saya tidak tahu nama resmi pekerjaan ini.

Mula-mula saya diberi tes dulu oleh penyelia. Ini adalah jabatan di antara writer dan co-writer, untuk memastikan supaya gagasan sang writer ini diterjemahkan secara tepat ke dalam episode dan scene. Oleh si penyelia ini, saya diberi gambaran tentang sebuah situasi. Misalnya seperti ini. Ani itu orang jahat dan Ina itu orang baik. Mereka berdua adalah saudara tiri, tinggal satu rumah, dengan ibu tiri – yaitu ibunya si Ani jahat – dan ayah kandung yang lemah (layaknya laki-laki tak berkepribadian di sinetron itu). Ina baik ini pacaran dengan laki-laki ganteng dan kaya raya bernama Budi. Lalu tiba-tiba Budi ini lupa ingatan dan ‘diracuni’ pikirannya oleh Ani jahat bahwa yang jahat sesungguhnya adalah Ina. Lalu saya diminta menggambarkan dialog antara Ina baik dan Budi, ketika Ina berupaya meyakinkan Budi yang lupa ingatan itu bahwa mereka masih pacaran.

Ah, ini mah cincay!

Lalu mulailah saya menulis. Oya, sebelum saya lupa, saya menulis keseluruhan dialog itu nantinya dalam bahasa Inggris. Kenapa? Karena saya akan bekerja untuk seorang writer dari India. Hm, well, sinetron kita kan memang dikuasai ‘mafia’ keluarga India, toh?

Tak lama setelah saya serahkan hasilnya ke penyelia, dia datang kembali dengan wajah bahagia : We like it. Saya langsung pasang wajah bahagia, tersipu malu dan ekspresi aduh-gak-nyangka-dipuji-padahal-kan-ini-baru-pertama-kali-lho. Padahal ya nggak merasa dipuji juga. Ya ampun, ini sinetron gitu! Kenapa juga mesti bangga?

Setelah lulus dari penyelia, barulah saya bertemu dengan si writer. Laki-laki, 40an tahun, sudah punya satu anak usia SD. Si penyelia ini adalah istri si writer. India juga. Lalu kita mulai bicara-bicara uang di apartemennya di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Tiga episode pertama, dibayar Rp 250 ribu/episode. Tiga puluh episode berikutnya, dibayar Rp 350 ribu/episode. Setelah itu, bayarannya meningkat menjadi Rp 500 ribu/episode.

Saya mengangguk saja. Oke. Di kepala saya cuma satu hal : jajal saja dulu, jangan pikirin duitnya! Tapi sadar tidak sadar, saya segera meraih telfon selular saya. Memencet angka 8 yang lama, lalu keluar ‘calculator’. 250000 : 50 = 5000. Astaga! Saya mendekatkan layar telfon untuk meyakinkan diri bahwa saya menghitung jumlah angka nol dengan tepat. Iya, benar. Lima ribu. Satu episode terdiri dari kira-kira 50 halaman. Yah, minimal 40 halaman lah : font ukuran 12, spasi 1,5. Hitung saja dengan angka maksimal, 50 halaman. Lalu ini artinya, satu halaman hanya dihargai Rp 5 ribu!

That’s way too low!

Ok, jangan panik, jangan parno. Coba kita lihat sisi terangnya (manaaaa?). Ini adalah pengalaman baru, patut dicoba, seberapa pun saya benci pada sinetron. Siapa tahu saya bisa menyalurkan ide-ide logis saya supaya di masa yang akan datang, sinetron Indonesia bisa lebih masuk akal, wajar, mendekati kenyataan dan lain-lain.

“Basically, we are doing what we don’t believe.”

Begitu kata si penyelia, istri dari writer India yang menguji kemampuan gw menulis dialog itu. Hm, oke. Paling tidak, ternyata mereka sadar kalau yang mereka tulis itu sungguh mengada-ada. Saya pikir tadinya mereka ibarat anak autis, yang sibuk dengan dunianya sendiri, yang sibuk percaya bahwa ‘selera penonton’ yang mereka anut itu sejatinya hanya ilusi saja. Ah ternyata mereka sadar juga. Tapi kalau sadar, kenapa tetap begitu-begitu saja sinetron kita?

