Saturday, May 30, 2009

Reality Show yang Mengerikan

Tadi sore, secara tidak sengaja saya menonton ’Dibayar Lunas’, sebuah reality show di RCTI. Rupanya ini program baru, baru tayang sejak 9 Mei kemarin.

Dari judulnya saja, sudah bisa terbayangkan dengan jelas bagaimana plot cerita yang ditawarkan reality show tersebut. Bisa diduga, production house acara itu adalah Triwarsana, yang dimiliki oleh Helmi Yahya. Dia memang biangnya reality show sejak awal booming di stasiun televisi swasta di tahun 2005-an, kalau tidak salah.

Semua reality show yang melibatkan orang miskin itu kejam. Orang miskin jadi bulan-bulanan, dipermalukan karena mereka miskin, dan penonton diharapkan untuk sedih atau kasihan dengan kondisi mereka. Tak perlu ditampilkan di TV pun, hidup mereka mestinya sudah cukup susah. Tapi hidup jadi tambah susah lagi karena mereka ditempatkan sebagai obyek tontonan. Lebih tepatnya, obyek untuk dipermalukan karena mereka miskin.

Saya tidak perlu waktu lama untuk merasakan kekejaman reality show ’Dibayar Lunas’. Saya tidak tahu persoalan apa yang dialami oleh si perempuan miskin itu. Saya sudah bisa memahami konteks cerita begitu melihat rumah si perempuan berpakaian daster itu dan dua laki-laki bertubuh tegap dengan kaos warna hitam. Apalagi dengan raut muka si perempuan yang stres dan beberapa kali mengusap air mata, sementara si laki-laki (sok) kejam. Si perempuan pasti punya hutang, dan dua laki-laki itu adalah debt collector. Mudah ditebak.

Yang membuat saya langsung sewot adalah ketika salah satu debt collector itu mengancam akan mengambil anak si perempuan.

Mengambil anak?

Si debt collector bahkan melanjutkan dengan ’tawaran’, dia ’hanya’ akan mengambil salah satu anak dari dua anak yang dimiliki si perempuan. "Ibu kan punya dua anak, saya ambil satu saja," kurang lebih bagitu kata salah satu laki-laki. What a generous offer, eh?

Sinting.

Saya tidak tahu rasanya punya hutang besar dan didatangi oleh debt collector. Saya tidak tahu ancaman apa yang biasa dan bisa diajukan oleh seorang debt collector ketika menagih hutang. Yang saya tahu, reality show pasti semuanya rekayasa dan semaga-mata mempermainkan emosi si obyek saja. Reality show tidak pernah jadi ajang berbagi kasih atau bertindak filantropis, tapi semata-mata mempermalukan salah satu pihak. Dalam kasus 'Dibayar Lunas': orang miskin. Tidak lebih dari itu. Tapi ketika ancaman rekayasa itu adalah mengambil anak, ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan.

Sebagai sebuah program pun, konsep yang ditawarkan sangat usang. Konsep yang sama persis sudah ada di program ’Uang Kaget’, yang juga tayang di RCTI dan juga diproduksi oleh Triwarsana. Begitu juga program se-genre lainnya, seperti 'Bedah Rumah', 'Lunas', 'Rejeki Nomplok', semuanya di tahun 2005.

Ini tulisan saya di tahun 2005, di blog ini. Sudah 4 tahun berlalu, ada 4x365 hari yang disediakan Tuhan untuk memikirkan konsep tontonan TV yang lebih berkualitas, tapi rupanya konsep yang ditawarkan sama usangnya, pun sama buruknya.

Banyak orang berkata, TV adalah seonggok kotak yang membodohi pemirsanya. Saya selalu punya hubungan love-hate-relationship dengan TV. Saya yakin, pemirsa bisa jauh lebih pintar daripada tontonan TV, selama kita menontonnya dengan waras. Saya juga masih ingin percaya bahwa kolega-kolega saya di dunia pertelevisian cukup punya otak dan hati ketika membuat sebuah program.

Saya khawatir, saya salah besar soal ini.

Thursday, April 02, 2009

Tantangan

Beberapa silam, gw berbincang dengan teman di kantor soal kebosanan. Kalau sudah bosan, kerja apa pun jadi malas. Padahal kinerja buruk, kita juga yang ketempuhan. Kerja jadi gak asik, teman kerja jadi gak asik juga kerja bareng kita, dan sebagainya.

Kalo kata Mario Teguh, kita harus memantaskan diri untuk apa yang ingin kita dapat.

Itu yang tengah gw lakukan. Gw hanya berusaha sebaik-baiknya memantaskan diri untuk apa yang ingin gw dapat. Gw ingin dapat dinamika kerjaan? Gw putus rantai kebosanan di kerjaan gw. Gw ingin senang-senang? Gw liat Facebook atau update blog dulu.

