Sunday, August 06, 2006

Acara Tivi Buat Siapa?



Belum lama ini ada protes yang beredar di milis tentang sinetron Aku Cemburu 2 di Indosiar. Ibnu AA yang melakukan protes ini gak habis pikir gimana bisa Indosiar meloloskan sinetron 'kayak gini'. Ada adegan co minta ce segera bugil, co telanjang dada di pinggir kolam renang dengan titit ditutup daun pisang serta keluhan seorang co karena ce-nya gak mau diajak gituan. Sinetron ini diputar Indosiar hari Sabtu jam 22-23 WIB.

Okeh, sabar di boncengan. Sewot jelas boleh. Tapi lebih penting kalo kita jadi menelaah lagi acara tivi yang sering kita tonton. Apa acara-acara itu beneran dibikin buat kita, penonton tivi?

Paham ekonomi berkata, ada permintaan, ada barang. Jadi kalo sinetron Aku Cemburu ini dikenakan paham ekonomi itu, berarti ada dong seseorang somewhere out there yang rikues acara macem gini. Entah lah siapa dia itu, tapi yang jelas ada orang itu. Buktinya ada penulis yang bikin sinetron itu, buktinya ada yang mau memproduksi, buktinya Indosiar mau terima dan nayangin sinetron itu. Berarti, secara hitungan matematis ala anak tivi, sinetron ini ada duitnya laaahh...

Lalu kalo kita menjadi Pak/Bu Ibnu AA, kita mungkin sepakat juga. Bukan sekali dua kali lah kita suntuk sama acara yang ada di tivi. Sinetron yang dibilang mengada-ada lah, Warkop yang slapstick lah, sinetron mistik yang nakut-nakutin orang, kartun yang sadis lah, ada aja pokoknya deh komentar kita sebagai penonton tivi.

Nah, kalo kita protes begitu, artinya kita gak setuju kan sama acara tivi itu. Kita merasa, acara itu tidak untuk kita, sehingga bagi yang kesel, ya mending matiin tivi aja. Ibaratnya pedagang kaki lima di Jatinegara, dagangan jelas gak laku. Wong calon pembelinya gak mampir, apalagi membeli dagangan.

Eh tapi, katanya tadi ada permintaan ada barang. Kalo sebagian (besar atau kecil) dari kita merasa tidak meminta barang dagangan berupa acara-acara katro, lalu siapa yang minta dong? Siapa yang membuat seolah-olah ada permintaan, sehingga kemudian pihak stasiun tivi atau PH membuat sinetron itu?

Hantukah yang meminta?

Coba sekarang kita bayangkan diri kita jadi Raam Punjabi. Doi kan paling sering tuh kena 'tulah' disalahin kanan kiri atas bawah depan belakang karena sinetron-sinetronnya dianggap gak membumi. Tapi dia mah tenang-tenang aja di boncengan. Dia tinggal bilang kalo "pemirsa yang minta" sinetron kayak gitu. Lalu kita pun menjerit "Enak aja! Kan sinetron situ bapuk!". Lantas Raam Punjabi pun tertawa terkekeh, "Situ oke? Nih ratingnya bagus!" Trus kita manyun dong. Rating bagus kan katanya berarti acara disukai penonton. Kalo si 'kita' yang protes ini merasa tidak meminta, apalagi menilai bagus, sinetron tersebut, lalu lagi-lagi pertanyaanya kembali ke situ: siapa yang minta acara ini sebenernya seeh?

Lucu ya ajang saling klaim di kancah pertelevisian ini. Ampe pegel linu, klaim-klaim-an gini bisa gak kelar-kelar.

- Orang TV merasa paham selera penonton, sehingga dia bikin acara A. Acara itu dipasang di prime time, iklan banyak masuk, kantong duit tebel. Bahasa ekonominya jelas: duit banyak karena barang laku; barang laku karena banyak yang nonton.

- Nielsen bilang acara A laku karena ratingnya tinggi. Orang TV mengartikan rating ini sebagai 'sekian persen dari 200 juta masyarakat Indonesia suka acara A', padahal sampel dan populasi riset medianya Nielsen gak transparan juga. Hmm, atau kita memang harusnya mengartikan rating sebagai perwakilan dari sampelnya Nielsen, dan bukan seluruh penduduk Indonesia? Bisa jadi begitu. Tapi kayaknya gak begitu yang terjadi.

- Ada sekelompok orang yang kegerahan sama acara A ini. Alasan yang puwaling sering dipake adalah 'pengaruh buruk bagi anak-anak dan generasi muda'. Atau kalo acara ini diadaptasi dari Amrik (atau negara bulai lainnya), maka alasan yang kemudian diajukan adalah 'pengaruh Barat atau budaya asing menodai budaya Timur' atau 'moralitas'.