Nah, berbekal anggukan kepala itu, saya menjadwalkan pertemuan berikutnya : untuk mendapat briefing soal sinetron yang akan segera digarap dan saya buatkan dialognya. Sampai di titik ini, saya masih berbesar hati. Saya masih dengan semangat besar (yah, nggak besar-besar banget sih) untuk menjajal sesuatu yang baru, seraya menitipkan harapan pada sinetron Indonesia.

Lalu sampailah saya pada keterpurukan begitu tahu sinetron apa yang akan saya garap. Tadinya saya sudah menyiapkan diri untuk berbagai sinetron anak sekolah, orang sangat baik versus orang sangat jahat, pengkhianatan, percintaan, perselingkuhan, intrik antar keluarga pebisnis dan sebangsanya. Saya langsung garuk-garuk kepala begitu tahu gagasan sinetron yang akan segera ditulis ini.

Gatotkaca versus Dajjal.

Oh yeeeaaaaahhhh?!

Bertahan, bertahan, bertahan… ini pengalaman baru… dicoba saja dulu.. kalau tidak dicoba, mana tahu bisa atau tidaknya.. You have to know what you hate… hayo bertahan, bertahan, bertahan…

Lalu si co-writer ini menjelaskan panjang lebar tentang episode pertama dan kedua yang sudah digarap sebelumnya. Saya berusaha memasang mimik serius selagi mendengarkan dia, menahan diri untuk tidak ketelepasan berekspresi menghina. Setelah menjabarkan episode satu dan dua, lalu kita mulai membicarakan episode ketiga, yang akan saya garap dialognya itu.

Dan dia meminta saya untuk mencatat adegan per scene. MENCATAT? Apa tidak bisa saya hanya ambil print-out, saya baca-baca, saya tanya yang tidak saya mengerti, lalu salaman dan pulang? Oh tidak bisa. Karena si co-writer baru menyelesaikan rincian per scene itu kira-kira beberapa jam yang lalu, sehingga itu semua masih dalam bentuk coretan kasar, tulisan tangan jelek yang sama sekali tidak mudah dimengerti. Argh. Tapi lagi-lagi dengan kerangka bertahan-cobalah-ini-pengalaman-baru, saya mencatat. Total ada 30 scene yang harus saya catat. Berlembar-lembar notes saya habis sudah.

Sepanjang perjalanan mencatat, saya merasa didera begitu banyak penderitaan. Yang paling kronis tentu saja karena saya harus mengerjakan sesuatu yang saya benci dan siapa lah saya untuk bisa mengubah kegilaan sinetron ini menjadi lebih waras.

“Haha, elo tau lah penonton Indonesia kayak apa, kita kasih yang gampang-gampang aja!” begitu ucap co-writer-nya. Ringan. Seolah tak pernah kenal frase monumental seperti ‘mencerdaskan bangsa’.

Penderitaan lain adalah karena saya tidak siap dengan cerita silat. Saya paling tidak berminat dengan cerita silat, berkelahi atau semacamnya. Apalagi untuk konsumsi sinetron Indonesia, kok pastinya bakal bodor banget gitu. Terbersit juga rasa curang, karena kalau cerita silat, mestinya tidak banyak dialognya toh? Masa iya ‘ciaaaat’ pun harus dibuatkan dialognya?

Dengan bergulirnya cerita, saya mulai menyadari betapa banyaknya dialog yang harus saya buat. Apalagi karena lawan si Gatotkaca ini adalah Dajjal, maka ada banyak juga petuah-petuah agama yang mesti saya masukkan dalam dialog. Agama saya sih memang Islam, tapi pengetahuannya tiarap. Coba saja tanya saya tentang hari besar Islam, mana pun itu, saya pasti terbengong-bengong, tak bisa menjawab.

Bertahan, bertahan, bertahan… tapi… LIMA RIBU PER LEMBAR?

Pikiran saya tak bisa lepas dari frase itu.

250000 : 50 = 5000

Lima ribu rupiah saja per lembar untuk segala kegilaan yang harus saya tuangkan dalam dialog-dialog bodoh sinetron Indonesia.