Gw harus selalu menemukan tantangan baru. Kalo enggak, gw hanya akan jadi robot.

Karenanya gw sungguh senang bisa terlibat dalam sebuah proyek besar pengerjaan buku tentang radio. Ini sungguh wilayah baru buat gw, yang menunggu untuk gw selami dalam-dalam. Gw sudah melakoni setahun penuh baca buku-belajar-nulis ketika di Inggris dan kini gw akan menjalaninya lagi. Tapi kali ini sembari kerja; bukannya diliburkan dari kantor.

Ini tantangan luar biasa besar. Dan gw teramat bangga bisa terlibat dalam proyek besar ini.

It's an honor, Sir.

Wednesday, March 04, 2009

Uang Haram

Dalam waktu berdekatan, jurnalis KBR68H menerima uang dari Komisi Pemilihan Umum dan Sekretariat Wakil Presiden. KBR68H diundang untuk ikut liputan ke luar kota bersama dua institusi Negara ini. Begitu pulang, diberi sangu. Uang ditaruh dalam amplop lantas diberikan kepada setiap wartawan yang ikut meliput, termasuk jurnalis KBR68H.

Kebijakan kami di media ini jelas, terang benderang dan tanpa ampun. Kami menolak amplop, suap, uang sogokan atau apa pun namanya, dengan alasan apa pun. Kami punya integritas yang cukup tinggi untuk tidak mau menerima uang dari pihak ketiga. Biarlah yang memberi uang dan gaji adalah media tempat kami bekerja, bukan narasumber sebagai sumber informasi.

Pikiran macam begini rupanya masih hidup di zaman sekarang, ketika usia reformasi sudah lebih satu dasawarsa. Bahwa jurnalis harus diberi uang supaya menulis yang bagus-bagus, bahwa jurnalis bisa dikendalikan lewat fulus. Yang menyedihkan, institusi Negara yang melakukan itu bukan saja di tingkat ecek-ecek tapi juga tingkat tinggi, seperti KPU. KPU mestinya lebih mengalokasikan uang untuk sosialisasi Pemilu, ketimbang menganggarkan uang bagi wartawan. Ketika KBR68H hendak mengembalikan uang pun, ditolak. Alasannya, sudah terlanjur dianggarkan.

Ini yang mesti diubah. Tak ada perlunya menganggarkan dana khusus bagi wartawan karena melakukan liputan. Itu sudah tugasnya. Seperti tukang sapu tugasnya menyapu, seperti Presiden tugasnya memimpin Negara. Semua sesuai porsi dan akan diberi uang imbalan berupa gaji oleh tempatnya bekerja. Bukan oleh pihak ketiga.

Kalau mau memberi fasilitas prima kepada wartawan, bukan uang jawabannya. Membuka akses informasi seluas-luasnya adalah harta tak ternilai bagi pekerjaan jurnalistik. Narasumber bisa dihubungi dan memberikan informasi sesuai kompetensinya. Tak ada pembatasan wilayah atau akses liputan, dengan birokrasi yang tidak ribet. Kemudahan mendapatkan informasi demi kepentingan publik, itu yang terpenting bagi tugas wartawan sebagai pewarta berita.

Tapi harus diakui pula, budaya amplop ada dan nyata di kalangan wartawan Indonesia. Ada permintaan, ada pemberian; begitu juga sebaliknya. Tanpa diminta, kerap kali narasumber, instansi, departemen, perusahaan swasta atau siapa pun memberikan uang kepada wartawan. Kalau kita menghapuskan prasangka, mungkin ini maksudnya sekadar menjaga hubungan baik. Tapi percayalah, ada seribu jalan ke Roma, ada seribu pula jalan untuk menjaga hubungan baik selain uang.

Di KBR68H, sudah ada korban terjungkal akibat amplop dan duit. Kami tidak kenal ampun dan pandang bulu dalam upaya memberantas amplop. Kami pastikan, uang yang sempat mampir pasti dikembalikan.

Maaf, kami tidak terima amplop.


[Tajuk KBR68H, 4 Maret 2009]

Wednesday, January 28, 2009

Sulitnya Menentukan Prioritas

Tak punya uang, mengeluh. Punya uang, malah tak bisa menentukan prioritas. Inilah yang dialami Pemerintah Kota Bekasi. RAPBD Bekasi mengalokasikan uang 2,8 miliar rupiah untuk uang saku tamu walikota dan wakil walikota. Kata Sekda Bekasi, pengalokasian dana ini sudah sesuai dengan Peraturan Pemerintah tentang dana khusus kepala daerah.