- Lalu orang TV bisa aja balik mengklaim bahwa sekelompok orang itu cuma sebagian kecil orang, yang bisa jadi bukan target market dari acara A. Dengan kata lain, ngomong aja sama tembok! Lah wong acaranya bukan buat situ.. Mungkin kurang lebih begitu pembelaan diri dari orang TV-nya.

- Si sekelompok orang ini pun kesel, lalu woro-woro boikot tivi, protes sana sini, atau matiin tivi tanda kesel.

- Sementara si Nielsen, ya tenang-tenang aja. Buat Nielsen kan yang penting membuat rating sebagai kunci utama kesuksesan sebuah acara sehingga orang tivi-nya juga ketergantungan. Ibarat narkoba lah. Sekali terjerumus (halaaah, terjerumuuss), susah berhenti. Ke-dewa-an rating inilah yang tetep dijaga sama Nielsen. Yaaa wajar dong, namanya juga jualan rating...

Trus?

Kekekeke.. Kejar-kejaran aja deh kayak hamster!

Yuk kita kembali ke pertanyaan awal: apakah acara tivi itu beneran dibikin buat para penontonnya?

Urutannya kan begini. Orang tivi bikin program. Program dibikin, dijual ke pengiklan, iklan dipasang. Nielsen pun mulai bekerja, mengumpulkan sampel X dari populasi Y di kota Z untuk dicatet kebiasaan nonton tivi-nya. Angka rating keluar, dikasih ke orang tivi. Orang tivi girang kalo rating tinggi. Rating ini pun langsung dikabarkan ke pengiklan, berikut rate iklan yang tambah besar. Orang iklan ikutan seneng, karena membuncah harapan kalo barang yang diiklankan bakal laris manis tanjung kimpul.

Tunggu, tunggu. Di mana elemen penontonnya neh? Bukankah acara dibuat untuk ditonton oleh kita sang penonton? Apakah elemen penonton hanya di "sampel X dari populasi Y di kota Z" saja? Oh yeah. Seberapa representatifkan X-Y-Z itu untuk mewakili 'penonton'? Gile cing, ada 200 juta penduduk Indonesia nih!

Sekarang mari kita ambil contoh nyata. Sinetron Bawang Merah Bawang Putih. Menurut kawan yang bekerja di RCTI, angka rating melonjak tinggi ketika Bawang Putih disiksa ibu tiri. Satu tamparan, rating naik. Dua tamparan, rating melejit. Nah kalo begini, jelas dibaca Nielsen dan orang tivi dengan cara: "Penonton tivi Indonesia seneng acara tampar-tamparan dalam sinetron. Kita tambahin yuk tampar-tamparannya!" Ya gak sih? Logis dong. Lalu ada yang protes karena acara tampar-tamparan gak baik buat penonton. Jadi, acara ini gak representatif? Lalu, siapa nih yang menjadikan angka rating begitu tinggi? Bisa aja nih Nielsen nyari sampel rating!

Atas kegilaan-kegilaan yang ada, maka gw cuma bisa bilang kalo banyak orang sok tau. Orang TV sok tau. Penonton pun ada yang sok tau. Sementara Nielsen asik dagang. Hiehiehiehie, pegel dah lu. Sok tau bergulir jadi mengklaim. Mengklaim bergulir jadi berasa bener.

Sekarang coba kita mengkritisi keedanan ini. Orang TV atau PH atau siapapun yang berperan dalam membuat program, apa iya pernah nanya ke calon penonton "Hai kamu, kamu pingin nonton acara kayak apa?" Atau, jangan-jangan yang ditanya sama orang TV adalah pengiklan.. "Hai kamu, kamu pinginnya pasang iklan di acara tivi kayak apa sih?"

Atau si penonton yang protes. Kalo dia bilang, acara X berbahaya bagi generasi muda... ah situ sok tau aja kaliiii. Buktinya, yang ngomong toh 'orang tua', bukan si 'anak muda' yang terancam bahaya itu. Atau si 'anak muda' ini masih terlalu lugu untuk mengetahui bahwa acara X ini berbahaya? Atau ketika klaim ini mempertentangkan 'budaya Barat' dan 'budaya Timur', apakah lantas si pemrotes itu lebih tau tentang 'buruknya budaya Barat' dibandingin orang lain? Wah wah. Bukankah itu terdengar seperti klaim kembali?

Huhuhu, jadi pigimana iki?

Selamat menonton televisi! Jangan bengong ah, ntar kesambet lho...

dok: indosiar

1 comment:

Anonymous said...

tolong donk indosiar tayangin ulang aku cemburu 1,2,3.soalnya gw ngefans bgt sama ida ayu kadek devi.pliiiiiiisssssss yach?