Ajaibnya, dengan kesadaran penuh macam itu pun, saya masih butuh berhari-hari untuk memutuskan apakah saya akan mengambil pekerjaan ini atau tidak. Butuh berjuta-juta kali telfon penuh gundah gelisah untuk meyakinkan diri bahwa tidak apa-apa bagi saya untuk melepas kesempatan menulis komersil yang satu ini. Butuh puluhan ribu rupiah bagi saya untuk menelfon sana sini mencari penguatan bahwa saya dibayar teramat murah untuk menulis dialog, apalagi dalam bahasa Inggris, untuk sinetron itu.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan ini karena tiga hal : uangnya kecil, waktunya tidak sempat, dan co-writer. Entah mengapa, saya kontan benci dengan co-writer sinetron ini karena ucapan ringannya itu. Ini pastinya semata-mata kebetulan belaka saja. Kebetulan karena dia memverbalkan pikiran itu, sebuah pikiran yang saya duga keras ada di kepala setiap penulis sinetron: berikan saja yang mudah-mudah kepada penonton Indonesia. Titik.

Point of no return banget. Sekali bodoh, tetap bodoh.

Akhirnya saya SMS saja si writer India itu : I’m very sorry. I can’t continue working with you.

Saya memang pengecut soal ini, tak sanggup bicara langsung. Bahkan ketika kebencian saya begitu menggunung, saya memilih SMS.

Wednesday, March 30, 2005

Google, Carilah Saya



Pernah gak sih elo masuk ke google, lalu mengetikkan nama lo sendiri? Berapa situs yang memunculkan nama lo?

Gw sering lho melakukan itu. Sakit jiwa gak sih? Narsistik banget gitu. Barusan, gw (lagi-lagi) melakukan itu. Anehnya, setiap kali melakukan pencarian diri sendir, munculnya pasti beda-beda. Nama gw kan terdiri dari tiga suku kata. For the sake of kemudahan artikulasi saat siaran, maka nama itu semena-mena gw potong, jadi nama pertama dan nama ketiga saja. Nama kedua, gw hilangkan paksa. Nah, kalo gw google dengan tiga suku kata, muncul sekian situs. Dengan dua suku kata, muncul sekian situs lagi. Pake tanda ".." dan tidak, juga ngaruh, ternyata.

Suatu malam di kantor, segelintir anak-anak yang tersisa juga ramai-ramai melakukan itu. Kita ketik nama temen-temen kita, lalu kita cek, berapa banyak nongolnya di google. Terus kita ketawain rame-rame kalo keluarnya yang katro-katro. Misalnya ada satu temen gw yang ternyata dulu lulusan Universitas Mercu Buana, menulis suatu hal yang menye tentang kampusnya. Deile. Atau kalau nama yang terhitung pasaran, dan muncul di google dengan cerita aneh-aneh, yang memang bukan kehidupan si temen kita itu, kita cela-celain juga 'Gak nyangka yah ternyata si Anu itu begitu... hahahaha' Atau kalau nama temen kita itu gak nongol sama sekali di google, maka kita akan memberi penguatan 'Wah elo kurang usaha nih, makanya gak nongol di google' Kalau kemudian kita ketikin nama temen kita, dan muncul sesuatu yang betulan positif, yang gak kita tau sebelumnya, lantas kita bakal manggut-manggut 'wah dia oke juga ya ternyata'. Dan kita mulai dapat pengetahuan baru tentang si temen kita itu, tentang sesuatu yang mungkin aja dia gak pernah cerita sama kita. Atau kayak satu temen kantor gw yang mendadak panik, karena kita sempet tau postingan dia di sebuah milis. Lah, kan biasa aja yak. Itu kan cuma resiko posting sesuatu di dunia maya, yang bisa diakses semua orang tanpa batas, sehingga tanpa batas juga kita bisa tau tentang orang lain. Serta merta dia panik, padahal ya postingan yang kita temui juga gak penting-penting amat.

Lalu, pencarian diri sendiri di google ini gw rasakan seperti cermin. Ya kayak friendster dan blog juga pada akhirnya. Hm, gimana ya kira-kira orang ngeliat gw? Gimana kalo ada orang juga punya kebiasaan buruk yang sama dengan meng-google nama orang, lalu mencari tau tentang orang tersebut? Apa yah yang nongol di kepala orang, kalo dia google nama gw? Hm, besok-besok apa gw perlu lebih hati-hati ya kalo posting di internet? Dudududududu...