Mungkin Pemkot Bekasi menyamakan pengelolaan pemerintahan daerah dengan menjaga silaturahmi keluarga. Kalau ada keluarga datang jauh-jauh dari kampong halaman, maka begitu si sanak saudara ini pulang akan dibekali uang. Barangkali prinsip ini yang dipegang ketika menyusun RAPBD. Yang bakal dapat uang saku pun bukan orang miskin, karena mereka yang namanya ada dalam daftar adalah pejabat dinas, anggota dewan, tokoh masyarakat, pengurus partai politik, ulama dan wartawan.

Tentu saja, pemerintahan tak bisa bisa dikelola seperti menjaga silaturahmi keluarga. Uang yang dikelola pun tidak berasal dari kantong pribadi, tapi dari uang rakyat. Pajak ditarik untuk pembangunan, bukan untuk disia-siakan dan masuk ke kantong orang yang tak kekurangan materi. Jalan bolong menanti untuk dibenahi, kemacetan menunggu diurai, anak miskin memendam keinginan sekolah gratis, sementara para orangtua membutuhkan berobat gratis.

Itu yang harusnya jadi prioritas. Bukan uang saku buat tamu walikota.

Cobalah meniru apa yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Bulan ini mereka melansir program berobat gratis, dan Juli mendatang, akan ada program sekolah gratis. Ini jelas program yang mengedepankan rakyat, berusaha memenuhi apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Jangan lupa, pemerintah adalah pelayan, bukan bos yang direstui untuk buang-buang uang.

Mari kita kalkulasikan uang 2,8 miliar yang disediakan pemerintah Kota Bekasi ke program Jamkesmas, program kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. kita kalkulasikan ke program kesehatan buat masyarakat miskin lewat program Jamkesmas. Pemerintah menetapkan premi per orang sebesar Rp 5 ribu per bulan. Artinya dalam setahun, setiap orang mendapat alokasi dana Rp 60 ribu. Dana 2,8 miliar yang dialokasikan Pemkot Bekasi untuk uang saku sebetulnya bisa untuk biaya kesehatan 46 ribu orang selama setahun. Jumlah ini pasti lebih besar dibandingkan total tamu yang bakal mengunjungi walikota dan wakil walikota Bekasi dalam setahun.

Ini pun sesuai dengan aspirasi warga Bekasi, paling tidak mereka yang masuk ke situs pemerintah Kota Bekasi. Di rubrik Polling atau Jajak Pendapat, masalah yang dianggap mendesak dan harus segera diselesaikan adalah pendidikan dan kesehatan. Jadi, sebetulnya tak ada hal yang menyulitkan dalam membuat prioritas. Pemerintah adalah pelayan warga, jadi adalah keniscayaan untuk mengutamakan kepentingan warga.

Satu lagi. Tolong hapus nama wartawan dalam daftar penerima uang dari pemerintah. Kami memang akan bertamu, tapi kami tak butuh uang gelap seperti itu.

[Tajuk KBR68H, 28 Januari 2009]

Monday, January 19, 2009

Guilty Pleasure

Sekarang gw menonton 'Termehek-mehek' sebagai bagian dari guilty pleasure.

Minggu kemarin, cerita yang diangkat sumpah mati ajaib banget. Lupa nama tokoh di sana, tapi nama yang terlintas itu Deni dan Dita. Anggap saja nama mereka betulan itu. Ceritanya, Deni mencari Dita, pacarnya yang sudah menghilang selama setahun. Entah apa sebabnya. Deni menganggap kisah cintanya masih 'menggantung'. Jadilah minta 'Termehek-mehek' untuk mencari si pacar ini.

Selama kisah penelusuran, Mandala-Panda ditolak-tolakin sama teman-temannya si Dita ini. Semua pada parno sama Deni, padahal si Deni ini hanyalah laki-laki kurus dan begeng. Mandala-Panda sampe bingung, kenapa semua pada parno.

Sampai akhirnya ketemu satu teman Dita yang bilang kalo Dita itu sebenernya bukan pacarnya Deni, tapi kakaknya.

Lho. Ajaib. Gw melongo dong di depan TV.

Bla bla blu blu. Akhirnya Mandala-Panda ketemu rumah si tante siapa itu, tempat Dita tinggal. Si Dita ini ternyata udah lama pingin ketemu Deni. Eh gitu atau bukan ya, abis gw bingung ngikutin ceritanya. Dari si Dita ini terungkap kalo si Deni ini jadi psycho gitu setelah nyokap mereka meninggal, dan Deni ingin membunuh ayah mereka yang dianggap jadi penyebab matinya si nyokap.

Lho. Ajaib. Lagi-lagi gw melongo di depan TV.

Abis itu di luar terdengar suara brmmmm mobil. Itu mobilnya Deni. Ternyata Deni menguntit Mandala-Panda dan menemukan juga rumah si Dita. Trus Dita bilang, kalo Deni lagi 'ngaco', maka dia akan ke makam si nyokap. Bener aja, Deni ada di sana, lagi nangis-nangis, sambil ngais-ngais kuburan si nyokap. Entah menyeracau apa dia di sana.