Gw pernah terkagum-kagum, karena waktu itu nemu nama gw di sebuah situs perpustakaan di universitas negeri seberang (lupa di mana). Oh, ternyata feature radio yang pernah gw buat itu termasuk simpenan di sana. Widih, keren juga. Atau begitu gw balik dari Swedia untuk training jurnalis dari FOJO, nambah satu lah situs yang memuat nama gw. Uhuy. Trus waktu gw belum kerja di tempat gw sekarang, gw pernah diwawancara sama seorang jurnalis negara Skandinavia gitu, tentang Majalah Pantau. Aih, ternyata itu nongol juga di google. Lalu, soal suatu petisi yang dibikin temen-temen saat pelatihan di Puncak, ada juga. Atau ketika hujatan gw di sebuah milis tentang acara Sang Lelaki, yang ternyata nyampe di milis berpredikat 'india'. Juga ada tulisan gw di milis, yang mencela penggunaan bahasa redaksional-nya TV7, berbuah pada pelatihan jurnalistik di sana.

Gw berasa... sukses, haha!

dok: b3tards

Wednesday, January 26, 2005

Demi Rakyat Kalian, Letakkan Senjata

Di sela-sela kabar soal korban tsunami di Aceh Darussalam, bantuan yang mengalir, ternyata masih terselip bunyi letusan senjata. Status darurat sipil di Tanah Rencong memang masih melekat. Artinya, TNI masih terus mengejar anggota Gerakan Aceh Merdeka. Persis saat misi kemanusiaan sedunia dijalankan untuk menyelamatkan orang-orang yang selamat. Apakah Indonesia dan GAM saat ini tetap berhadap-hadapan? Saling mengabaikan keharusan melakukan gencatan senjata? Lalu bagaimana pula di negara korban terjangan tsunami lainnya, seperti Sri Lanka yang berurusan dengan kelompok pembebasan Macan Tamil? Citra Prastuti menghimpun laporan berikut ini.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa Kofi Annan terhitung sudah dua kali menyerukan dana kontan bagi negara-negara korban tsunami. Annan tak mau negara-negara internasional ingkar janji seperti waktu bencana alam menerjang Iran beberapa tahun lalu.

PBB juga mengingatkan situasi yang aman di negara-negara yang diterjang tsunami harus dipertahankan. Karena bantuan dari internasional bisa-bisa tidak sampai ke tangan yang tepat, dengan aman dan selamat, jika muncul gangguan keamanan di sana sini. Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jan Egeland mengatakan, bencana tsunami harusnya menandakan dimulainya perdamaian di antara kelompok yang bertikai di suatu negara. Konflik harus diredam, dan kelompok yang saling bertikai ini bekerja sama demi membantu para korban bencana.

"Suspend your conflict and work together with us to help your own people. There is peace now in both Aceh, and in a cease-fire in the Tamil areas of Sri Lanka and in the better part of Somalia. We need that peace to hold, because if new conflict breaks out we cannot help the people."

Di Aceh Darussalam, status darurat sipil yang belum dicabut, membuat tentara merasa masih perlu untuk menggelar operasi militer menyapu Gerakan Aceh Merdeka. Sejak bulan Mei 2003, Aceh sudah berbalut status darurat militer, lalu turun levelnya menjadi darurat sipil pada 2004. Panglima TNI Endriartono Sutarto memang menegaskan fokus utama tentara di ujung barat Indonesia itu sementara ini untuk menjalankan misi kemanusiaan.

"Kita tidak melakukan operasi pengejaran, ofensif. Prajurit yang ada kita gunakan untuk menyelesaikan permasalahan gempa yang ada. Membuka dialog dengan GAM? Itu masih jauh lah. Kita selesaikan dulu masalah yang ada. Mau dialog atau nggak dengan GAM, pokoknya kita pulihkan dulu kehidupan di Aceh."

Tapi, fakta bicara bahwa status darurat sipil masih belum dicabut dari Tanah Rencong. Artinya, mereka yang diduga keras sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka GAM masih menjadi incaran tentara Indonesia yang bertugas di sana. Kantor berita BBC sempat menulis, pasukan TNI pernah menghalang-halangi tugas helikopter Amerika Serikat yang akan memberikan bantuan kemanusiaan di sebuah daerah yang dikuasai GAM.

Kondisi di lapangan, selain keberadaan ribuan jenazah yang masih belum terurus sepenuhnya, dilaporkan cukup mencekam. Sejumlah laporan menunjuk adanya kontak senjata, juga ada kabar penculikan seorang dokter di Kabupaten Aceh Besar.

"Kita dapat informasi dari salah satu posko relawan kemanusiaan, yang katakan ada seorang dokter dari anggota IDI Jakarta, disandera oleh pihak Gerakan Aceh Merdeka di daerah Krueng Raya, Aceh Besar. Di kawasan itu ada sebuah kamp pengungsian yang diketahui kamp bayangan, hanya dibentuk untuk memancing relawan ke sana. Dokter tersebut, belum pasti namanya. Kebetulan tim relawan sedang menuju ke arah Krueng Raya dan menemukan penduduk yang memanggil rombongan supaya segera masuk ke kamp pengungsian, karena ada yang belum mendapatkan logistik. Tim tersebut lantas disandera dengan sedikit ancaman," begitu isi laporan dari Reporter Radio Prima FM Banda Aceh, Safri Muarif.

"Jadi relawan itu menuju tempat, jaraknya ada tiga kilo, baru sekitar beberapa menit evakuasi jenazah, ada kontak senjata. Semua langsung kabur. Jaraknya sekitar satu kilo-an gitu. Ada suara tembakan. Yang saling tembak itu Brimob, mereka masuk menyisir lereng gunung," tutur seorang warga yang menjadi saksi.

Kepolisian Indonesia juga mendapat laporan soal kejahatan-kejahatan yang dilakukan GAM, saat bantuan kemanusiaan mengalir deras ke Tanah Rencong.

Kepala Kepolisian Indonesia, Dai Bachtiar.

"Bahwa mereka turun, juga melakukan kejahatan, disamping melakukan penyerangan, juga penjarahan. Dalam suasana seperti itu, mereka bisa menyamar, apakah jadi warga biasa atau menjadi anggota kepolisian dengan seragam yang mirip-mirip, atau menggunakan seragam kepolisian. Belum dilaporkan secara lengkap. Tapi misalnya di daerah sekitar Meulaboh, ada yang melaporkan melihat ada senjata tertinggal, mungkin diambil atau nggak. Di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar juga ada yang melakukan penyerangan, tapi semuanya bisa kita kendalikan."

Momen tsunami ini sedikit banyak diharapkan sejumlah pihak menjadi titik balik nasib Nangroe Aceh Darusalam selanjutnya. Seperti diungkap Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Jan Egeland tadi. Banyak pihak yang mendesak supaya status keamanan darurat sipil dicabut saja, demi memudahkan akses bantuan kemanusiaan. Rekonsiliasi dengan Gerakan Aceh Merdeka GAM juga sempat digulirkan, supaya pemerintah Indonesia dan GAM bisa bekerja sama menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh. Apalagi PBB juga sudah mengingatkan, bantuan bisa tak sampai, atau bahkan dihentikan, jika kondisi di lapangan dianggap tidak aman.

Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dari London mengatakan, sudah ada semacam kesepakatan damai dengan GAM, pasca tsunami. Gentleman aggreement, begitu BBC menulisnya, supaya GAM tak mengganggu bantuan kemanusiaan yang mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari komunitas internasional.

Meski begitu, pernyataan ini dibantah GAM. Perdana Menteri GAM di Swedia Malik Mahmud mengatakan, tidak pernah ada kesepakatan yang diajukan pemerintah Indonesia, pasca bencana tsunami. GAM justru menggarisbawahi, mereka lah yang mengajukan tawaran gencatan senjata kepada Indonesia, meski hingga kini belum bersambut.

Malik juga membantah semua anggapan penjarahan atau apa pun yang dilakukan anggotanya di Aceh, setelah bencana terjadi. Tak ada itu penjarahan truk oleh GAM, begitu kata Malik Mahmud. Penjarahan bantuan , menurut dia, justru dilakukan oleh pasukan TNI yang memang punya akses dalam distribusi bantuan.

-----

Pemerintah Indonesia kini bergerak lebih maju, dalam pengertian yang total sebaliknya. Yakni, melarang pekerja kemanusiaan untuk bepergian ke daerah terpencil di Aceh Darusalam. BBC melaporkan, Panglima TNI Endriartono Sutarto meminta para pekerja kemanusiaan harus mendaftarkan diri bila ingin bepergian ke luar kota Banda Aceh dan Meulaboh. TNI, kata Jenderal Tarto, tak menjamin keamanan mereka di luar dua kota itu. Aturan itu diakui bisa menghambat kerja dan penyaluran bantuan kemanusiaan. Namun langkah ini harus diambil, demi melindungi para pekerja kemanusiaan asing.