Bla bla blu blu, si Deni berhasil masuk ke rumah Dita, lalu menemukan si bokap. Si bokap ini udah tua, rambut putih semuanya, pernah terserang stroke, duduk di kursi roda dalam kondisi payah. Deni nyamper ke arah bokapnya, lalu ngamuk di situ dan kursi roda bapaknya dijatohin. Mandala yang berusaha menahan sampe ikutan dihalau sama Deni, kalah kuat.

Trus dalam hitungan detik, tiba-tiba si Deni berubah seperti jadi orang lain. Yang tadinya ngamuk, jadi nangis tersedu-sedu di depan bokapnya, menyeracau, bertanya kenapa bapaknya bisa kayak gini. Lalu si Dita, kakaknya, bilang kalo ayah mereka stroke. Trus entah lah ngomong apalagi mereka itu sambil tangis-tangisan.

Lho. Ajaib. Gw masih melongo di depan TV.

Sayup-sayup di belakang gw mendengar suara Hilman ngakak. Dia ngetawain gw yang serius banget nonton 'Termehek-mehek' sampe ngerebut remote TV dari tangan Senja ketika tiba-tiba saluran TV dipindah secara tidak sengaja. Anak umur 1 tahun gitu lhoh.

Yah, maklum deh. Namanya juga guilty pleasure. Wajar dong kalo terbius *alesan*

Wednesday, January 14, 2009

Banjir Bersama Sang Ahli

Sejak kemarin, bisa dipastikan warga Jakarta ketar-ketir. Langit hitam, angin kencang, hujan deras. Sepanjang malam pun, hujan tak henti-hentinya mengguyur dari langit. Deras, reda, deras, reda, seperti memainkan emosi warga Jakarta. Sebab hujan berarti genangan, sementara hujan deras berarti banjir. Begitu cerita yang terjadi dari tahun ke tahun.

Setiap banjir, yang ada hanya kegagapan. Mulai saling tuding, kenapa si anu tidak melakukan ini dan itu. Mulai menyesal, kenapa tidak melakukan perbaikan yang diperlukan saat musim kemarau. Gerutu mulai dilontarkan kalau jalan bolong tak terlihat lantaran tertutup genangan. Gelisah kalau hujan makin deras, sembari sibuk memindahkan barang ke lokasi yang lebih tinggi. Berita yang serta merta jadi favorit adalah ketinggian pintu air, serta mencari celah untuk mengutuk banjir kiriman, kalau ada yang betul-betul mengirim.

Di Jakarta, kegagapan soal banjir dilakukan pemerintah dan warganya. Sudah tahu daerahnya rawan banjir, ya tinggalnya masih di situ-situ juga. Tapi buat warga miskin, pilihan tak banyak. Tanpa uang, rakyat miskin tak bisa berharap bisa dapat tempat tinggal yang bebas banjir. Bagi yang punya uang berlebih, banjir membuat mereka jadi pengungsi di hotel.

Tapi yang mesti dikritik tajam adalah kegagapan pemerintah. Setiap musim kemarau, tak terdengar upaya mencegah banjir yang melibatkan masyarakat Jakarta. Sampah masih menumpuk di sungai-sungai, padahal ini bisa disingkirkan kalau ingin menekan dampak buruk banjir. Tata kota bisa dibenahi, supaya tanah Jakarta bisa bernafas, memberi ruang bagi kelebihan air. Pejabat yang memberi izin pembangunan mal di tengah Jakarta yang bisa menambah risiko banjir, mestinya kena sanksi berat.

Betul, ada Banjir Kanal Timur yang tengah dibangun. Di kawasan Jakarta Timur, sudah menganga got raksasa di sepanjang Jalan Raden Inten. Tapi pembangunan BKT belum lagi usai. Gubernur sudah berganti, proyek raksasa itu masih saja berlanjut. Dan kini Jakarta ada di bawah kendali orang yang katanya paling ahli.

Jika kali ini Jakarta lagi-lagi kebanjiran, maka ini akan jadi banjir pertama untuk Fauzi Bowo-Prijanto. Bulan-bulan ini juga akan jadi masa pembuktian buat keduanya, seberapa sigap dan tanggap mereka menyiasati banjir Jakarta. BKT belum rampung, jalan masih bolong, pohon tinggi siap roboh, sementara pompa air, hm, jangan-jangan macet.

"Ayo-ayo bersihin got, jangan takut badan belepot," kata almarhum Benyamin Sueb. Belum terlambat untuk memulai hal sesederhana membersihkan got di depan rumah Anda.

[Tajuk KBR68H, 14 Januari 2009]