Kondisi tetap gontok-gontokan antara pemerintah Indonesia dan GAM membuat sejumlah organisasi non pemerintah perlu mengkritik keras. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan disingkat Kontras, mendesak pemerintah segera melakukan rekonsiliasi dengan GAM. Menurut Koordinator Kontras, Usman Hamid, rekonsiliasi bisa dilakukan dengan memberikan akses bantuan kepada anggota GAM, yang juga menjadi korban bencana.

"Pertama, memberikan akses kemanusiaan kepada kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Hampir seluruh lapisan masyarakat di Aceh itu menjadi korban bencana alam, baik gempa bumi, maupun tsunami. Baik yang ada di pesisir, maupun di pegunungan. GAM harus dilihat sebagai entitas korban dari bencana alam tersebut. Tidak fair jika presiden, pemerintah atau TNI/Polri membuat GAM menderita atau kelaparan."

Tak cuma Indonesia yang harus berhadapan dengan kelompok pemberontak, pasca bencana tsunami menghantam wilayah Nangroe Aceh Darusalam. Pemerintah Sri Lanka juga masih harus bersitegang dengan pemberontak Macan Tamil. Kelompok Macan Tamil kesal dan merasa daerah mereka seolah dianaktirikan dalam hal perolehan bantuan kemanusiaan. Padahal, mereka juga menderita cukup parah akibat tsunami.

Wilayah timur pantai Sri Lanka yang digempur tsunami, adalah daerah yang selama ini diguncang konflik sipil, di mana sebelah selatan dihuni mayoritas warta Sinhalese, sementara kelompok Tamil mendiami sebelah utara wilayah itu. Perdana Menteri Sri Lanka Mahinda Rajapakse menyebut kedua kubu sebagai ‘saudara dalam kesengsaraan’.

Presiden Sri Lanka Chandrika Kumaratunga, yang dikenal tak mentoleransi kelompok Tamil, berjanji akan tetap menolong korban di wilayah kelompok pemberontak.

"We are working to give them [Tamils] the maximum amount of relief we can and the reconstruction process we will not make any difference between the North East and the South."

Kelompok Tamil pun menunjukkan sinyal positif. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemimpin Kelompok Pemberontakan Tamil, Velupillai Prabhakaran menyampaikan rasa duka cita kepada warga di selatan Tamil, yang menjadi korban bencana.

Tapi, ini tak berarti tidak ada ketegangan. Presiden Sri Lanka telah melarang Sekretaris Jendral PBB Kofi Anan mengunjungi daerah Tamil yang disapu tsunami. Sementara kelompok Macan Tamil menuduh pemerintah menahan bantuan bagi wilayah Tamil dan menggunakan alasan bencana sebagai jalan untuk mengirim lebih banyak lagi pasukan ke wilayah mereka.

Harapan damai tak boleh putus. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Collin Powell.

"We are hopeful however, that if all Srilankan come together to deal with this common catasthropes, this common crisis, and work with each other, cooperate with each other, then perhaps that spirit of cooperation can be elevated and extended in political dialogue, and find a way forward to political solution to this long standing crisis between the government and LTTE."

Contoh baik datang dari India. Pemerintah dan kelompok pemberontak Khasmir di sana sama-sama menunjukkan niat baik pasca bencana tsunami, yang juga menewaskan warga mereka. Kelompok pro-kemerdekaan Khasmir melakukan aksi menyumbang darah bagi warga India yang menjadi korban tsunami. Pemimpin Senior Front Pembebasan Jammu Kashmir Ghulan Rasool Edi menjadi orang pertama yang menyumbangkan darahnya.

Sekali lagi,

"Suspend your conflict and work together with us to help your own people. There is peace now in both Aceh, and in a cease-fire in the Tamil areas of Sri Lanka and in the better part of Somalia. We need that peace to hold, because if new conflict breaks out we cannot help the people."

Jadi, letakkan senjata. Selama ini, baik tentara maupun kelompok yang dicap pemberontak sama-sama mengatasnamakan rakyat untuk kegiatan mereka. Sekarang waktunya membuktikan klaim tersebut. Demi rakyat kalian, letakkan senjata.

[Radio 68h, Januari 2005]